" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 44 " Siuman "


__ADS_3

" Penghianatttttt...arrgghhh...!" kembali Shane memporak - porandakan kamarnya. Shane sangat terpukul ketika ia melihat orang - orangnya ada di pulau itu.


Tak satu pun mereka mau menjawab, siapa dalang dari kejadian itu semua. Hanya Kris harapan satu - satunya yang bisa Shane harapkan.


Tapi sayangnya, Kris pun mengalami cedera. Shane sangat mengharapkan Kris cepat pulih, tapi kata Dokter, hanya bisa berserah pada Tuhan karena kondisi Kris yang sangat memprihatinkan.


Bibi Janet ketakutan. Ia hanya bisa menangis melihat keadaan majikannya itu.


Ia tahu betul kalau Tuan nya itu sudah marah seperti apa. Shane pria dingin, ia tak sungkan untuk membunuh jika ada yang melukai hati nya.


Selama ini Bibi Janet selalu sabar untuk mengingatkannya agar selalu tidak emosi dalam hal apa pun.


Tapi kali ini emosi Tuannya itu benar - benar diatas puncak, tidak bisa terkendalikan.


Bibi Janet hanya bisa diam. Ia tak mau mencampuri masalahnya. Karena ia tahu, Tuannya itu pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


Bibi Janet hanya bisa berharap, Shane dapat menemukan siapa yang sudah mencoba membunuh Sofie, istrinya itu.


Bibi Janet tahu, didalam menjalankan bisnis pasti banyak saingan dan musuh. Bibi Janet juga tak tahu siapa saja musuh majikannya itu.


Bibi Janet sudah mulai takut, ia takut kalau penjahat - penjahat itu kembali lagi kerumah ini dan melukai Sofie.


Bibi Janet juga penasaran, kenapa Sofie yang jadi korban? siapa orang yang tidak suka melihat Sofie?


Padahal yang ia tahu, Sofie adalah anak yang baik. Bibi Janet juga mengira - ngira apakah Agnes yang melakukan ini? karena Bibi Janet juga tahu Agnes sangat mencintai Tuannya itu.


****


Keadaan Di Rumah Sakit.


Akibat dari penembakan itu, janin yang dikandungan Sofie pun tidak bisa terselamatkan.


Siang itu Perawat sedang menggantikan botol infusnya. Sofie mulai menggerakkan bola matanya, perlahan ia membuka kedua matanya. Samar - samar ia melihat langit - langit ruangan itu.


Jari jemarinya mulai ia gerakkan. Ia mulai mengingat - ingat kejadian yang menimpa dirinya. Tangan kanannya langsung memegang perutnya. Sofie tak merasakan lagi ada janin dalam rahimnya.


Ia merasakan perutnya sudah seperti biasa. Sangat berbeda ketika ia hamil.


Sofie trus meraba - raba perutnya. Ia pun mulai panik.


" Suster...kandungan saya? ini kenapa? kenapa perut saya seperti ini? dimana janin saya? Susterrrr....!" Teriak Sofie sambil mengacak - acak perutnya.


Perawat yang bertugas memasang botol infus itu pun langsung cekatan memanggil Dokter Jaga.

__ADS_1


" Dokterrrr....Dokter....!!"


Dokter pun langsung datang keruangan itu. Dokter itu berusaha menenangkan Sofie.


" Bu Sofie, harap tenang dulu ya Bu,


saya akan menjelaskan apa yang terjadi pada kandungan Ibu Sofie."


" Ga Dok, saya ga bisa tenang, kandungan saya kemana? jawab Dokterrrrr....!" Teriak Sofie


" Bu, karena penembakan itu, Ibu harus kehilangan janin Ibu. Peluru itu mengenai ke perut ibu."


" Apa? ga Dok....saya ga mau kehilangan janin saya, ga Dokkkkkk.....!" Sofie terus memukul - mukul perutnya dan ia pun menangis histeris.


" Ibu yang sabar ya...! Ibu masih bisa hamil kok, yang penting kondisi Ibu sekarang sudah membaik." Kata Dokter Jaga itu.


Sofie tidak mendengarkan ucapan Dokter itu. Ia terus menangis. Ia kembali meraba - raba perutnya ada luka di bagian perutnya itu. Ya, luka itu adalah bekas penembakan itu.


" Ibu baru saja menjalani operasi, karena kami harus mengeluarkan isi peluru yang menyasar di perut Ibu. Ibu jangan banyak gerak dulu ya, biar hasil jahitannya cepat membaik. Ibu sabar ya, Ibu Sofie masih bisa hamil lagi kok, yakinlah..!"


Perawat dan Dokter itu terus menenangkan Sofie. Tapi Sofie terus saja menangis dan menjerit. Padahal Sofie ingin memberikan kejutan untuk suaminya itu.


Sofie menjadi trauma, ia semakin takut. Tak bisa dibayangkan kejadian yang menimpa dirinya. Karena Sofie tak berhenti menangis dan menjerit , Dokter pun mengambil tindakan.


"Baik, Dok."


Perawat itu pun menyuntikkan obat penenang ke botol infusnya. Tidak butuh menunggu waktu yang lama, Sofie pun kembali tenang, ia mulai merebahkan tubuhnya kembali. Perlahan ia mulai tidur.


" Sust, tolong hubungi suaminya, beritahukan kalau Bu Sofie sudah siuman. "


" Baik, Dokter."


Perawat dan Dokter itu pun meninggalkan ruangan itu. Sesuai perintah Dokter jaga itu, Perawat itu pun langsung menghubungi Shane, suaminya.


Ponsel milik Shane berdering. Tapi Shane mengabaikannya. Ia tak mau mengangkatnya.


Perawat itu mencoba menelpon kembali. Lagi - lagi Shane tidak menjawabnya.


Akhirnya Perawat itu menelpon ke rumah, siapa tahu aja ada asisten rumah tangga yang akan menjawab telponnya, pikir Perawat itu.


Kring...kring..kring..


Telpon rumah itu berdering. Bibi Janet langsung mengangkatnya.

__ADS_1


" Hallo..selamat siang, ini Bibi Janet. Maaf ini dengan siapa ya?" Tanya Bibi Janet.


" Selamat siang, Bu. Ini Rosa dari Rumah Sakit Mitra Keluarga, saya ingin memberitahukan bahwasannya pasien atas nama Sofia Agatha sudah siuman ya, Bu. Saya minta tolong, tolong beritahukan pada suami Ibu Sofie."


" Nak Sofie sudah siuman? ia Suster, nanti saya beritahu sama Tuan Shane. Tolong jagain nak Sofie ya, Sust..!"


" Baik, Ibu."


" Terimakasih banyak ya Suster..!"


Pembicaraan pun selesai. Bibi Janet langsung cepat - cepat naik ke atas, ia ingin memberitahukan pada Tuannya itu kalau Sofie sudah siuman.


Tok...tok..tok..tok....


" Tuan, tadi ada telpon dari Rumah Sakit. Katanya nak Sofie sudah siuman, sudah membaik, Tuan. "


Shane masih terdiam. Belum ada jawaban dari dalam kamar Tuannya itu. Bibi Janet kembali mengetuk pintu kamar itu.


" Tuan..Tuan Shane...apakah Tuan baik - baik saja didalam?"


Dengan langkah yang berat, Shane pun membuka pintu kamar itu. Bajunya lusuh, rambutnya acak - acakan, raut wajahnya tampak bersedih. Shane diam dan menunduk.


" Tuan...!" Bibi Janet menangis di depan majikannya itu.


" Bi....semua ini karena kesalahan saya, Sofie harus kehilangan janinnya. "


" Ini sudah takdir dari Tuhan, bukan karena kesalahan Tuan Shane. Tuan, tetap sabar ya."


" Bagaimana saya bisa sabar, Bi. Saya selalu mengabaikan ucapan Sofie. Saya ga pernah perduli padanya. Saya harus kehilangan anak saya, Bi."


" Tuan, mungkin ini belum rejeki untuk keluarga Tuan. Yang terpenting nak Sofie selamat. Semuanya kita serahkan pada Tuhan, biar masalah ini cepat selesai dan pelakunya cepat di temukan."


" Ia Bi...!"


" Oh ya, nak Sofie sudah siuman, tadi Perawat dari Rumah Sakit nelpon."


" Sofie sudah siuman?"


" Ia Tuan, pergilah..lihatlah Sofie. Dia butuh Tuan. Tenangkan hatinya. Mungkin dia sangat terpukul kehilangan janinnya."


" Ia Bi nanti saya pergi kesana, makasih banyak ya, Bi. "


Bibi Janet langsung turun. Di depan majikannya itu Ia merasa tegar padahal ia juga sangat prihatin melihat keadaan Sofie.

__ADS_1


__ADS_2