" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 99 " Sofie Kembali Di Pecat "


__ADS_3

Shane dan Sofie pun tiba dirumah. Melihat Sofie masih tertidur, Shane menunggu sampai Sofie terbangun.


Sudah ada 5 menit, mereka berada di dalam mobil. Dan akhirnya Sofie pun terbangun.


" Kamu uda bangun?" tanya Shane.


Sofie pun merapikan duduk dan rambutnya.


" Kita ada dimana?"


" Dirumah, "


" Dirumah?"


" Kamu ga usah takut, dirumah itu ada Kris dan keluarganya,"


" Shane, saya pulang aja. Besok saya kerja,"


" Kamu ga usah kerja dulu, kamu istirahat. "


" Ga, saya ga mau kena tegur lagi. Saya uda banyak ijin, jadi ga enak kalau saya besok ga masuk, "


" Jadi kamu pulang sekarang?"


" Ia, maaf ya !"


Melihat wajah mantan istrinya itu, Shane merasa kasihan. Wajahnya semakin pucat, sedikit kurusan. Hanya tampak kesedihan dalam wajah yang cantik menawan itu.


" Saya akan antar kamu pulang !"


" Saya bisa pulang sendiri kok ,"


" Ga Sofie, saya akan antarkan kamu pulang !"


Shane kembali menyalakan mesin mobil itu. Ia pun mengantarkan Sofie pulang.


Diperjalanan, Sofie hanya diam. Ponsel Shane berdering. Ternyata Sonya menghubunginya.


Drrrttt....drrtt...drrttt...


Shane belum mau mengangkatnya.


" Ponsel kamu berdering !" ucap Sofie.


" Biarin aja," Shane melihat nama si penelpon.


" Sonya !" ucap Shane datar.

__ADS_1


" Yang nelpon Sonya?"


" Ya."


Sofie mendadak diam. Ia menoleh ke arah Shane. Dalam bathin Sofie, mungkin karena ia ada bersama Shane, makanya Shane tidak mau mengangkatnya.


Matanya mulai berkaca - kaca. Ponsel itu kembali berdering. Shane pun menerimanya.


" Nanti saya akan hubungi kamu, saya lagi di jalan !" ucap Shane, lalu ia mematikan ponselnya.


Benar dugaan Sofie, karena ada dirinya, makanya Shane tidak mau bicara. Sofie semakin sedih. Ia menyadari dirinya kalau mereka hanya temanan saja, tidak lebih. Karena sebenarnya Shane sudah menemukan Sonya. Tidak mungkin mereka kembali rujuk.


Ingin rasanya menangis, tapi Sofie berusaha menahan air matanya.


Mereka pun tiba dirumah kontrakan itu. Sofie langsung buru - buru turun. Tak terasa air matanya pun mengalir deras.


" Sofieee...!" panggil Shane.


Sofie pun menoleh, dan ia menundukkan kepalanya, karena ia tak mau Shane melihatnya menangis.


" Jaga diri kamu baik - baik ya !"


Sofie hanya menganggukan kepalanya. Shane pun langsung pergi meninggalkannya.


Sofie berdiri mematung di depan rumah kontrakan itu, sambil berlerai air mata.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Sofie sudah bangun dari tidurnya. Sofie mulai beres - beres, dari merapikan kamar, masak dan membersihkan rumah.


Selesai beberes, lalu ia pun mandi. Pagi ini, ia akan mengajar. Seperti biasa, Sofie akan masuk tiga kelas, itu artinya Sofie akan sibuk satu harian ini.


Cuaca pagi membuat wanita cantik ini semangat untuk memulai aktivitasnya. Dengan memesan taxi online, Sofie pun pergi.


Tibalah ia disekolah, bukannya mengajar, Sofie malah dipanggil Kepala Sekolah. Dengan perasaan cemas, Sofie pun menemui Kepala Sekolah itu.


Sofie mengingat, jika semua tugas - tugas sudah selesai, ujian anak - anak juga sudah selesai. Sofie semakin takut.


Tok..tok..tok..


" Silahkan masuk !" titah kepala sekolah itu.


" Selamat pagi, Pak !"


" Ya, selamat pagi Miss Sofie, silahkan duduk !"


Dengan sangat gugupnya, Sofie pun duduk.

__ADS_1


" Kamu tahu kan kenapa kamu dipanggil ?"


Sofie menggelengkan kepalanya.


" Saya ga tahu, Pak !"


" Maaf Miss Sofie, saya dapat kabar kalau anak - anak banyak yang mengeluh karena Miss tidak bisa fokus dalam mengajar. Banyak tugas tidak terselesaikan dengan baik. Ujian anak - anak juga tidak sesuai bahan materi pelajaran. Miss Sofie, kenapa ini bisa terjadi? ada apa lagi?"


Mendengar ucapan Bapak Kepala Sekolah itu, Sofie sangat terkejut. Yang ia ingat semua tugas telah selesai dengan baik, ujian anak - anak juga sesuai dengan materi pelajaran yang telah mereka bahas.


" Pak, berita yang Bapak dengar itu, itu tidak benar, Pak !"


" Miss Sofie mengatakan itu tidak benar, Miss bisa kasih bukti ke saya?"


" Pak, tapi masalahnya ujian anak - anak itu saya buat sesuai materi pelajaran yang uda kami bahas, Pak !"


" Saya tidak mau tahu, Miss. Tapi banyak anak - anak mengeluh karena kelalaian Miss. Dan harus Miss tahu, banyak orang tua juga yang mengeluhkan masalah ini, seharusnya anak - anak praktek, tapi Miss tidak pernah melakukan praktek lagi. Padahal jadwal praktek sudah ditentukan, disaat anak - anak sudah membawa alat musik mereka, Miss malah sibuk teori dan sibuk mencatat , tidak pernah melakukan praktek lagi."


Sofie terdiam.


" Semua orang punya masalah, Miss. Tapi seharusnya Miss tahu menempatkan masalah itu dimana. Disaat kerja, ya pekerjaan yang dipikirkan, jangan masalah pribadi dibawa ke pekerjaan, inilah jadinya, semua hancur. Miss Sofie, Miss sudah pernah melakukan kesalahan yang sama, dan saya masih bisa memaafkan, tapi untuk kali ini saya minta maaf. Saya harus menyelamatkan sekolah ini, saya ga mau banyak siswa keluar karena satu guru membuat kesalahan fatal. Miss tahukan, ini sekolah internasional? saya mohon maaf Miss, dengan ini saya mengeluarkan Miss dari sekolah ini. Ini surat pemecatan Miss !" Kepala Sekolah itu pun memberikan sebuah amplop.


Bagai di sambar petir di siang bolong, Sofie tidak bisa berbuat apa - apa. Ia sama sekali tidak bisa membuat pembelaan. Menangis, sakit hati hanya itulah yang bisa ia lakukan.


Sofie tidak mau memohon untuk bisa kembali kerja di sekolah itu. Tuduhan yang di lontarkan padanya, membuat nya semakin yakin, bahwa banyak yang tidak menyukai dirinya.


Dengan ikhlas, Sofie pun mengambil amplop itu.


" Terimakasih Pak !"


" Ya, sekarang silahkan ambil semua barang - barang milik Miss !"


Sofie langsung pergi meninggalkan ruang Kepala Sekolah itu. Ia pergi menuju ruangan guru. Benar saja, di sana sudah banyak para guru yang sedang membicarakannya.


" Sofie, apa yang terjadi pada mu?" tanya salah satu guru.


Sofie mencoba tersenyum, walaupun sebenarnya hati nya menangis.


" Saya ? saya mengucapkan banyak terimakasih untuk kalian semua. Kalian banyak membantu saya. Saya minta maaf kalau ada kesalahan saya."


" Kamu di pecat ya?"


Sofie menganggukan kepalanya. Sebagian guru yang duduk di ruangan itu tersenyum.


" Sofie, kami semua turut prihatin atas masalah yang kamu alami. Semoga kamu baik - baik aja, dan cepat menemukan pekerjaan."


" Itulah akibatnya kalau menikah dengan seorang mafia, hidup kamu tidak akan pernah berkah, selalu dapat masalah. Lihatlah sekarang, Shane mencampakkan mu, kamu dipecat dari pekerjaan mu, miris sekali hidup mu, Sofie !" ucap salah satu guru.

__ADS_1


Merasa dihina, Sofie mencoba tenang, ia tidak mau melawan. Ia pun sibuk membereskan semua barang - barangnya. Lalu ia pergi. Sebagian ada yang tertawa akan kepergiannya, sebagian lagi ada yang sedih karena ia tak mengajar lagi.


Sofie pun menangis. Begitu berat masalah yang dihadapinya. Kemana lagi ia akan mengadu. Tak mungkin ia mengatakan pada Shane, ia tak mau menganggu mantan suaminya itu. Jalan satu - satu nya kembali kerumah, menenangkan diri.


__ADS_2