" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 20 " Sofie Sakit "


__ADS_3

"Gimana, apakah kamu mau?" tanya Sofie


" Ga...., saya ga akan biarin Bibi Janet pergi dari rumah ini. Saya uda janji, saya akan selalu bersama Bibi Janet sampai masa tuanya."


" Ya da, terserah kamu. Oh ya, ada yang mau saya omongin ke kamu, ini penting banget."


" Apa?"


" Masalah Agnes. Kamu yakin memang mau nikahi Agnes?"


" Agnes lagi. Kenapa dengan Agnes? kan uda saya bilang, saya mau nikahi Agnes. Kamu kenapa sih? kamu ga suka kalau saya nikah sama Agnes? "


" Ia. Saya memang ga suka kamu nikah sama wanita itu. Dia uda bohongi kamu, Shane."


" Saya tahu, kamu memang benci dia, tapi jangan coba - coba kamu menghasut saya untuk tidak menikahi Agnes. Agnes itu baik, malah lebih baik dari kamu yang sok tahu dan selalu sibuk ngurusi hidup orang lain."


" Terserah kamu mau bilang apa. Tapi Agnes itu yang saya tahu uda punya pacar, namanya Dion. "


" Hahahahaha...Sofie, kamu mimpi atau apa sih ini? pacar kamu bilang? keliatan banget kamu emang benci dia. Uda ya, saya ga mau berdebat sama orang yang ga jelas kek kamu. Sekarang silahkan pulang. Sakit pala lihat kamu. "


Shane pergi meninggalkan Sofie. Sofie pun cemberut karena merasa dicuekin.


..." Kasihan kamu Shane, kamu ditipu wanita yang kelihatannya baik didepan kamu. Ahh... sudahlah. Ngapain juga saya ngurusi dia, toh juga dia ga pernah percaya sama saya. "...


...Gerutu Sofie...


Sofie kembali masuk kekamar Bibi Janet.


" Bi, gimana uda enakan belum?"


" Uda nak. Kamu mau pulang ya?"


Sofie menganggukan kepalanya.


" Ya da, kamu hati - hati dijalan ya. Jaga kesehatan kamu ya nak."


" Ia, Bi. Bibi juga, kalau kerja ga usah dipaksain. Kalau perlu telpon saya aja Bi, saya akan bantu Bibi."


" Makasih nak Sofie. Kamu memang anak yang baik. "


" Sama - sama, Bi. Saya pamit ya, Bi."


" Ia, nak.."


Sofie memeluk Bibi Janet. Berat rasanya ia meninggalkan wanita tua itu dalam kondisi seperti ini. Tapi mau tidak mau, ia harus pergi.


Sofie pun keluar dari kamar Bibi Janet, Shane melihat ya dan ia pun memanggilnya.


" Saya laper. Ga ada makanan." Kata Shane.


Sofie menghentikan langkahnya, ia pun melihat ke arah Shane.


" Lapar?"


" Ia lapar. Kamu budek ya?"


" Panggil aja calon istri kamu itu, dia suru masak. Enak aja nyuruh - nyuruh orang. "


" Saya maunya kamu yang masak."


" Saya? ogah....!!!"

__ADS_1


" Kamu berani mencoba melawan saya?"


" Kamu ngancam saya? emangnya saya takut? saya ga takut lagi sama kamu. Kamu dengar Shane, saya kesini demi Bibi Janet, bukan kamu. Masalah kamu lapar, Agnes dong suru masakin buat kamu. Kamu nikahi Agnes untuk apa? untuk hanya senang - senang aja bareng kamu? trus masalah perut kamu, kamu nyuruh orang lain? "


" Ya uda kalau ga mau, pergi sana..!" Bentak Shane.


Shane kembali naik ke atas, ia pun membanting pintu kamarnya.


Melihat itu, Sofie merasa kasihan. Ya, Sofie anak yang tidak tega'an melihat masalah orang kelaparan.


Sofie pun mengurungkan niatnya tidak langsung pulang. Ia pun pergi ke dapur untuk memasak.


Ia membuka isi kulkas. Ia melihat bahan makanan, hanya ada ayam. Bibi Janet tidak bisa belanja keperluan dapur karena ia sakit.


Sofie pun mulai memasak makanan untuk mereka. Dari dalam kamar, Shane mencium aroma masakan .


Shane tersenyum. Ia membuka pintu kamar dan menengadah ke luar pintu kamarnya.


Benar saja, Sofie sedang di dapur. Ia turun perlahan - lahan. Ia mengintip Sofie yang sedang masak.


..." Sofie begitu perduli pada saya dan Bibi Janet. Beda dengan Agnes. Tapi saya ga mungkin ingkari janji saya dengan Agnes....


...Gumam Shane....


Sofie pun selesai memasak. Ia merapikan semua peralatan masak dan merapikan dapur. Ia juga menulis beberapa pesan dan ia menempelkannya di pintu kulkas.


Ia menulis daftar belanja keperluan dapur. Ia berharap Shane melihat dan membelinya.


Sofie menata makanan itu di meja makan. Dan keluar dari dapur untuk memanggil Shane.


" Kamu? ngapain kamu disini? " Tanya Sofie yang melihat Shane ketahuan mengintipnya.


" Hanya apa? "


Perut Shane pun mulai keroncongan.


" Kamu uda lapar ya? sekarang makanlah, oh ya..ada beberapa keperluan dapur yang harus kamu beli. Stok makanan di kulkas uda habis. Kamu yang beli ya? bibi Janet kan masih sakit."


" Ia...." Jawab Shane datar


" Ya da kamu makan ya. Saya pamit."


" Ini sudah malam, kamu berani pulang sendiri?" Tanya Shane


" Berani. Kalau ada apa - apa, kabari saya ya."


" Sofie, kenapa kamu masih baik sama saya?" Tanya Shane penasaran


Sofie tersenyum


" Berbuat kebaikan itu pahalanya besar. Saya ga mau punya dendam sama siapa pun. Kita hidup di dunia ini hanya sementara Shane. Kita jahat sama orang itu ga ada artinya. "


Mata Sofie mulai berkaca - kaca.


" Ya da, kamu makan, nanti keburu dingin makanannya. Saya pamit ya."


Sofie pergi meninggalkan Shane. Sofie pun menangis.


..." Kalau kamu tahu Shane, saya itu sayang sama kamu. Apapun saya lakukan tapi kamu ga pernah peka. ucap Sofie sambil menutup pintu pagar rumah itu....


****

__ADS_1


Pagi ini, Sarah pergi ke sekolah diantar oleh Pamannya, Dion. Papi Maminya tidak bisa mengantar Sarah karena sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.


Sofie sudah berada disekolah. Hari ini wajahnya begitu pucat. Ia tidak semangat untuk mengajar.


Sarah melihat Miss kesayangannya itu. Dan ia pun menghampirinya.


" Pagi Miss....!" Sapa Sarah


" Pagi juga nona cantik." Jawab Sofie


" Miss, sakit ya? wajah Miss pucat sekali."


" Ga nak, Miss baik - baik aja kok. "


" Ga lho Miss, wajah Miss itu pucat banget. Saya akan telpon Paman saya, biar Paman saya yang bawa Miss ke dokter. Tunggu ya Miss."


" Ga usah Sarah. Miss baik - baik aja kok."


Sarah tidak mendengarkan Miss nya itu. Ia pun menelpon Pamannya. Dan Paman Dion pun segera datang.


Sarah juga memberitahukan masalah ini ke Bapak Kepala Sekolah. Pak Kepsek itu pun memberikan ijin agar Dion membawa Sofie ke dokter.


Dengan senang hati Dion pun membawa Sofie ke dokter.


Tak berapa lama, mereka pun tiba di rumah sakit. Sofie segera di periksa. Dion menelpon Agnes, ia memberitahukan kalau ia sedang membawa guru Sarah ke rumah sakit.


Dokter pun selesai memeriksa Sofie.


" Pak Dion sebaiknya Bu Sofie harus menjalani rawat inap dulu, karena kondisi tubuhnya sangat lemah sekali. Tekanan darahnya sangat rendah Pak. Kami akan periksa kembali kondisi Bu Sofie. "


" Oh ya Dok, mana yang terbaik buat Sofie, lakukan saja. Saya yang akan tanggung biayanya. "


" Baik, Pak. Permisi pak."


Dokter Agung yang menangani Sofie, pergi meninggalkan Dion.


Dion pun memberitahukan kepada Kepala Sekolah Sarah.


Dion memasuki ruang IGD itu, ia melihat kondisi Sofie terbaring lemah.


" Kata Dokter kamu akan jalani rawat inap dulu."


" Makasih ya Pak, saya uda ngerepotin Bapak."


" Hehehe, jangan panggil Bapak dong. Kan saya belum Bapak - Bapak."


Tiba - tiba saja, Agnes menelpon Dion. Ia mengatakan kalau ia mau melihat guru yang sakit itu. Dion pun mengiyakan permintaan Agnes.


Sofie pun dipindahkan ke ruang rawat inap. Infus pun terpasang. Tak berapa lama Agnes pun tiba di rumah sakit itu.


Dion mengajak Agnes untuk melihat Sofie. Tapi perawat itu melarangnya, agar Sofie dapat beristirahat terlebih dahulu.


" Ya da, kita pulang ya, lagian Perawat nya ga kasih ijin kamu masuk kedalam." Kata Dion


" Pelit banget sih tu Perawat, lihat aja ga boleh. Saya kan uda capek datang kesini."


" Kamu sih, pake ngotot minta kesini. Ya da besok kan masih ada waktu buat lihat dia."


" Awas ya, kalau kamu tertarik sama guru nya Sarah itu." Ancam Agnes


" Hahaha, kamu cemburu ya? guru nya itu memang cantik sih. Tapi ya ga mungkin dong saya suka sama dia. Saya kan cintanya cuma sama kamu. Ya da kita pulang. Ada yang mau saya bilang ke kamu."

__ADS_1


__ADS_2