
Pagi hari telah tiba, Bibi Janet telah bangun dari tidurnya. Ia langsung menemui majikannya yang semalaman tidur di sofa.
Ternyata Tuannya itu sudah bangun. Shane duduk melamun. Ia mengingat - ingat kejadian kemarin malam.
" Selamat pagi, Tuan !"
Shane pun kaget dengan sapa'an Bibi Janet.
" Eh...Bibi, ya pagi juga. Oh ya Bi, apa yang terjadi sama saya, Bi?"
" Maaf Tuan, kemarin malam Tuan mabuk. Ada seorang pria yang bernama Jack, dialah yang membawa Tuan pulang. "
" Jack ? astaga, saya mabuk !"
" Ia, Tuan."
" Ya uda Bi, saya mau mandi. Bibi tolong siapin sarapan ya !"
" Ia, Tuan. Permisi Tuan."
Bibi Janet langsung pergi menuju dapur. Shane pun langsung bergegas pergi ke kamarnya.
Tak berapa lama Sofie datang kerumah itu.
Tok..tok..tok..
Bibi Janet mendengarkan suara ketukan pintu itu. Ia langsung pergi membukakannya.
Krekk...
Pintu rumah pun terbuka.
" Sofie?"
" Bibi apa kabar? oh ya gimana Shane?"
" Shane ada di kamarnya. Pergilah temui dia."
Bibi Janet langsung pergi meninggalkan Sofie yang masih berdiri mematung di depan pintu rumah itu.
" Bi, Bibi kenapa?"
" Bibi ga kenapa - napa, nak. Bibi mau masak dulu, permisi."
" Bi, tapi sikap Bibi beda."
" Itu hanya perasaan mu aja, nak."
Sofie terdiam. Ia pun langsung naik ke atas menemui Shane. Ada perasaan takut bertemu dengan suaminya itu.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
" Ada apa, Bi?"
" Ini saya, Sofie."
Shane langsung membuka pintu kamar itu.
" Kamu? kamu mau ngambil barang - barang kamu?"
" Kok kamu ngomong gitu ?"
" Trus saya mau ngomong apa? silahkan kalau kamu mau pergi, saya ga ngelarang kamu. "
" Ia saya mau ambil semua barang - barang saya."
" Baguslah !"
" Saya minta maaf."
" Untuk apa?"
" Saya ?"
" Kamu mau laporin saya? silahkan, saya ga takut. Kalau itu yang kamu mau, it's okey."
" Kamu jujur sama saya, ini ide kamu kan?"
" Sofie, saya ga mau ribut sama kamu, kalau kamu mau ambil barang kamu silahkan !"
" Sebelum saya ambil barang saya, saya mau nanya sama kamu."
" Kamu kan dalang semua ini?"
" Apa untungnya buat saya ngelakuin ini? hah...!" bentak Shane.
" Shane, diluar sana kamu banyak musuh."
" Trus kalau saya punya musuh? Sofie, sekarang terserah kamu, kalau kamu ingin laporin saya, silahkan. Tapi kalau suatu saat saya tidak bersalah, hubungan kita sampai disini."
" Oh, jadi kamu ngancam saya?"
" Saya ga ngancam kamu, kamu yang mulai masalah ini. Saya ga tahu ntah siapa yang uda menghasut kamu, hingga kamu bisa percaya, saya yang melakukan ini semua. "
" Kamu jahat Shane."
" Terserah kamu bilang saya jahat, tapi saya bisa buktikan kalau saya tidak terlibat dalam kasus ini. Saya masih waras, saya ga akan pernah menyakiti wanita yang uda saya nikahi. "
" Nikahi? nikah karena terpaksa."
" Terserah. Sekarang cepat ambil barang - barang mu, saya ga mau bertele - tele dengan masalah ini. Pergilah !"
Shane langsung keluar dari dalam kamarnya. Bibi Janet mendengar keributan antara mereka berdua. Bibi Janet hanya bisa menangis. Kenapa Sofie bisa berubah seperti ini.
__ADS_1
Shane menghidupkan mesin mobilnya. Ia pun pergi ntah kemana. Sofie turun, ia langsung berlari mengejar Shane.
" Sofie !" panggil Bibi Janet.
" Bi, kemana Shane?"
" Ga usah kamu tanya dia pergi kemana. Biarkan dia tenang. Kamu selalu menambah beban pikirannya. Bibi tahu betul, Shane itu bagaimana. Hentikan lelucon konyol mu ini, Sofie."
" Lelucon apa, Bi?"
" Tuduhan mu kepada Shane, suami mu sendiri. Bibi ga nyangka, ternyata kamu lebih percaya pada hasutan orang dari pada suami mu sendiri."
" Bi, tapi siapa yang uda berani menculik saya? siapa yang ingin menyakiti saya? Bibi tahu kan, setelah saya kenal dengan Shane, banyak masalah yang saya hadapi."
" Masalah yang kamu hadapi? seharusnya kamu bersyukur nak, kalau bukan karena Shane, mungkin kamu sampai sekarang masih dirumah Paman mu itu dan kamu bakalan ga bisa keluar dari rumah itu. "
" Tapi, Bi ?"
" Kamu ga ingat, dulu kamu sangat mencintainya, kamu berharap Shane bisa menerima mu. Trus kamu hamil. Kalau Shane membenci mu, apakah ia mau menanamkan benih cintanya di rahim mu? berpikirlah Sofie, sebelum kamu mengambil langkah yang lebih jauh."
Sofie menangis.
" Dari kecil , Shane itu Bibi yang mengurusnya. Jadi Bibi tahu bagaimana wataknya. Sekalipun dia seorang mafia yang pekerjaannya mungkin banyak dibenci orang, tapi setidaknya, ia bisa membantu orang - orang, memberikan lapangan pekerjaan buat orang lain. Shane belum bisa berjalan di jalan yang benar. Bibi tahu, jika dulu dia pernah menodai mu, itu lah cara yang dia tahu untuk mendekati diri mu. Bibi uda pernah bilang, Shane itu tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain. Wanita pertama yang dia bawa kerumah ini, itu kamu, Sofie. Percayalah pada Bibi, Shane itu orang yang baik, dia ga akan pernah ingin mencelakai mu."
" Shane ga perduli sama saya, Bi."
" Sifat Shane seperti itu, nak. Dia pria dingin. Mengertilah akan kepribadian Shane, nak."
" Jadi sekarang saya harus bagaimana, Bi ?"
" Minta maaf, kembali padanya rangkul dia, nak. Dia pun sangat terpukul karena kehilangan calon anaknya."
" Bibi yakin dia mau maafin saya?"
" Bibi yakin, kembalilah seperti yang dulu. Jangan tinggalkan rumah ini !"
Sofie kembali menangis.
" Nak, semua manusia akan mengalami cobaan, mungkin Tuhan berikan cobaan ini pada rumah tangga mu, Tuhan mau kalian berdua itu bisa lebih baik lagi. Kamu tahu ? jika seseorang dihadapkan dalam suatu masalah, berarti menurut Tuhan ia sanggup untuk menjalaninya. Tuhan mau kalian berdua bisa menjadi manusia yang sabar, tabah. Masalah anak, itu semua sudah di atur Tuhan, nak. Tuhan akan berikan kebahagiaan yang lebih buat kalian. Sekarang tugas mu, bawa Shane kembali ke jalan yang benar. Jika semua sudah membaik, yakinlah Tuhan akan berikan apa yang kamu minta. "
" Bi, maafkan saya ya ! saya uda berprasangka buruk pada suami saya sendiri. Saya janji, saya akan menuntunnya ke jalan yang baik, Bi."
" Ia, nak. Tugas seorang istri itu adalah mendoakan suaminya. Membawa dia ke jalan yang benar. Doakan Shane bisa menjadi suami yang benar - benar baik, berada di jalur yang tepat."
" Ia, Bi."
" Hapus air mata mu, nak. Sekarang istirahatlah dulu. Bibi akan siapkan makan siang untuk mu. "
Sofie menganggukkan kepalanya dan ia pun pergi ke kamar.
Bibi Janet menangis. Ia sangat sedih melihat keadaan rumah tangga mereka. Bibi Janet tidak mempunyai keluarga, hanya Shane dan Sofie lah keluarga yang ia punya.
__ADS_1
Bibi Janet selalu berharap Shane dan Sofie akan selalu bahagia sampai akhir hayatnya.
Di usia yang tak muda lagi, Bibi Janet hanya bisa memberikan wejangan - wejangan untuk mereka berdua, walaupun sebenarnya, ia tak pernah merasakan mempunyai keluarga.