
Malam itu Sofie sudah mengemasi semua barang - barang miliknya. Inilah jalan yang harus ia pilih. Sofie berharap setelah ia keluar dari rumah Shane, ia akan mendapatkan kehidupan yang layak.
Terlebih dalam pekerjaannya, Sofie berharap ia bisa menjadi guru teladan buat anak didiknya . Masalah jodoh, Sofie hanya pasrah dengan keadaan, ia juga menyadari kalau ia sudah tak perawan lagi.
Shane benar - benar membuat hidupnya hancur. Ia pikir tinggal bersama Shane bisa menerima cinta Shane, namun sebaliknya ia sama sekali tak pernah dianggap.
Sofie mulai sadar, mencintai orang yang tak pernah sedikit pun menaruh rasa cinta padanya itu hanyalah sia - sia saja.
Sofie wanita yang tegar, biar bagaimana pun ia harus terus berjuang demi kehidupannya.
Air matanya tak pernah berhenti . Ia selalu saja menangis. Apalagi ia akan meninggalkan Bibi Janet, yang sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.
Malam ini Shane makan malam dilayani oleh Bibi Janet.
" Sofie kemana, Bi?"
" Sofie ada dikamarnya, Tuan."
" Kenapa bukan dia yang menghidangkan makanan ini? apa dia sakit?"
" Ga Tuan, Sofie tidak sakit."
" Bi, nanti saya makan, saya mau menemui Sofie dulu. "
" Ia Tuan.
Bibi Janet meninggalkan ruang makan dan kembali ke dapur. Shane menemui Sofie ke kamarnya. Shane mengetuk pintu kamar itu.
" Apa yang kamu lakukan disini? kenapa bukan kamu yang menghidangkan makanan di meja makan? kenapa harus Bibi Janet? "
" Kamu ga lihat saya sedang apa? " Tanya Sofie dengan kesalnya.
" Kamu mau kemana?"
" Saya kan uda bilang, saya uda dapat pekerjaan baru. "
" Jadi kamu mau pergi dari sini?"
" Ya..." Jawab Sofie datar.
Shane langsung pergi meninggalkan kamar itu. Wajahnya sedikit marah.
__ADS_1
" Tuan.... makanlah, nanti makanannya keburu dingin. " Titah Bibi Janet.
" Ia Bi, makasih ya Bi."
Shane pun menikmati makan malamnya.
Sampai larut malam, Sofie masih saja merapikan barang - barang yang ada dikamar itu. Shane tidak bisa tidur. Shane pun memberanikan diri menemui Sofie lagi dan memberikan upah selama Sofie kerja di rumahnya.
" Ini upah kamu selama kamu kerja disini." Sambil menyodorkan amplop putih.
Sofie tersenyum.
" Ga usah, kamu simpan aja.."
" Kamu jangan menolaknya."
" Saya ga nolak, tapi kamu simpan aja uang itu."
" Jangan sok munafik, orang seperti kamu itu butuh uang."
Sofie terdiam
Mata Sofie mulai berkaca - kaca. Shane terdiam mendengar penjelasan Sofie.
" Saya minta maaf kalau saya uda selalu buat kamu marah, kecewa. Saya uda selalu ikut campur urusan kamu." Kata Sofie
Lagi - lagi Shane terdiam.
" Jaga Bibi Janet baik - baik ya..!" Pinta Sofie.
Shane hanya menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan Sofie.
*****
Pagi - pagi sekali Bibi Janet sudah bangun. Ia mendatangi kamar Sofie. Kepergian Sofie membuat wanita tua itu sangat bersedih.
Bibi Janet tidak akan bisa lagi tertawa dan bercanda bersama Sofie lagi. Semua akan menjadi kenangan, ya itulah yang ada dalam benak Bibi Janet.
" Nak, Bibi akan selalu mengingat mu dan mendoakan mu supaya kamu sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan."
" Makasih ya Bi, saya juga akan mendoakan Bibi sehat dan panjang umur. Saya janji kalau saya ada waktu saya akan berkunjung menjenguk Bibi."
__ADS_1
" Sofie, Bibi mau nanya sesuatu sama kamu. Kamu ga marahkan? selama ini Bibi selalu bertanya, kenapa kamu dan Tuan Shane selalu ribut, padahal kalau Bibi lihat tuan Shane itu ada sedikit perhatian buat kamu, sebenarnya dia itu butuh kamu."
Ketika Bibi Janet dan Sofie sedang asyik bercerita, Shane turun dan mendengarkan perkataan mereka.
Sofie menangis. Dan ia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Bi, saya sebenarnya malu menceritakan ini pada Bibi, karena ini adalah aib saya sendiri. Saya pikir, tinggal bersamanya, kami berdua dapat saling mencintai. Shane uda menodai saya Bi, makanya saya nurut selalu apa kata dia. Mau tidak mau, saya harus ikut tinggal dirumah ini. Shane uda menghancurkan masa depan saya. Saya kehilangan pekerjaan, kesucian saya. Dan saya harus rela menjadi asisten rumah tangganya, saya selalu dihinanya, dan yang membuat saya sakit hati, saya harus menyaksikan Shane dan Agnes, mereka akan menikah. Mereka saling mencintai. Sementara saya, saya mulai menyukainya tapi semua itu sia - sia, Bi. Saya malu pada diri saya sendiri, saya wanita ga berguna, Bi. Ntah kenapa saya hanya bisa diam ketika dia marah, menghina saya, merendahkan saya. Tak sedikit pun dia meminta maaf atas perlakuannya. Saya tahu, dia punya segalanya makanya dia bisa sesuka hatinya menyakiti perasaan saya." Sofie pun menangis..
" Apa ? Shane melakukan itu pada mu nak? Bibi masih belum percaya, kalau Shane bisa melakukan perbuatan keji seperti itu. Yang Bibi tahu, Shane adalah orang baik. Mana mungkin dia tega memperlakukan wanita seperti itu."
" Tapi itulah kenyataannya Bi, karena saya uda ikut campur masalah dia dengan Paman saya. Itu saya lakukan karena saya sayang sama Paman dan Bibi saya, tapi Paman malah mengusir saya dari rumahnya."
" Sabar ya nak....!"
Bibi Janet langsung menangis dan memeluk Sofie.
" Nak, kamu belum terlambat untuk memperbaiki diri kamu. Bibi yakin diluar sana pasti akan ada lelaki yang benar - benar sayang dan menerima kamu apa adanya. Kamu wanita yang baik nak, pasti nanti akan mendapatkan pria yang baik juga. Kamu yang sabar ya nak, kamu harus kuat."
" Ia Bi, maksih ya Bi."
Mereka berdua saling pelukan. Shane hanya terdiam. Shane malu akan perbuatannya. Karena Bibi Janet sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.Shane juga terkejut ternyata Sofie menyukainya.
Selesai beberes, akhirnya Sofie pergi dari rumah itu. Bibi Janet selalu menangis. Begitu juga dengan Sofie. Ia belum bisa meninggalkan wanita tua yang sudah ia anggap sebagai Ibunya.
Shane hanya berdiam diri didalam kamarnya. Ia tak mau melihat kepergian Sofie.
Tangisan Sofie pun pecah ketika tiba ia didepan pintu gerbang rumah itu. Ia berlari memeluk Bibi Janet. Mereka berdua saling menangis.
" Kamu harus kuat ya nak, jaga diri kamu baik - baik." Pinta bibi Janet.
" Ia Bi. Bibi juga baik - baik disini ya, jaga kesehatan juga dan jangan terlalu capek bekerja. "
Mereka berdua berpelukan lagi. Sofie pun melepaskan pelukannya dan ia pun pergi meninggalkan Bibi Janet.
Sofie ingin sekali terakhir kalinya melihat Shane, tapi Shane pria sombong itu tidak mau melihat kepergian Sofie.
Hatinya pun semakin sedih dan ia semakin yakin , jika Shane memang tidak menyukainya dan membencinya.
Sofie sudah ikhlas dengan semua ini, dan ia akan memulai kehidupannya yang baru. Menjadi guru teladan dan bisa menjadi wanita yang tegar.
Dan Sofie berharap, Shane dan Agnes akan bahagia selamanya. Sofie akan menutup rapat - rapat apa yang telah menimpa dirinya. Suka cita akan menghampirinya.
__ADS_1