" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 41 " Pulau Kecil"


__ADS_3

Mobil penjahat itu semakin melaju kencang. Sofie kelelahan. Ia pun menidurkan dirinya. Di bibir mungilnya selalu terucap kata - kata doa.


Ia berharap, ia bisa selamat dari tangan - tangan penjahat itu. Sesekali ia menangis dan menyebut nama Shane, suaminya itu.


Kedua penjahat itu hanya bisa diam melihat keadaan Sofie. Mereka tidak bisa menolongnya.


Sofie terbangun, ketika perutnya sudah kroncongan. Ia sangat lapar. Tak dipungkiri, karena ia sedang hamil.


" Saya lapar, apakah saya bisa minta makanan?" Tanya Sofie memohon.


" Makanan?"


" Ya, saya sangat lapar. Saya mohon berikan lah sepotong atau dua potong roti."


" Kami tidak punya makanan, apalagi roti. Bersabarlah sampai kita menemukan tempat penjual makanan."


Sofie menangis. Ia memegangi perutnya.


..." Maafkan mama, nak."...


...Gumam Sofie ...


Sofie kembali menidurkan dirinya. Ia sangat lelah sekali.


****


Selesai dengan pekerjaannya, Shane kembali kerumah. Ia mencoba menghubungi Sofie tapi tidak ada jawaban.


Tak ada sama sekali firasat buruk pada dirinya. Mobilnya pun semakin melaju kencang.


Shane tiba dirumah. Ia membunyikan klakson mobilnya. Tapi Sofie ataupun Bibi Janet tidak keluar rumah. Biasanya kalau terdengar suara klakson mobil, pasti diantara Sofie atau Bibi Janet keluar untuk membukakan pintu rumah.


Perlahan Shane melangkah masuk. Ia mencoba mengetuk pintu rumah. Ia memanggil Bibi Janet. Tapi Bibi Janet tak kunjung keluar. Ntah sudah berapa kali ia mengetuk pintu itu, tapi tak ada satu pun yang membukakannya.


Ia pun mencoba membuka pintu itu...


Krekkk...


Pintu rumah tak terkunci. Shane paling tak suka jika pintu rumah tak dikunci, karena ia takut kalau terjadi apa - apa pada Bibi Janet atau Sofie.


Jika ia bepergian, ia selalu mengingatkan agar rumah selalu dikunci.


" Bi.....Bibi Janet....Sofie....Sofie....kok rumah sepi banget sih? pada kemana mereka ya? Bi....Bibi Janet...!"


Shane terus saja memanggil dua wanita itu. Tapi tak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


Shane melangkahkan kakinya ke arah dapur. Ia kembali lagi memanggil Bibi Janet dan Sofie.


Shane melihat ke dapur, disana juga tak ada siapa - siapa. Shane menjadi bingung, kemana perginya mereka.


Bibi Janet langsung mendengar suara dan langkah kaki Shane. Bibi Janet berusaha melepaskan ikatan kedua tangannya. Ia disembunyikan di balik meja dapur itu.


Bibi Janet melihat ada sebuah vas bunga di rak sudut dapur , dengan kedua tangan yang diikat, ia mencoba untuk mendekati vas itu.


Dengan menyeret - nyeret tubuhnya, ia mencoba sebisa mungkin untuk mendekati vas itu.


Ia pun berhasil mendekati vas itu, ia mencoba menggeser kan sebuah kursi. Kursi pun terjatuh dan mengenai vas itu. Vas bunga itu pun pecah.


Shane mendengarkan ada sesuatu yang terjatuh di dapur. Ia pun langsung lari ke dapur.


" Astaga....?" Shane mendekati vas yang pecah itu dan ia melihat Bibi Janet.


" Bibi...? apa yang terjadi, Bi? siapa yang melakukan ini?" Tanya Shane sambil membuka tali pengikat tangan dan membuka plester perban mulut Bibi Janet.


Tali dan plester pun terlepas. Bibi Janet langsung memeluk Shane. Ia pun menangis.


" Sofie, Tuan....selamatkan Sofie...!"


" Apa? Sofie dimana, Bi? siapa yang melakukan ini semua, Bi?" Tanya Shane dengan nada yang suara yang tinggi.


Mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi. Ia tak perduli lagi dengan nyawanya. Ia juga menanyakan ke beberapa teman tentang keberadaan Sofie.


Semua anak buahnya ia kerahkan untuk mencari Sofie.


..." Sofie kamu dimana? Tuhan lindungi dia, jangan biarkan dia celaka. Saya mohon Tuhan...!"...


...Ucap Shane.....


Kesedihan tampak di raut wajahnya. Ia tak mau kehilangan Sofie. Balasan dari orang - orang Shane mengatakan jika mereka tidak tahu dimana keberadaan Sofie.


Anak buah yang menculik Sofie pun membaca pesan dari Shane. Ia pun merasa kasihan pada Sofie karena dalam keadaan hamil. Ia juga menyesali perbuatannya karena sudah berkhianat pada Shane.


Diam - diam ia mengirimkan pesan untuk Shane tanpa diketahui temannya.


Isi pesannya...


..." Datanglah ke sebuah pulau kecil di sebelah selatan, disana engkau akan melihat istri mu. Sekarang dia ada disana. Cepatlah datang jangan ada yang tahu jika engkau datang kesini, cepatlah selamatkan istri mu."...


Pesan terkirim dan Shane membacanya.


Shane mencoba menelpon ke nomor tersebut. Tapi anak buahnya itu tidak mau mengangkat.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Shane langsung pergi ke tempat dimana Sofie di bawa. Mobil melaju sangat kencang.


..." Sayang, bertahanlah saya akan menyelamatkan mu."...


Cemas, marah bercampur aduk menjadi satu. Ia tak habis pikir, siapa yang berani melakukan semua ini. Ia sempat kepikiran dengan Agnes.


Shane mencoba menghubungi Agnes, tapi Agnes mengatakan tidak sama sekali melakukan perbuatan itu pada Sofie.


Shane tidak kepikiran sama sekali pada Paman Sammy. Baru kali ini Shane merasakan kesedihan yang amat mendalam.


Sudah ada 5 jam perjalanan. Anak buah Shane selalu mengarahkan harus kemana ia pergi. Tibalah ia disebuah dermaga kecil. Shane disuruh harus menaiki Speedboat agar bisa sampai di pulau itu.


Pulau kecil, tidak berpenghuni sama sekali. Hanya ada suara burung - burung berkicau. Shane tidak pernah mengetahui tempat tersebut.


Shane begitu khawatir tentang keadaan istrinya. Sesekali ia mencoba menghubungi nomor tak dikenal itu, tapi tak ada jawaban.


Ia terus berjalan, ia tak tahu lagi harus kemana pergi. Ia sudah jauh dari tepi pantai. Tak ada rasa takut pada dirinya, ia terus saja mencari keberadaan Sofie.


****


Tibalah mereka ditempat dimana Paman Sammy dan beberapa anak buahnya. Sofie pun diserahkan ketangan Pamannya sendiri.


Paman Sammy memakai topeng, sehingga Sofie tidak mengenali wajah Pamannya.


" Bos...Sofie telah kami bawa. Sekarang bisakah kami pergi?" Tanya anak buah Shane itu sambil menyerahkan Sofie.


" Jangan sakiti saya, saya mohon Tuan...!" Ucap Sofie pada Paman nya itu.


Paman Sammy hanya bisa diam. Tak ada sama sekali rasa kasihan nya melihat keponakannya itu.


" Bagus. Pekerjaan kalian sangat bagus...bagus..dan bagus..hahahaha...!"


" Apakah kami bisa pergi sekarang?" Tanya anak buah Shane itu lagi.


" Ya, silahkan. Silahkan kalian pergi. Saya minta kepada semua anak buah saya disini, jangan sampai Shane mengetahui hal ini. Kalau ada diantara kalian yang memberitahukan pada Shane, kalian akan tahu apa akibatnya." Kata Paman Sammy mengancam para anak buah nya itu.


Semua terdiam. Terlebih Kris, anak buah Shane yang telah berkhianat. Ia merasa bersalah pada Shane. Ia pun menjadi takut.


Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Ia ingat, dulu ketika ia susah, hanya Shane lah yang mau membantunya.


Sedangkan Paman Sammy tidak mau membantunya sama sekali. Penyesalan pun terjadi. Dalam hati kecilnya ia berharap Shane segera datang untuk menyelamatkan Sofie.


Sofie kembali di ikat disebuah pohon yang besar. Mulutnya di plester. Ia trus menangis. Ia merintih kesakitan. Sofie sangat cemas sekali dengan kandungannya.


Ia mencoba menarik - narik tangannya, tapi tak ada hasil. Ikatan itu sangat kuat sekali. Sama sekali Sofie tak bisa bergerak. Yang ada hanya tangisan.

__ADS_1


__ADS_2