
Bibi Janet sangat cemas dengan keadaan majikannya itu. Ia tak tenang jika Tuannya itu pergi, ia takut terjadi sesuatu pada Shane.
Bibi Janet mencoba menghubungi Sofie, apakah Shane berada bersamanya. Tapi Sofie mengatakan jika Shane tak ada disini. Dan Sofie juga tak perduli kemana Shane pergi.
Setelah kejadian yang menimpa dirinya, ntah mengapa Sofie sekarang sudah menjaga jarak pada Bibi Janet. Sofie tidak seperti dulu lagi.
Menanyakan kabar Bibi Janet saja ia pun tak pernah lagi. Ntah apa yang membuat Sofie semakin menjauh dari Bibi Janet dan Shane.
Padahal yang Bibi Janet tahu, kejadian itu sama - sama menimpa mereka berdua.
Bibi Janet pun tak mau memaksakan kehendaknya. Bibi Janet tahu, pasti ada seseorang yang menghasut Sofie mengapa ia bisa berubah sikap. Bibi Janet akan bersabar, suatu saat Sofie akan sadar karena sikapnya yang acuh tak acuh itu.
Sudah hampir pukul 22.00, tapi Tuannya itu belum juga kembali. Bibi Janet semakin khawatir. Wanita paruh baya itu hanya bisa berdoa untuk keselamatan Tuannya itu.
Karena semakin malam, akhirnya Bibi Janet pun masuk kedalam rumah. Ia mencoba menghubungi Tuannya itu, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi.
Bibi Janet tidak tahu harus kemana ia mencarinya. Ia pun tak tahu siapa - siapa saja kerabat dari Tuannya itu.
****
Shane berhenti di salah satu taman. Ia memasuki taman itu dengan membawa sebotol minuman keras. Ia duduk dan melamun. Sesekali matanya melihat ke arah kanan dan kiri. Ia mengambil minuman itu, ia meneguk beberapa kali minuman keras itu.
Baginya menikmati minuman di tengah taman sangatlah membuat ia bahagia. Masalah yang dihadapinya pun lupa sesaat. Minuman itu terus di teguknya.
Perlahan ia mulai merasakan pusing, matanya pun mulai sayu dan merah. Ia mencoba meneguk kembali minuman keras itu, tapi sayangnya minuman itu telah habis.
Dengan mata yang sudah sayu, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Tak terasa sudah pukul 00.00, Shane pun melihat sekelilingnya sudah sepi. Tak ada lagi orang - orang yang berlalu lalang.
Dengan tubuh yang lemas, ia pun memaksakan dirinya menuju ke mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobil itu.
Dari kejauhan ada seseorang yang melihat Shane dalam keadaan mabuk. Pria itu pun langsung menghampiri Shane.
" Selamat malam, Tuan ! Apakah Tuan mau menyetir mobil ini?" tanya pria itu.
Dengan terbata - bata Shane menjawab pertanyaan pria itu.
" Iaaaaa, sa..sa..sayaaaa..mauuu pu..pulanggg...ken..kenappa?"
" Tuan dalam keadaan mabuk, tidak baik menyetir sendiri."
" Oh ya? hahahaha...saya baik - baik aja. Minggir kamu."
" Tuan, saya orang baik - baik, saya akan antarkan Tuan pulang."
__ADS_1
" Kamu bilang kamu orang baik - baik? hahaha zaman sekarang itu ga ada orang baik, semua pembohong, ga ada yang bisa dipercaya."
" Ga Tuan, ga semua orang seperti yang Tuan katakan."
" Kamu pulang aja kerumah mu, saya bisa pulang sendiri kok. Minggir kamu !"
" Tuan, saya takut jika terjadi sesuatu pada Tuan, sebaiknya saya antarkan Tuan pulang aja."
Karena terlalu banyak minum, Shane pun muntah. Semua minuman yang ia minum keluar dengan muntahannya.
Aroma bau dari minuman itu sangatlah menyengat.
" Kan sudah saya bilang Tuan, Tuan itu dalam keadaan mabuk, kalau orang mabuk tidak baik menyetir sendirian."
" Kamu yakin mau menolong saya?"
" Ya, Tuan. Saya akan antarkan Tuan pulang. Masuklah Tuan, saya yang akan menyetir mobil ini."
Dengan langkah yang tertatih - tatih, Shane pun akhirnya masuk kedalam mobilnya.
Pria itu pun langsung membawa Shane kembali pulang. Shane kembali muntah, ia terlalu banyak minum. Pria itu tidak bisa berbuat apa - apa. Didalam mobil mewah itu hanya tercium bau minuman keras.
Pria baik hati itu adalah seorang pengamen sekaligus penjual asongan yang sering mangkal di lampu merah.
Betapa senangnya ia ketika ia melihat wajah pemilik mobil mewah itu. Memiliki wajah yang tampan dan bertubuh tinggi.
Shane memberitahukan alamat rumahnya. Pria itu pun menuju ke alamat yang di katakan Shane.
Tibalah mereka di sebuah rumah mewah dan sangat besar. Pria itu sangat terheran - heran melihat rumah yang mewah itu.
" Tuan, kita sudah sampai."
" Kamu tekan bel yang di sebelah kiri itu."
" Baik, Tuan."
Pria itu pun menekan bell seperti yang dikatakan Shane. 3x ia menekan bell itu. Dan tak berapa lama Bibi Janet pun keluar.
Bibi Janet langsung membuka pintu pagar yang sangat tinggi itu. Dan sontak saja Bibi Janet langsung kaget begitu melihat ada orang asing yang sedang menyetir mobil Tuannya itu.
" Kamu siapa? kenapa mobil Tuan ada bersama mu?"
" Maaf Bi, tadi saya melihat Tuan pemilik mobil ini mabuk di taman."
__ADS_1
"Mabuk? Tuan Shane mabuk? oh ya silahkan masuk."
Pria itu pun membawa mobil itu masuk ke pekarangan rumah itu.
" Bagaimana keadaannya sekarang? " tanya Bibi Janet.
" Dia mabuk berat, Bi."
Pria itu membuka pintu mobil dan membawanya ke dalam rumah. Ia menidurkan Shane di sofa ruang tamu itu.
" Nak, terimakasih banyak ya kamu uda menolongnya."
" Ia Bi, sama - sama."
" Oh ya, nama kamu siapa?"
" Nama saya Jack, Bi."
" Jack, untung aja ada kamu. Dari tadi Bibi menunggu Tuan Shane pulang, Bibi sangat cemas, nak."
" Ia Bi, saya tadi melihatnya duduk di taman seorang diri, dia mabuk berat dan sangat bahaya sekali jika ia membawa mobil sendirian. Makanya saya menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang."
" Nak, ini sudah larut malam, bagaimana kalau kamu tidur disini aja. Kalau larut malam begini, tidak akan ada lagi taxi yang lewat. "
" Ga papa Bi, saya berani kok. Lagian rumah saya juga tidak jauh dari sini. "
" Baiklah nak, terimakasih ya. Oh ya, ini ada rejeki sedikit untuk kamu, kalau kamu nanti menemukan taxi, kamu bisa pergunakan uang ini, nak."
" Terimakasih banyak ya Bi. Saya pamit ya, Bi."
" Ia, nak. Kamu hati - hati ya !"
Pria itu pun pergi meninggalkan rumah mewah itu. Bibi Janet menangis melihat keadaan Tuannya itu.
Shane tidak pernah minum sampai sebanyak ini hingga membuatnya mabuk. Ia tahu betul bagaimana majikannya itu.
Walaupun ia pria yang dingin, kasar, sangat jarang sekali ia harus menghabiskan waktu hanya untuk mabuk - mabukan.
Bibi Janet mengambilkan selimut. Ia menyelimuti majikannya itu. Diam - diam ia mengirimkan pesan pada Sofie.
..." Sofie, maaf kalau Bibi menganggu istirahat mu. Tuan Shane begitu banyak minum, hingga membuatnya mabuk berat. Bibi sangat khawatir keadaannya, nak....
Pesan terkirim. Bibi Janet berharap Sofie akan melihat pesan tersebut.
__ADS_1