" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 68 " Dipangkuan Sofie Terdapat Bom "


__ADS_3

Sofie terus mencoba membuka pintu mobil itu. Ia trus menariknya. Ia mencari sesuatu yang bisa membuat pintu mobil itu terbuka.


Sofie berteriak, sesekali ia menangis. Ia tak dapat menemukan benda apa pun untuk membuka pintu mobil itu terbuka.


Tak lama kemudian Mark pun datang. Agar Sofie tidak mengetahui jika yang menculiknya adalah Mark, Mark pun memakai penutup wajah.


Mark membuka pintu mobil itu. Ia melihat jika Sofie sudah menangis. Sofie berusaha kabur, tapi Mark berhasil memegang tangannya.


" Jangan sakiti saya, saya mohon. Lepaskan saya !"


Mark hanya tersenyum.


" Saya tidak akan melepaskan mu Nona cantik !" Mark langsung membawanya ke dalam.


Paman Sammy dan Bibi Marry juga sudah memakai penutup wajah, agar Sofie juga tidak mengenalinya.


Sofie berteriak dan menangis, ia mencoba untuk menyelamatkan dirinya. Tapi tenaga Mark begitu kuat memegang tangannya.


Kedua tangan Sofie diikat. Dari balik penutup wajah Bibi Marry, ia tersenyum sangat puas sekali, akhirnya ia dapat terjun langsung melihat penculikan Sofie.


Bibi Marry berharap, jika Sofie kali ini tidak boleh lepas. Sofie harus benar - benar mati ditangannya.


Bibi Marry telah menyediakan bom. Dan ia akan menyuruh Mark untuk memasangnya ditubuhnya.


Bibi Marry menghampirinya. Ia memegang wajah cantik ponakannya itu.


" Lepaskan saya, saya mohon !" ucap Sofie


Tapi Bibi Marry hanya diam saja. Sofie di dudukan di sebuah kursi, kedua tangannya diikat. Lalu Mark menutup mulutnya menggunakan plester.


Mark, Paman Sammy dan Bibi Marry, berdiri menatapnya. Mereka bertiga sangat puas sekali. Sofie terus saja menangis. Ia mencoba melepaskan ikatan tangannya, tapi ia tak berhasil.


Sofie pun hanya bisa pasrah. Dalam hati kecilnya, ia hanya bisa berdoa. Semoga ia dapat selamat dari tangan - tangan penjahat ini.


Mark mengeluarkan sebuah rakitan bom. Kabel - kabel bom itu disusun begitu sangat rapi.


Paman Sammy memberikan kode agar bom itu segera dipasang.


****


Hari semakin malam, Sofie belum juga pulang. Shane semakin khawatir. Dari siang, hujan belum berhenti. Ia mencoba menghubunginya, tapi ponselnya padam.

__ADS_1


Bibi Janet juga sangat khawatir. Ia takut jika Sofie kembali di culik lagi.


" Tuan Shane, pergilah cari Sofie. Perasaan Bibi semakin ga enak. Sepertinya Sofie dalam keadaan bahaya !"


" Ya Bi, saya akan pergi mencari Sofie. "


Shane mengambil kunci mobilnya, ia pun langsung pergi. Ia pergi ke sekolah.


Dimana - mana, jalan banjir. Hujan semakin deras. Akhirnya Shane pun tiba di sekolah itu. Disana ada petugas security.


" Pak, apa Bapak tahu kemana arah Sofie pulang tadi ? sampai sekarang Sofie belum juga pulang !"


Security itu pun langsung terkejut mendengar jika Sofie belum sampai dirumah.


" Seperti biasa, Sofie pulang ke arah sana." sambil menunjuk arah dimana biasanya Sofie pulang.


" Tapi sampai jam segini, Sofie belum juga sampai, Pak !"


" Ya Tuhan, kemana perginya Sofie ?"


" Bapak tahu plat taxi yang membawa Sofie?"


Security langsung membawa Shane ke pos. Security itu langsung membuka layarnya. Mereka berdua pun melihat keadaan dimana Sofie tadi menaiki taxi itu.


Akhirnya mereka menemukan plat nomor taxi yang membawa Sofie. Shane langsung menulisnya di secarik kertas.


" Pak, kira - kira kemana Sofie ?" tanya Security itu.


" Ntahlah. Ntah kemana supir itu membawanya. Tapi saya yakin, Sofie kembali di culik. Pak, terimakasih banyak ya, doakan ya Pak, agar Sofie segera ditemukan. "


" Ya, Pak. Bapak hati - hati ya !''


Shane langsung pergi meninggalkan Security itu. Karena zaman semakin canggih, Shane melacak ke arah mana mobil itu membawa Sofie.


Shane meminta bantuan pada pihak Polisi. Karena ia tahu, keadaan Sofie sekarang sangatlah bahaya. Setelah melaporkan masalah ini ke Polisi, Shane pun dapat bernafas lega.


Pihak kepolisian pun segera melacak dimana sekarang posisi taxi itu.


****


Akhirnya, Mark pun memasang bom itu di pangkuan Sofie. Sofie sangat ketakutan. Dalam benaknya, ia akan mati bersama bom itu. Ia terus menangis.

__ADS_1


Mereka pun meninggalkan. Di belakang gedung itu, mereka membuka penutup wajahnya.


" Bagus Mark. Kerjaan mu sangat luar biasa." puji Bibi Marry.


" Ini bayaran mu, semoga kamu suka."


Mark mengambil isi amplop besar itu. Ia melihat uang yang sangat banyak. Wajahnya tersenyum karena bahagia.


" Dengan uang ini, saya bisa pesta sepuasnya. Tapi sayang, saya tidak dapat menyentuh tubuh wanita cantik itu !" ucap Mark.


" Kamu ga perlu menyentuhnya. Apa kamu ga jijik menyentuh tubuh wanita yang sudah tak suci itu lagi ?" ucap Bibi Marry.


" Ia Mark, di luar sana banyak wanita lebih cantik dari Sofie, kamu bisa aja mendapatkannya." Paman Sammy menimpali.


" Ya, tapi itu beda. Karena saya jatuh hati pada keponakan kalian itu !"


" Hahaha, kamu jatuh hati pada Sofie? memalukan !" ledek Bibi Marry.


" Kenapa memalukan ? Itu lah cinta, ia tak mengenal status bagaimana si wanita itu. Baginya, dia adalah wanita yang sempurna." sahut Mark.


" Terserah kamu. Tapi dengan uang sebanyak itu, kamu bisa menemukan banyak wanita berkelas, kamu tinggal pilih, Mark. " ucap Paman Sammy.


" May be yes, may be no !" jawab Mark sambil memegang uang itu.


" Sayang, akhirnya Sofie akan mati juga. Setelah bom itu melewati waktunya, dan duaaarrrrr..Sofie hanya tinggal nama, hahahaha...!'' Bibi Marry meyakinkan.


" Ya, akhirnya kita berhasil membunuhnya. Dan tak akan ada satu orang pun yang tahu keadaan Sofie sekarang. Shane, maafkan saya, kalau sebentar lagi kamu akan menjadi duren, duda keren hahahahaha...!" ledek Paman Sammy dengan tawanya.


" Oke, kita akan pergi dari sini. Oh ya Mark , kira - kira tinggal berapa lama lagi waktu bom itu akan meledak?" tanya Bibi Marry.


" 1 jam lagi. Lewat 1 jam, bom itu akan meledak." jawab Mark dengan santainya.


Itu artinya Shane hanya punya waktu 1 jam lagi untuk menyelamatkan istrinya itu.


Mendengar jawaban Mark, Paman Sammy dan Bibi Marry tertawa lepas. Mereka sangat puas sekali. Dan mereka juga sudah tak sabar melihat kematian Sofie. Sebelum mereka pergi, mereka menemui Sofie.


Mereka melihat jika Sofie mencoba untuk melepaskan ikatannya. Tapi itu semua sia - sia, ikatan itu sangatlah kuat sekali. Mark kembali merapikan rakitan bom itu. Ia pun menambahkan plester agar rakitan bom itu tidak jatuh dari pangkuan Sofie.


Tit..tit..tit..tit..hanya terdengar dentingan suara rakitan bom itu. Sofie mencoba berbicara pada mereka, tapi sayangnya suaranya tidak terdengar. Air matanya terus saja mengalir. Berkali - kali ia mencoba menggoyangkan tubuhnya, agar bom itu jatuh dari pangkuannya, tapi sayangnya rakitan bom itu sangat kuat sekali, apalagi Mark menambahkan plesternya. Bibi Marry dan Paman Sammy tidak mau bicara padanya, mereka takut jika Sofie mengenali suara mereka.


Dan akhirnya mereka pun pergi meninggalkan gedung kosong itu. Mark mematikan lampunya. Gedung kosong itu sangat gelap sekali.

__ADS_1


__ADS_2