
Dion pun mengejar Sofie sampai ke kamarnya. Ia merasa bersalah karena ia menceritakan masalah ini di waktu yang tidak tepat.
Dion mengetuk pintu kamar Sofie. Ia ingin sekali meminta maaf padanya. Pintu kamar belum juga dibuka.
Dion mencoba menghubungi via ponsel. Tidak ada jawaban sama sekali.
..." Maafkan saya Sofie, kalau saya uda buat kamu sedih. Tapi ini semua demi kebaikan kita berdua. Baiklah kalau kamu ga mau bukain pintu buat saya, hari ini juga saya pulang ke Indonesia."...
Pesan dikirim...
Sofie membacanya.
Sofie ga mau kalau Dion meninggalkannya di kota itu sendirian. Sofie masih belum juga membuka pintu kamar itu.
Perlahan - lahan Dion meninggalkan kamar itu.
Tergeraklah hati Sofie, ia langsung membuka pintu kamar itu. Ia melihat Dion sudah tak ada lagi di depan kamarnya.
Ia trus keluar mencarinya. Dan ia pun melihat Dion sudah ada di depan lift.
" Jangan tinggalkan saya..." Kata Sofie sambil menahan air matanya.
Dion menoleh. Perasaan Dion sangat lega. Akhirnya Sofie mau bicara lagi padanya.
Dion tersenyum. Sofie langung memeluk Dion. Sontak saja Dion sangat kaget.
Sofie menangis. Sepertinya hanya pada Dion lah ia bisa menuangkan air matanya.
Pelukan yang begitu erat. Sepertinya Sofie merindukan sosok orang yang bisa melindungi dirinya.
" Jangan tinggalkan saya disini." Pinta Sofie pada pria tampan itu.
Dion tersenyum.
" Kamu ga marah lagi kan?" Tanya Dion sambil melepaskan pelukan Sofie dan mengangkat pelan dagu Sofie.
Sofie menggelengkan kepalanya.
" Nah, gitu dong..!" Ucap Dion sambil memeluk Sofie kembali.
Sofie dan Dion saling berpelukan pas didepan pintu lift.
Tiba - tiba saja Shane jadi kepikiran pada Sofie. Ia mencoba mendatangi ke kamar Sofie.
Pintu lift pun terbuka, dan betapa kagetnya ketika ia melihat Sofie berpelukan sangat erat sekali dengan seorang pria.
Tanpa pikir panjang, Shane langsung menarik baju pria tersebut. Dan....
...Pukkk.....pukkkk....pukkkk...
__ADS_1
Shane memukul wajah Dion hingga berkali - kali.
Sofie pun langsung melerainya dan berusaha melindungi Dion.
" Hentikaaannnnnn Shaneeeee....!" Bentak Sofie pada Shane.
Sofie langsung merapikan bajunya Dion.
" Kamu jahat. Kamu ga punya hati....!" Kata Sofie pada Shane.
" Kamu yang ga punya hati. Kamu berani bawa pria lain ke kamar kamu, ngapain juga kamu peluk - pelukan disini."
" Kamu marah? kamu marah sama saya?"
" Ia..jelas saya marah sama kamu."
" Kamu ga berhak marah sama Sofie. Sofie itu ga salah, tapi kamu yang salah." Kata Dion menimpali.
" Tunggu...tunggu..tunggu...kayaknya saya pernah lihat kamu. Kamu yang waktu itu? Sofie, kamu berani membawa dia kesini? apa maksud kamu?"
" Shane, dia datang ke kota ini, kamu tahu karena siapa?"
" Siapa?" Tanya Shane penasaran.
" Agnes, Shane. Dia adalah tunangan Agnes. Agnes yang selalu bersama kamu."
" Agnes? kamu tunangannya Agnes?"
" Oh begitu. Jadi sekarang kamu mendekati Sofie? jangan pernah kamu bisa mendapatkan Sofie karena Sofie itu milik saya."
" Kamu egois, Shane." Kata Dion.
" Ia, saya egois. Kenapa? kamu mau marah?" Sahut Shane pada Dion. Lalu Shane menarik tangan Sofie
" Sekarang kamu ikut saya, saya mau bicara sama kamu. "
" Saya ga mau. Lepaskan tangan saya." Kata Sofie sambil mencoba melepaskan tangannya.
" Kamu jangan pernah menolak. Kamu tahu akibatnya kan?"
"Saya ga takut Shane." Tantang Sofie.
" Jangan paksakan Sofie, kalau dia ga mau." Kata Dion.
" Kamu diam. Ini bukan urusan kamu. kamu jangan ikut campur." Kata Shane pada Dion.
" Ini urusan saya juga." Bela Dion.
" Kamu jangan macem - macem sama saya ya...!" Bentak Shane pada Dion
__ADS_1
" Saya ga takut sama kamu. Coba aja kalau berani." Tantang Dion lagi.
Shane pun menjadi geram. Dan ia pun menarik tangan Sofie dan membawanya ke kamarnya.
Dion tidak bisa melarangnya, karena mereka masih saja suami istri.
Pintu kamar Sofie pun terbuka dan ia mendorong Sofie ke kasur hotel itu.
" Kamu jahat Shane. Bisanya cuma nyakiti saya aja."
" Ia. Karena itu yang saya inginkan dari kamu."
Sofie menangis.
" Punya hubungan apa kamu sama dia. Jawab dengan jujur." Bentak Shane.
" Ga ada, saya ga punya hubungan apa - apa sama Dion."
" Tapi kenapa kalian berdua saling berpelukan?"
" Kenapa dia peluk saya? karena saya merasa nyaman disamping dia. Dia bisa menjaga saya, dia bisa melindungi saya, dia bisa memberikan kasih sayangnya pada saya. Tidak seperti kamu. Apa yang bisa saya harapkan dari kamu? sedikit pun kamu ga pernah menyayangi saya, bahkan memberikan saya cinta. Kamu hanya bisa memberikan cinta dan kasih sayang mu untuk Agnes. Kamu lebih memilih dia, walaupun dia uda punya tunangan."
" Kamu tahu kenapa saya melakukan itu? Karena saya sayang sama Agnes, Agnes punya segalanya. Apa yang saya inginkan ada pada Agnes. Dan kamu? kamu itu ga tipe saya, Sof."
" Ya uda ,kalau kamu sayang sama Agnes. Dion juga melakukan ini karena dia sayang sama saya. Adilkan?"
" Apa ? adil ? kamu bilang ini adil?"
" Shane, jangan pernah jadi orang egois."
" Kenapa kalau saya egois? kamu ga suka?"
" Ia, saya ga suka."
" Baiklah sekarang apa mau mu." Tanya Shane
" Pisah dari kamu."
" Pisah? pisah dari saya?"
" Ia. Untuk apa kita pertahankan hubungan ini kalau kamu aja ga pernah sayang sama saya. Kamu tahu, kamu bilang kita pergi honeymoon, tapi apa ? kamu membawa Agnes ke kota ini. Dan saya? apa kamu anggap saya, Shane? uda 4 hari kita disini, adakah kamu pernah ngajakin saya jalan atau melihat keadaan saya dikamar ini? ga kan? kamu pernah nanya saya uda makan atau belum? kamu tahukan saya ga pernah datang ke kota ini, saya ga tahu tempat ini. Dan kamu? kamu hanya bisa senang - senang dengan Agnes. Sedikit pun kamu ga pernah kasih perhatian sama saya."
Shane terdiam.
" Shane, berkali - kali kamu nyakiti hati saya, saya selalu terima. Kamu kasar sama saya, saya diam. Tapi kenapa kamu tega membohongi saya. Kalau memang ini rencana kalian sama Agnes, kenapa harus saya ikut? Shane, saya ikhlas kok, kalau kamu mau pergi dengan wanita lain silahkan. Tapi jangan dengan Agnes. Dia uda punya tunangan. Dion, Dion itu adalah tunangannya. Kalian berdua telah menyakit hatinya."
" Saya ga perduli."
" Ya sudah kalau kamu ga perduli. Sekarang pergilah temui Agnes beritahu padanya kalau Dion ada Disini. Bicaralah baik - baik."
__ADS_1
Shane masih saja terdiam. Sofie menahan tangisnya. Ia tak mau selalu menangis karena Shane.