
" Bibi Janet tahu kalau kamu kesini? " tanya Sofie.
" Ga.." Shane langsung masuk ke kamar itu dan merebahkan dirinya di kasur itu.
" Trus kenapa bawa bantal dan selimut?"
" Ga usah banyak pertanyaan, saya mau tidur disini."
" Tidur disini? kamu ga salah alamat kan?"
" Maksud kamu apa?" tanya Shane
" Kan dulu kamu yang bilang kalau semua ini akan kita akhiri. Sekarang kenapa kamu malah jadi tidur disini?" ucap Sofie.
" Terserah saya dong, kamu kan masih istri saya. Jadi terserah saya mau tidur dimana aja."
" Up to you lah..kamu uda makan belum?" tanya Sofie dengan merapikan barang bawaan Shane.
" Belum."
" Kenapa ga makan? nanti kamu sakit."
" Uda deh..ga usah banyak pertanyaan , saya mau tidur. "
" Ya da...kamu tidur disini aja."
" Kamu tidur dimana?"
" Diruang tamu, lagian saya masih ada kerjaan."
Sofie pun meninggalkan Shane. Ia menutup pintu kamar itu. Sofie menangis. Apa maksud dari semua ini? mengapa Shane datang menemuinya? Sofie takut jika ia mulai menyukainya lagi.
Malam semakin larut, Shane belum juga tidur. Ia keluar dari kamar. Ia melihat Sofie juga belum tidur.
" Kamu kenapa belum tidur?" tanya Shane.
" Belum ngantuk. Saya masih ada pekerjaan. Kamu sendiri kenapa ga tidur ?" tanya Sofie balik.
" Belum ngantuk juga."
Sofie tersenyum melihat suaminya itu.
" Saya laper." ucap Shane.
" Mau dimasakin apa?"
" Terserah."
" Ya da, tunggu disini."
Ketika Sofie beranjak dari tempat duduknya, Agnes menelpon Shane. Shane langsung saja mengangkat telpon dari Agnes.
" Ya honey, ada apa nelpon malam - malam?" tanya Shane dengan nada lembut.
Sontak saja Sofie mendengar kata honey langsung saja kaget. Ternyata Agnes dan Shane, semakin erat saja hubungan mereka.
Tak canggung - canggung lagi, kata honey terlontar dari mulut Shane.
Pembicaraan mereka pun sangat lama sekali. Shane dan Agnes saling bercanda dan tertawa.
Sofie tetap sabar melihat sikap Shane. Ia tetap saja memasak makanan kesukaan Shane.
__ADS_1
Makanan pun selesai. Sofie menghidangkannya. Sofie memberitahukan jika makanannya sudah selesai. Tapi Shane tidak perduli.
Sofie melanjutkan lagi pekerjaannya. Sesekali ia melihat Shane. Waktu pun berlalu. Shane dan Agnes pun mengakhiri pembicaraan mereka.
" Sorry ya, kelamaan saya makannya." ucap Shane.
" Ga papa." jawab Sofie ketus.
Shane pun makan dengan lahapnya.
" Oh ya, minggu depan kita pergi bulan madu ya...!" ucap Shane.
" Bulan madu?"
" Ia, kenapa? kamu ga suka? itu kan yang kamu mau?"
" Yang saya mau?"
" Ia. Waktu itu kan kamu pernah bilang. Masa sih kamu lupa?"
Sofie tersenyum.
" Ga usah repot - repot mau ngajak saya bulan madu. Maaf, saya ga tertarik."
" Ga tertarik? kenapa?
" Ehhmmm...ga papa. Saya ga tertarik aja. "
" Saya uda pesan ticketnya, jadi mau ga mau kamu harus ikut. Sayangkan uangnya?"
" Kenapa kamu ga ijin dulu sama saya , kalau kamu mau beli ticketnya?'
" Kan surprise."
Sofie pun langsung meninggalkan Shane dan ia langsung masuk kamar
Shane menghabiskan makanan itu lalu pergi menyusul Sofie ke kamar.
" Saya ga mau ribut sama kamu. Kamu harus mau pergi dengan saya. " ucap Shane
" Maksud kamu apa sih ngajakin saya bulan madu? kamu mau buat saya sakit hati ya?"
" Sakit hati apa? saya ga ngerti."
" Shane, kita uda sama - sama dewasa. Berpikirlah dewasa. Kamu ngajakin saya bulan madu, tapi kamu masih berhubungan dengan Agnes. Mau kamu apa?"
" Mau saya? mau saya ya..kita berdua pergi bulan madu. "
Mendengar itu Sofie hanya diam. Ia juga tak mau ribut dengan Shane. Apalagi sudah larut malam begini.
Perasaan Sofie sangatlah sakit. Shane selalu saja mempermainkannya.
****
Pagi - pagi sekali, Shane langsung pergi pulang. Tanpa ada pamit pada Sofie.
Sofie hanya diam saja. Pamit atau tidak ia tidak perduli. Toh juga, Shane manusia yang cuek.
Pernikahannya dengan Shane hanyalah pernikahan diatas kertas saja. Tidak ada rasa cinta atau pun kasih sayang, jadi ia tidak begitu berharap pada pria tampan tapi berhati dingin itu.
Sofie segera bergegas akan pergi ke sekolah untuk mengajar. Sofie sekarang hanya fokus pada anak - anak didiknya. Ia tak mau menambah beban pikirannya.
__ADS_1
Pagi itu, Sarah langsung menemui Sofie diruang guru. Ia meminta pada guru kesayangannya itu agar malam ini ikut makan malam di rumahnya.
Ternyata Sarah ingin sekali menjodohkan paman kesayangannya itu pada Sofie, wanita berhati lembut itu. Papi dan mami nya pun sangat setuju sekali.
Tapi Sarah tidak memberitahukan niat baiknya itu pada Sofie. Ia hanya meminta waktu agar nanti malam mau datang kerumahnya.
Awalnya Sofie menolak, tapi karena Sarah selalu saja memohon dan akhirnya Miss kesayangannya itu pun menyetujuinya.
Malam yang ditunggu pun tiba. Sofie pergi dengan perasaan yang tak enak. Ada sedikit rasa canggung mengunjungi keluarga Sarah. Keluarga mereka bisa dikatakan keluarga yang mapan juga.
Dengan memakai gaun yang simple, make up seadanya, Sofie pun pergi menghadiri makan malam dirumah Sarah.
Tak berapa lama taxi pun datang dan ia pun segera pergi. Tibalah ia didepan rumah Sarah, rumah yang super besar dan mewah itu.
Sarah langsung menyambutnya dengan hati yang gembira. Begitu juga papi dan maminya Sarah.
Sofie sangat gugup sekali. Ia langsung dipersilahkan masuk kedalam.
Tanpa basa basi, mami Sarah langsung mengajaknya keruang makan. Ternyata disana ada Dion.
Suasana pun menjadi tegang. Sofie sangat gugup sekali. Dion menatap Sofie. Ia melihat penampilan Sofie dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Sofie malam ini sangat cantik sekali. Walaupun dandan ala kadarnya. Malam itu Sofie dimata Dion sangatlah mempesona.
Sofie masih saja berdiri mematung.
" Selamat malam Sofie, silahkan duduk. " Ucap Dion.
" Sofie, jangan malu - malu ya, anggap aja kami ini uda seperti keluarga kamu. Yuk..silahkan duduk." ucap mami Sarah lagi.
" Ia bu, makasih banyak ya bu."
" Ya da, kita mulai aja makan malamnya." Ucap papi Sarah.
" Ia ni, pi. Sarah juga uda laper lho..."
Mereka semua pun menikmati makan malamnya. Banyak hidangan makanan lezat.
Ketika sedang makan, papinya Sarah langsung menghentikan makannya.
" Sofie, gimana makanannya, kamu suka?" tanya papinya Sarah.
Sontak saja Sofie kaget dan merasa malu.
" Ia, pak. Makanannya enak. Ini pasti ibu yang masak ya?"
" Ia Sofie. Saya yang masak. Karena saya itu hobby banget masak - memasak hehehe....!" ucap maminya Sarah.
" Wahh...ibu hebat. Kalau begitu, nanti saya juga bisa les ya bu hehehe..."
" Dengan senang hati Sofie. Tapi harus ada syaratnya. " ucap mami Sarah
" Syarat? syarat apa bu? saya jadi penasaran? tanya Sofie.
Semua tersenyum kecuali Sofie dan Dion.
" Kak, masa sih, mau belajar masak aja harus dengan syarat. Ga boleh gitu dong kak..ga boleh pelit - pelit. " ucap Dion.
" Kakak ga pelit kok. Syaratnya hanya....????"
" Hanya apa kak? jangan buat Sofie penasaran dong kak..!'' ucap Dion sambil melirik Sofie.
__ADS_1
Papi dan mami Sarah begitu juga dengan Sarah hanya tersenyum saja melihat ketegangan Sofie dan Dion.