
"Ilmu ekonomi mikro atau sering juga ditulis mikroekonomi adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan"
"Ekonomi mikro meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut memengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya" Jelas dosen yang kini sedang memberikan materi di kelas Lolita.
Namun gadis itu sepertinya tidak memperhatikan sama sekali materi yang sedang disampaikan.
Ia malah memainkan bolpoinnya dan memutar mutarnya diatas meja sambil menompang dagunya.
Ia tidak bisa fokus dengan apa yang sedang disampaikan sekarang, raganya memang sedang berada di kelas, tetapi otaknya sedang berkeliaran.
"Kenapa gue harus kepikiran dengan Kevin terus" Gumam Lolita dalam hati.
"Ah, dia terlihat sangat kasihan. Dia terlihat sangat serius dan benar benar menyesal" Gumam Lolita lagi sambil menggigit ujung bolpoinnya.
"Ah tidak tidak, gue ngga boleh sampai kasihan sama dia, bisa saja dia hanya berpura pura baik, dan jika dia sudah mendapatkan apa yang dia mau dia akan kembali seperti dulu"
"Astaga, apa yang gue pikiran, emang apa yang bakal gue lakukan jika emang dia beneran tulus. Ingat Lolita lo udah punya suami dan anak satu" Geram Lolita kesal karena berperang dengan pikirannya sendiri.
"Hufftttt, bener kata orang. Kalau cinta pertama itu susah dilupakan. Dia akan selalu menjadi bayang bayang" Ucap Lolita tanpa sadar.
Semua orang yang mendengar itu pun menoleh kearah Lolita yang kini sedang duduk di tengah tengah.
"Lo ngigo apa gimana Lol?" Tanya seorang cowok yang duduk di sebrang Lolita.
Mendengar pertanyaan laki laki itu, Lolita seketika terkejut dan ia pun tersadar.
"Eh apa?" Tanya Lolita seperti orang ****.
Melihat reaksi Lolita, semua orang pun tertawa, "Bwahahaha" Tawa semua orang.
Melihat temannya tertawa, Lolita semakin dibuat bingung, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalian niat mengikuti kelas saya tidak?" Tanya Dosen yang sedang berdiri didepan itu dengan lantang sehingga membuat tawa mereka semua reda.
"Dan kamu" Dosen itu menunjuk kearah Lolita. "Jika kamu mau membuat puisi maka masuklah kelas sastra" Ucap Dosen itu. Mendengar itu Lolita seketika menciut dan tidak berani untuk berkutik.
.
.
**
.
.
"Lolita" Panggil Sisi, Amel dan Yolanda secara bersamaan.
Melihat itupun Lolita terseyem, ia kemudian berlari dan memeluk ketiga sahabatnya itu.
"Gue kangen banget kita berempat kaya gini tanpa ada yang jadi nyamuk" Ucap Yolanda sambil melepaskan pelukannya, diikuti dengan Amel dan Sisi.
"Hmmm" Balas Lolita dengan berdehem.
"Lo tumben sendiri, Aldi kemana?" Tanya Sisi.
"Aldi ngga ada kelas hari ini, jadi sekarang ia sedang berada di kantor" Jelas Lolita. Sisi pun menganggukkan kepalanya.
"Ayaaa ngapain nyari Aldi? Kangen lo?" Tanya Amel sambil menunjuk kearah Sisi menggunakan jari telunjuknya.
"Ngga lah, ngapain juga kangen sama laki orang. Ga doyan gue jadi pelakor" Jawab Sisi sambil berjalan terlebih dahulu meninggalkan ketiga temannya.
"Iyalah ngga doyan, kan udah dapat yang baru" Teriak Amel.
Lolita mengangkat kedua bahunya, kemudian berjalan mengikuti Sisi diikuti dengan kedua temannya.
***
"Nongkrong yuk, kita kan udah lama tidak pernah menghabiskan waktu berempat kaya gini" Ajak Yolanda ketika mereka sudah keluar dari gedung universitasnya.
"Gue udah emak emak anak satu kagak bisa ikut nongkrong" Ucap Lolita dengan muka sok sedihnya.
"Halah ngga apa apa sekali kali aja, toh kita ngga bisa seperti ini setiap hari" Timpal Amel.
Lolita sejenak memikirkan ajakan teman temannya, memang benar. Ia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama dengan temen temannya.
"Ayolah Lolita" Seru Yolanda sambil menggoyang goyangkan lengan kanan Lolita diikuti dengan Amel yang menggoyang goyangkan lengan kiri Lolita.
"Udah Lol gapapa, nanti gue bantuin minta ijin sama suami lo" Ucap Sisi ikut menimpali.
"Emm oke deh" Putus Lolita akhirnya hingga membuat Amel dan Yolanda begitu kegirangan.
Lolita kemudian mengambil handphonenya dari dalam saku celananya hendak menghubungi Aldi.
Namun tiba tiba hp Lolita direbut oleh Yolanda. "Eh hp Lo kenapa Lol?" Tanya Yolanda sambil memperhatikan layar ponsel Lolita yang retak.
Retak kek hati eaaa:)
"Tadi ponsel gue jatuh saat gue ga sengaja nabrak orang" Jawab Lolita sambil mengambil alih ponselnya dari tangan Yolanda.
"Emang siapa yang lo tabrak?" Tanya Sisi.
"Kevin" Jawab Lolita singkat, padat dan jelas.
"What" Teriak Yolanda, hingga membuat ketiga temannya menutup telinga.
"Ga usah teriak bege" Kesal Amel.
"Kok bisa lo tabrakan sama Kevin?" Tanya Amel.
"Ceritanya panjang, ntar gue ceritain deh. Mending sekarang kita go senang senang" Ucap Lolita sambil berjalan terlebih dahulu menuju ke mobil Yolanda.
"Yaelah saroh, udah terlanjur penasaran nih, malah di gantungin" Ucap Yolanda sambil berjalan mengikuti Lolita menuju mobilnya.
__ADS_1
.
.
:/
.
.
Aldi terlihat sedang serius menatap kearah layar komputernya, tak lupa jari jarinya yang juga sedang bermain dengan lihai diatas keyboard.
Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponsel laki laki itu hingga membuat Aldi menghentikan sejenak aktivitasnya.
Ia mengambil ponselnya dan mengalihkan perhatiannya dari layar komputernya.
Ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Lolita.
My Wife❤️
Aldi, nanti aku pulang telat dan kamu ngga usah jemput, soalnya aku lagi jalan sama Amel, Sisi dan Yolan.
Aldi menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis.
Aldi
Oke, bersenang senanglah istriku
Setelah mengirim pesan itu, Aldi kembali meletakkan ponselnya ditempat semula dan melanjutkan aktifitasnya.
.
.
'/:
.
.
Lolita terseyum membaca balasan pesan dari Aldi.
My Hubby❤️
Oke, bersenang senanglah istriku.
Lolita kembali menyimpan ponselnya setelah membaca balasan pesan Aldi.
"Kenapa lo senyum senyum?" Tanya Amel yang duduk di jok belakang bersama dengan Sisi.
Lolita menatap temannya itu dari kaca. "Ngga kenapa kenapa" Balas Lolita.
"Udah dapat ijin dari laki lo kan?" Tanya Sisi. "Pantes" Saut Yolanda.
***
"Iya, kita udah lama ngga belanja bareng. Gue mau beli make up, baju dan aksesoris lainnya" Ucap Yolanda heboh.
"Yaelah make up terus yang lo pikirin" Ucap Sisi sambil turun terlebih dahulu dari dalam mobil diikuti dengan Lolita dan kedua temannya.
Mereka bereempat berjalan beriringan masuk kedalam mall tersebut.
Seakan ada badai, mall yang memang sudah rame itu seketika tambah rame karena keributan yang diciptakan oleh Lolita dkk ketika dihadapkan dengan model model pakaian terbaru.
Amel dan Yolanda langsung heboh, mereka berdua mengambil beberapa pakaian dan mencobanya.
Sedangkan Sisi, gadis itu tidak tertarik dengan yang namanya shoping, jadi ia cukup duduk manis sambil memperhatikan teman temannya itu.
Sedangkan Lolita, ia hanya melihat lihat saja, ia tidak tertarik dengan semua pakaian pakaian itu. Ia lebih tertarik dengan makanan yang bisa membuat dirinya kenyang dari pada fashion.
Pandangan Lolita tiba tiba tertuju kearah deretan pakaian laki laki.
Ia melangkahkan kakinya menuju deretan pakaian untuk laki laki itu.
Tangan Lolita bergerak untuk memilah milah kemeja yang menurutnya cocok untuk dikenakan Aldi.
Pilihan Lolita jatuh pada kemeja berwarna merah maroon. Ia mengambil kemeja itu, memperhatikan kemeja itu dan menerka nerka apakah kemeja itu cocok untuk dikenakan oleh Aldi atau tidak.
"Hmm, sepertinya ini cocok" Gumam Lolita sambil tersenyum.
"Eh Lolita, Lo ngga beli pakaian buat Lo?" Tanya Amel sambil membawa beberapa model pakaian yang sudah dipilihnya.
"Nggak, gue ngga pengen beli apa apa" Jawab Lolita sambil tersenyum.
"Itu" Tanya Amel sambil melirik kemeja yang dipegang oleh Lolita.
"Oh, ini gue beliin buat Aldi" Jawab Lolita sambil tersenyum.
"Buat Aldi doang? Dan lo ngga beli apa apa?" Tanya Amel.
"Heem" Jawab Lolita sambil menganggukkan kepalanya.
"Lolita, harusnya lo juga beli beberapa pakaiannya buat lo sendiri, biar lo juga tambah cantik dan Aldi jadi tambah sayang sama Lo" Jelas Amel.
"Heh, kalau dasarnya udah cantik mah mau pakai apa aja bakal tetep cantik. Dan kalau emang sayang dan beneran cinta mah ngga akan mandang fisik" Jawab Lolita.
"Ya ngga gitu Lolita, suami lo itu kan ganteng. Dan dari ceritanya Regan, Aldi banyak yang suka. Emang lo mau Aldi direbut sama cewek lain kayak yang dulu dulu" Jelas Amel.
Lolita sejenak diam, ia kemudian memperhatikan penampilannya yang memang biasa biasa aja karena memang ia tidak terlalu memperhatikan penampilannya.
"Emm, boleh juga deh" Putus Lolita akhirnya.
"Nah gitu dong" ucap Amel senang, ia kemudian menarik Lolita ketempat deretan gaun gaun.
__ADS_1
Amel memilihkan beberapa gaun untuk Lolita. "Nih bagus Lol, coba lo pakai" Ucap Amel sambil memperlihatkan sebuah gaun berwarna merah sederhana tanpa lengan namun tetap terlihat elegan.
Lolita mengambil gaun yang sudah dipilihkan oleh Amel. "Hmm gue coba dulu deh" Ujar Lolita. Amel pun mengangguk dan Lolita pergi keruang ganti untuk mencoba gaunnya.
Tak butuh waktu lama, Lolita sudah keluar dengan menggunakan gaun yang dipilihkan oleh Amel.
Gaun itu terlihat sangat pas ditubuh Lolita.
"Cantik banget lo Lol" Puji Yolanda ketika melihat Lolita sudah keluar dari ruang ganti.
"Iya beneran cantik, kalau kayak gini mah Aldi betah lihatnya" Imbuh Amel.
"Iya bener Lol, mending mulai sekarang lo rubah penampilan lo, agar Aldi tidak melirik cewek lain yang lebih cantik dari pada lo" Saran Sisi.
"Hmmm, ya udah gue mau ganti dulu" Ucap Lolita.
"Oke, gue tunggu, abis ini kita pergi ke toko make up lalu cari makan" Ucap Yolanda semangat.
"Ya, dan kita juga udah pilihin beberapa pakaian buat lo" Ucap Amel sambil menunjuk kearah beberapa pakaian yang dibawa oleh Sisi.
"Banyak banget" Ucap Lolita terkejut melihat pakaian yang dibawa oleh Sisi.
"Ngga apa apa. Aldi sultan ngga akan bangkrut cuma karena beliin lo baju" Ucap Yolanda sambil mendorong Lolita menuju ke ruang ganti.
.
.
***
.
.
Setelah dari toko pakaian, mereka semua turun kelantai 3 untuk membeli alat kosmetik.
Lebih tepatnya Yolanda, karena ketiga temannya itu tidak terlalu tertarik dengan yang namanya make up.
"Menurut kalian warna nya bagus yang nomor berapa? Nomor 2 atau nomor 3?" Tanya Yolanda sambil menunjukkan kepada temannya dua lipstik dengan merk yang sama dan warna yang sedikit berbeda.
Lolita mengambil lipstik yang nomor 2, ia membukanya lalu memoleskannya dipergelangan tangannya. Begitu juga dengan lipstik yang nomor 3. Ia kemudian memperhatikan perbedaan warna lipstik tersebut.
"Hmm menurut gue lebih bagusan nomor 3 deh" Ucap Lolita sambil mengembalikan lipstik yang dibawanya kepada Yolanda.
"Oke, gue ambil yang nomor 3" Putus Yolanda.
"Mbak, tolong bungkus lipstik yang ini" Ucap Yolanda sambil memberikan lipstik nomor 3 kepada seorang pelayan dan mengembalikan lipstik nomor 2 ketempat semula.
"Udah semua kan?" Tanya Sisi.
"Belum" Jawan Yolanda.
"Apalagi yang kurang Yol? Gue udah pegel. Lihat nih belanjaan aja udah banyak banget" Ucap Amel sambil meghela nafas.
"Lolita, lo juga harus beli make up" Ucap Yolanda sambil tersenyum menatap Lolita.
"Ngga mau gue, ga suka pakai gituan" Tolak Lolita.
"Ngga ada penolakan. Lo tahu kan penggoda itu cantik cantik" Ujar Yolanda.
"Gue percaya Aldi ngga bakal hianatin gue" Seru Lolita.
"Lolita, lo jangan ****. Dulu Aldi pacaran sama Salsa kan, dan Kevin juga, dia ninggalin lo demi Rere karena Rere cantik" Ucap Yolanda.
Mendengar itu Lolita kembali diam, ia berasa di skak mat.
"Nah kan, takut kan lo" Ucap Yolanda.
"Ya udah deh terserah lo aja" Putus Lolita akhirnya.
"Mbak, sekalian bungkus satu set alat kosmetik yang terbaik ya" Ucap Yolanda pada seorang pelayan.
"Baik nona" Ucap pelayan itu.
.
.
***
.
.
Lolita rasanya sangat kesusahan membawa belanjaannya yang begitu banyak karena ulah teman temannya. Belum lagi sekarang mereka mengajaknya untuk makan, membuatnya semakin kesulitan saja.
"Gara gara kalian nih gue jadi kesusahan bawa belanjaan" ucap Lolita kesal.
"Sini biar gue bantu bawa" Ucap seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapan Lolita.
Lolita mendongakkan wajahnya untuk menatap seseorang yang menawarkan bantuan kepadanya itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.