
" Bi, saya mau makan, tolong siapin ya !" titah Shane.
" Baik, Tuan."
Shane duduk sambil menikmati cemilan kerupuk yang ada di toples meja makan itu .
" Shane, biar saya aja yang siapin makanannya ya!" tawar Sofie.
" Ga usah, ntar kamu capek."
" Saya kan istri kamu, wajar dong saya yang melayani kamu !"
Mendengar ucapan Sofie, Shane tersenyum tipis.
" Ga usah sok baik lah !"
" Ga ada yang sok baik, saya ngelakuin ini ya karena ini memang tugas saya. "
" Kamu kan sakit, lebih baik kamu istirahat aja !"
" Tunggu..tunggu...tunggu...kamu nyuruh saya istirahat aja, kamu mulai perhatian ya sama saya, hehehe ! kamu so sweet banget sih !"
" Ga ada yang lucu, ga usah ketawa."
Sofie terdiam karena ucapannya selalu di skak oleh Shane. Bibi Janet pun menyajikan makanan itu. Shane mengambilnya dan memakannya dengan lahap.
" Nak Sofie, makanlah. Dari kemarin kamu ga mau makan !"
" Ga, Bi. Saya ga selera makan." ucap Sofie sedikit manja sambil melirik ke arah Shane.
" Biarin aja, Bi. Ga usah dipaksain, mau makan atau ga itu urusan dia. Biar aja dia makin sakit. " ucap Shane sambil melirik Sofie.
" Kamu kok gitu sih? bukannya manjain saya, malah ngajak ribut. "
" Manjain kamu? kamu pengen dimanja? hahahah...kamu itu bukan anak kecil lagi, ayo buruan makan, nanti lambung mu makin sakit. Kamu mau masuk rumah sakit lagi? ngurusin kamu ribet, tau !"
" Jadi saya itu beban buat kamu?"
" Ia, kamu itu beban buat saya. Masalah makan aja harus di suruh - suru. Kamu itu bukan anak kecil lagi, jadi harus ngerti dong ! cepatan makan !" bentak Shane.
" Ga ah, saya ga mau makan. Saya kesal lihat kamu !"
" Terserah, mau kesal sama saya. Emang saya pikirin !"
Mendengar ledekan Shane, Sofie memasang wajah yang cemberut. Bibi Janet hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Ya, begitulah Shane dan Sofie, jika bersama pasti mereka selalu ribut. Tak ada kata romantis dalam hubungan mereka.
Akhirnya Shane pun menyelesaikan makannya. Lalu ia pergi ke kamar untuk istirahat. Sofie pun mengikutinya.
" Shane, saya mau bicara sama kamu !"
" Apalagi yang mau dibicarakan, semua uda jelas kan? sekarang terserah kamu , kalau kamu mau melaporkan saya, silahkan bawa masalah ini, saya siap kok."
" Bukan itu. Kamu kenal Mark?"
" Mark ? kenapa dengan dia? dia suka sama kamu ?"
Sofie pun menceritakan apa yang dialaminya ketika bertemu dengan Mark. Shane pun mulai panas mendengarkan apa yang dialami istrinya itu.
" Kamu jawab dengan jujur, selama sebulan ini kamu pergi kemana? apa kamu menjadi buronan Polisi?" tanya Sofie dengan penasaran .
" Buronan Polisi ? maksud kamu apa?"
" Kata Mark, kamu adalah buronan Polisi. Karena kamu melakukan rencana pembunuhan."
__ADS_1
" Apa kamu percaya saya melakukan itu?"
Sofie terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan suaminya itu.
" Sofie, sekarang semuanya terserah kamu. Kalau kamu percaya saya melakukan itu, itu hak kamu. Saya ga bisa melarang siapa pun untuk percaya sama saya."
" Tapi, selama hampir sebulan ini kamu menghilang, kamu ga pernah kasih kabar, pesan yang saya kirimkan , kamu ga mau membalasnya."
" Nanti kamu juga akan tahu, selama sebulan ini saya pergi kemana." ucap Shane meyakinkan Sofie.
" Shane, jangan pernah membuat saya semakin khawatir."
" Kamu khawatir sama saya?"
" Kok gitu sih ngomongnya ?"
" Kamu tahu, hidup saya sekarang uda kacau. Orang - orang saya pergi meninggalkan saya. Satu persatu menghilang. Saya ga tahu apa penyebabnya mereka pergi meninggalkan saya. Jadi tolong, kamu jangan pernah menambah beban pikiran saya !"
" Kalau gitu, tinggalkan aja bisnis mu itu. Kembalilah ke jalan yang baik. Kamu bisa kan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi, untuk apa kamu punya anak buah tapi semuanya penghianat ?"
" Tak segampang itu Sofie !"
" Kamu pasti bisa."
" Saya akan membalaskan dendam saya!"
" Balas dendam? sama siapa?"
" Paman mu !"
" Hah ? Paman Sammy?"
" Ia, maafkan saya Sofie."
" Nanti juga kamu akan tahu. Tapi itu tidak sekarang. Saya akan menunggu waktu yang tepat."
" Jangan sakiti Paman saya, emang kamu ga kasihan sama anak - anaknya? "
" Apa Paman mu pernah kasihan sama mu?"
"Maksudnya?"
" Sudahlah, ga usah dibahas. Saya mau istirahat."
" Shane, jangan tidur dulu. Tolong dengarin saya !"
Shane tidak mendengarkan ocehan Sofie. Ia menutup kedua telinganya.
****
" Gimana Mark? apa kamu berhasil mendekati Sofie? " tanya Paman Sammy
" Berhasil gimana? dia lolos dari cengkraman saya. "
" Bodoh. Kenapa bisa?"
" Ada Polisi yang menolongnya."
" Jadi mana fhoto - fhotonya !"
" Ini. " Mark memberikan ponsel miliknya.
" Bagus. Kita akan kirim ini kepada Shane. Shane akan melihatnya dan Shane akan menendangnya."
__ADS_1
" Apa Bos yakin, kita akan menang ?"
" Ya, saya yakin. Shane itu tipe orang yang ga suka di hianati. Jadi dia akan mengusir Sofie dari kehidupannya."
" Ya, semoga saja !"
" Saya uda ga sabar ingin menguasai kekayaan Shane !"
" Bagaimana dengan Kris ?"
" Kris ? Kris itu sudah meninggal waktu di pulau kecil itu. Karena saya lah yang menembaknya. Ia sudah tak bernyawa. Pastilah ia sudah habis dimakan burung - burung gagak itu."
" Jadi gimana dengan Sofie? apakah saya bisa mendekatinya ?"
" Hahaha, kamu menginginkannya? "
" Ya, dia sangat cantik sekali. Saya menyukainya. "
" Terserah kamu, kamu mau apakan dia. Yang jelas Sofie dan Shane harus berpisah. "
" Oke, serahkan ini sama saya, saya yang akan menyelesaikannya. "
" Hhmm..baiklah, pegang ucapan mu itu. Sekarang pergi lah !"
Mark pun meninggalkan rumah Paman Sammy.
****
Tiba - tiba saja, Dion merasa rindu pada Sofie. Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Sofie tak pernah lagi memberikan kabar padanya.
Dion mengambil ponsel miliknya. Ia mencoba menghubungi Sofie. Tapi sayangnya Sofie tak mengangkat telpon dari nya. Dion pun mengirimkan pesan.
Pesan terkirim. Semoga saja Sofie membacanya dan membalasnya. Sudah ada 5 menit, Sofie tak juga membalas pesannya .
Dion merasa khawatir. Ia mencoba kembali menghubunginya. Lagi - lagi Sofie tak mengangkat telponnya.
Mama Sarah, melihat sikap adiknya itu lain.
" Kamu kenapa lagi?" tanya Mama Sarah.
" Kakak? hhmm..saya ?"
" Sofie?"
"Ya, saya merindukannya, kak !"
" Dion, apa ga sebaiknya kamu melupakannya? dia sudah punya suami. Kamu tahu kan, Shane itu bukan orang sembarangan !"
" Ya, saya tahu. Tapi perasaan saya ke Sofie ga bisa dibohongi, kak."
" Susah memang kalau uda masalah perasaan. Oh ya, kakak punya kenalan, dia wanita baik - baik, lho !"
" Maaf kak, tapi untuk kali ini saya ga mau di jodoh - jodohkan."
" Trus sampai kapan kamu ngejar - ngejar Sofie?Dion, sadar ga sih kamu, kamu itu mencintai orang yang salah."
" Saya ga perduli, kak. "
" Kamu itu ya, susah dibilangi, keras kepala."
Dion pergi meninggalkan kakaknya.
" Dion, kamu mau kemana? dengarin kakak dulu ! Dionnn.....!"
__ADS_1