" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 14 " Kevin Menikah "


__ADS_3

Setelah mendengar Shane dan Agnes jadian, Sofie sangat sedih sekali. Ia sama sekali tidak semangat dalam melakukan apapun.


Setiap hari Sofie harus mendengar kalau Agnes selalu menghubungi Shane dan menanyakan kabarnya.


Begitu juga, setiap malam mereka selalu bertemu dan selalu makan malam bersama.


Semakin hari, Sofie semakin cemburu pada mereka. Rasanya tidak adil hidup ini, mereka bisa bahagia sedangkan Sofie harus menahan rasa api cemburu yang amat mendalam.


Hari ini, Shane tidak pergi keluar. Seharian Shane berada di dalam kamar. Mungkin dia sibuk dengan kekasih barunya, itulah yang ada selalu dalam benak Sofie.


Sore ini, Sofie membersihkan taman depan. Banyak pohon cemara yang harus di rapikan. Sofie juga senang bercocok tanam, banyak bunga - bunga indah tumbuh dipekarangan yang luas itu.


Tiba - tiba saja, Sofie dikejutkan suara klakson mobil. Ternyata itu mobil Kevin. Sontak saja Sofie sangat terkejut sekali.


Sofie bertanya - tanya, bagaimana mungkin Kevin bisa mengetahui kalau Sofie tinggal dirumah itu.


Sofie merasa malu dengan penampilannya. Sedikit kumuh, wajah yang kusam, ya karena lelah seharian membersihkan rumah dan taman.


" Kevin ???" Sapa Sofie sambil merapikan rambut panjangnya.


" Sofie, gimana kabar kamu ?


Sofie sangat gugup dengan datangnya Kevin. Perasaannya mulai tak enak.


" Saya baik, Vin. Kamu sendiri gimana?"


Kevin tersenyum.


" Saya baik, Sof."


" Oh ya, kok kamu tahu, kalau saya tinggal disini? kamu tahu dari mana?"


" Saya pernah lihat kamu masuk kerumah ini, waktu kamu baru pulang dari pasar. "


" Ohh gitu. Oh ya, silahkan duduk, Vin. Maaf ya, kita disini aja ya, soalnya?"


" Ga papa, Sof. Oh ya, kedatangan saya kesini mau ngasih ini sama kamu."


Kevin memberikan undangan pernikahannya pada Sofie.


" Apa ini, Vin?"


" Buka aja..!"


" Undangan ? undangan pernikahan kamu ya?" Tanya Sofie sambil membaca isi undangan itu.


" Ia, Sof. Kamu datang ya..!"


" Ia, Vin. Saya usahakan ya. Selamat ya Vin, kamu akan menikah."


Mata Sofie mulai berkaca - kaca.


" Makasih ya, Sof. Kamu kapan?"


Sofie terdiam. Ia hanya menggelengkan kepalanya.


" Ga tahu, Vin. Saya belum menemukan jodoh saya. Kamu doain ya hehehe.."


Matanya semakin berkaca - kaca. Ia selalu mengedipkan matanya agar tak menangis didepan Kevin.

__ADS_1


" Sof, kenapa kamu bisa tinggal dirumah Shane?"


" Kamu tahu dari mana ini rumah Shane?"


" Semua orang tahu siapa itu Shane Denaro. Jadi ya saya tahu kalau ini adalah rumah Shane."


" Vin, ceritanya panjang kenapa saya bisa sampai disini."


" Kamu ga mau jadi guru lagi?"


Sofie menunduk dan menangis.


" Kamu tahukan Vin, kalau saya dulu dikeluarkan dari sekolah karena fitnah Bibi Marry?"


Kevin menganggukkan kepalanya.


" Kamu yang sabar ya?"


" Ia, Vin. Makasih ya. Oh ya, kamu mau minum apa? biar saya buatin?"


" Ga usah, Sof. Lain kali aja."


" Gimana dengan calon kamu, kenapa dia ga ikut kesini?" Tanya Sofie


" Dia lagi sibuk, Sof. Banyak pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan."


" Oh gitu."


Ketika Sofie dan Kevin sedang bercerita, Shane melihat mereka dari atas balkon.


Shane memperhatikan mereka berdua. Ia melihat Sofie tertawa lepas bersama Kevin. Baru kali ini, ia melihat Sofie bisa tertawa seperti itu.


Tak terasa, hari pun semakin sore. Kevin pamit hendak pulang. Sofie merasa tenang sekarang, ia menceritakan keluh kesahnya pada Kevin.


" Sof, kalau kamu ada waktu kamu bisa main kerumah. Kamu bisa cerita ke kita tentang masalah kamu. Kamu jangan sedih ya? kamu harus kuat. "


" Ia, Vin. Makasih ya..."


Sofie menangis. Hanya Kevin yang dapat mengerti akan perasaannya dan semua masalahnya.


" Kamu jangan nangis dong..!"


Kevin memeluk Sofie.


" Kamu harus kuat ya, Sofie yang saya kenal itu adalah wanita yang kuat, pemberani. Kalau kamu disakiti Shane , kamu bisa cerita ke saya. Saya akan bantu kamu. Biar gimana pun, saya masih sayang sama kamu, Sof, kamu wanita yang baik, berhati mulia."


Sofie semakin nangis dipelukan Kevin.


" Kamu datang ya, jangan lupa lho, saya tunggu kamu."


" Ia, Vin. Saya janji akan datang. Sekali lagi, selamat ya buat kamu, semoga kamu bahagia selalu."


" Ia, Sof. Kamu juga ya baik -baik disini, jaga kesehatan kamu."


Sofie menganggukan kepalanya. Kevin pun pergi dan berlalu dari hadapan Sofie.


Sofie masih saja berdiri mematung, ia berharap, ia masih dapat bersahabat dengan Kevin.


..." Bagaimana mungkin saya datang, saya ga punya gaun yang bagus. Pesta Kevin pasti meriah, karena dia dari keluarga kaya."...

__ADS_1


...ucap Sofie...


Perkataan Sofie itu didengar oleh Shane. Shane pun berlalu dan kembali masuk kekamarnya.


Begitu juga dengan Sofie, ia pun masuk kedalam rumah dan mempersiapkan makan malam untuk Shane.


Lagi - lagi Sofie melamun. Bagaimana caranya ia bisa pergi ke pesta itu. Tibalah malam harinya,Sofie menghidangkan makan malam.


" Makan malamnya sudah siap. Silahkan dimakan...!"


" Mulai sekarang kamu panggil saya dengan sebutan Tuan. Kamu ngertikan?"


" Tuan? kenapa saya harus panggil Tuan?"


" Kamu ga ingat kamu siapa dirumah ini?"


" Ia saya tahu."


" Ya uda, kalau uda tahu. itu berarti kamu harus panggil saya Tuan. "


" Harus ya?"


" Ia."


" Ya da, saya panggil kamu Tuan. Sekarang silahkan dimakan Tuan."


Mata Sofie kembali berkaca - kaca. Ingin rasanya ia menangis. Pria sombong yang ada dihadapannya ini sudah membuatnya sangat menjengkelkan.


Sofie kembali ke dapur. Ia menyiapkan makanan untuk Bibi Janet. Sofie pun membawanya ke kamar Bibi Janet.


Sofie menceritakan semua yang terjadi hari ini pada Bibi Janet. Bibi Janet hanya bisa kasihan dengan nasib Sofie.


Malam itu Sofie sangat sibuk sekali, harus mengurus Bibi Janet yang sakit dan belum lagi Shane yang selalu menyuruhnya.


Sudah pukul 23.30, Sofie belum juga tidur. Ia sibuk memilih - milih baju yang ada di dalam lemari pakaiannya. Semua pakaian yang ada dilemari itu, sudah ia coba dan tak satu pun ada yang pas ia kenakan untuk acara itu.


Malam itu Shane juga belum tidur. Ia sibuk memainkan ponselnya. Malam ini tidak ada kabar dari Agnes, kekasihnya itu.


Shane lapar. Ia turun dari kamarnya dan pergi kedapur. Didapur ia tak menemukan adanya makanan.


Jalan satu - satunya adalah memanggil Sofie. Ia berjalan menuju kamar Sofie. Dan mencoba mengetuk pintu kamarnya.


Sofie sangat kesal, ada aja yang menganggu dirinya. Ia pun marah.


" Kenapa sih malam - malam mengganggu saya? kamu ga lihat ini sudah larut malam?"


" Buatin saya makanan. Saya lapar. "


" Oh Tuhan, Shane ini uda jam berapa? "


" Kamu membantah? kamu ga ingat kamu itu siapa?"


Sofie terdiam.


" Ayo buruan buatin saya makanan. Atau kamu mau saya usir dari sini?"


" Ia maaf, saya akan buatin. "


Sofie merapikan baju - baju yang ia kenakan, dan ia pergi menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2