" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 86 " Belum Bisa Move On ''


__ADS_3

Setelah mendapatkan nomor ponsel milik mantan suaminya, Sofie mencoba memberanikan diri menghubunginya.


Ia mengambil ponsel itu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka aplikasi WA, ia mulai mengetik kata demi kata.


Selesai mengetik kata demi kata, Sofie menghapusnya. Ia mencoba mengulangnya lagi. Ya, begitulah terus hingga pesan itu tidak jadi dikirimkannya.


Sofie takut Shane tidak akan membalasnya. Sofie mencobanya lagi..


Isi pesan..


Sofie : Hai...selamat malam !"


Pesan terkirim..


Sofie melihat sudah centang biru. Itu artinya Shane sudah membaca pesan tersebut.


Sofie masih sabar menunggu. Sudah 5 menit berjalan, balasan dari mantan suaminya tidak kunjung tiba.


Sofie menangis. Dalam benaknya, Shane sudah benar - benar melupakannya.


Sofie mencoba mengirim pesan pada Kris. Kris membalasnya. Ia mengatakan kalau Shane dalam keadaan baik - baik saja. Kris juga meminta untuk tidak selalu menghubungi Shane, dikarenakan Sofie akan menikah dengan Dion.


Mau tidak mau, Sofie harus menerimanya walaupun dengan hati yang berat. Tak berapa lama, Dion calon suaminya menghubunginya. Dion mengajak Sofie untuk makan malam bersama.


Sofie pun menuruti keinginan Dion. Ia mulai berdandan ala kadarnya. Ia tak mau menampakkan kalau dirinya sedang bersedih.


Dion pun tiba dirumah kontrakan yang tidak begitu besar. Sofie keluar, ia menebarkan senyum manisnya untuk calon suaminya itu.


Mereka pun berlalu pergi. Sofie hanya diam, dalam pikirannya selalu ada nama Shane.


Sofie wanita yang pintar menyembunyikan sesuatu, ia tersenyum dan bahagia di depan Dion, tapi tidak dalam hatinya.


Ketika mereka makan, ada seorang yang mirip dengan Shane. Sofie meminta ijin pada Dion untuk pergi ke toilet. Sofie mengejar pria itu sampai keluar, ia terus mencarinya.


" Shane...!" Sofie membalikkan tubuh pria itu. Pria asing itu pun sangat terkejut.


" Anda salah orang, Nona !" ucap pria itu.


" Ma..ma..maaf..saya salah orang."


Pria itu pun pergi meninggalkan Sofie. Sofie menangis. Ia menyandarkan dirinya di sebuah mobil yang ada di parkiran itu. Ponselnya berdering, ternyata Dion.


" Kamu ada dimana? kenapa lama sekali ke toiletnya?"


" Ia, maaf. Ini uda selesai."


Sofie merapikan rambut dan pakaiannya, ia juga menghapus air matanya. Ia pun kembali masuk ke dalam resto itu.


Dion melihat jika Sofie tidak dalam keadaan baik. Sofie menyembunyikan sesuatu dari nya.


" Sofie, are you okay ?"


Sofie hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Jangan bohong sama saya, saya tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu kenapa? kamu ga suka kalau kita makan disini?"


" Ga, saya suka. Makanannya enak - enak kok."


" Serius?"


" Ya, saya serius. Lihat nih, saya makan, saya akan menghabiskan makanan semua yang ada di meja ini, hehehe..!"


Sofie menyantap semua makanan yang ada dimeja itu, ia seperti orang kelaparan. Melihat itu, Dion merasa risih.


" Hentikan Sofie !" bentak Dion.


Sofie tidak memperdulikan ucapan Dion, Sofie terus memakannya, hingga semua orang yang berada di dalam resto itu tertawa melihat cara makan yang dilakukan Sofie.


" Sofie, hentikan. Kamu lihat ga, semua orang menertawakan mu. Hentikan Sofie !" bentak Dion lagi.


Kembali Sofie tidak memperdulikan ucapan Dion. Ia terus saja memakan makanan itu, hingga pakaiannya pun sedikit kotor, selesai memakan semua makanan itu, Sofie menangis.


" Kamu itu keras kepala, Sofie !" suara Dion begitu kuat hingga membuat suasana di dalam resto menjadi hening.


Sofie terus menangis. Tidak ada lagi rasa malu pada dirinya.


" Kamu kenapa menangis?"


Sofie hanya diam. Ia mengambil tasnya lalu ia pergi keluar.


Dion langsung memanggil petugas pelayan resto itu, dan segera membayarnya.


Dion mengejarnya. Ia masih melihat Sofie masih menangis. Tangisannya semakin kencang.


Sofie hanya menunduk. Tangisannya juga tak berhenti.


" Sofie, jawab saya dong. Kamu kenapa?"


" Saya ga papa, saya ingat kedua orang tua saya, itu aja kok."


Terpaksa Sofie harus berbohong. Padahal sebenarnya ia sangat merindukan Shane , ia mengingat semua kenangan bersama Shane, ketika maka di resto ini juga.


Sofie benar - benar tidak bisa melupakan pria itu. Begitu sakit hatinya jika ia mengingat semuanya.


Tidak mungkin ia menceritakan semua yang ada di dalam hatinya, ia takut kalau Dion marah. Ia harus menjaga perasaan Dion, calon suaminya itu.


" Baiklah, kita pulang sekarang. Mungkin kamu butuh istirahat. Maafkan saya kalau saya tadi sempat marah sama kamu. Saya ga mau, calon istrinya saya kenapa - napa. Saya itu sangat khawatir sama kamu."


" Makasih ya untuk perhatian mu."


Dion membukakan pintu mobil itu dan mempersilahkan Sofie masuk. Mereka pun pergi meninggalkan resto itu.


****


" Sayang, Tuan Shane belum juga turun untuk makan, apakah dia baik - baik aja?"


" Ntahlah. Saya akan melihatnya dulu."

__ADS_1


Kris pergi menemui bosnya itu. Ia mengetuk pintu kamarnya. Shane membukakan pintu kamarnya.


" Bos, makanan sudah siap di meja makan. Makanlah dulu."


" Ya Kris, saya akan turun. Makasih banyak ya !"


Akhirnya mereka pun menikmati makan malam itu.


" Oh ya, saya mau bilang sesuatu sama kalian." ucap Shane.


Kris dan istrinya menghentikan makan malamnya.


" Apa itu bos?"


" Minggu depan, saya mau pergi ke USA, saya akan mencoba mengelola perusahaan Alm Papa yang ada disana. Jadi kalian tinggallah disini. Saya minta, kalian rawat rumah ini dengan baik."


" Apa bos? bos mau pergi?"


" Ya, saya ga mungkin selamanya seperti ini. Saya masih punya banyak mimpi."


" Bos, kemaren Sofie menanyakan kabar bos."


" Oh ya?"


" Apakah Bos sudah benar - benar melupakannya?"


" Ya, untuk apa saya mengingatnya lagi !"


" Tidak ada kah rasa cinta itu lagi, bos?"


Shane tertawa.


" Cinta? Sofie ga pernah mencintai saya, Kris !"


" Bos ga boleh berkata seperti itu?"


" Kalau dia mencintai saya, menerima segala kekurangan saya, dia ga mungkin akan pergi meninggalkan saya. Disaat keadaan saya terpuruk, dia pergi dan begitu cepatnya juga dia menerima cinta Dion. Apakah itu yang bisa dikatakan cinta? dia mau tinggal bersama saya, itu juga karena Bibi Janet. Bibi Janet lah yang selalu sabar menahannya agar tidak pergi. Jadi maaf Kris, saya sudah melupakannya. Sudah ada Dion, pria yang yang baik, yang akan selalu membahagiakannya. Saya ga bisa jadi pria yang baik, Kris. Itu sebabnya, semua pergi meninggalkan saya, Bibi Janet, yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya, beliau juga meninggalkan saya."


Air matanya pun berlinang. Istri Kris yang mendengarkan ucapannya pun ikut merasakan kesedihan dan ia juga ikut menangis.


" Maafkan saya, bos."


" Ga papa Kris. Saya itu senang banget kalian ada dirumah ini. Rumah ini tidak tampak sepi, rumah ini jadi ramai. Doakan saya, kelak saya bisa punya keluarga yang bahagia, sama seperti keluarga kalian. "


Kris menangis.


" Kris, kenapa kamu menangis?"


" Bos, dari masa lajang saya sudah ikut dengan bos sampai saya udah punya keluarga, bos ga pernah mengecewakan saya. Bos selalu perhatian sama saya dan keluarga saya, bos selalu membantu perekonomian keluarga saya. Saya ga tahu harus membalasnya itu semua dengan apa bos. Saya hanya bisa berdoa, bos mendapatkan kebahagiaan. Kalau saya mengganti semua uang yang bos berikan, jujur saya ga sanggup bos."


" Cemen banget sih kamu, pake nangis segala. " ucap Shane sambil merangkul tubuh Kris.


" Tuan, maafkan semua kesalahan kami."

__ADS_1


" Ya, saya sudah memaafkannya. Sekarang tinggal kalianlah keluarga saya disini. Kita harus saling menjaga hati, saling mencintai, itu harapan saya."


Agar suasana tidak terlalu tegang, Shane pun tertawa. Kris dan istrinya juga ikut tertawa.


__ADS_2