
Jack masih tak habis pikir. Ia pun mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Jack mencoba menghalangi kepergian Sofie.
Tapi Sofie tidak memperdulikan nya. Karena merasa terabaikan, Jack mencatat di secarik kertas plat bus tersebut. Bus itu pun pergi meninggalkan terminal.
Diam - diam, Jack memberitahukan pada Shane. Ia menghubunginya.
" Tuan Shane, apakah Tuan masih ingat sama saya? saya Jack !"
" Ingat dong, masa saya bisa lupa sama kamu ! Kamu menghubungi saya, ada apa?"
" Tuan, apakah Tuan memberikan ijin pada Nyonya Sofie untuk pergi berlibur sendiri?"
" Sofie? kamu melihatnya?"
" Ya, saya melihatnya !"
" Sofie ada dimana?"
" Saya tadi melihatnya di terminal, Nyonya Sofie pergi ke kota S. Dan saya telah menulis plat bus tersebut. Jika Tuan mau, datanglah ke terminal, karena akan ada bus yang sama, yang akan pergi ke kota itu."
Shane dapat bernafas lega. Tanpa menunggu lama, ia pun pergi ke terminal yang di maksudkan Jack.
" Sepertinya mereka ada masalah, mudah - mudahan saja Tuan Shane segera menemukannya." gumam Jack.
Jack menunggu ke datangan Shane. Sudah hampir sejam lebih, dan akhirnya Shane pun tiba.
" Tuan Shaneeee....!" panggil Jack sambil melambaikan tangannya.
Shane langsung berlari menghampiri Jack.
" Jack, kamu beneran kan melihat Sofie?"
" Ia, Tuan. Saya melihatnya. Ini nomor plat bus itu dan saya uda menulisnya. Itu bus kedua yang akan pergi ke kota yang sama, Tuan bisa naik itu. Saya akan bantu Tuan untuk membelikan tiketnya."
" Ya, makasih banyak ya Jack !"
Jack pergi membelikan tiket. Shane mencoba menghubungi Sofie, tapi ponsel miliknya tidak dapat dihubungi.
" Tuan, ini tiketnya !"
" Jack, kira - kira sampai di kota S, jam berapa?"
" Esok pagi Tuan, sekitar pukul 06.00 pagi."
" Apakah bus ini bisa barengan tiba nya dengan bus yang di naiki Sofie?"
" Mungkin saja Tuan, paling selisih beberapa menit saja."
" Baiklah, saya akan pergi. Ini kunci mobil saya, tolong kamu antar kerumah."
" Baik Tuan, hati - hati dijalan ya !"
Shane langsung masuk ke dalam bus itu. Semua penumpang sudah penuh, dan bus itu pun berangkat.
Shane tidak sabar melihat sang supir bus itu, karena merasa kurang cepat dalam mengendarainya. Shane menghampiri sang supir.
" Pak, apakah tidak bisa lebih cepat lagi?" tanya Shane.
" Maaf, silahkan kamu duduk." ucap sang supir.
" Pak, tolong ditambah kecepatannya, saya ada perlu ! "
" Kenapa jadi kamu yang mengatur saya? kalau kamu mau cepat silahkan naik bus yang lain !"
__ADS_1
" Oke..oke..maaf, bukan maksud saya mau mengatur Bapak. Gimana kalau saya aja yang nyetir ?"
" Apa? kamu sudah gila?"
Shane langsung menghampiri semua penumpang.
" Bapak - Bapak dan Ibu - Ibu semua, apakah kalian nyaman dengan bus ini?"
" Ga Pak, lambat sekali seperti siput. Kalau begini jalannya, kapan kita sampe nya?" ucap salah satu penumpang.
Shane kembali menghampiri supir bus itu.
" Bapak dengar sendiri kan? Bapak sangat lambat menyetir bus ini. Berikan sama saya, saya yang akan ambil alih."
Supir itu pun heran, mengapa penumpangnya mau menggantikannya. Melihat penampilan Shane, supir bus itu sepertinya tidak yakin.
" Emang kamu bisa membawa bus ini?"
" Bapak tenang aja. Bapak duduk manis di samping saya. Kita semua akan selamat, saya bisa jamin !"
Supir itu pun menghentikan bus itu. Shane langsung menggantikan posisi supir tersebut.
" Hati - hatilah, jalanan ini banyak tikungan !" titah supir bus itu.
Shane hanya tersenyum. Shane pun mulai membawa bus itu. Awalnya biasa saja, dan pada akhirnya Shane melajukan bus itu dengan ke cepatan tinggi, agar mereka semua cepat sampai di kota tujuan.
Semua penumpang pun saling berpegangan. Ada yang senang karena merasa akan tiba dengan cepat, sebagian ada yang menangis karena takut dengan kecepatan.
Supir bus yang duduk di sebelah kiri Shane, sangat ketakutan. Jantungnya berdetak tidak normal. Keringat dingin pun mengucur di seluruh tubuhnya.
" Kamu bisa pelan - pelan ga sih? banyak penumpang yang sudah berumur, " ucap sang supir.
" Bapak tenang aja, kita semua akan selamat."
Shane semakin menambah kecepatan bus. Ia hanya bisa berharap segera bertemu dengan Sofie.
****
" Shane kemana? kenapa juga kamu yang membawa mobil ini?" tanya Kris
" Tuan Shane ada urusan. Beliau tidak mau mengatakan kemana dia pergi. Saya hanya disuru mengantarkan mobil ini !""
" Kemana Shane pergi?"
Jack diam.
" Jack, kenapa kamu diam? kemana pergi nya Shane?"
" Tuan Shane pergi ke kota S. Dia mencari Nyonya Sofie !"
" Mencari Sofie? Sofie pergi ?"
" Ya, saya melihat Nyonya Sofie membawa koper yang besar. Nyonya Sofie pergi ke kota S."
" Apa? bagaimana bisa Sofie pergi?"
Setelah mengantarkan mobil mewah itu, Jack kembali bekerja.
****
Acara pesta pernikahan berlanjut sampai malam. Dion tidak bisa fokus , ia juga kepikiran akan Sofie.
Diam - diam Dion mencoba menghubungi Sofie, tapi tidak ada jawaban. Dion pun mengirimkan pesan. Karena ia yakin, Sofie akan membaca pesan tersebut.
__ADS_1
Karena sibuk dengan ponselnya, Agnes melihat dan menegurnya.
" Kamu menghubungi siapa?" tanya Agnes sambil merampas ponsel milik Dion.
" Nes, berikan ponsel itu. "
" Ga, saya akan tahan ponsel ini. Kamu tahukan ini hari bahagia kita?"
" Ya, saya tahu !"
" Kalau tahu kenapa kamu sibuk dengan ponsel mu? kamu lihat ga sih, para undangan itu pada lihatin kamu ? kamu kenapa? ada masalah?"
" Ga Nes, saya ga papa !"
" Oh jangan - jangan kamu mikiri Sofie?"
" Kamu apa'an sih? ga usah bawa - bawa nama Sofie ! "
" Trus kalau ga mikiri Sofie, kamu itu mikiri siapa?"
" Nes, saya capek. Kamu ga usah ngajak ribut."
" Kamu duluan yang buat masalah ini, kamu uda keterlaluan !"
" Terserah, "
Dion pergi meninggalkan Agnes. Para tamu undangan sebagian ada yang tidak nyaman akan sikap mereka berdua.
****
Waktu pun berlalu, malam semakin larut. Shane melihat jika semua penumpang sudah pada tenang. Tidak ada lagi yang merasa ketakutan. Ada yang sibuk main ponsel, ada yang tertidur.
Sementara supir bus itu masih merasa ketakutan. Ia menahan rasa kantuknya. Shane mencoba mengajaknya untuk ngobrol dengan canda tawa.
" Pak, kira - kira berapa jam lagi kita akan tiba di kota S?"
" 2 jam lagi. Oh ya, kamu punya urusan apa kesana? kenapa harus buru - buru?"
" Saya mengejar cinta sejati saya, Pak !"
Supir bus tertawa.
" Kenapa ketawa, Pak?"
" Cinta sejati ya? emangnya cinta sejati kamu ada di kota S ya?" kenapa ga naik pesawat aja? kan cepat sampe nya !"
" Ga ada waktu lagi, Pak."
" Tapi sepertinya kamu ini bukan orang sembarangan ya !"
" Maksud Bapak?"
" Kamu itu sepertinya orang penting, nak !"
" Hahaha, penting apa nya? saya biasa - biasa aja kok, Pak !"
" Lihat penampilan mu, kamu rapi, wangi parfum mu sepertinya sangat mahal, kamu tampan. Kamu bukan orang sembarangan. Saya juga tadi melihat mobil mu, mobil kamu mahal, hanya orang terpandang lah yang bisa memilikinya !"
" Ahh..Bapak bisa aja, saya orang biasa aja kok, itu tadi mobil pinjaman, hehehe...!"
" Kamu terlalu merendah, nak !"
" Kita semua sama kok, Pak !"
__ADS_1
" Ya, kita sama hanya saja beda rejeki, nak !"
Shane dan supir bus itu pun tertawa terbahak - bahak.