" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 66 " Tidak Mau Mengakui "


__ADS_3

" Masa Paman sendiri ga tahu, apa yang sudah Paman lakukan di markas milik saya?"


" Paman ga tahu sama sekali, Shane !"


" Oh ya? Paman beneran ga tahu ?"


" Ya, Paman ga tahu. Shane, kamu jangan asal menuduh Paman tanpa bukti. Kamu uda keterlaluan. Kamu bisa aja Paman laporkan atas tuduhan ini. "


" Saya masih waras, Paman. Saya ga bodoh, tidak seperti Paman. Saya mengatakan ini karena saya punya bukti yang kuat."


" Hahaha, bukti apa? kamu punya bukti apa, Shane ?"


Sofie pun menghampiri Shane. Ia tak tahan melihat suaminya itu bertengkar dengan Pamannya.


" Shane, kita pulang sekarang ya !"


" Ga Sofie, saya ga akan pulang sebelum Paman mu ini berkata jujur dan mengakui kesalahannya. "


" Cukup Shane, kamu memang uda keterlaluan. Kamu pikir suami saya ini pencuri? kamu jangan asal nuduh. Selama ini suami saya bekerja dengan mu, suami saya selalu sabar menghadapi sikap mu yang angkuh itu. Sekarang kamu seenaknya aja menuduh suami saya mencuri. Maksud kamu apa? kamu ingin menghancurkannya ?"


" Bi, tenang Bi ! kita akan bicarakan baik - baik, Bi."


" Ga Sofie. Kamu seorang guru, kamu pendidik. Tolong kamu ajari suami mu ini, supaya tahu sopan santun dan menghormati yang lebih tua."


" Hahaha....!" Shane tertawa lepas. Ia menghampiri Bibi Marry.


" Yang perlu belajar sopan santun itu saya atau Bibi?"


" Diam kamu Shane. Kamu memang uda keterlaluan, berani nya menuduh tanpa bukti."


" Uda saya bilang kan, saya itu ga bodoh. Saya ga mungkin menuduh Paman kalau tidak ada bukti. Saya hanya minta kejujuran Paman. Paman mau, saya perlihatkan bukti nya? Paman dengarkan saya, saya masih menghargai Paman, kalau saya berikan buktinya, Paman akan malu."


" Saya ga akan malu, karena saya memang tidak mencuri."


" Oh begitu. Paman ingat, tidak akan ada seorang pun maling mau mengaku kesalahannya. Jadi saya minta kejujuran Paman, disini hanya ada kita ber empat. Saya janji, saya ga akan bilang ke dunia kalau Paman nya Sofie itu maling. Gimana ?"


Wajah Paman Sammy semakin pucat, begitu juga Bibi Marry, mereka berdua sangat gugup.


" Paman, saya mohon, akuilah jika Paman salah. Shane akan memaafkannya !" bujuk Sofie pada Pamannya itu.


Paman Sammy terdiam. Ia tak bisa berbicara sepatah dua kata. Suasana menjadi hening. Dan Sofie pun mencoba membujuk Pamannya.

__ADS_1


" Paman, saya yakin, Paman melakukan ini pasti ada sebabnya. Kakek dan Nenek dulu pernah bilang, kalau anak - anaknya itu tidak pernah mau berbohong, kalian semua anak - anak yang baik. Apalagi Paman, Paman lah anak kebanggaan Kakek dan Nenek. Paman, lihat lah saya ! saya mempunyai 3 Paman, dari kecil Paman lah yang merawat saya, Paman selalu mengajarkan kepada saya untuk selalu jadi anak yang kuat, jujur. Saya bisa begini juga karena Paman. Paman dan Bibi itu adalah orang tua saya. Kalian lah yang menggantikan Ayah dan Ibu saya. Paman, saya mohon, kalau Paman melakukan ini, saya minta Paman jujur. Lihat Jason dan Jesi, Paman. Kelak mereka juga akan menjadi orang tua. Apa Paman dan Bibi mau, mereka menjadi anak pembohong ? tidak kan?"


Sofie pun bersujud di bawah kaki Pamannya.


" Paman, saya mohon akuilah sebelum semua nya terlambat. "


Air matanya pun tumpah ruah, membasahi kedua kaki Pamannya. Paman Sammy pun menangis, ia mengingat semua tentang kehidupan Sofie kecil.


" Berdirilah Sofie !" titah Pamannya.


" Saya ga akan berdiri, kalau Paman tidak mengakuinya."


Paman Sammy semakin menangis. Ia tak tahan melihat sikap Sofie bersujud di kedua kakinya.


Suasana pun semakin mencekam. Shane pun turut sedih melihat sikap istrinya itu. Tidak dengan Bibi Marry, ia terlihat biasa saja, tak ada rasa sedih di wajahnya.


" Sofie, berdiri lah. Kita pulang sekarang !" titah Shane pada Sofie.


" Saya ga akan pulang kalau masalah ini belum selesai , hiks..hiks..hiks..!" ucap Sofie dalam isak tangisnya.


" Saya anggap masalah ini ga ada, Sofie. Kita pulang sekarang !" Shane pun memegang tangannya dan mengajak Sofie meninggalkan rumah Pamannya.


Mereka pun pulang. Di perjalanan , Sofie trus saja menangis. Ia sangat kesal akan sikap Paman nya itu, dibalik itu juga Sofie sangat malu pada suaminya.


Shane tahu jika Sofie belum bisa menerima kenyataan ini. Shane mencoba menghibur Sofie. Shane menghentikan mobilnya .


" Saya tahu, kasih sayang mu begitu besar pada Paman mu itu. Saya jadi ingat ketika kamu dulu mencoba melawan saya karena Paman mu bekerja sama dengan saya. Kamu menyuruh saya untuk tidak melibatkan Paman mu. Sofie, kamu begitu perduli nya pada pria tua itu. Walaupun kamu sudah berkali - kali di sakiti, tapi kasih sayang mu begitu besar. Saya jadi menyesal."


" Menyesal? menyesal kenapa?"


" Kenapa ga dari dulu saya mempersunting diri mu ? kenapa harus ada masalah dulu, baru kita saling kenal ? padahal dulu, saya juga pernah melihat mu, waktu kamu dan Bibi mu di sebuah restoran. Tapi saya pikir, kamu itu masih bocil, karena tubuh mu yang imut ini, hahaha..!"


Shane tersenyum.


" Jangan nangis lagi ya ! saya ga mau kalau ratu saya itu menangis."


" Shane, apa benar Paman yang mencuri semua barang - barang di markas?"


" Sebentar. " Shane mengambil ponsel miliknya dan memberikannya pada Sofie.


" Lihatlah !"

__ADS_1


Sofie mengambil ponsel milik suaminya itu, dan melihat isi video itu. Video itu adalah hasil dari rekaman CCTV yang di pasang di markas itu.


Betapa terkejutnya Sofie, melihat Paman nya itu berada dalam markas dan Paman nya pun sangat bahagia sekali karena bisa mengambil semua barang - barang milik Shane.


Sofie kembali menangis.


" Maafkan Paman saya !"


" Ya, saya sudah memaafkannya. Dan itu semua karena kamu, Sofie !"


" Karena saya?"


" Ya, karena kamu. Saya juga minta maaf, karena emosi, saya uda kasar sama Paman dan Bibi mu !"


" Apakah kamu akan melaporkan Paman Sammy?"


" Ga, saya ga akan melaporkan Paman mu. Saya akan tunggu niat baiknya untuk minta maaf dan mengakuinya, itu aja."


" Makasih ya Shane !"


" Makasih untuk apa?"


" Kamu uda mau maafin Paman Sammy !"


" Oh, tapi harus ada syaratnya. "


" Syarat?"


" Ya, harus ada syaratnya. Ga ada yang gratis. "


" Apa syaratnya?"


Shane tersenyum dan ia langsung mengecup bibir istrinya itu.


****


" Sialan...hampir aja Shane itu membongkar semua kejahatan mu, sayang !" ucap Bibi Marry.


Tapi Paman Sammy masih saja diam. Matanya pun masih berkaca - kaca. Raut wajahnya masih tampak dalam kesedihan.


Ia masih mengingat perjuangannya mengurus Sofie. Ia juga mengingat bagaimana ia menghabisi nyawa kedua orang tua Sofie, hanya karena tanah warisan.

__ADS_1


__ADS_2