
Mark pun berniat mengantarkan Sofie pulang. Mark punya rencana jahat pada Sofie. Ia hanya berpura - pura baik saja mengantarkan Sofie pulang. Ia pun membawa Sofie kesebuah tempat.
Sofie pun nurut apa kata Mark. Ia pun masuk ke dalam mobil Mark. Mereka pun meninggalkan markas itu. Ditengah perjalanan, mereka berdua masih bercerita dengan baik. Sesekali Mark berbuat canda agar Sofie tak merasa sedih. Perjalanan mereka pun sudah semakin jauh. Sofie sangat hapal betul arah jalan pulang kerumahnya. Tapi kali ini Mark membawanya berbeda arah.
Sofie heran dan ia pun bertanya - tanya, mengapa Mark membawa ke arah jalan yang salah.
" Kenapa kita ke kiri? kan jalan pulang ke kanan ?" tanya Sofie sambil menoleh ke arah Mark.
" Ia, saya tahu. Jalan sebelah kanan itu tadi ada kemacetan, jadi kita pulang arah ke kiri aja. "
" Kamu yakin? sepertinya kita salah jalan. Ini sudah memasuki kawasan hutan. Ini hutan dilindungi pemerintah, tidak boleh sembarangan orang masuk, Mark !"
" Nanti disana ada persimpangan. Uda kamu diam aja."
" Mark, kamu sedang tidak bercanda kan?"
"Bercanda gimana?"
" Mark, sekarang kita kembali ke jalan tadi, kita salah jalan. "
" Sofie, bisa diam ga sih?"
" Gimana saya bisa diam, Mark? kamu salah jalan !"
Mark melirik Sofie, ia tersenyum. Dengan santainya ia mengemudikan mobil itu.
" Kamu dengar saya ga sih? kita salah jalan !"
" Kamu tenang aja, Sofie !"
" Kamu? kamu mau macem - macem sama saya?" bentak Sofie
Mark pun menghentikan laju mobilnya. Ia tersenyum pada Sofie.
" Sofie, kamu itu sangat cantik. Sangat beruntung sekali Shane bisa mendapatkan mu. Padahal, kamu itu hanyalah lempengan bekas, kamu itu ga berkelas."
" Maksud kamu apa?"
" Kamu dengar baik - baik, saya juga bisa melakukan seperti yang dilakukan Shane."
" Kamu jangan macem - macem sama saya, saya bisa laporkan kamu ke Polisi. "
" Laporkan aja, silahkan. Silahkan kamu teriak sekencang - kencangnya, bakalan ga ada yang dengar, sayang !"
" Kamu jahat, Mark."
__ADS_1
" Ayo lah Sofie, sekarang lakukan apa yang pernah kamu lakukan pada Shane." Mark tersenyum
Wajah cantik Sofie pun mulai pucat pasih melihat sikap Mark itu. Ia mulai takut, ia takut jika Mark melakukan sesuatu pada dirinya.
Mark pun mendekatkan tubuhnya ke wajah Sofie. Sofie pun langsung mengelak. Ia berusaha keluar dari dalam mobil Mark.
" Jangan sakiti saya, Mark. Saya mohon !"
" Saya ga akan menyakiti kamu, jika kamu melayani saya dengan baik. Disini ga ada orang, sayang !"
Plakkkkk...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Mark.
" Kamu jangan kurang ajar sama saya, Mark. Kamu pikir saya ini wanita murahan?"
" Hahaha, ini rasanya tamparan seorang istri Mafia terkejam di kota ini. " ucap Mark sambil mengusap - usap pipinya.
Mark pun membuka jaket yang ia pakai. Ketika Mark ingin melakukan aksinya, tiba - tiba saja ada mobil Polisi sedang patroli.
Mobil Polisi itu berhenti pas didepan mobil Mark. Salah satu Polisi keluar menghampiri mereka.
Sofie mulai menjerit dan ia meminta pertolongan. Polisi itu melihat jika Sofie dalam keadaan tidak baik - baik saja. Polisi itu mengetuk kaca mobil itu. Dan Mark pun terpaksa membukanya.
" Selamat siang, Tuan !"
" Maaf Tuan, Tuan sudah melanggar peraturan karena telah memasuki kawasan hutan ini. Silahkan Tuan keluar sebentar, saya akan periksa surat - surat Tuan terlebih dahulu. "
Sofie pun sudah mulai gelisah.
" Pak, tolong saya !" mohon Sofie.
Pak Polisi itu pun mulai memperhatikan gerak gerik Mark, sepertinya telah terjadi sesuatu pada Sofie.
Sofie langsung keluar dari dalam mobil Mark. Ia pun langsung bersembunyi di balik tubuh Polisi itu.
Mark menyerahkan beberapa surat kendaraannya, dan ia menyerahkannya pada Polisi itu.
Ada perasaan lega pada diri Sofie, karena ia terbebas dari jeratan Mark. Wajah yang kelihatan pucat kembali bersinar lagi.
" Pak, tolong ijinkan saya ikut dengan Bapak."
" Silahkan Nona !"
Pak Polisi itu langsung mengijinkan Sofie ikut dengannya.
__ADS_1
Polisi itu memeriksa surat - surat kendaraan milik Mark.
" Baik Tuan, kali ini saya melepaskan mu, lain kali kalau Tuan melewati hutan ini, saya akan menahan Tuan."
" Ia, saya ngerti. " sahut Mark dengan wajah cemberut.
Polisi itu pun membawa Sofie. Sofie langsung berlari, ia sangat ketakutan sekali.
Mobil Polisi itu pun pergi meninggalkan hutan tersebut.
" Ahhh...sial ! kali ini Sofie lepas. Lihat aja, saya akan mendapatkan mu. Saya akan buat perhitungan untuk mu Sofie. Dia berani menolak saya, saya ga akan biarkan dia hidup dengan damai. " gerutu Mark.
Mark pun kembali masuk kedalam mobilnya. Ia pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
****
Seharian Shane tidur. Perut tengahnya mulai ribut. Ia pun bangun dari tidurnya. Ia melihat jam, sudah pukul 20.00 waktu setempat.
Ia mengambil ponselnya. Ia melihat ada email masuk. Ia mencoba membuka email itu. Dan ternyata isi email itu dari istrinya, Sofie.
Isi email-nya
..." Saya ga tahu dimana kamu sekarang berada. Tapi saya berharap, kamu dalam keadaan baik - baik aja."...
Shane menghela nafas. Ia pun jadi kepikiran. Ternyata Sofie mencarinya. Shane pun bertanya mengapa Sofie begitu cemas kepadanya. Apa yang sudah terjadi di sana.
Shane tidak perduli. Ia tetap saja pada pendiriannya, tidak akan memberitahukan pada Sofie dimana dia sekarang berada.
Shane membasuh wajahnya, lalu mengganti pakaiannya. Ia pun pergi keluar untuk makan. Sebelum ia pergi mencari makan, ia mampir ke rumah sakit dimana Kris dirawat. Jam besuk masih ada. Ia pun meminta ijin pada Perawat yang menjaga Kris.
Kebetulan disana ada Dokter yang menangani Kris. Shane pun langsung menemui Dokter itu.
" Dok, bagaimana keadaan Kris?"
" Keadaan Kris semakin membaik, Tuan. Kris sudah menunjukkan perubahan yang baik. Tadi kata salah satu perawat, Kris telah sadar dari komanya. Hanya saja kami belum memberitahukan pada Tuan, karena kami tahu, Tuan masih lelah. Sungguh luar biasa kuasa Tuhan, Kris bisa melewati masa komanya."
Mendengar ucapan Dokter itu, Shane merasa lega. Ia sangat senang sekali akhirnya Kris bisa sembuh juga.
" Dokter, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Kris." pinta Shane.
" Baik, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Kris. Tuan percayakan saja pada kami."
Shane tersenyum. Kini pria tampan itu tak tampak cemas lagi. Wajahnya tampak sumringah.
Shane pun ingin memberitahukan masalah ini pada istri Kris. Tapi karena perut tengahnya sudah tidak bisa lagi di ajak kompromi, akhirnya Shane mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Mengenai Sofie, tak ada rindu sama sekali untuk wanita itu. Shane hanya merindukan Bibi Janet. Pastilah Bibi Janet juga kepikiran akan keberadaannya.
Biar gimana pun wanita paruh baya itu sudah dianggap sebagai Ibunya.