
Setelah mengisi perut tengahnya, Shane pun mencoba mengitari lingkungan sekolah itu. Karena alumni dari sekolah tersebut, Shane masih tahu betul ruangan - ruangan sekolah itu.
Ia mengitari lingkungan sekolah itu dan akhirnya ia bertemu dengan Kepala Sekolah.
" Shane Denaro ?" sapa Bapak Kepala Sekolah.
" Pak Marco ? apa kabarnya, Pak?" tanya Shane balik, sambil menjabat tangan Kepala Sekolah itu.
" Saya baik - baik, aja. Kamu sendiri gimana? " tanya Pak Kepala Sekolah itu.
" Saya juga baik, Pak."
" Ga enak kita bicara disini, gimana kalau kita bicara diruangan saya aja !" tawar Pak Kepala Sekolah itu.
" Hhmm..boleh, Pak."
Mereka pun pergi menuju ruangan kepala sekolah itu. Mereka cerita dengan sangat seriusnya. Shane meminta ijin pada Kepala Sekolah itu, ia ingin melihat Sofie ketika mengajar di kelas anak - anak. Kepala Sekolah itu pun memberikan ijin.
Shane mencari - cari kelas dimana Sofie mengajar. Dan akhirnya ia pun menemukannya. Ia mencoba mengetuk pintu kelas itu. Dan Sofie pun membuka pintu itu. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat suaminya ada di depan kelas.
" Shane ? apa yang kamu lakukan disini?"
" Kangen sama kamu !"
" Kamu ada - ada aja Shane, saya masih ada jam mengajar !"
" Ya, terusin aja." Shane langusng nyelonong masuk ke dalam kelas itu. Semua murid - murid itu sangat terkejut melihat seorang pria tampan, bertubuh tinggi tegap masuk ke kelas mereka. Mereka semua pun ikut tersenyum.
Shane langsung mengambil posisi duduk paling belakang. Kebetulan ada satu kursi kosong.
" Hai anak - anak semua ! om numpang duduk ya !" ucap Shane sambil melepas kaca mata hitamnya.
Murid - murid itu semakin tidak fokus pada Shane, Shane begitu tampan.
" Shane, saya masih ngajar. Tolong keluar, malu dilihat anak - anak." titah Sofie.
" Santai aja. Sekarang lanjutkan ngajar mu. Saya ga lihat kok, jadi kamu ga usah malu."
Wajah Sofie mendadak pucat pasih, ia begitu malu pada anak - anak itu. Sofie mencoba kembali membujuk Shane untuk keluar dari kelas, tapi tetap saja Shane tidak mau. Ia tetap duduk santai di belakang.
Mau tak mau, Sofie pun melanjutkannya. Ia kembali menerangkan pelajaran tentang musik. Shane selalu menatap istrinya itu, sesekali ia memberikan senyum pada Sofie, Sofie pun tidak fokus menerangkan pelajaran.
Merasa risih karena kehadiran Shane , Sofie sesekali melihat jam arlojinya. ia sudah tak sabar ingin rasanya jam pelajaran habis.
" Baiklah anak - anak, minggu depan kita akan mencoba melakukan prakteknya, jadi diharapkan minggu depan semua membawa gitar nya. Sampai disini paham? ada yang mau ditanya?"
"Saya Miss !" ucap salah satu anak.
" Ya, nak. Silahkan !"
" Pria tampan itu siapa, Miss?" tanya anak lelaki itu.
Alhasil semua anak - anak ikut tertawa. Shane langsung maju ke depan kelas. Ia pun memberitahukan tentang dirinya. Agar anak - anak itu tidak penasaran.
Shane juga menceritakan kalau ia adalah alumni dari sekolah itu juga. Anak - anak itu sangat bangga sekali pada Shane, semua anak - anak itu pun berlomba untuk berfoto bersama.
Sofie mencoba melarangnya, tapi anak - anak itu tetap meminta fhoto bareng dengan Shane. Shane pun menerimanya dan ia mau berfoto bersama dengan anak - anak itu.
__ADS_1
Sofie sedikit kesal, karena Shane hari ini menganggu kelasnya. Dan waktu pun habis. Bell sekolah itu berbunyi. am pelajaran Sofie pun habis.
" Baiklah anak - anak, jam pelajaran musik kita habis. Kita bertemu di minggu depan. Permisi !"
Sofie langsung buru - buru pergi meninggalkan kelas. Shane langsung menyusulnya.
" Sofie, tunggu. Kamu marah ya?"
" Ia, saya marah sama kamu. Kamu dengan beraninya masuk ke kelas saya. Apa kata anak - anak itu? untung aja Kepala Sekolah ga lihat kamu. Bisa - bisa saya yang kena marah."
" Hahaha, ga mungkinlah saya masuk ke kelas kamu kalau ga ada ijin dari Pak Marco."
" Apa? kamu uda minta ijin dari Kepala Sekolah? kamu menemuinya?"
" Ga, kebetulan tadi saya ketemu sama beliau. Ya uda, kita berdua cerita - cerita. Trus beliau menawarkan, mau lihat Miss Sofie ngajar ga? saya ga nolak dong, saya jawab aja, ya mau. Siapa sih yang ga mau lihat Miss Sofie cantik ngajar?" gombal Shane.
"Kamu ada - ada aja Shane. Saya malu kalau dilihat sama guru - guru lain, apa kata mereka nanti. "
" Ga usah perdulikan mereka."
" Kamu sih ada - ada aja, maen masuk kelas segala."
" Saya itu kangen sama kamu."
" Alasannya itu terus, kangen lah, apalah. "
" Lah emang benar kangen kan? Kamu ga percaya? " ucap Shane tersenyum melihat istrinya itu.
" Ya uda kita pulang. "
" Ga, saya ga mau pulang."
" Saya ga mau pulang, kalau kamu masih marah sama saya."
" Itu alasannya?"
" Ya. Mending saya disini, disini banyak anak - anak yang cantik, guru nya juga banyak yang cantik, malah lebih cantik dari kamu. Bikin betah, tau !"
Sofie pun memasang wajahnya cemberut. Ia paling tidak suka jika suaminya itu memuji wanita lain. Ya, itulah kelehaman Sofie. Ia pasti langsung cemburu.
Wajah Sofie pun berubah menjadi manis, ia membujuk suaminya itu untuk pulang. Shane tahu Sofie itu cemburu jika di bandingkan dengan wanita lain, Shane pun tertawa lepas melihat sikap istrinya itu mendadak baik. Mereka pun turun dan langsung menuju area parkir.
" Shane, kamu bisa tunggu sebentar ga?"
" Kenapa? "
" Ada buku yang tertinggal."
" Oh, ya uda. Silahkan ambil !"
Sofie langsung berlari , ia kembali masuk ke sekolah itu. Tiba - tiba saja ponsel Shane berdering. Shane melihat nama si penelpon itu. Paman Sammy, bathinnya.
" Ada apa, Paman?"
" Shane, saya punya bisnis baru, apakah kamu mau bergabung dengan saya?"
" Bisnis apa?"
__ADS_1
" Obat - obatan. Tidak banyak. Saya mau kita seperti dulu lagi, kita bersahabat kembali dan menjalin silahturahmi dengan baik. Lupakanlah semua kisah yang pernah kita jalani. Kita mulai dengan lembaran hidup yang baru.
" Oh. Baiklah, nanti kita akan bicarakan ini. Kita atur pertemuan untuk membahas ini. Ini bisnis yang baik. "
" Terimakasih banyak Shane. Kamu memang relasi yang sangat baik.
" Ia Paman, sama - sama." telpon pun terputus.
..." Permainan mu sungguh baik, Paman. Lihat aja, saya ga akan biarkan diri mu bisa menghirup udara segar lagi." ...
...gumam Shane....
Sofie pun kembali. Ia melihat jika Shane sedang melamun. Sofie menepuk pundaknya.
" Kenapa melamun?"
Shane pun terkejut dengan kehadiran Sofie.
" Hhmmm..ga, saya ? oh ya uda dapat bukunya?"
" Uda, ini. Ya uda kita pulang sekarang !"
" Kamu ga mau makan dulu?" tawar Shane.
" Ga, saya makan dirumah aja. hari ini saya mau masak sop kesukaan mu. Gimana, kamu mau ga ?" tanya Sofie
" Jelas mau lah. Masakan kamu itu sangat enak sekali. "
" Oh ya? makasih ya atas pujian nya."
" Sofie, saya mau nanya sama kamu. Seandainya kamu tahu pelaku pembunuh orang tua mu, apa yang akan kamu lakukan?"
" Saya akan menyerahkannya ke pihak yang berwajib."
" Kamu yakin?"
" Kenapa Shane?"
" Kamu ga mau menghabiskan orang itu dengan tangan mu sendiri?"
" Maksud kamu? saya mencelakainya? membunuhnya gitu? ga Shane, saya uda ikhlas, siapa pun itu orangnya, saya akan menyerahkan nya ke pihak berwajib. Saya ga mau mengotori tangan saya dengan perbuatan keji seperti itu. Ga Shane !"
" Baiklah, saya ngerti. Kamu sabar ya !"
" Kamu menyembunyikan sesuatu kan?"
" Ga, saya ga menyembunyikan sesuatu dari mu. Kamu lihat, apakah saya tipe orang seperi itu?"
" Shane, saya mohon, jangan ada dusta diantara kita."
" Kamu tenang. Shane yang dulu uda banyak berubah. Uda ga seperti Shane yang dulu, dan itu karena kamu. "
" Uhuk..uhuk..uhuk...!"
Sofie mendadak batuk mendengar ucapan suaminya itu.
" Tu kan, kamu batuk !"
__ADS_1
" Kamu banyak gombalnya. " ucap Sofie tertawa.