
Sofie sangat ketakutan. Ia hanya bisa menangis dan berdoa di dalam gedung kosong yang gelap itu. Hanya suara jam rakitan bom itu yang terdengar.
Sofie tidak bisa berbuat apa - apa. Jika ia bergerak, ia takut kalau bom itu terjatuh dari pangkuannya.
Shane dan pihak kepolisian terus melacak pencarian Sofie. Mereka mulai menemukan titik dimana Sofie berada.
Shane sangat cemas sekali. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Shane pun mengingat Paman Sammy. Ia mencoba menghubunginya. Awalnya Paman Sammy tidak menjawabnya. Shane terus saja menghubunginya, dan akhirnya Paman Sammy pun menjawabnya.
" Paman, tolong jawab dengan jujur, dimana Sofie?"
" Sofie? kenapa dengan Sofie?"
" Sofie hilang, saya ga tahu dimana keberadaannya. Jadi saya minta pada Paman, tolong jawab dengan jujur, dimana Paman menyembunyikan Sofie?"
" Kamu kenapa sih Shane, kamu selalu aja menuduh saya?"
" Saya yakin pasti Paman telah menyembunyikan Sofie, karena saya tahu, Paman itu dendam dan benci pada Sofie !"
" Kemarin kamu nuduh saya mencuri senjata mu, sekarang kamu menuduh saya menculik Sofie. Mau kamu apa sih?"
" Saya hanya mau kejujuran dari Paman. Kalau saya mengetahui semua ini adalah perbuatan Paman, lihat aja, saya ga akan kasih ampun pada Paman. "
Paman Sammy langsung mematikan ponsel miliknya. Shane semakin yakin pasti ini adalah perbuatan Paman nya itu.
Akhirnya pihak kepolisian mengetahui keberadaan Sofie. Mereka semua pergi menuju ke tempat penyekapan itu.
Mobil pun melaju sangat kencang. Dan akhirnya mereka pun tiba di tempat itu.
" Sepertinya gedung ini kosong !" ucap salah satu polisi yang ikut mencari Sofie.
Polisi itu mencoba membuka pintu itu, tapi sayangnya pintu itu tidak bisa dibuka.
" Pintu ini ga bisa dibuka !"
" Hancur kan aja !" pesan Polisi yang lainnya.
Shane pun ikut membantu pihak kepolisian itu. Dengan menggunakan linggis, akhirnya pintu gedung kosong itu pun terbuka.
Didalam sangat gelap sekali. Gedung itu sangatlah besar dan luas. Mereka mencoba memanggil Sofie. Tapi sayangnya tidak ada jawaban dari Sofie.
__ADS_1
" Apa Bapak yakin jika Sofie disekap di tempat ini?" tanya Shane.
" Ya. Baiklah, sekarang kita berpencar !" titah salah satu Polisi itu.
Mereka semua pun berpencar. Dalam keheningan itu, mereka pun mendengar suara dentingan jam.
" Sofieeee...!" teriak Shane.
Para Polisi itu juga memanggil nama Sofie, tapi sayangnya tidak ada jawaban.
Di dalam gedung kosong itu banyak ruangan - ruangan kosong. Akhirnya gedung itu pun terang benderang. Lampu di gedung kosong itu sebagain menyala.
" Saya mendengarkan suara dentingan jam dari arah ruangan ini." ucap salah satu Polisi itu.
" Tolong buka pintunya !" titah Polisi yang lain.
Polisi itu pun membuka pintu itu.
" Pintu ini dikunci !"
" Kita akan mendobraknya !"
Mereka semua pun mencoba mendobrak pintu itu. Dan akhirnya pintu pun terbuka.
" Semuanya mundur, kita harus hati - hati !" ucap salah satu Polisi itu.
Melihat ada sebuah bom di atas pangkuan Sofie, Shane sangat panik.
" Sofieee, siapa yang melakukan ini?" ucap Shane dalam kepanikannya.
Sofie terus saja menangis. Ia tak bisa berbicara atau pun bergerak sama sekali. Karena mulutnya di plester menggunakan lakban berwarna coklat.
Air matanya terus saja mengalir. Sorot matanya menunjukkan kalau Sofie dalam ketakutan.
Mereka hanya punya waktu 20 menit lagi untuk menyelamatkan Sofie, kalau saja lewat, bom yang ada dipangkuan Sofie akan meledak.
Shane pun mencoba menjinakkan bom itu. Semua Polisi yang ikut dalam pencarian Sofie melarang keras. Karena tidak semua orang bisa menjinakkan bom. Shane tahu betul apa yang harus ia lakukan.
Perlahan ia maju. Ia mencoba menenangkan istrinya itu. Karena bom itu memakai timer / jam, maka Shane mencoba memotong aliran listrik dari pemicu ke detonator.
" Hati - hati lah jangan sampai salah memotong kabelnya !" ucap salah satu Polisi itu.
__ADS_1
Shane hanya menganggukkan kepalanya. Karena ada dua kabel dengan warna yang sama, Shane pun harus benar - benar teliti. Kabel mana yang harus ia potong. Waktu tinggal 15 menit lagi. Shane belum juga memotong salah satu kabel itu.
Tit...tit..tit..tit..suara jarum jam terus berdenting. Polisi - Polisi itu mencoba membantu Shane.
Shane mencoba memotong kabel sebelah kanan. Ia sangat yakin. Tapi para Polisi itu melarangnya, mereka mengatakan jika kabel yang harus di potong sebelah kiri. Ya, begitulah terus. Kabel sebelah kanan atau kiri yang menjadi permasalahan.
Tak terasa waktu tinggal 5 menit lagi. Shane benar - benar bingung harus memotong kabel yang mana. Shane menatap wajah istrinya itu, air mata Sofie terus saja mengalir.
" Shane, ikuti kata hati mu. Kabel mana yang harus kamu potong!" ucap salah satu Polisi itu.
Shane memegang tangan istrinya itu.
" Sofie kamu jangan takut, saya akan menyelamatkan mu !" ucap Shane meyakinkan istrinya itu.
Sofie hanya bisa mengangguk pelan.
Semua Polisi itu mundur perlahan - lahan.
" Jika Tuhan berkehendak, kita berdua akan selamat. Tapi kalau memang kita di takdirkan untuk mati bersama, kita akan mati bersama - sama !" ucap Shane.
Mendengar ucapan suaminya itu, Sofie semakin menangis. Shane kembali memegang tangan istrinya itu.
" Kamu jangan bergerak, diam dan tenanglah." ucap Shane lagi.
" Shane , kamu yakin kabel itu sebelah kanan?" tanya salah satu Polisi itu.
Shane hanya bisa menganggukan kepalanya.
Dengan sangat yakin, Shane pun akan memotong kabel sebelah kanan. Kedua tangannya terasa kaku dan dingin. Keringat mengucur terus dari pelipisnya.
Shane tak akan pernah memaafkan orang yang telah berbuat jahat pada istrinya itu. Akhirnya Shane pun memotong kabel itu.
Tekkkk..kabel terputus. Suara jarum jam berhenti. Shane belum melanjutkannya lagi. Ia masih menunggu, apakah timer itu menyala lagi atau tidak.
Waktu tinggal 3 menit lagi. Suara jarum jam itu sudah berhenti. Karena bom itu mempunyai 4 komponen, power, initiator, explosive, dan switch, maka Shane harus mematikan switch ( saklar ). Shane terus melakukannya sampai bom itu benar - benar tidak berfungsi lagi.
Shane membuka semua kabel - kabel itu. Banyak kabel yang terlilit. Ia harus sabar dan teliti mana kabel yang harus dilepas.
Akhirnya bom itu pun berhasil di jinakkan. Sofie pun selamat dari ancaman bom itu.
Para Polisi itu pun memastikan lagi kalau bom itu sudah tidak berfungsi lagi. Shane langsung membuka ikatan tali dan membuka plester yang masih menempel pada mulut Sofie.
__ADS_1
Tali dan plester pun lepas. Akhirnya Sofie pun selamat. Shane langsung memeluknya. Ia tahu jika Sofie sangatlah trauma akan kejadian ini.
Shane menenangkan istrinya itu. Polisi - Polisi itu sangat terharu akan keberanian Shane. Cinta suci yang dimiliki sang mafia itu dapat mengalahkan rakitan bom yang sangat bahaya.