" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 6 " Dipecat Dari Pekerjaannya "


__ADS_3

Sofie pun buru - buru mandi. Shane mengantar Sofie kesekolah. Tibalah mereka di lokasi sekolah. Ia melihat gerbang sekolah sudah ditutup.


Sofie mencoba memanggil security.


" Pak, tolong bukain gerbangnya, sudah waktunya saya ngajar, Pak." Pinta Sofie memohon.


" Maaf Miss Sofie, saya ditugaskan Ibu Kepala Sekolah tidak memberikan Miss Sofie masuk."


" Apa? kenapa, Pak? kenapa saya tidak diijinkan masuk? apa salah saya?"


" Saya ga tahu Miss. Miss coba tanyakan ke Ibu Kepala Sekolah aja."


Tak berapa lama Ibu Marsha, Kepala Sekolah itu pun keluar.


" Selamat pagi, Bu. Maaf hari ini saya terlambat, Bu."


"Maaf Miss, kami tidak bisa menerima Miss Sofie lagi."


" Kenapa Bu? apa salah saya?"


" Kami dapat kabar, kalau Miss Sofie selain mengajar mempunyai pekerjaan sampingan."


" Ibu kan tahu kerja sampingan saya, saya ngajar privat. Selama ini, kenapa Ibu tidak mempersalahkannya?"


" Bukan itu maksud saya. Miss Sofie bekerja ??"


" Bekerja apa, Bu?"


" Miss Sofie menjadi wanita malam."


" Apa? wanita malam? siapa yang bilang, Bu?"


" Mamanya Jesi. Jadi maaf Miss, kami dengan terpaksa memberhentikan Miss sebagai staf pengajar di sekolah kami."


" Bu, itu tidak benar Bu. Saya tidak melakukan itu. Percayalah sama saya , Bu."


" Maaf Miss, sekarang pergilah jangan pernah datang lagi ke sekolah ini."


" Bu, berikan saya waktu, Bu. Ijinkan saya masuk Bu. Saya akan jelaskan semua yang dikatakan Bibi saya, itu semua tidak benar Bu."


" Sofie....." Panggil Sir Kevin.


" Sir Kevin, tolong bukain gerbangnya saya akan jelaskan, Sir."


" Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semua sudah jelas. Ternyata kamu seperti itu. Saya tahu kamu memang butuh uang, tapi kenapa harus melakukan hal yang bodoh seperti itu."


" Jadi, Sir Kevin percaya ?"


" Ia. Karena ada bukti, Miss."


" Bukti apa? hanya Sir Kevin teman curhat saya. Sir tahu kehidupan saya gimana, Sir tahu kalau Paman dan Bibi saya ga suka lihat saya kan?"


" Ia saya tahu, tapi maaf Miss Sofie..kali ini saya benar percaya sama Paman dan Bibi mu. Permisi."


Sofie menangis didepan gerbang sekolah itu. Shane melihatnya. Tapi ia hanya diam saja. Tidak ada rasa empatinya pada Sofie. Benar - benar kejam.


..." Ini semua karena Shane. dia telah menghancurkan hidup saya. Semua hancurrrr...."...


...Ucap Sofie...


...Sofie menangis histeris....


" Hei...cepatan masuk, kamu mau saya tinggal ?" Kata Shane.


Sofie menghampirinya.


" Kamu puaskan? kamu uda buat hidup saya hancur. Kamu uda nodai saya, saya diusir dari rumah Paman dan sekarang saya dipecat dari pekerjaan saya. Puas kamu? ini yang kamu ingin kan dari saya kan? Jawab?" Bentak Sofie pada Shane.


Sofie menangis....


" Kamu tega. Sekarang pergilah tinggalkan saya." Kata Sofie lagi.


Sofie pergi. Ia berjalan pelan meninggalkan Shane. Ia terus menangis...


" Sofie, tunggu....!"


Shane menarik tangannya.


" Kamu ikut saya."

__ADS_1


" Ga. Tinggalkan saya."


" Kamu mau kemana ?"


"Ga usah perdulikan saya. Pergi kamu..!"


" Kamu ga boleh pergi ninggalin saya. Ngerti ? sekarang ikutlah dengan saya."


" Lepaskan tangan saya. Saya ga akan pernah mau tinggal sama kamu."


" Ayok, ikut saya."


Shane pun menarik tangan Sofie. Ia memaksa Sofie untuk masuk kedalam mobilnya. Lalu Shane mengemudikan mobilnya sangat kencang sekali. Shane membawa Sofie ke makam orang tuanya.


" Ngapain kamu bawa saya kesini? kamu mau mengubur saya hidup - hidup?" Tanya Sofie dengan kesalnya.


'' Lihat ini...!"


" Ini makam siapa? Tanya Sofie ketus.


" Ini makam orang tua saya. Papa Mama saya ada disini."


" Trus apa hubungannya saya dengan mereka?"


" Saya mau didepan makam Papa Mama saya, saya mengaku salah karena uda berbuat salah sama kamu. Saya mau kamu tinggal bersama saya. Seharusnya kamu berterimakasih pada saya, karena saya uda nyelamatin kamu dari Paman dan Bibi mu."


" Itu bohong. Kalau kamu mau selamatkan saya dari mereka, kenapa kamu menghancurkan masa depan saya?"


" Itu jalan yang saya tahu. Saya pernah melihat kamu, kalau kamu di lempar dengan sebuah gelas, ketika kamu dan Bibi mu berada di sebuah restaurant. Lalu, saya mencari identitas kamu. Mencari tahu tentang kamu."


Sofie kembali menangis.


" Saya banyak tahu tentang kamu, Sof. Karena Paman mu juga pernah cerita. Saya tahu kamu adalah orang baik. Kamu ingin menyelamatkan Paman mu kan? tapi semua sudah terlanjur. "


" Saya ga percaya sama kamu. Kamu tetaplah orang jahat yang saya kenal."


" Terserah kamu."


" Saya ga mau lagi berurusan dengan kamu. Saya mau pergi."


" Jangan coba - coba pergi dari kehidupan saya. Didepan makam Papa Mama saya, saya berjanji akan menikahi kamu. Maafkan saya kalau saya uda menodai kamu. Saya akan janji untuk menikahi kamu, kalau kamu mau memaafkan saya"


" Kita pulang sekarang."


" Ga, saya ga mau pulang sama kamu."


" Jangan membantah. Ayok pulang, ikut dengan saya. Kamu mau hidup kamu jadi gelandangan? kamu ga punya pekerjaan lagi, kamu ga punya uang, kamu ga punya tempat tinggal."


Sofie kembali menangis. Ia terduduk di depan makan orang tua Shane.


" Kamu wanita kuat Sofie." ucap Shane.


Sofie membersihkan makam itu.


" Kita sama - sama yatim piatu, ikutlah dengan saya." Kata Shane meyakinkan Sofie.


Sofie memandang wajah Shane.


" Kita pulang sekarang ya.." Pinta Shane.


Sofie pun ikut bersama Shane. diperjalanan Sofie terus menangis. Begitu berat beban yang ia pikul. Semua harapan dan cita - citanya sirna. Tidak ada lagi yang percaya padanya.


Sekarang Shane lah yang akan menjadi temannya. Ntah sampai kapan, Shane bisa menjadi pria baik yang dia inginkan. Mereka pun kembali ke rumah Shane.


" Jangan nangis lagi. Turunlah. Istirahatlah. Selama tinggal sama saya, jangan pernah ikut campur masalah saya, apalagi pekerjaan saya."


Sofie memandangi wajah Shane.


" Sofieeee....kamu kalau ditanya dijawab dong..!"


Sofie manggangguk.


" Jangan nangis lagi, saya paling ga suka lihat orang nangis. Ngerti??"


" Kamu kasar banget sih jadi orang? bisa ramah dikit ga?" Tanya Sofie kesal.


" Ga bisa. Makanya kamu jangan nangis lagi. Turunlah, saya mau pergi keluar sebentar. Ingat....jangan coba - coba lari dari saya. Kamu akan tahu akibatnya kalau melawan."


Sofie pun turun. Ia masuk kedalam rumah. Ia melihat bibi Janet sedang membuat makanan.

__ADS_1


" Bi....!"


" Ehh..nak Sofie, kamu uda makan belum?"


" Sudah Bi, Bibi masak apa?"


" Nastar nenas, nak. Ini kesukaan Shane. Kalau ada nastar, dia betah berlama - lama didalam kamar, hehehee...."


" Oh, gitu. Bisa saya bantu, Bi?"


" Nanti kamu capek, nak."


" Ga papa, Bi. Saya juga suka buat kue hehehe.."


" Wahhh...pas sekali dong. Shane itu suka makan. Kamu harus pintar ambil hatinya, dengan buat kue kue kesukaannya. Pasti nanti dia semakin sayang sama kamu."


" Hahahahaha...Bibi bisa aja. Bi, saya mau nanya. Bibi kok betah tinggal bareng Shane?''


" Shane itu sebenarnya orang baik, nak. Panjang ceritanya kenapa dia bisa seperti ini sekarang. Tapi, jangan takut nak, Shane itu baik sekali. Bibi kenal betul gimana sifatnya."


" Oh begitu ya, Bi."


" Kalau Shane mau makan, kamu yang hidangkan ya?"


" Kenapa, Bi?"


" Biar dia makin sayang sama kamu. Ambil hatinya nak. Shane kurang kasih sayang. Dia juga ga pernah jatuh cinta pada wanita, hehehehe, padahal umurnya sudah ga mudah lagi. Bibi kasihan lihat Shane. Kamu sabar ya..."


" Ia, Bi. Oh ya, ini nastarnya uda masak Bi."


" Oww..ooowww..wangi sekali, Sofie.."


" Ia Bi, boleh ga saya cicip satu aja..."


" Ga boleh...nanti habis.." Sahut Shane.


" Tuan Shane uda datang ?"


" Ia, Bi. Lagi buat nastar ya? hhmmm..wangi sekali."


" Ia, Tuan. Nastar ini buatan Sofie. Sofie lah yang membuatnya."


" Oh ya? kamu yang buat ya?" Shane bertanya pada Sofie."


Sofie jadi salah tingkah dilihat Shane. Tatapan Shane begitu tajam.


" Ehhmmm...ga...saya ???"


" Tuan Shane, Sofie pintar juga buat berbagai makanan. Selain cantik, Sofie juga pintar masak. Sofie, lanjutkan lagi ya buat nastarnya. Bibi mau lihat jemuran dulu."


" Tapi, Bi??"


Bibi Janet pun pergi meninggalkan mereka berdua.


" Ayo lanjutkan buat kue nya?"


" Saya??"


" Kenapa? kamu takut? atau sebenarnya kamu ga bisa buat kue?"


Sofie sangat kesal mendengar ucapan Shane. Sofie pun melanjutkan membuat kuenya.


Shane melihat Sofie, ia memperhatikan bagaimana Sofie melakukannya.


" Awas gosong, kalau gosong kamu tahukan apa akibatnya?"


" Kamu bisa diam ga sih?"


" Mana bisa saya diam. Ini kan rumah saya."


" Ia, saya tahu ini rumah kamu."


" Sofieee.....nanti antarkan nastarnya ke kamar saya."


" Ini sudah ada yang masak. Sekalian aja bawa. Ga usah manja pake diantarin. Punya tangan kan? jadi bawa aja sendiri. "


" Kamu tahu kan apa akibatnya kalau menentang saya?"


" Saya ga perduli. "

__ADS_1


Shane menghela nafasnya....


__ADS_2