" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 39 " Sebuah Ancaman"


__ADS_3

Honeymoon telah selesai. Saatnya pasangan suami istri ini pulang ke negaranya.


Awalnya honeymoon yang tak diharapkan tapi ketika rasa kesabaran itu akhirnya honeymoon tersebut menjadi pilihan yang tepat dan sangat menyenangkan.


Segala aktivitas telah menanti. Sofie sudah sangat rindu dengan orang - orang yang ia cintai. Anak didik, anak Paman dan Bibinya serta Bibi Janet, orang yang paling ia sayangi.


Oleh - oleh yang dibelikan Sofie, ia bagikan pada mereka. Sofie sangat senang sekali ia bisa berbagi.


Shane tidak perduli dengan yang namanya oleh - oleh. Ia pun tak mau membelikan pada Bibi Janet. Ia menyerahkan sepenuhnya pada Sofie.


Pria satu itu memang tidak pernah mau membelikan oleh - oleh kemana pun ia pergi.


Bibi Janet sangat senang sekali menerima pemberian dari Sofie.


Sebulan telah berlalu. Sofie tidak lagi kembali ke kontrakannya. Shane tidak mengijinkannya. Ntah kenapa Shane tidak mau jauh dari Sofie. Apalagi setelah honeymoon, Shane selalu saja ingin bersama dengan Sofie.


Padahal kalau sudah bersama Sofie, Shane selalu saja membuat masalah. Shane suka sekali menjahili Sofie, hingga membuat istrinya itu menangis ataupun marah.


Seperti itulah sifatnya , dibalik ketegasannya, Shane selalu mencari perhatian pada istri nya itu.


****


Pagi itu, Sofie pergi mengajar. Karena hari ini ada ujian disekolah. Sofie tidak lama disekolah karena Sofie mendadak sakit. Wajahnya sangat pucat sekali.


Kepala Sekolah memberikan ijin agar Sofie segera pulang dan istirahat. Dan Sofie pun menerima tawaran Kepala Sekolah itu.


Ia menghubungi Shane. Ia memberitahukan kalau ia sakit. Ia meminta pada Shane supaya ia dijemput , tapi Shane tidak perduli.


" Ga usah manja, kalau sakit pergilah ke Dokter, bereskan...?" Titah Shane dari sebrang sambil mematikan telponnya.


Sofie tampak sedih. Pria tampan itu sangat beda ketika waktu honeymoon. Sofie kecewa. Ia pun menangis. Shane berbaik hati padanya kalau ada maunya saja.


Sofie pulang kerumah dengan menaiki taxi . Taxi pun berhenti didepan rumah mewah itu. Sampai dirumah ia masih kesakitan. Kepalanya terus sakit, perutnya terasa mual. Badannya juga terasa ngilu.


" Kamu sudah pulang?" tanya Shane


" Uda." Jawab Sofie ketus, dan tiba - tiba saja perutnya terasa mual.


Sofie langsung berlari ke kamar mandi. Disana ia muntah. Karena muntah ia menjadi lemas.


Shane tak perduli pada istrinya itu. Ia hanya menghela nafas melihat keadaan Sofie.


" Mungkin itu karena pengaruh cuaca dingin, makanya kamu jadi kayak gitu."


" Ia ya..mungkin juga sih."


Bibi Janet mendengarkan percakapan mereka. Bibi Janet hanya bisa tersenyum. Bibi Janet langsung menebak kalau Sofie itu hamil. Tapi ia tak mau mengatakan pada Shane dan Sofie, ia takut kalau tebakannya tidak benar.


Tapi Bibi Janet berharap, Sofie memang benar hamil. Bibi Janet juga berharap, keluarga Shane dan Sofie menjadi keluarga yang bahagia dengan hadirnya anak ditengah - tengah keluarga mereka.


Malam hari pun tiba. Bibi Janet sedang mempersiapkan makan malam. Shane sudah berada diruang makan.


" Bi, tolong panggilin Sofie ya...!"


" Ya, Tuan. "


Bibi Janet langsung memanggil Sofie. Ia melihat Sofie tergeletak lemas dan tak berdaya.


" Nak, apakah kamu baik - baik aja?"


" Bi, saya lagi ga enak badan. Kepala saya sakit, perut saya terasa mual."

__ADS_1


" Bibi ambilkan air hangat ya...!


" Ia, Bi. Makasih banyak ya, Bi....!"


Bibi Janet meninggalkannya, ia hanya bisa tersenyum. Bibi Janet tahu kalau Sofie sedang hamil. Semoga tebakan Bibi Janet benar adanya.


Bibi Janet kembali membawa segelas air hangat.


" Nak, kamu ga mau periksa ke Dokter?" Tanya Bibi Janet.


" Ke Dokter?"


" Ia..siapa tahu kamu lagi hamil. Lebih cepat lebih bagus, biar kamu langsung dapat vitamin dari Dokter."


" Bibi yakin saya hamil?"


" Ia nak. Bibi sangat yakin. Cobalah pergi ke Dokter atau coba aja kamu beli testpack...!"


" Bi, kalau saya benar hamil, saya senang sekali, Bi. Tapi tolong jangan beritahu Shane dulu ya Bi, saya pengen kasih kejutan buat dia."


" Ia, nak. Bibi janji ga akan kasih tahu Shane. Kamu harus banyak istirahat ya, jangan terlalu capek. Banyak makan."


" Ia, Bi. Makasih banyak ya Bi..!"


" Ya uda kamu istirahat dulu ya...!"


Bibi Janet sangat senang sekali dengan kabar ini, sudah tak sabar rasanya ia ingin melihat Shane Junior. Dan pastilah Shane juga bahagia akan berita ini.


" Bi, Sofie kenapa?"


" Ga papa, Tuan. Dia hanya kurang enak badan aja. Tuan temani gihh...biar Sofie tetap semangat."


" Kalau ditemani nanti makin manja, Bi. Biar aja deh...!"


" Anak itu keterlaluan manjanya, hufff...!"


Shane bergegas naik keatas. Ia menuju kekamar dengan wajah yang sedikit muram.


" Kamu kenapa?"


" Datang - datang kok marah sih?"


Shane duduk disampingnya. Ia memegang dahinya.


" Ga ada demam? trus kamu sakit apa?"


Sofie tersenyum .


" Kamu kenapa senyum?"


" Kamu tahu ga, uda beberapa minggu ini saya telat haid."


" Telat haid? trus?"


" Kita periksa ke Dokter aja ya?"


" Terserah."


" Kamu kok gitu sih?"


" Jadi mau nya kamu saya gimana?"

__ADS_1


" Uda ahh...saya mau tidur. Kamu payah..."


" Terserah deh..kamu mau tidur ya...silahkan."


Shane langsung pergi meninggalkan Sofie.


" Kamu mau kemana?"


" Saya mau keluar, ada urusan yang sangat penting."


" Jangan lama - lama perginya."


Shane tidak mendengarkan perkataan Sofie, ia langsung saja pergi.


Sofie tetap sabar dengan sikap suaminya itu. Ia yakin setelah mendengarkan kabar baik ini, ia pasti akan berubah menjadi lebih baik.


****


Hari ini, Sofie tidak pergi mengajar. Untuk beberapa hari, ia minta ijin. Sofie semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya .


Benarkah apa yang dikatakan Bibi Janet? Sofie pun pergi ke apotik. Sebelum memeriksakan dirinya ke Dokter, ia ingin sekali terlebih dahulu membeli testpack.


Petugas apotik pun memberikan apa yang diminta Sofie. Sofie semakin penasaran. Tak sabar rasanya ia ingin cepat - cepat pulang kerumah.


Dari kejauhan, Bibi Mary melihatnya. Bibinya pun langsung menghampirinya.


" Sofie...!"


Sofie menoleh kearah datangnya suara.


" Bibi? Apakabar, Bi?"


" Kamu sedang apa?apa itu ?"


" Hhmmm..anu Bi...saya?"


" Kamu beli testpack? kamu hamil ya?"


Sofie terdiam.


" Sofie, kamu hamil ya?"


" Saya ga tahu, Bi. Akhir - akhir ini saya kurang enak badan, Bi."


" Apa? Sofie, kamu ga boleh hamil."


" Kenapa, Bi? kenapa saya ga boleh hamil? "


" Shane ga boleh punya anak dari kamu."


" Maksud Bibi apa?"


" Sini kamu..." Bibi Mary menarik tangannya. Ia mengajak Sofie ketempat yang agak sepi.


" Kamu ga boleh hamil, jangan pernah kamu mengandung anak Shane. Kalau kamu hamil, kamu harus gugurin itu anak."


"Bibi? Shane itu suami saya. Wajarlah kalau saya hamil. Lagian kenapa Bibi melarang saya untuk hamil?"


" Pokoknya kamu ga boleh hamil. Kalau saya tahu kamu hamil anak Shane, saya akan buat kamu celaka. Ngerti kamu..!"


" Bibi kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi, Bi?"

__ADS_1


" Kamu ga perlu tahu kenapa saya melarang kamu untuk hamil. Tapi yang jelas kamu itu ga boleh hamil. "


Bibi Mary pun pergi meninggalkannya.


__ADS_2