" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 113" Agnes Mengejek Sofie "


__ADS_3

" Kamu kenapa ? kenapa wajah kamu jadi murung begitu ?" tanya Sofie lagi.


Shane menggelengkan kepalanya.


" Lah, tadi kamu datang - datang maen banting pintu aja !"


" Maaf, mungkin efek kelaparan aja !"


" Ada masalah hasil persentasi tadi ?"


" Hhmm..ga, hanya saja ?"


" Apa?"


Berat rasanya memberitahukan pada Sofie kalau salah satu kliennya sangat menginginkannya. Terpaksa ia pun harus berbohong.


" Semua sangat terpukau, kagum akan hasil kerja kamu, semua bangga sama kamu !" Puji Shane.


Sofie tersenyum.


" Itu semua kan karena kamu !"


" Kenapa karena saya ?"


" Kamu uda kasih ijin saya kerja di sini, jadi mau ga mau, saya itu harus bisa berikan yang terbaik buat kamu. "


Shane tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


" Sofie, mulai besok kamu ga usah kerja lagi ya !"


Mendengar ucapan suaminya itu, Sofie mendadak kaget.


" Kenapa?"


" Hhmm..!" Shane tidak bisa menjelaskan padanya.


" Kenapa, Shane ? jawab !"


" Ga etis aja, ga enak sama pegawai lain. Kamu tahu sendiri kan, biasanya kalau istri itu, hanya dirumah aja !"


" Ga masuk akal jawaban kamu !"


" Kenapa ga masuk akal? bukannya yang saya bilang itu benar adanya?"


" Trus, saya dirumah ngapain ?"


" Belajar renang !" jawab Shane spontan.


Sofie langsung memukul pundak suaminya itu.


" Aduhh..aduh...sakit !" teriak Shane


" Biar aja, keterlaluan becandanya !"


" Kiss sekali dong !" rayu Shane sambil mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


" Kamu ga dengar, perut saya uda keroncongan ?" ucap Sofie mencibirkan bibir seksinya.


" Ya uda, kita cari makan sekarang !"


****


Keadaan Paman Sammy


Paman Sammy sudah bertekad akan pulang ke Indonesia, ia akan segera menemui Sofie dan meminta maaf padanya. Ia tidak mau dihantui rasa bersalah dan selalu saja dalam keadaan takut.


Bibi Marry menghalangi kepergiannya. Ia tidak mau keluarga mereka berdamai dengan Sofie. Karena biar gimana pun, rasa sakit hati tidak akan pernah ia lupakan.


Paman Sammy tidak mengindahkan perkataan istrinya itu, ia tetap saja akan pergi. Ia akan membawa Jason dan Jesi untuk menemui Sofie.


" Sekali kamu melangkah keluar dari rumah ini, saya akan pergi meninggalkan mu selamanya !" ancam Bibi Marry.


" Terserah, terserah mau mu apa ! saya ga perduli lagi. Saya akan tetap menemui Sofie dan meminta maaf padanya."


" Jangan bawa anak - anak, saya ga sudi anak - anak saya disentuh wanita kotor itu !"


" Mereka ini juga anak saya, jadi kamu jangan melarangnya !"


" Kamu bisa ga sih dibilangi ? saya ga mau anak - anak itu kamu bawa !"


" Mereka ini adalah hak saya juga, jadi jangan pernah menghalangi mereka. Lagian mereka juga uda sangat merindukan Sofie."


" Jadi kamu ga takut dengan ancaman saya?"


" Saya ga takut ancaman kamu, saya mau tobat, saya mau mengakui semua kesalahan saya pada Sofie !"


" Rencana apa? saya ga punya rencana apa - apa. Kamu ingat, apa yang sekarang kita miliki, ini hanya sementara dan akan tinggal, sementara dosa kita? sampai ke akhirat kita akan membawanya. Jadi, pliss...minta maaflah pada Sofie, sebelum semuanya terlambat."


" Gaaaaaa.....kamu aja sendiri yang pergi !"


" Iaaaaa...kalau terjadi apa - apa sama kamu, kamu tanggung sendiri !" bentak Paman Sammy.


Paman Sammy pergi meninggalkan istrinya itu diruang tamu seorang diri. Bibi Marry menangis, ia menangis bukan karena suaminya akan pergi, tapi ia menangisi jika semua harta ini tidak akan selamanya menjadi miliknya.


****


Kandungan Agnes semakin hari semakin membesar. Dion selalu menemani jadwal kontrol kehamilan Agnes. Sesibuk apa pun Dion, ia selalu memberikan waktunya pada istrinya itu.


Suatu hari, Dion dan Agnes melihat Sofie mendatangi sebuah klinik kandungan. Mereka tidak tahu apa yang menyebabkan Sofie mendatangi dokter kandungan itu.


Agnes melihat kalau perut Sofie belum ada tanda - tanda hamil, masih saja kelihatan langsing.


Agnes segera menghampirinya. Ia ingin memamerkan perutnya yang sudah mulai tampak membesar itu.


" Hai Sofie !" sapa Agnes.


Sofie langsung saja kaget mendengar suara Agnes yang begitu kuat menyapanya.


" Agnes ?"


" Ia, " jawab Agnes tersenyum sambil mengelus perut besarnya. Sofie melihat kalau perut Agnes mulai tampak membesar.

__ADS_1


" Kami uda hamil ?" tanya Sofie


" Uda dong ! kamu gimana, kok masih langsing aja ?"


Sofie tersenyum dan memegangi perutnya.


" Belum, Nes !" jawab Sofie tampak bersedih.


" Astaga, kalian menundanya? "


" Ga, kami ga menundanya !"


" Jadi kenapa bisa lama? program dong ? percuma dong Shane itu sekarang CEO migas !"


Lagi - lagi Sofie tersenyum.


" Mungkin belum waktunya, dan lagian kami juga belum ada rencana program !"


" Mau sampai kapan kalian begini? ingat umur, kita wanita itu ga bisa lama - lama, kalau uda tuek, uda susah hamil. Ahh kamu gimana sih? masa itu aja ga tahu !" ejek Agnes.


Dion mendengar pembicaraan mereka berdua.


" Nes, ga boleh gitu !"


" Ga boleh gitu gimana? kan emang bener yang saya bilang, jangan sampe Shane nanti paling ke wanita lain hanya karena anak lho, bahaya. Sekarang itu musim pelakor, pelakor bisa segalanya."


Sofie hanya tersenyum . Tapi dalam hatinya, ia menangis. Wanita mana yang tidak menginginkan seorang anak. Pendarahan dulu membuatnya trauma dan sampai sekarang itu menjadi bahan pikirannya.


Sofie kali ini mengunjungi dokter kandungan, ia ingin memeriksakan dirinya, apakah ia sehat atau tidak.


Dion melihat kalau wanita yang pernah ia cintai itu, teramat sedih dengan ucapan Agnes. Dion tahu kalau Agnes ingin membuatnya marah dan cemburu. Tapi sayangnya ia tidak bisa melarang istrinya itu. Agnes memang keras kepala.


" Sofie, kenapa Shane ga ikut ?" tanya Dion.


" Hhmm..dia lagi sibuk, karena banyak kerjaan di kantor. Jadi, ya saya sendirian aja ! oh ya, kalian mau periksa atau uda selesai ?" tanya Sofie balik.


" Kita baru aja sampe, ini mau periksa !" jawab Dion


" Makanya Sofie, bilangin dong sama Shane, kalau lama dapat mendingan program !" ucap Agnes.


" Ia, nanti kami akan membicarakannya ."


" Oh ya, bilangin sama Shane, kalau ada waktu kita akan makan malam bersama !" ucap Dion.


" Wah..dengan senang hati, nanti saya sampaikan sama Shane."


" Baiklah Sofie, kami permisi dulu !". ucap Dion. Mereka pun pergi meninggalkan Sofie.


Air matanya pun mengalir membasahi kedua pipinya. Sangat sakit rasanya mendengar ucapan Agnes. Sofie tahu, Agnes sampai sekarang masih tidak menyukainya. Agnes selalu berkata kasar dan selalu membandingkan Sofie dengan dirinya.


Diam - diam Sofie beneran cemburu melihat Dion dan Agnes. Mereka semakin romantis. Apalagi Dion selalu perhatian pada Agnes. Sofie pun baru sadar, mereka sebenarnya sudah lama bersama. Pantasan saja, mereka tidak merasa canggung lagi.


Sofie ingin sekali Shane bisa memperlakukan nya seperti yang dilakukan Dion, tapi sayangnya Shane adalah tipe pria dingin dan kurang romantis.


Ia tidak pernah memberi perhatian seperti yang dilakukan Dion. Shane benar - benar sangat beda. Air mata itu pun mengalir kembali. Sofie harus tetap sabar akan kehidupannya. Tidak punya keluarga, punya suami yang dingin, dan belum juga hamil. Itulah yang menjadi beban pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2