
Sofie menangis dan terus mengejar mobil yang di kendarai Shane. Melihat itu, Kris pun tak tega. Ia segera menghampiri Sofie.
" Sofieeee....!" panggil Kris dengan suara kuat, Kris pun mengejar Sofie.
Mendengar namanya dipanggil Kris, Sofie pun berhenti mengejar mobil Shane, ia terduduk di jalanan itu.
" Sofie, sudahlah. Mungkin Shane belum bisa menerima ini semua, kamu perlu waktu, bersabarlah !"
Sofie masih saja menangis.
" Ini semua salah saya, Kris."
" Ga boleh ngomong gitu, dalam masalah ini ga ada yang salah, ga ada juga yang benar, ini semua proses. Sekarang kamu pulang lah, kamu butuh istirahat dulu."
Sofie menggelengkan kepalanya.
" Saya ga mau pulang."
" Sofie, kamu nanti bisa sakit. Saya akan pesan taxi, agar kamu pulang. Kasih saya waktu, saya akan bicarakan ini pada Shane. Jangan nangis lagi !"
Sofie menganggukkan kepalanya. Taxi pun tiba, Sofie segera pulang . Kris menghela nafas, ia begitu kasihan pada Sofie.
****
Di tengah perjalanan, Shane baru sadar kalau Kris tertinggal. Ia mencoba menghubungi Kris.
" Kris, kamu ada dimana? maaf, saya tadi sempat ninggalin kamu."
" Ya bos, ga papa. Ada yang mau saya bicarakan, ini penting bos."
" Apa?"
" Bos bisa kembali lagi ke resto tadi?"
" Penting kah Kris?"
" Ya bos, ini sangat penting. "
" Baiklah, saya akan kembali lagi. "
Shane menutup pembicaraan. Shane pun putar balik, ia kembali ke resto itu lagi. Kris sudah menunggunya.
Shane memarkirkan mobilnya lalu dengan buru - buru ia masuk ke dalam resto itu.
" Kris, apa yang mau kamu bicarakan?"
" Silahkan duduk, bos !"
" To the point aja, Kris. Ada apa?"
__ADS_1
" Bos, saya minta maaf kalau saya uda mencampuri urusan bos dengan Sofie. "
" Sofie lagi yang dibahas. Ada apa dengan Sofie? oh..saya tahu, jangan - jangan, tadi itu ide kamu ya?"
" Dia masih mencintai mu bos."
Mendengar ucapan Kris, Shane tertawa lepas.
" Uda lah, ga usah ngomongin cinta, bulsit itu semua, Kris."
" Bos, saya berkata jujur. Dia masih cinta sama bos. Saya punya rekamannya."
Kris mengambil ponselnya, dan ia membuka rekaman pembicaraan Sofie. Ternyata diam - diam, Kris merekam isi pembicaraan mereka. Shane mendengar dengan jelas, kalau Sofie masih mencintainya. Isi rekaman selesai.
" Gimana bos? masih belum percaya kalau Sofie itu masih menyimpan rasa?"
Shane terdiam.
" Bos, saya ga setuju kalau Sofie menikah dengan orang lain. Sofie juga ga cinta pada pria itu. Sofie hanya cinta sama bos, hanya bos seorang."
Kedua mata Shane mulai berkaca - kaca mendengarkan ucapan Kris.
" Ga Kris, Sofie itu tidak bisa menerima kekurangan saya. Dia ingin punya suami yang perfect, ga seperti saya. Saya uda bilang, saya ini hanya bisa membuat dia marah, nangis, kecewa. Jadi ga artinya, Kris. Saya uda mengikhlaskan nya, saya ga akan ingat dia lagi."
" Apakah itu dari hati bos?"
" Ya, saya ngomong dari hati, saya ga bohong. "
" Itu semua salahnya, Kris. Dia yang mengambil keputusan ini. "
" Manusia pasti pernah buat khilaf bos, mungkin di saat itu dia sedang emosi. Pikirannya kacau, ditambah lagi masalah Pamannya. Mungkin saja, jika saya di posisi Sofie, saya akan seperti itu juga, terlalu cepat mengambil keputusan. "
" Sudah Kris, saya ga mau tahu. Yang penting buat saya, dia bisa bahagia itu aja."
" Bagaimana mungkin dia bisa bahagia bos, dia tidak mencintai pria itu ?"
" Saya lihat mereka fine - fine aja kok."
" Itu yang terlihat di depan mata, di balik itu semua? kita tahu? ga kan !"
" Cukup Kris, kita pulang !"
" Bos, saya mohon dengan sangat."
" Nasi uda jadi bubur, Kris. Ga ada yang perlu di ubah lagi. "
Shane langsung pergi meninggalkan Kris. Kris pun langsung mengejarnya. Diperjalanan, mereka berdua hanya diam. Sesekali Kris melihat bos nya itu dari kaca spion depan. Sepertinya Shane sedang memikirkan sesuatu.
****
__ADS_1
Sofie pun tiba dirumahnya, ia terus saja menangis. Nama Shane selalu ada dalam pikirannya. Ia tidak mau menjalani pernikahannya dengan Dion.
Sofie berencana ingin membatalkan pernikahan mereka. Ia ingin membicarakan semua ini pada Dion. Tapi dibalik itu, ia juga takut, Dion menjadi kecewa.
Sofie benar - benar bingung. Ia takut menjalani hidup bersama Dion, apalagi ia tak ada rasa cinta. Selama ini Sofie hanya berpura - pura saja, agar hidupnya tidak larut dalam kesedihan, tapi nyatanya kepura - puraan itu membuatnya semakin kalut .
Ponsel nya berdering, ia merogoh tasnya dan mengambil ponsel itu. Ternyata dari Dion.
" Sofie, kamu siap - siap ya, kita akan pergi ke toko perhiasan sekarang juga."
" Apa? ke toko perhiasan? sekarang ?"
" Ia, kenapa?"
" Saya lagi ga enak badan, bisa ga besok atau lusa ?"
" Ya ga bisa dong, saya uda janjian sama pemilik tokonya, karena cincin pernikahan kita akan di desain sebagus mungkin. "
" Harus kah seperti itu?"
" Ya, saya ga mau pernikahan kita ini, terlihat ga sakral, saya mau mewah. Kamu tahu kan pernikahan itu sekali seumur hidup. "
" Saya benar ga enak badan. Oh ya..ada yang mau saya omongin ke kamu."
" Apa itu?"
" Kamu benar cinta sama saya?"
" Kamu ngomong apa'an sih? kamu kayak anak ABG, tau !"
" Saya serius."
" Kalau saya ga cinta sama kamu, saya ga mungkin ngajakin kamu nikah. Ngerti ga sih?"
" Seandainya kamu tahu, kalau saya itu ga cinta sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?"
" Hahahaha, kamu ngomong apa sih? ginih nih...biasanya orang kalau mau dekat pernikahan, ada - ada aja pertanyaannya."
" Dion, saya?"
" Uda deh, ga usah banyak cerita, sekarang kamu siap - siap, saya akan jemput kamu."
" Besok aja ya, saya janji, saya baru pulang kerja, masih capek, pliss !"
Dion mematikan ponselnya. Dion sangat kecewa pada Sofie. Akhir - akhir ini, Sofie semakin sulit untuk di ajak bertukar pikiran, selalu banyak alasan jika di ajak untuk membahas pernikahan mereka.
Dion tidak tinggal diam. Ia pun mencari tahu, apa penyebabnya sehingga Sofie bisa seperti ini, tidak fokus untuk hari pernikahannya.
Dion juga merasa heran, kenapa tiba - tiba saja Sofie menanyakan masalah cinta atau tidaknya ia pada Sofie. Dion mencoba berpikir positif thinking, tapi semakin melihat sikap Sofie, semakin besar rasa penasarannya apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Dion tidak mau ada dusta di antara mereka. Ia juga tidak mau menodai pernikahan yang sudah lama ia harapkan. Kegagalannya bersama Agnes, membuat Dion harus semakin extra hati - hati dalam menjalin hubungan.
Sofie, wanita yang sudah membuatnya menggila, ia tidak mau kalau ternyata Sofie tidak mencintainya.