Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Tidak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Aldi, aku merindukanmu" Gumamnya dengan suara pelan. Cukup lama mata Lolita terpejam hingga akhirnya tubuhnya tiba tiba menengang tatkala sebuah tangan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang kemudian membisikkan kaliamat yang mampu menyengkan hati namun terasa sangat menyesakkan "Aku juga sangat merindukanmu"


Perlahan Lolita membalikan badannya. Pelukan ditubuh Lolita pun sedikit merenggang namun tidak sampai terlepas.


"Aldi" Serunya dengan suara pelan.


Ingin Lolita memberontak, namun tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan tangan Aldi yang semakin erat memeluk pinggangnya.


"Lepaskan aku" Seru Lolita dengan wajah yang dibuat kesal.


"Kenapa? Bukankah kamu tadi bilang merindukan ku?" Ujar Aldi.


"Tidak, kamu pasti sudah salah dengar. Cepat lepaskan aku!" Seru Lolita.


"Tidak ada yang melarang seorang suami memeluk istrinya sendiri" Ujar Aldi.


Mendengar itu Lolita seketika terdiam. Mulutnya bungkam. Matanya menatap dalam manik mata Aldi yang juga menatapnya. Angin malam membuat suasana hening itu semakin dingin, namun berbeda dengan tatapan Aldi dan Lolita yang hangat, sehangat pelukan yang diberikan Aldi kepada Lolita.


Lolita ingin membuka suara tetapi Aldi segera menghentikannya dengan cara meletakan salah satu jari telunjuknya dibibir pucat Lolita yang memperlihatkan belahannya dengan sangat jelas.


"Aku sudah mengetahui semua" Ujar Aldi kemudian. Ia menurunkan tangannya dari bibir Lolita, pun satu tangannya yang masih melingkar di pinggang Lolita.


"Tahu apa?" Tanya Lolita seakan tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Aldi.


"Jangan berpura pura lagi" Seru Aldi.


"Aku memang tidak tahu apa yang kamu katakan" Elak Lolita. Ia kemudian memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Aldi.


"Cukup Lolita" Kini nada bicara Aldi sedikit naik hingga terdengar mengentak di telinga Lolita.


Lolita pun seketika memejamkan matanya saat suara Aldi seakan menusuk hingga kejantungnya.


"Kenapa kamu menyembunyikan semua dari aku?" Ujar Aldi lagi, kini nada bicaranya kembali menurun. Lolita membuka matanya, tetapi ia masih tidak berniat untuk memalingkan wajahnya untuk menatap Aldi.


"Kenapa kamu tidak memberitahu aku?" Aldi kembali membuka suara. Namun Lolita sepertinya masih tidak berniat untuk membuka mulutnya.


Aldi pun merasa geram, kesabarannya seakan habis. Tangannya terangkat mencengkram kedua bahu Lolita, namun tidak sampai untuk menyakitinya.


"Kenapa Lolita?" Lagi lagi Aldi kembali membuka suaranya. Namun dengan nada yang membentak


"Tatap mata aku sekarang!" Titah Aldi.


Lolita pun akhirnya menoleh kearah Aldi yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi dengan amarah bercampur dengan kecewa.


"Karena kamu tidak berhak tau atas kondisiku" Ujar Lolita akhirnya.

__ADS_1


"AKU BERHAK TAU, KARENA AKU MASIH SUAMI KAMU" Seru Aldi dengan nada tinggi.


Mendapat bentakan dari Aldi. Cairan bening tanpa di minta seketika Lolos dari pelupuk mata Lolita.


"APA KAMU SUDAH TIDAK MENGANGGAP AKU SEBAGAI SUAMI KAMU?" Aldi kembali membuka suara.


Air mata Lolita semakin mengalir dengan derasnya. Sekarang ia merasa bersalah karena tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada suaminya.


Bibir pucat Lolita bergetar tatkala dirinya ingin membuka suara "Maaf" Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulutnya.


"Kamu tahu nggak jika kamu itu sudah melakukan sebuah kesalahan besar" Aldi kembali membuka suara.


"Kalau kamu mengatakan yang sebenarnya dari awal, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi, kamu pasti sudah sembuh sekarang" Seru Aldi.


"Sembuh dengan cara mengambil ginjal kamu maksudnya?" Bentak Lolita dengan sengit.


"Kalau itu bisa membuat kamu sembuh kenapa tidak" Balas Aldi tak kalah sengit.


"Bodoh" Seru Lolita.


"Kamu tahu nggak kenapa aku sampai rela pergi dan memilih untuk berjuang sendiri?" Lolita menjeda ucapannya.


"Itu semua demi kaku, agar kamu tidak mendonorkan ginjal kamu buat aku" Lolita sedikit mendorong dada Aldi menggunakan jari telunjuknya.


"Aku sembuh tapi kalau harus kehilangan kamu buat apa?" Lolita mempertegas suaranya.


Lolita terdiam. Ia membenarkan perkataan Aldi, tetapi saat itu pikirannya sedang sangat kalut, ia tidak bisa berfikir dengan jernih. Yang ada di otaknya hanya pergi sejauh mungkin dari Aldi karena tidak mungkin Aldi tidak mendonorkan ginjalnya buat orang yang dicintainya.


"Maaf" Cicit Lolita.


"Saat itu aku benar benar kalut, aku tidak bisa berfikir dengan jernih" Ujar Lolita.


Aldi tidak membalas perkataan Lolita. Ia menarik tubuh Lolita kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan hangat dan penuh cinta. Kerinduan dan kekhawatiran yang selama ini disimpannya layaknya sebuah beban seakan meluap begitu saja terbayarkan dengan rasa senang dan tenang. Pun Lolita, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Aldi, menuangkan kesedihannya dalam dada nayaman suaminya. Baginya tidak ada tempat ternyaman kecuali dada suaminya. Tetapi pelukan itu tidak bertahan lama, Lolita tiba tiba merasakan nyeri luar biasa di bagian pinggang. Ia melepaskan pelukannya dari Aldi, Aldi yang melihat Lolita tiba tiba melepaskannya pun merasa heran, tetapi saat melihat wajah Lolita yang memerah menahan sakit sembari tangannya meremas kuat kuat pinggangnya itu ia tersadar bahwa istrinya sekarang sedang mengalami kesakitan.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Aldi panik.


"Aldi, pinggang aku sakit sekali" Rintihnya. Air matanya yang tadi sempat terhenti kini kembali meleleh akibat sakit luar biasa yang kini sedang mendera bagian pinggangnya.


"Kita kerumah sakit sekarang" Ujar Aldi. Wajahnya terlihat sangat panik, perasaanya mulai tak tenang.


"Aakh sakit banget Al" Lolita kembali merintih. Aldi yang mendengar rintihan istrinya itu sekarang ikut merasakan sakit nya. Dadanya terasa nyeri dan sesak.


Air mata Lolita melelah dengan deras, salah satu tangannya mencengkram kuat lengan Aldi yang masih terbalut dengan jas dan kemeja. Sedangkan Aldi menompang tubuh istrinya itu agar tidak terjatuh.


Lolita terus merintih kesakitan hingga akhirnya perempuan itu kehilangan kesadaran. Aldi yang melihat itu semakin dibuat kalang kabut tak karuan. Ia segera membopong tubuh Lolita dan membawanya keluar dari kamarnya untuk di bawa kerumah sakit. "Sayang, kamu yang kuat ya" Ujarnya sembari berlari menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Loh Aldi, Lolita kenapa?" Tanya Nita yang kebetulan berpapasan dengan Aldi ketika dirinya sudah sampai di anak tangga terkahir.


"Lolita pingsan ma, dia tadi sangat kesakitan" Jawab Aldi. Nita yang mendengar itu pun seketika ikut panik.


"Astagfirullah, Papa, Satya, Nara" Teriak Nita dengan cemas.


Doni, Satya dan Nara yang sedang di meja makan itu langsung berlari dengan terburu buru menghampiri Nita, dan juga Aldi yang kini sedang menggendong Lolita.


"Loh Lolita kenapa?" Tanya Satya.


"Bang Satya, siapin mobil" Aldi langsung menyahut tanpa menjawab perkataan Satya terlebih dahulu. Satya oh pun menurut saja, laki laki itu langsung mengambil kunci mobilnya.


Nita seketika memeluk suaminya, wanita paruh baya itu tak kuasa melihat keadaan putri bungsunya.


"Mama yang sabar ya, percayalah Lolita pasti akan baik baik saka" Seru Doni mencoba untuk menengkan istrinya.


"Ayo Al" Seru Satya.


Aldi pun langsung membawa Lolita mengikuti Satya menuju ke mobilnya.


******


Disepanjang perjalanan, Aldi terus menggenggam tangan Lolita, ia takut jikalau istrinya itu akan kenapa napa. Wajah paniknya semakin mengutakan ketakutannya.


"Bang tolong AC nya di kecilkan" Pinta Aldi. Satya pun tanpa banyak bicara langsung menurunkan suhu AC mobilnya.


"Sayang, kamu harus bertahan. Aku yakin kamu adalah sosok yang kuat" Aldi mencium tangan Lolita dengan penuh cinta.


Mobil yang dikendarai Satya pun akhirnya berhenti didepan Lobi rumah sakit. Terdapat beberapa perawat dan juga dokter yang sudah menunggu karena tadi sebelumnya Aldi sudah menelfon dan mengatakan sedang dalam perjalanan kesana.


Tubuh Lolita segera dipidanakan ke atas brankar dorong dan dibawa menuju ke IGD.


Seorang suster mengentikan Aldi yang hendak mengikuti Lolita untuk dibawa masuk kedalam "Maaf tuan, tapi anda harus menunggu di luar!" Serunya.


Aldi pun tidak membantah, ia membiarkan para tenaga medis itu untuk bekerja mengobati istrinya. Dirinya menunggu di luar dengan ditemani Satya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mereka sudah baikan noh, berjuang bersama masih mo nyiyir? Santet onlen boleh? wkwkwk


__ADS_2