
" Mau dimasakin apa?" Tanya Sofie dengan kesalnya.
" Ingat ada Tuannya...!"
" Ia..ia...ia..Tuan mau dimasakin apa?"
" Nasi goreng pedas, pakai sosis, pakai ayam goreng, ingat minyaknya jangan terlalu banyak." Titah Shane.
" Eehhmmm..."
" Masaknya jangan pakai cemberut, nanti ga enak." Ledek Shane.
Sofie melakukan sesuai yang diperintahkan Shane. Masakan Sofie sangat enak, rasa lapar pun semakin menendang perut tengah Shane begitu mencium aroma nasi goreng yang dimasak Sofie.
" Tuan, ini nasi gorengnya, silahkan dimakan." Sofie meletakkannya di atas meja makan dapur itu.
Sofie menyiapkan semuanya. Shane melihat nasi goreng buatan Sofie, ia pun sudah tak sabar ingin mencicipinya.
Sofie membereskan peralatan dapur. Dan bergegas ingin pergi ke kamarnya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Shane
" Tidur." Jawab Sofie ketus
" Kamu jangan pergi. Kamu temani saya makan disini. " Pinta Shane
" Hahhhh? nemani kamu makan? makan aja sendiri, kenapa juga saya harus nemani kamu makan?"
" Ingat, kalau sama saya jangan pernah membantah ataupun menolak."
" Kamu buat kesal aja Shane. Kamu telpon aja Agnes, biar dia yang nemani kamu makan. "
" Saya maunya kamu bukan Agnes. Ngerti?"
Dengan rada kesalnya, Sofie pun duduk menemani Shane makan.
" Gimana nasi gorengnya? enak ga?" Tanya Sofie..
" Biasa aja."
" Biasa aja ya? kok lahap banget?"
" Ya, karena lagi lapar aja. Kalau orang lapar, semua dimakan."
Sofie memonyongkan bibirnya.
" Tadi sore siapa pria yang menemui mu itu?" Tanya Shane
" Kevin. Emang kenapa?"
" Oh Kevin..dia siapa kamu?"
" Teman waktu masih ngajar."
" Teman? kok main pelukan segala.."
" Emang kenapa? masalah buat kamu?"
" Ga.. ya silahkan aja kamu mau pelukan sama siapa aja itu terserah kamu."
__ADS_1
" Jadi kok komplain?"
" Ga ada yang komplain. "
" Kamu cemburu ya?"
Shane menghentikan makannya...
" Cemburu? siapa juga yang cemburu." "
" Hahahaha...wajah kamu kelihatan kok kalau kamu itu cemburu kan? hahaha.."
" Kamu bisa diam ga sih?"
" Maaf..ayo dihabiskan makanannya...!"
Sofie dengan sabarnya menunggu Shane sampai dengan selesai makan. Sofie pun ketiduran.
Shane pun selesai makan. Ia melihat Sofie sudah tertidur pulas.
Shane mencoba membangunkan Sofie. Tapi Sofie tak kunjung bangun juga. Ya, Sofie sudah tertidur sangat pulas sekali.
Shane menggendong Sofie sampai ke kamarnya. Ia menatap wajah cantik Sofie. Shane menyelimutinya. Dan ia pun pergi ke kamarnya.
..." Anak bawel..."...
...Ucap Shane pada Sofie......
****
Pagi - pagi sekali, Agnes sudah tiba dirumah Shane. Ia mau sarapan berdua dengan Shane.
Agnes langsung pergi ke kamar Shane. Sofie mencoba melarangnya . Tapi Agnes tidak perduli. Karena Agnes sudah sangat rindu sekali dengan pacarnya itu.
..." Uhh..pagi - pagi uda buat kesal aja..main nyosor aja ke kamar, ga tahu malu banget sih?"...
...Ucap Sofie dengan kesalnya....
" Sofie....!" Panggil Bibi Janet
" Bibi? Bibi uda sehat?"
" Uda, nak. Kamu kenapa? kok marah - marah?"
" Anu Bi..., itu si Agnes, datang - datang langsung ke kamar Tuan Shane."
" Oh...jadi kamu cemburu?"
" Cemburu? ga ah...saya ga cemburu. Buat apa saya cemburu, Bi?"
" Ia deh kamu ga cemburu, heheheh.."
" Bi, gimana perasaan Bibi sekarang? uda enakan belum?"
" Uda mulai nak. Makasih ya Sofie, kamu uda baik banget mau merawat Bibi."
" Ia, Bi. Sama - sama Bibi sayang hehehe. Bibi sarapan dulu ya, biar saya aja yang beresi rumah."
" Makasih banyak ya nak."
__ADS_1
" Ia, Bi..."
Sofie pun menyiapkan sarapan untuk Shane dan Agnes. Selesai sarapan, ia membersihkan rumah dan seisinya.
Wanita cantik itu tak mengenal lelah untuk bekerja. Ia melakukan semua pekerjaan rumah tanpa istirahat.
Shane dan Agnes pun turun, mereka berdua sarapan diruang tamu. Sofie melayani mereka berdua.
Agnes selalu saja memarahi Sofie. Tapi Sofie tetap sabar. Padahal ia ingin sekali memberi pelajaran pada Agnes, tapi Bibi Janet melarangnya.
****
Hari ini adalah ulang tahun Bibi Janet. Sofie ingin memberikannya sebuah hadiah. Sofie pergi ke sebuah mall mencari hadiah yang tepat untuk Bibi Janet.
Tanpa disengaja, ia bertemu dengan keluarga Paman Sammy. Sofie sangat menghormati Paman dan Bibinya, walaupun dulu ia pernah disakiti, ia tetap menyapa mereka.
Tapi Paman dan Bibinya menghindar dari Sofie. Mereka terkejut sekali melihat keadaan Sofie. Selama ini mereka pikir, Sofie hidup di jalanan menjadi anak gelandangan.
Jesi dan Jason, anak Paman dan Bibinya tetap menjadi anak yang baik, mereka selalu ingat akan Sofie.
" Kami sangat merindukan mu Tante Sofie. Mainlah kerumah, kami ingin bermain bersama Tante Sofie." Pinta Jesi dan Jason.
" Ia, sayang. Lain kali kalau ada waktu Tante akan datang ya...! Oh ya kalian harus rajin belajar dan jangan lupa harus hormat pada Papa dan Mama."
Jesi dan Jason langsung memeluk Sofie.
" Anak - anak, kita pulang yuk, ini sudah malam." Ucap Bibi Mary
Jesi dan Jason langsung melepaskan pelukannya.
" Ingat pesan Tante ya sayang, kalian harus rajin belajar . Oh ya, Paman dan Bibi, gimana kabar kalian? kalian berdua sehatkan ? " Tanya Sofie.
Paman dan Bibinya tidak menjawab pertanyaan Sofie. Mereka malah diam.
Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sofie menangis, bertahun - tahun ia tinggal dengan mereka, hanya anak - anak itulah yang selalu menyayanginya.
Sementara Paman dan Bibinya sendiri sangatlah membencinya. Sofie trus melambaikan tangannya sampai ia tak lagi melihat Jesi dan Jason.
Sofie pun melanjutkan perjalanannya lagi, akhirnya ia menemukan hadiah yang akan ia berikan untuk Bibi Janet.
Sebuah baju yang sangat cantik dan tas yang mewah, ia memberikan itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Bibi Janet.
Sofie ingin membahagiakan Bibi Janet dimasa tuanya. Shane juga sangat menyayangi Bibi Janet.
Bibi Janet sudah seperti Ibu kandung bagi Shane, begitu juga dengan Sofie.
Sofie melihat toko ponsel. Ingin rasanya ia membeli ponsel. Karena selama ini, ia tidak lagi memegang ponsel.
Uangnya cukup, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia tak mau selamanya tinggal dirumah Shane. Apalagi ia tahu Shane dan Agnes itu akan menikah.
Kesedihan Sofie pun semakin amat mendalam. Ia harus bisa menjadi wanita tegar. Dalam benak Sofie pun, ia ingin kembali menjadi guru musik lagi.
Karena menjadi guru musik adalah basic hidupnya. Sofie tidak menyerah begitu saja, ia yakin pasti ia dapat melewati semua cobaan ini. Sekali pun orang - orang terdekatnya kini meninggalkannya.
Sofie pun keluar dari mall tersebut dan kembali ia pulang. Ia melihat hadiah untuk Bibi Janet, pasti Bibi Janet akan bahagia sekali.
Selama hidupnya, ia tidak pernah bisa menerima kasih sayang dari orang tuanya, hanya Bibi Janet lah wanita yang sudah tua itu, yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang padanya.
__ADS_1