
Mereka pun langsung pergi dari tempat itu. Shane terus memegang tangan istrinya. Wajah cantik itu sangat pucat sekali.
Sofie hari ini selamat dari ancaman maut. Tuhan masih sayang padanya, ia bisa selamat dari rakitan bom itu.
" Shane, terimakasih banyak karena kamu uda nyelamatin saya, kamu datang dengan waktu yang tepat !"
" Sofie, saya ga akan biarkan seorang pun menyakiti mu. Kamu tenang, kamu akan aman, orang - orang itu ga akan menculik kamu lagi !"
" Kamu yakin?"
" Ya. Sekarang kita pulang. Oh ya, Pak, terimakasih banyak untuk bantuan Bapak - Bapak semua ." ucap Shane pada Polisi - Polisi itu.
" Ya, sama - sama Tuan Shane. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami." sahut para Polisi itu.
Polisi itu mengantarkan Shane dan Sofie. Sofie masih saja menangis. Shane tak mau langsung menanyakan bagaimana awal kejadian itu. Ia akan menunggu waktu yang tepat, sampai Sofie angkat bicara.
Tibalah mereka di rumah sang mafia itu. Shane dan Sofie langsung turun dari dalam mobil polisi itu.
" Sofie, kamu jangan nangis lagi !"
" Gimana saya ga nangis, saya takut."
" Kamu ga usah takut. Saya akan secepatnya membalaskan dendam ini !"
" Balas dendam? pada siapa?"
" Maafkan saya Sofie, saya uda yakin kalau ini adalah perbuatan Paman mu !"
" Paman?"
" Ya, ini semua adalah perbuatan Paman mu."
" Tapi kenapa dia tega menyakiti saya?"
" Semua karena uang, Sofie !"
" Uang? karena uang Paman saya ingin membunuh saya?"
" Ya, karena uang. Paman mu itu sangat jahat, Sofie !"
Sofie kembali menangis. Sofie kurang yakin kalau ini adala perbuatan Pamannya sendiri.
Dalam benak Sofie, masa seorang Paman tega ingin membunuh keponakannya sendiri.
" Saya ga yakin. Kamu jangan asal menuduh Shane !"
" Baiklah, besok kamu akan tahu siapa sebenarnya Paman mu itu."
" Kenapa harus besok?"
__ADS_1
" Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu istirahat terlebih dulu."
Shane memeluk istrinya itu dengan erat. Bibi Janet melihat kedua pasangan itu. Ia pun menangis. Bibi Janet sangat prihatin pada Sofie, banyak masalah yang ia hadapi.
Bibi Janet jadi teringat akan perkataan Sofie, setelah menikah dengan Shane, banyak cobaan datang silih berganti pada dirinya.
Ada saja orang yang ingin menyakiti hati Sofie. Shane pun menceritakan pada Bibi Janet apa yang terjadi pada Sofie.
Bibi Janet langsung mengutuki si penjahat itu. Wanita paru baya itu, langsung memeluk Sofie. Mereka berdua pun kembali menangis.
Shane semakin geram akan kejadian ini. Ia pun akan mengumpulkan semua bukti - bukti tentang Paman Sammy.
Shane tidak mau menceritakan semuanya pada istrinya itu. Ia ingin Sofie mengetahui sifat Pamannya itu perlahan - lahan.
Shane hanya berharap, Sofie akan mengetahui ini semua seiring waktu berjalan.
****
Pagi hari pun tiba. Paman Sammy dan istrinya tak sabar ingin melihat Sofie, keponakannya itu hancur berkeping - keping karena serpihan bom.
Mereka berdua pun pergi ke tempat dimana Sofie di sandra. Senyum bahagia terpancar dari wajah Bibi Marry, ia akan melihat kemenangannya melawan Sofie.
Mereka berdua pun tiba di tempat dimana Sofie di sandra. Tidak ada yang aneh pada tempat itu, pintu pagar gedung besar itu tertutup rapi.
Paman Sammy membuka pintu utama. Mereka tidak ada melihat sesuatu yang hancur karena bom itu.
" Aneh, kenapa tempat ini baik- baik aja? biasanya kalau kena serpihan bom, pastilah ada barang - barang yang rusak, termasuk pintu. Kenapa ini tidak ada sama sekali?" tanya Paman Sammy penasaran.
Ia semakin emosi karena rencananya gagal untuk membunuh Sofie. Ia pun membuka pintu itu.
Cklekk...
Bibi Marry tidak menemukan Sofie. Ia melihat kabel - kabel komponen bom itu berserak dilantai. Ia sangat terkejut sekali. Bagaimana mungkin Sofie bisa lolos? itulah dalam benaknya. " Sepertinya tidak masuk akal !" gumam Bibi Marry.
Ia pun memanggil suaminya. Paman Sammy langsung berlari menghampiri istrinya itu. Paman Sammy pun sangat terkejut sekali.
" Apa yang terjadi? kemana Sofie pergi?" tanya Paman Sammy dengan marahnya.
" Ntahlah, kenapa juga dia bisa lolos? padahal ikatan itu sangatlah kuat sekali. Mustahil jika Sofie bisa melepaskannya sendiri. Saya yakin, pasti ada seseorang yang menyelamatkannya."
" Ya Tuhan, siapa yang uda berani menyelematkan ya?" tambah Paman Sammy.
" Jangan - jangan Mark !" ucap Bibi Marry
" Mark? tidak mungkin, Mark tidak mungkin berkhianat pada kita." sahut Paman Sammy .
" Jadi siapa dong? hanya Mark yang tahu tempat ini, tidak ada yang lain. Shane aja tidak tahu kalau kita menyembunyikan Sofie di tempat ini. Tempat ini sepi, ga ada orang. "
" Saya ga yakin !"
__ADS_1
" Kenapa kamu ga yakin? kamu tahu kan, kalau Mark itu suka sama Sofie?"
" Ia saya tahu, Mark suka sama Sofie, tapi ga mungkin dia berbuat seperti ini !"
" Apa yang ga mungkin, sayang !"
" Baiklah saya akan telpon Mark. Saya akan menyuruhnya datang."
" Apa hukumannya kalau Mark yang telah melakukannya ?" tanya Bibi Marry.
" Saya akan bunuh dia!"
" Hhmm..baiklah. Sekarang kamu telpon dia, suruh dia datang kesini !"
Paman Sammy pun langsung menelpon Mark. Mark yang sedang bermain ponsel, langsung menjawab telpon dari Paman Sammy.
Paman Sammy menceritakan yang terjadi. Mark tidak percaya.
" Siapa yang melakukannya, Bos?" tanya Mark dari sebrang.
" Saya ga tahu, tapi yang tahu tentang keberadaan Sofie disini, itu hanya kamu, Mark !"
" Bos, jadi Bos menuduh saya?"
" Ntahlah, selain kamu siapa lagi yang tahu tempat ini?"
" Ga Bos, saya ga mungkin melakukan itu. Saya ga berkhianat pada Bos. "
" Kalau tidak berkhianat, jadi nya apa?
Mark pun terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Paman Sammy.
Mark sangat kecewa sekali, karena Paman Sammy tidak begitu mempercayainya.
" Hukuman apa yang pantas untuk mu, Mark?" tanya Paman Sammy.
" Ga Bos, saya ga akan terima ini, kalau Bos telah menuduh saya tanpa bukti."
" Bukti apa lagi yang kamu perlukan? semua uda terbukti kalau kamu lah yang melakukan ini pada Sofie, karena yang saya tahu, kamu itu sangat cinta pada keponakan saya itu. "
" Ya, saya memang mencintai Sofie, tapi saya juga tidak mau berkhianat pada anda, Bos !"
" Baiklah, kalau kamu ga mau mengakuinya, lihat aja pembalasan dari saya!"
" Saya ga takut, karena saya memang tidak bersalah."
Paman Sammy langsung mematikan ponselnya, karena ia sangat muak dengan sikap Mark. Mark tidak mau mengakuinya, karena memang bukan salahnya.
Paman Sammy pun sangat gelisah sekali. Ia tak mau tahu, ia harus dapat menemukan Sofie, dan semua itu karena rayuan istrinya, Bibi Marry.
__ADS_1
Bibi Marry yakin , ada mata - mata di di lingkungannya tinggal.