
" Bos, gimana apa sudah ada balasan dari Shane ?" tanya Mark dengan penasaran.
" Belum, belum ada balasan dari Shane."
" Bos ga salah kirim kan?"
" Ya , ga lah. Saya mengirimnya ke nomor Shane. Tapi mungkin saja Shane tidak mengenali nomor baru itu. Saya semakin penasaran gimana reaksinya ketika melihat istri nya itu di peluk laki - laki lain."
" Shane..Shane...dasar bodoh !"
" Permainan akan kita mulai, saya akan segera memisahkan mereka, Mark. Saya uda ga sabar ingin menguasai semua milik Shane."
****
Shane hanya bisa tersenyum dengan fhoto - fhoto itu. Ia tak langsung menghapus fhoto itu, ia menyimpannya dengan sebaik mungkin.
Setelah meminta ijin pada Bibi Janet, Shane pun pergi. Ia melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Di tengah perjalanan, ia mencoba menghubungi Paman Sammy.
Paman Sammy tidak mau mengangkat telpon darinya. Shane pun mencobanya lagi, tapi tetap saja pria paruh baya itu menolaknya.
Dengan sikap Paman Sammy yang selalu menghindar, Shane semakin yakin bahwa semua ini adalah perbuatannya.
Shane pun tiba dirumah teman bisnisnya itu. Kembali ia melihat fhoto - fhoto itu. Shane kembali tersenyum. Ia pun langsung keluar dari dalam mobilnya.
Shane sangat terkejut ketika melihat Mark dan beberapa anak buahnya ada disana. Dugaan Shane semakin kuat, jika semua ini adalah perbuatan Paman Sammy.
" Pada lagi ngumpul ya !" ucap Shane mengagetkan mereka semua.
Paman Sammy dan semua anak buah Shane terkejut akan kedatangan Shane.
" Shane ?" Paman Sammy dan semua anak buahnya jadi salah tingkah.
" Pantesan , tadi saya menghubungi Paman, tapi Paman tidak mengangkatnya, ternyata kalian semua ada disini."
" Shane, silahkan duduk !" titah Paman Sammy
Tanpa mengiyakan, Shane langsung duduk.
" Sepertinya pembicaraan kalian serius sekali, maaf kalau saya telah menganggu kalian !"
" Tidak Bos, kami malah senang Bos ada disini !" ucap Mark sambil melirik Paman Sammy.
" Hhmmm..Shane, apa ada yang penting hingga membuat mu datang kesini?" tanya Paman Sammy dengan nada sedikit gugup.
" Ia, ada hal yang penting, Paman."
" Hhmmm, baiklah..kalian semua pergi lah. Tinggalkan kami berdua !" titah Paman Sammy pada anak buah barunya itu.
" Tunggu ! kalian duduklah dulu. Saya mau bicara pada kalian !"
Semua anak buahnya terdiam, mereka pun tetap duduk sesuai yang diperintahkan Shane.
" Kedatangan saya kesini, saya mau mengajak kalian semua untuk party."
" Party ?" tanya Paman Sammy.
" Ya, kita akan party. Sudah lama juga kan kita tidak party, minum - minum. Saya punya wine terbaru dan termahal didunia. Bagaimana? apa kalian mau?"
__ADS_1
Paman Sammy dan semua anak buah Shane terdiam, mereka tidak bisa berkutik sama sekali. Apa yang diinginkan Shane, mengapa tiba - tiba ia mengajak untuk party.
" Maaf Shane, saya tidak bisa minum wine !"
" Oh ya? kenapa? dulu seingat saya, Paman itu suka wine, kenapa sekarang jadi ga suka? wine termahal lho !"
" Ia, Shane. Mengingat umur saya yang uda ga muda lagi. Saya takut jantung saya kumat. "
" Jantung? emang Paman ada riwayat jantung? setahu saya Paman itu ga ada sama sekali riwayat jantung. Ayok lah Paman, kita happy- happy !"
" Maaf Shane, tapi saya ga bisa ikut."
" Ga asyik dong, kalau kalian semua gimana?mau ga? kamu Mark, gimana? party itu kesukaan mu kan?"
" Tapi Bos?"
" Kenapa? kamu ada riwayat apalagi? jantung? ginjal?"
" Saya uda lama ga minum, Bos !"
" Pada cemen semua, diajak minum wine pada ga mau, padahal dulu kalian itu biangnya minum. Atau kita ganti aja, gimana kalau kita makan malam bersama, Sofie yang akan memasaknya. Gimana ?"
" Sofie ?"
" Ia, Sofie. Sofie kan jago masak, bukan begitu Bibi Mary ?"
" Ya, Sofie jago masak." jawab Bibi Mary.
" Gimana, semua setuju ga?"
" Tapi Shane, saya banyak pekerjaan, dan itu tidak bisa saya tinggal."
" Shane, apa yang dibilang suami saya itu benar, dia lagi sibuk." Bibi Mary menimpali.
" Saya yang akan bantu pekerjaan Paman Sammy. Gimana, deal kan?"
" Masalahnya saya akan ke luar kota, Shane !"
" Oh keluar kota. Bisnis baru?"
" Ya, begitulah."
" Baiklah. Oh ya, saya mau menunjukkan sesuatu pada kalian. Sebentar !"
Shane mengambil ponselnya lalu membuka galeri pada ponsel tersebut. Ia melihat fhoto - fhoto itu kembali, Shane tersenyum tipis.
" Mark, saya mau nanya sesuatu sama kamu."
Begitu namanya disebut, wajah Mark langsung pucat pasih. Ia pun jadi salah tingkah.
" Mau nanya apa, Bos?" tanya Mark penasaran.
" Kamu lihat ini?" ucap Shane sambil memperlihatkan fhoto - fhoto dirinya bersama Sofie.
Mark terkejut, ia menjadi gelisah. Paman Sammy mencoba memainkan matanya pada Mark, agar Mark bisa santai menghadapi Shane.
" Ya, Bos."
__ADS_1
" Saya mau nanya sama kamu, hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua ?"
Mendengar ucapan Shane, semua menjadi terkejut. Terlebih Mark. Mark menjadi takut akan ancaman Shane.
" Shane, kamu ini apa-apa'an sih ?" tanya Paman Sammy.
" Kenapa Paman? ada yang salah?"
" Ga seharusnya kamu ngomong seperti itu !"
" Kenapa Paman membelanya?"
" Saya bukan membelanya."
" Jadi apa kalau bukan membelanya?"
" Saya Paman nya Sofie, jadi saya berhak akan Sofie. Mau dekat dengan siapa dia itu terserah dia. Saya sangat setuju kalau Mark itu bersama Sofie."
" Oh begitu ! jadi maunya Paman saya dan Sofie pisah? begitu ?"
" Lebih tepatnya, ia. "
" Oh baiklah."
" Bos, maafkan saya kalau saya uda menodai istri Bos !"
" Apa? "
" Ya, maafkan saya. Semua ini kami lakukan karena kami suka sama suka. "
Shane tipikal orang yang tidak begitu gampang percaya. Ia pun tersenyum.
" Oh begitu. Baiklah saya akan memberikan peringatan pada Sofie masalah ini. Kamu mencintai nya? "
Mark melirik Paman Sammy. Paman Sammy memainkan alisnya.
" Ya, saya mencintainya."
Mendengar itu Shane merasa sakit hati. Hatinya merasa di cabik - cabik. Begitu gampang nya seorang Mark mengatakan jika ia mencintai istrinya.
Tapi Shane bisa menahan emosinya. Ia tak mau kalau ia membuat keributan dirumah itu.
" Bagaimana Shane, apa jawaban Mark belum puas juga?" tanya Paman Sammy.
" Cukup puas sekali."
" Ya sudah, untuk apa lagi kamu pertahankan rumah tangga mu, akhirilah. "
" Ya, saya akan mengakhiri ini semua. Tapi tidak sekarang. Permisi !"
Shane langsung pergi meninggalkan mereka semua. Ia sedikit kesal akan perkataan Mark itu.
Mark melihat keluar jika Shane telah pergi.
" Dia sudah pergi jauh. Hufff..saya bingung mau jawab apa." ucap Mark sambil menyeka keringat di pelipis wajahnya.
" Shane itu pintar, kita harus berhati - hati."
__ADS_1
" Ya, dia itu pintar. Bos, saya ga yakin segala rencana kita berhasil."
" Jangan pesimis dulu, Mark. Semua akan berjalan dengan lancar. Kita harus menang. "