
Rencana pernikahan pun sudah semakin dekat. Dion telah menyiapkan sepenuhnya. Tapi tidak dengan Sofie, ia begitu santai, cuek dan tak mau tahu. Pikirannya pun kalut. Ntahlah, Sofie belum bisa lupa dengan mantan suaminya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin sakit rasanya menahan kerinduan.
Mama Sarah mengundang Sofie untuk makan malam, sekaligus membicarakan tentang rencana pernikahan mereka.
Sofie pun menerima tawaran itu. Dion menjemput calon istrinya dan membawa kerumah kakaknya.
Kehangatan keluarga itu pun tampak terlihat, Mama dan Papa nya Sarah begitu bahagia ketika melihat Sofie datang kerumah itu.
Mama Sarah menyambutnya dengan penuh suka cita. Ia sudah tak sabar ingin melihat adik semata wayangnya itu segera menikah dengan wanita pilihannya, walaupun awalnya Mama Sarah sempat menolaknya.
" Baiklah, keburu makan malam nya dingin, kita langsung makan aja yuk !" pinta Mama Sarah.
" Ya, selesai makan malam, kita akan bicarakan rencana kalian berdua. " ucap Papa Sarah.
Mereka pun menikmati makan malamnya. Sofie masih saja sedikit gugup karena Sofie sangat segan kepada kedua orang tua Sarah, dan ia juga sedikit risih karena statusnya.
" Sofie, gimana masakan Kakak ? kamu suka ga?" tanya Dion.
" Ya, masakan Kak Sarah, enak banget, bikin nagih hehehe..!"
Semua tertawa mendengarkan pujian Sofie.
****
Malam ini Shane tidak makan di rumah, ia pergi keluar untuk menikmati waktu malamnya.
Shane mendatangi sebuah taman, dimana dulu ia pernah mabuk akibat minum alkohol.
Disana ia bertemu dengan Jack. Jack, pedagang asongan yang pernah menolongnya.
Ternyata Shane tidak lupa akan kebaikan Jack.
" Jack...!" panggil Shane, ketika Jack sedang menjajakan sebuah botol minum.
" Tuan Shane ya? Tuan yang dulu ?" Jack mencoba mengingatnya..
Shane langsung menimpali ucapannya.
" Ia, saya Shane yang dulu pernah mabuk disini, yang pernah kamu tolongin. Kamu apa kabarnya?"
" Saya baik - baik aja, Tuan. Tuan sediri gimana?"
" Seperti yang kamu lihat, saya baik - baik aja."
" Wahh..syukurlah, Tuan. "
" Kamu uda makan belum?" tanya Shane.
Jack menggelengkan kepalanya.
" Kenapa belum makan? ga ada uang?"
Jack menganggukkan kepalanya.
" Kamu susah makan, kenapa ga nemui saya?"
" Saya malu, Tuan. "
" Malu kenapa?"
__ADS_1
" Saya malu kalau saya jadi peminta - minta."
" Yang penting ga mencuri. Kalau hanya minta dan mintanya sama saya, ga papa lah."
" Hehehe, makasih ya Tuan. "
" Kamu mau kerja ga?"
" Kerja? mau lah Tuan."
" Saya butuh orang tuk dirumah, mungkin kamu bisa bantu bersih - bersih. "
" Maaf Tuan, emangnya Bibi yang dirumah, uda pergi kemana Tuan?"
" Bibi Janet? Bibi Janet uda meninggal, sekarang dia uda tenang disana."
" Maaf ya Tuan, saya jadi buat Tuan sedih."
" Ga papa. Besok kamu datang kerumah saya, kamu tahu kan alamatnya?"
" Ya, Tuan, saya masih ingat alamat rumah Tuan. "
" Baguslah."
" Terimakasih banyak ya Tuan ."
****
Selesai makan malam, keluarga Sarah membahas masalah pernikahan Dion dan Sofie.
" Sofie, apakah kamu uda siap menikah dengan Dion?" tanya Papa Sarah.
Sofie terdiam. Ia melirik calon suaminya itu, Dion.
" Sofie, kamu kenapa? ada masalah?" tanya Mama Sarah.
" Maaf Kak, saya siap menikah dengan Dion. "
Mendengar jawaban Sofie, semua dapat bernafas lega.
" Syukurlah, rencana pesta pernikahan kalian akan secepatnya kita laksanakan, kita ga boleh menunda - nundanya lagi. " ucap Mama Sarah.
" Apa? kenapa begitu cepat Kak?" tanya Sofie penasaran
" Apalagi yang mau di kejar Sofie? surat perceraian kamu kan uda keluar, lagian uda hampir setengah tahun lho berlalu. Apa kamu masih punya rasa sama mantan kamu?" sahud Mama Sarah.
" Kak, ngomong apa sih? jangan buat hati Sofie sedih."
" Ya maaf aja, habisnya calon kamu gugup banget sih, dek !"
" Kak, namanya juga mau menikah, orang mau menikah itu banyak cobaannya, pastilah gugup. "
" Ya, mudah - mudahan aja gugupnya karena mau nikah sama kamu, takutnya jadi gugup yang lain."
" Ma, jaga ucapan kamu !" pinta Papa Sarah.
" Yang dikatakan Dion itu benar, saya gugup karena mau nikah, bukan karena yang lain. Saya uda benar - benar melupakan mantan suami saya." jawab Sofie sedikit tersenyum.
" Baguslah, minggu depan kalian sudah bisa fhoto prawed ya !" titah Mama Sarah.
__ADS_1
" Fhoto prawed?" tanya Sofie dengan suara parau.
" Ya, kenapa Sofie? masalah biaya ga usah takut, Dion akan menyiapkannya semua. " ucap Mama Sarah.
" Ya, sayang. Kamu ga usah pikirin masalah biaya. " ucap Dion.
Seakan jantungnya mau copot mendengar keputusan keluarga Dion. Belum siap rasanya ia menikah. Terlalu cepat. Baru saja berjalan hampir 6 bulan, rasanya sangat sulit untuk bisa melupakan semuanya.
Ingin menangis, tapi Sofie menahan air mata itu. Ia tak mau terlihat bersedih. Selalu terlintas nama mantan suaminya, sakit rasanya, benar - benar sakit.
Sofie bertekad, sebelum ia menikah dengan Dion, ia ingin menemui Shane untuk terakhir kalinya, ia ingin meminta maaf. Mungkin ini yang terbaik untuk hubungan mereka, agar tidak ada lagi rasa sakit hati. Dan rencana pernikahannya pun dapat berjalan dengan lancar.
Sofie ingin mencoba mengikhlaskan semua ini, ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengingat mantan suaminya itu.
Shane, pria yang selalu membuatnya marah, menangis, kesal, dan itu lah yang membuat Sofie semakin tidak bisa melupakannya begitu saja.
Setelah perbincangan itu, akhirnya Sofie pun kembali pulang. Dion mengantarkannya pulang, ia tak akan membiarkan calon pengantinnya kembali pulang sendiri.
Diperjalanan, Sofie tampak sedih. Dion mencoba menghiburnya, tapi tetap saja Sofie diam.
" Kamu kenapa sih? kenapa diam terus?"
" Dion, apa tidak terlalu cepat kita menikah?"
" Menurut saya ga, emang kenapa?"
" Kamu pernah ga sih mikirin perasaan saya?"
Dion menghentikan laju mobilnya.
" Perasaan apa? bukannya kamu uda sah pisah dari Shane? apa lagi yang mau di tunggu?"
" Ga semudah itu melupakannya, semakin saya mencoba melupakannya, semakin sulit."
" Sofie, perpisahan kalian berdua itu, itu semua kan kehendak kamu ? jadi mau apa lagi ! ohh..jangan - jangan, kamu masih punya rasa cinta untuk nya?"
" Kamu bisa sedikit dewasa ga sih?"
" Kamu yang ga bisa dewasa, Sof. Kamu menerima cinta dari saya, tapi di pikiran mu selalu ada Shane, mantan suami mu. Kamu itu mau nya apa sih?"
" Kita undur aja dulu pernikahan kita, sampai saya benar - benar bisa menerimanya. "
" Undur? kamu minta pernikahan kita di undur? kamu tahu waktu ga sih? Kamu bisa ga sih menghargai waktu? saya habiskan semua waktu saya hanya untuk mengurus rencana pernikahan kita, trus seenaknya aja kamu bilang di undur ? astaga Sofie...!"
" Saya belum siap, Dion !"
" Trus kenapa kamu tadi di depan Kakak saya, kamu bilang uda siap? kamu ga hanya ngecewain saya aja, tapi mereka juga. Kamu tahu ga, inilah yang diharapkan keluarga saya, Sof, menikah dengan kamu."
" Kamu hanya bisa menjaga perasaan keluarga kamu, kamu ga bisa menjaga perasaan saya, kamu egois. "
" Terserah kamu, tapi saya ga mau masalah ini berlarut - larut. Saya mau pernikahan ini secepatnya kita laksanakan."
" Dion?"
" Cukup Sofie, saya ga mau dengar jawaban kamu lagi. Kalau kamu ga bisa melupakan mantan kamu, lebih baik kita bubar. "
Sofie menggelengkan kepalanya.
" Ga, saya ga mau kita bubar. "
__ADS_1
" Ya uda, sekarang ikutin aja kemauan saya."
Dion menghidupkan mesin mobilnya dan mereka pun berlalu.