
Akhirnya Shane dan Sofie pun pergi ke markas itu. Dengan kecepatan tinggi, mobil itu melaju sangat kencang.
Perjalanan mereka sangatlah jauh dan sedikit menyeramkan. Dimana letak markas itu di dalam sebuah hutan kecil. Tempatnya sangat sepi dan gelap.
Sofie sedikit takut. Ia takut akan kegelapan. Shane tahu kalau istrinya itu merasa tidak nyaman. Tapi Shane bisa menenangkannya.
Udara yang cukup dingin membuat Sofie semakin menggigil kedinginan. Jaket yang ia kenakan belum dapat memberikan kehangatan untuknya.
" Sofie, kamu baik - baik aja kan?" tanya Shane
" Ya, saya baik - baik aja." Sofie berbohong.
" Kamu kedinginan ya?"
" Ya, cuacanya dingin sekali, mana gelap lagi !"
" Ga usah takut, di hutan ini aman kok."
Hampir 2 jam perjalanan mereka, dan akhirnya mereka pun tiba dimarkas, dimana markas itu adalah tempat penyimpanan seluruh senjata. Shane melihat lampu disekitaran markas tidak menyala. Semua gelap gulita.
Penerangan mereka pun seadanya, hanya mengandalkan lampu dari mobil. Shane melihat gembok pintu pagar itu, ternyata sudah rusak.
Ia pun langsung masuk ke dalam. Senjata - senjata itu pun habis tak tersisa. Shane sangat kecewa akan perbuatan Paman Sammy.
" Shane, kira - kira siapa pelakunya ini?"
Shane terdiam, ia begitu enggan untuk memberitahukannya pada Sofie.
" Kamu tahu siapa pelakunya ?" tanya Sofie lagi.
" Ya, saya tau. "
" Siapa? apakah orang terdekat mu?"
" Ya, dia sangat dekat dengan saya !"
" Astaga !" Sofie tidak percaya, suaminya di hianati orang terdekatnya.
" Kamu yang sabar ya!"
Kedua mata suaminya itu mulai berkaca - kaca. Shane terduduk dilantai markas itu.
" Sayang...!" Sofie memeluknya.
" Saya ga nyangka mereka tega melakukan ini pada saya !"
" Apa tidak sebaiknya kamu melaporkannya ?"
" Ga, saya ga akan melaporkan mereka. Saya lah yang akan menghabisi mereka. "
" Kamu yakin melawan mereka? lebih baik kamu laporkan saja mereka, biar mereka jera !"
" Kalau saya melaporkannya, bagaimana nasib keluarganya."
Sofie terdiam. Ternyata Shane masih memikirkan keadaan keluarga si pencuri itu. Begitu mulianya hatinya, masih ada rasa perduli pada orang lain.
" Jadi rencana mu selanjutnya bagaimana?"
" Sekarang juga kita kerumahnya."
" Kerumahnya?"
" Ya. "
Shane langsung keluar dengan perasaan emosi. Sofie pun menyusul mengikutinya.
Sofie menutup kembali pintu markas itu. Dan ia buru - buru masuk ke dalam mobil itu.
Sofie sangat takut, karena suaminya itu lagi dalam keadaan marah. Laju mobil itu pun sangat kencang sekali, melebihi dari pembalap sirkuit.
Mereka pun keluar dari kawasan hutan kecil itu. Perasaan Sofie masih kalang kabut. Ia pun penasaran siapa yang tega berbuat jahat pada suaminya itu.
__ADS_1
Padahal yang ia tahu, Shane itu benar - benar perduli pada orang - orang terdekatnya.
Mereka pun memutar arah. Sofie tahu betul jalan kerumah sang Paman. Sofie pun heran mengapa mereka memasuki kawasan perumahan Pamannya.
" Shane, ini kan komplek perumahan Paman, kenapa kita kesini? apa pencuri itu tinggal disini juga?"
" Ya, dia tinggal disini."
" Astaga? dia satu komplek dengan Paman Sammy?"
Shane pun terus melaju, hingga tibalah mereka di depan rumah mewah bercat putih.
" Shane, ini kan rumah Paman, kenapa kita kesini? bukannya kita mau kerumah si pencuri itu?"
Shane tidak mendengarkan ucapan Sofie. Shane langsung keluar dari dalam mobilnya tanpa mengajak turun istrinya itu.
" Shane, tunggu !"
Sofie berhenti sejenak. " Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa Shane malah ke rumah Pamannya?"
Shane mengetuk pintu rumah itu, ia menggedor - gedor rumah itu dengan sekuat tenaganya.
" Shane, ini uda malam. Mungkin mereka sudah tidur."
" Saya ga perduli mereka sudah tidur atau belum."
" Shane ga boleh gitu, kita harus beretika bertamu kerumah orang. "
" Kamu bisa ga sih diam?" bentak Shane pada istrinya itu.
Sofie pun terdiam. Ia menjadi sedikit kesal pada suaminya itu.
" Paman Sammy buka lah pintunya..! teriak Shane
" Shane, kecil kan suara mu !" titah Sofie , tapi Shane tidak memperdulikannya .
" Paman Sammy keluarlah !"
" Shane, Sofie. Ada apa kalian datang malam - malam begini?"
" Mana Paman Sammy?"
" Suami saya ga ada dirumah, dari pagi ia sudah pergi keluar. "
" Kemana dia pergi?"
" Kamu kenapa Shane? kenapa bentak - bentak saya?"
" Saya ga akan bentak - bentak Bibi, kalau Paman itu tidak melakukan sesuatu."
" Maksud kamu apa?"
" Bibi tahu apa yang baru saja diperbuat Paman Sammy?"
Bibi Marry terdiam . Ia langsung ingat akan markas.
" Bibi, jawab pertanyaan saya, Bibi tahu apa yang baru saja diperbuat Paman Sammy?"
Lagi - lagi Bibi Marry terdiam.
" Bibi Marry, jawab !" Shane pun membentaknya.
Sofie sangat terkejut dengan sikap suaminya itu. Sofie pun mencoba menenangkan suaminya itu.
" Sofie, kamu diam, jangan ikut campur." titah Shane.
" Sekali lagi saya tanya sama Bibi, dimana Paman Sammy ?"
" Saya ga tahu, Shane !"
" Bibi jangan bohong, saya paling tidak suka jika ada yang berbohong pada saya !"
__ADS_1
" Ia Shane, saya tidak tahu kemana Paman Sammy pergi."
" Baiklah, saya akan tunggu suami anda."
Shane masuk kedalam rumah itu dan ia pun duduk di sofa ruang tamu itu.
" Sofie, suami kamu kenapa? "
" Bi, maafkan Shane. Tapi semua ini karena isi dalam markas hilang, Bi !"
" Apa? hilang?"
" Ya, ada yang mencuri senjata miliknya."
" Jadi kalian menuduh suami saya?"
" Ntahlah Bi, saya tidak tahu."
Bibi Mary pun pura - pura menangis. Sofie pun menjadi sedih karena sikap Shane pada Bibi nya, tidak ada sedikit pun bisa menghormatinya.
" Shane, apa ga sebaiknya kita pulang? "
Shane menggelengkan kepalanya.
" Ga, saya akan tetap disini sampai pria tua itu kembali pulang !"
Sofie tidak bisa berkata apa - apa. Dan tak berapa lama, Paman Sammy pun kembali. Ia melihat mobil milik Shane berada didepan rumahnya. Ia pun heran, mengapa Shane malam - malam begini datang untuk menemuinya.
Seperti tidak ada masalah, Paman Sammy pun tampak biasa saja menghadapi Shane.
" Shane, Sofie ? ada apa malam - malam gini datang kerumah saya? ada yang penting ?"
" Oh jadi Paman sudah pulang? gimana kabarnya Paman?" tanya Shane tersenyum tipis dan menatap tajam mata pria tua itu.
" Seperti yang kamu lihat, saya baik - baik aja."
" Oh ya Paman, silahkan duduk !" titah Shane.
Paman Sammy pun langsung duduk di sofa itu.
" Ada apa Shane?"
" Paman dari mana?"
" Hhmm..saya, saya tadi ada urusan sebentar."
" Oh gitu, apa Paman sudah makan?'
" Sudah, saya makan diluar hari ini."
" Paman mau tahu kedatangan saya kesini itu untuk apa?"
" Ga. Paman ga tahu, ada apa rupanya?"
" Saya mau kejujuran dari Paman."
" Kejujuran dari saya?"
" Ya, gimana? "
" Hhmm..boleh !"
" Apa yang sudah Paman lakukan di markas milik saya?"
Mendengar itu Paman Sammy langsung saja kaget. Ia tak percaya mengapa Shane mengetahuinya.
" Shane kamu jangan asal nuduh." ucap Sofie.
" Saya ga menuduh Paman mu sayang, tapi saya berkata jujur. Apa yang sudah Paman lakukan di markas milik saya?"
" Gila kamu Shane. Emangnya saya melakukan apa?"
__ADS_1
Paman Sammy mulai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan - pertanyaan Shane.