" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 80 " Tertembaknya Sofie "


__ADS_3

" Sofie, sekarang juga kita pulang, kita bicarakan ini dirumah baik - baik !" titah Shane.


" Saya ga mau pulang, karena urusan saya belum selesai. "


Sofie mendekati Pamannya. Dengan tatapan sinis, wanita cantik itu menatap tajam mata Paman yang telah menyakiti hatinya.


" Dulu saya mungkin gadis polos, yang selalu sabar akan perlakuan kasar Paman, tapi sekarang saya tidak akan bisa membiarkan Paman menyakiti saya lagi. Kenapa Paman melakukan ini? apa salah orang tua saya, Paman? jawab Paman !" bentak Sofie dengan suara lantangnya.


" Kamu uda berani ya melawan Paman mu sendiri. Dasar anak ga tahu diri. Kamu sama seperti orang tua mu , manusia ga tahu diri. Asal kamu tahu orang tua mu uda terlalu ikut campur urusan Paman." jawab Paman nya dengan nada sinis.


" Ikuti campur masalah apa, Paman?"


" Banyak hal, saya benci melihat orang tua mu, begitu juga dengan diri mu."


" Kenapa dulu Paman ga membunuh saya juga? biar sekalian saya mati sama seperti orang tua saya."


" Sudahlah Sofie, semua uda terlanjur. Tidak ada lagi yang perlu di sesali."


" Seenaknya Paman mengatakan seperti itu. Paman jahat. Paman pernah mikir ga sih, anak - anak Paman itu masih kecil, apa yang Paman lakukan ini akan berdampak pada anak - anak Paman ?"


" Terserah kamu mau ngomong apa Sofie. Tapi yang jelas, saya benci sama kamu. Puas kamu !"


Sofie kembali menangis.


" Sofie, kita pulang sekarang." Shane menarik paksa tangan istrinya itu.


" Hentikan Shane, lepaskan tangan saya !" Sofie mencoba melawan.


" Ga, saya ga akan melepaskan tangan mu. Sekarang kita pulang !"


Shane terus menarik tangan Sofie hingga Sofie pun terjatuh.


" Lepaskan tangan saya. Saya akan menyelesaikan masalah ini, dan kamu, kita akan selesaikan masalah kita dirumah."


" Mau kamu apa sih?"


" Seharusnya saya yang bertanya seperti itu sama kamu, Shane ! Mau kamu itu apa sampai kamu mau bekerja sama dengan Paman Sammy?"


" Kamu jangan pernah ikut campur urusan saya."


" Kalau saya ga bisa ikut campur urusan kamu, mending kita pisah!"


" Kamu uda gila !"


" Saya ga gila, mending kita ambil jalan masing - masing dari pada saya harus tertekan batin karena perbuatan kamu."


" Ga usah diterusin, sekarang kita pulang."

__ADS_1


" Saya ga mau pulang."


"Jangan pernah membantah saya, Sofie !"


Shane terus menarik tangan istrinya itu, lalu ia memasukkan Sofie ke dalam mobil.


" Masuk !" ucap Shane dengan nada suara yang kuat.


Sofie mencoba melawan suaminya itu. Sofie mencoba keluar dari dalam mobil dan tanpa sepengetahuan Shane, Sofie pun berhasil lolos keluar dari dalam mobil. Sofie berlari ke arah kapal yang berlabuh, ia trus berlari hingga Sofie tidak melihat ada Bibi Marry dihadapannya.


" Sofie !" panggil Bibi Marry


Sofie pun terkejut akan suara Bibi nya itu.


" Kamu mau kemana?" tanya Bibi Marry dengan tersenyum tipis.


" Saya mau kemana, itu bukan urusan Bibi."


Bibi Marry tertawa lepas melihat sikap keponakannya itu.


" Dasar wanita bodoh !" Bibi Marry pun mendorong tubuh Sofie hingga Sofie terjatuh.


Sofie mencoba bangkit dan ia mencoba melawan Bibi Marry, tapi sayangnya Paman Sammy berhasil menembakkan sebuah peluru ke tubuh Sofie.


Dorrrr...!


Sebuah peluru menghujam punggung keponakannya itu, dan Sofie pun terkapar bersimbah darah.


Shane mendengarkan suara tembakan itu dan ia langsung berlari menghampiri istrinya itu.


" Sofieeeee...bangun Sofieeee, bangun Sofieeee....!" teriak Shane.


Bibi Marry dan Paman Sammy langsung melarikan diri. Mereka langsung menaiki speedboat.


Orang - orang pun langsung berkerumun menyaksikan kejadian itu. Seseorang langsung menelpon ambulance agar segera datang.


Dengan berlumur darah, Shane memeluk tubuh istrinya itu. Dan tak berapa lama, ambulance pun segera tiba di lokasi kejadian. Perawat itu langsung membawa Sofie.


Shane tidak ikut menemani Sofie di dalam ambulance itu. Ia mencari Paman Sammy dan Bibi Marry. Shane tidak menduga jika Paman Sammy melakukan penembakan itu.


Shane menjadi geram, emosinya pun memuncak. Seorang dari petugas di pelabuhan itu memberikan informasi kalau Paman Sammy dan istrinya telah melarikan diri dengan menaiki speedboat.


Shane langsung mengejar mereka. Ia benar - benar sangat marah, ia pun tidak akan bisa memaafkan Paman Sammy dan istrinya.


****


Ambulance itu pun tiba di rumah sakit. Sofie langsung mendapatkan perawatan.

__ADS_1


Karena melihat darah yang begitu banyak, salah satu Dokter yang bertugas saat itu mengatakan agar menyediakan donor darah.


Sofie langsung dibawa ke ruang operasi. Semua alat - alat operasi sudah disediakan. Team Dokter dan seluruh perawat pun telah bersedia untuk melakukan tindakan operasi.


Pakaian yang digunakan Sofie pun diganti oleh seorang perawat. Lampu sorot operasi pun di nyalakan, tabung oksigen juga telah di sediakan. Tindakan operasi pun segera dilakukan.


Semua menjadi hening, hanya terdengar suara patient monitor yang terdengar. Seorang perawat memantau patient monitor itu, agar semua team medis tahu detak jantung, tekanan darah, nadi ,temperatur si pasien.


Waktu terus berjalan, sudah hampir satu jam tindakan operasi berlangsung. Ternyata ada 2 peluru yang menyasar di tubuh wanita cantik itu.


****


Shane terus mengejar Paman Sammy dan Istrinya. Shane tidak akan melepaskan mereka. Mereka berdua harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


" Apa yang harus kita lakukan? Shane terus mengejar kita !" ucap Bibi Marry ketakutan.


" Shane ga akan bisa mengejar kita. Kita akan masuk ke dalam laut ini, ini jalan satu - satunya agar kita selamat. "


" Apa? kita akan masuk ke dalam laut ini? saya ga mau, kamu udah gila !"


" Kamu mau selamat ga ? kalau ga mau, tetaplah bertahan di speedboat ini."


Bibi Marry pun tidak mau tinggal seorang diri di speedboat itu. Ia pun mengikuti arahan dari suaminya.


Shane melihat Speedboat mereka. Shane mengeluarkan pistol miliknya, ia mencoba menembakan ke arah speedboat itu.


Dorrrrr...


Sebuah peringatan agar Paman Sammy menyerahkan dirinya. Bukannya menyerahkan dirinya, Paman Sammy dan Bibi Marry pun langsung menjatuhkan dirinya ke dalam laut itu.


Shane mencoba menembakkan ke arah Paman Sammy, tapi sayangnya tidak mengenai sasaran.


Shane terdiam dan berdiri mematung. Ia tidak berhasil menangkap Paman dan Bibi Sofie.


Air matanya pun berlinang, ia telah gagal. Ia tidak bisa membalaskan dendam nya pada pria paruh baya itu.


Ponselnya pun berdering. Ia mencoba mengangkatnya. Ternyata dari pihak Rumah Sakit.


" Hallo...!" sapa Shane dengan suara parau.


" Saya dari Rumah Sakit Sentosa Abadi, ingin memberitahukan bahwa istri Bapak, Ibu Sofia Agatha telah selesai melakukan operasi. Operasi nya berjalan dengan lancar, Pak. Kami mengharapkan kehadiran Bapak agar datang ke Rumah Sakit sekarang juga ."


" Ya, baiklah saya akan datang. Terimakasih suster."


Shane mematikan ponselnya.


" Kalian berdua ga akan bisa lolos, saya akan kembali untuk membunuh kelian berdua, cuihhh...!" ucap Shane

__ADS_1


Shane pun kembali menghidupkan mesin speedboatnya dan ia pun berlalu dari tempat itu.


Operasi pengangkatan peluru dari tubuh Sofie pun selesai. Sofie langsung dipindahkan keruang ICU, agar mendapatkan perawatan yang lebih intens.


__ADS_2