
Dengan nafas yang terengah - engah, Shane menghampiri petugas informasi rumah sakit. Ia menanyakan dimana ruangan istrinya itu.
" Maaf Pak, untuk sementara Ibu Sofia masih diruangan ICU."
" Kalau boleh tahu, sebelah mana ya ruangan ICU nya?"
" Bapak jalan aja lurus habis itu belok ke kanan, disanalah ruangan ICU nya pak."
" Baiklah, terimakasih untuk informasinya. "
Shane pergi meninggalkan ruangan informasi itu. Ia berjalan dengan langkah yang sedikit tidak berdaya. Ia harus menyaksikan istrinya untuk kedua kalinya tertembak.
Benar - benar Shane tak habis pikir. Sungguh sangat tega sekali seorang Paman ingin menyakiti keponakannya sendiri.
Shane melihat pintu yang bertuliskan ICU itu. Ia duduk menundukkan kepalanya. Air matanya kembali berlinang.
Shane dapat merasakan kesakitan yang di alami oleh istrinya itu. Dokter yang menangani Sofie pun menghampirinya.
" Operasinya berjalan dengan lancar, Pak. Peluru - peluru itu sudah kami keluarkan." ucap Dokter itu.
" Peluru - peluru? emang berapa peluru yang menyasar di tubuh Sofie, Dok?"
" Kami hanya menemukan 2 peluru, Pak."
" 2 peluru, Dok? astaga !"
" Bapak ga usah khawatir, Sofie pasti sembuh, pasti dia bisa melewati masa kritisnya. Banyak - banyak lah berdoa, karena dia juga banyak kekurangan darah."
Shane kembali menangis. Ini semua karena kesalahannya. Andai saja ia tidak ikut dalam sindikat obat - obatan itu, pastilah Sofie tidak akan datang ke pelabuhan itu.
Nasi sudah menjadi bubur, Sofie sudah mengetahui semua perbuatan Shane dan Pamannya. Shane hanya bisa pasrah kalau Sofie akan pergi meninggalkannya. Ia tak bisa mengekang Sofie selamanya.
Selama ini Sofie sudah mencoba menjadi istri yang lebih baik untuknya. Tapi Shane tidak pernah peka. Paman Sammy juga telah mengkhianatinya, tapi nyatanya Shane bisa masuk dalam perangkapnya.
Padahal Shane ingin meninggalkan bisnis haramnya, tapi sayangnya ia belum bisa sama sekali untuk meninggalkan bisnis yang sudah membesarkan namanya itu.
Shane benar - benar sangat menyesal. Sekarang ia hanya bisa pasrah melihat keadaan Sofie.
Ntah sampai kapan penderitaan Sofie berakhir.
Semua yang dikatakan Sofie benar adanya, setelah menikah dengannya, Sofie kerap mendapatkan masalah.
Shane mencoba meminta pada Perawat ICU itu agar ia diberikan ijin untuk melihat Sofie. Tapi Perawat itu belum bisa memberikan ijin pada siapa pun, karena kondisi Sofie yang masih lemah.
****
Setelah berjam - jam bersembunyi di bawah laut, akhirnya Paman Sammy dan istrinya berhasil menyelamatkan diri. Mereka berdua menepi. Sesak nafas karena mereka berenang tanpa menggunakan alat pernapasan, membuat Bibi Marry lemas tak berdaya.
" Sampai kapan kita harus bersembunyi ?" tanya Bibi Marry dengan nafasnya yang naik turun.
" Kita akan pindah dari kota ini.."
__ADS_1
" Pindah? pindah kemana?"
" Kita akan pergi ke luar negeri."
" Ada - ada aja kamu, kamu pikir luar negeri itu hanya selangkah dari rumah kita?"
" Kita akan ke Aussie."
" Kenapa harus ke sana?"
" Kamu lupa, kalau kita punya apartemen disana?"
" Apartemen? emang kita punya apartemen disana?"
" Ya, setahun yang lalu saya membelinya."
" Kenapa kamu ga pernah cerita sama saya?"
" Maaf, sebenarnya saya ingin memberitahukannya ketika ulang tahun pernikahan kita, tapi sekarang kamu uda terlanjur tahu, ya ga surprise lagi."
" Kapan kita kesana?"
" Secepatnya."
" Kamu yakin?"
" Ya, saya yakin. kita akan secepatnya kesana."
****
Pagi hari pun tiba. Bibi Janet tidak tidur semalaman, karena ia begitu khawatir akan keberadaan majikannya.
Bibi Janet mencoba menghubungi Sofie, tapi tidak ada jawaban, Bibi Janet juga menghubungi Shane, ternyata sama saja tidak bisa dihubungi.
Bibi Janet semakin khawatir. Kemana perginya mereka? dari semalam mereka tidak pulang kerumah. Tidak ada kabar sama sekali.
Pagi ini, Bibi Janet tidak memasak sama sekali. Tidak tenang rasanya untuk mengerjakan sesuatu.
Bibi Janet berjalan mondar mandir, ia berharap Shane atau Sofie memberikan kabar kepadanya.
Kegelisahan Bibi Janet pun terbayar, Shane menghubungi Bibi Janet. Shane memberitahukan bahwa Sofie terbaring di rumah sakit, karena terkena peluru.
Wanita paruh baya itu pun terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh majikannya itu. Air matanya pun berlinang. Selalu saja ada masalah yang menimpa Sofie. Shane mencoba menenangkannya, tapi tangis Bibi Janet pun pecah.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, Shane belum juga mendapatkan kabar mengenai Sofie. Karena belum sadarkan diri, Shane kembali pulang kerumah untuk mengganti pakaiannya.
Shane menitipkan Sofie, istrinya itu. Ia juga meminta pada Perawat itu agar selalu memberikan informasi mengenai istrinya itu.
Shane memasuki area parkir. Wajahnya sedikit kusam, rambutnya acak - acak'an. Shane sama sekali tidak berdaya. Ia masih saja memikirkan Paman Sammy dan istrinya.
Shane mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Kris. Telpon pun tersambung.
__ADS_1
Shane menceritakan semua kejadian yang telah menimpa dirinya dan Sofie. Kris sangat terkejut mendengarkan kabar buruk itu.
Shane meminta bantuannya, agar ikut membantu untuk mencari Paman Sammy dan istrinya.Kris pun langsung mengiyakan permintaan bos nya itu. Shane mengakhiri pembicaraannya, dan segera kembali kerumah.
Tibalah Shane dikediamannya. Ia melihat Bibi Janet, sedang berdiri di depan rumah itu. Begitu melihat mobil milik majikannya itu, Bibi Janet pun langsung menghampirinya.
Shane menepikan mobilnya. Begitu keluar dari dalam mobil, Shane langsung memeluk erat wanita paruh baya itu. Ia menangis. Menyesali semua perbuatan yang telah dilakukannya.
Karena melihat majikannya itu menangis, Bibi Janet pun tak kuasa menahan air matanya. Hanya kata sabar yang bisa disampaikan Bibi Janet, dia pun sangat terpukul karena keadaan Sofie.
" Bi, saya uda pasrah, kalau Sofie akan pergi meninggalkan saya." ucap Shane.
" Ga, Tuan. Sofie ga akan pergi meninggalkan Tuan, Sofie pasti salah paham dengan semua ini."
Shane melepaskan pelukannya. Ia menggelengkan kepalanya. Lalu pergi ke kamarnya.
****
Perlahan jari jemarinya mulai digerakkan, ia mulai membuka kedua matanya. Sofie melihat sekelilingnya.
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, air matanya pun berlinang.
" Sus - ter....!" panggil Sofie.
Perawat yang menjaga Sofie pun langsung berlari menghampirinya.
" Ibu Sofia uda siuman. Sebentar saya panggilkan Dokter ya!"
Perawat itu pergi meninggalkan ruangan itu, dan ia kembali bersama seorang Dokter yang menangani Sofie.
" Selamat pagi, Ibu Sofia !"
" Dok - ter...!"
" Saya akan periksa Ibu Sofia dulu ya !"
Dokter itu memasang stetoskop ke liang telinganya. Ia mulai memeriksa keadaan Sofie.
" Ibu Sofia sudah melewati masa kritisnya, sekarang Ibu Sofia banyak istirahat supaya luka nya cepat sembuh."
" Dok, suami saya dimana?"
" Oh Pak Shane, tadi beliau pulang kerumah sebentar, Bu. Nanti saya akan menghubunginya." ucap Perawat itu.
" Bu Sofia, jangan terlalu banyak pikiran dulu ya, Ibu pasti akan sembuh !"
" Ya Dok. Terimakasih."
" Oh ya Sust, karena Ibu Sofia sudah siuman, sekarang juga Ibu Sofia bisa dipindahkan keruangan rawat inap." titah Dokter yang menangani Sofie.
" Baik, Dok."
__ADS_1
Perawat dan Dokter itu pun pergi meninggalkan Sofie.