" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 63 " Akhirnya Kris Angkat Bicara "


__ADS_3

Hari ini Shane akan mengunjungi Kris. Shane mau meminta keterangan mengenai penculikan Sofie, karena Kris sudah mulai lancar untuk berbicara.


Tibalah ia dirumah itu. Kris langsung menyambutnya dengan penuh kehangatan. Betapa bahagianya Shane melihat keadaan Kris, karena sudah banyak perubahan.


Shane dan Kris pun berbicara empat mata. Kris menjelaskan secara detail mengenai penculikan Sofie.


" Semua ini adalah perbuatan Paman Sammy, Bos. Paman Sammy lah yang menyuruh saya dan Berry menculik Sofie. Dia menawarkan kami uang, jika kami berhasil menculik Sofie. Segala hasutan demi hasutan dan akhirnya kami pun termakan hasutannya. Waktu itu ntah apa yang ada didalam pikiran saya, saya bisa patuh dan mau melakukan semua itu. Padahal waktu itu, Sofie sedang hamil. Paman Sammy tidak menyukai Sofie, ia ingin membunuhnya sama seperti kedua orang tua nya. Dan kepada Bos, Paman Sammy ingin menguasai semua harta kekayaaan Bos. Maka dari itu, Paman Sammy ingin memisahkan Bos dan Sofie, karena Sofie penghalang semua rencana ini. Jika Bos sudah pisah dari Sofie, Paman Sammy akan merangkul anda, Bos."


" Sudah saya duga, Paman Sammy lah dalang semua ini. Trus, kamu tahu orang tua Sofie di makam kan dimana?"


" Di pulau kecil itu, tempat dimana waktu Sofie diculik."


" Kamu yakin disana?"


" Yakin, Bos. Karena Paman Sammy lah yang menceritakan itu semua pada kami. Tapi saya tidak tahu dimana letak posisi orang tuanya itu di makam kan."


" Kasus pembunuhan orang tua Sofie, sudah saya ketahui ketika saya dan Sofie ke Paris. Jason, anak sulungnya mendengar percakapan kedua orang tuanya. Lalu merekam pembicaraan mereka, Jason mengirimkan rekaman itu pada Sofie. Tapi rekaman itu saya hapus dari ponsel milik Sofie. Karena saya ga mau, Sofie terlalu cepat mengetahui semua ini."


" Jadi gimana, Bos?"


" Pelan - pelan, saya akan membalaskan dendam saya. Saya juga ga terima, jika semua anak buah saya bisa pergi bersamanya."


" Masalah orang tua Sofie, sebaiknya Bos pelan - pelan memberitahukannya pada Sofie. Kasihan dia, Bos !"


" Ia. Itu bisa saya atur nanti."


" Oh ya, saya dengar juga Bos memiliki sebuah perusahaan, dan itu lah yang akan diambil alih oleh Paman Sammy."


" Ya, benar. Oh, jadi dia juga menginginkan perusahaan?"


" Ya Bos, karena pemimpin perusahaan yang sekarang itu bekerja sama dengan Paman Sammy. "


" Kris, terimakasih banyak untuk informasi ini, saya minta sama kamu, kamu tetaplah di dalam rumah. Karena sebenarnya Paman Sammy itu tidak mengetahui kalau kamu itu masih hidup."


" Ya, Bos. Saya minta maaf atas semua perbuatan saya, saya sangat menyesal telah melakukan ini semua, Bos !"


" Ya, saya tahu tipe orang seperti kamu itu bagaimana, kamu terpaksa melakukan karena ada sesuatu hal. Saya tidak akan memberitahukan ini pada Sofie, saya takut ini akan menjadi beban pikirannya."


" Ya, itu terserah anda, Bos !"


" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. "


" Ya, Bos."


Shane pun pergi meninggalkan rumah Kris. Shane berusaha menahan emosinya. Tak disangka ternyata semua ini perbuatan Paman Sammy.


Tiba - tiba saja ponselnya berdering. Sofie menelponnya.


" Kamu lagi dimana?"


" Apa urusan mu?"


" Kamu itu kenapa sih?"


" Ga papa, Sofie !"


" Shane, saya mau nitip sesuatu. Apa boleh ?"


" Nitip apa?"


" Kue klepon, hehehe...!"

__ADS_1


" Kue klepon? dimana belinya?"


" Di toko kue dekat komplek ada kok, tolong beliin ya !"


" Emang kamu ga bisa beli?"


" Diluar panas sekali."


" Trus kalau panas? kamu takut kulit mu terbakar?"


" Begitulah !"


" Ya, nanti kalau saya sempat, saya akan mampir. Tapi saya ga janji !"


Shane mematikan ponselnya.


" Astaga, pake di matiin lagi !" gerutu Sofie.


****


Paman Sammy semakin emosi melihat Shane. Ia pun mengarahkan anak buahnya untuk membakar markas miliknya.


Sepertinya rencananya akan gagal. Tapi Bibi Mary melarangnya, karena itu akan membuat keruh suasana.


Tapi Paman Sammy tidak perduli. Emosinya lagi tidak stabil. Bibi Mary pun mengusulkan jika Sofie kembali di culik.


" Itu tidak mungkin, kita tidak bisa lagi menculik Sofie !" ucap Paman Sammy seperti meyakinkan.


" Kenapa ga mungkin. Mark yang akan melakukan ini. Kamu tahukan, kalau Mark itu menyukainya?"


" Bagaimana caranya?"


Sejenak Paman Sammy berpikir panjang.


" Bagaimana? apa kamu setuju?" tanya Bibi Mary.


" Ya, ide kamu itu bagus. Saya akan menyuruh Mark untuk melakukan ini !"


" Sayang, kamu itu sebenarnya bodoh, kamu itu ga pernah punya ide secemerlang ide saya."


" Ia, saya akui kamu itu pintar. Tapi ga gitu juga kali, merendahkan suami sendiri !"


" Huff..kamu itu ya. Kalau begitu kamu bisa tambah uang bulanan saya.Gimana?"


" Ya. Saya akan tambahi jumlah uang bulanan mu."


" Hahah, baiklah. Kamu memang suami yang baik kalau masalah uang."


" Jadi gimana, apakah kamu akan membakar markas milik Shane?"


" Ya, saya tetap akan membakarnya."


" Jangan sayang, bukan kah itu yang kamu harapkan?"


" Ya, itulah salah satu yang saya harapkan dari Shane. Markas yang penuh dengan senjata tajam. Kalau saya bisa memilikinya, bukan tidak mungkin, sayalah orang terkaya di dunia ini, hahahahah..!"


" Bagaimana kalau mereka berdua kita bunuh saja ? maksud saya Sofie dan Shane !" Bibi Mary mengutarakan pendapatnya.


" Apa? itu tidak mungkin. Menangkap Shane itu sangat susah."


" Karena menurut saya, itulah cara yang terbaik. Saya akan cari orang lain untuk menyakiti mereka."

__ADS_1


" Sayang, urusan Shane dan Sofie, biarlah ini menjadi urusan saya. Kamu fokus ke anak - anak."


****


Sofie sudah menunggu Shane sedari tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 wib. Shane belum juga kembali.


Sofie mulai cemas. Kemana lagi pergi suaminya itu. Sofie mencoba menghubunginya, tapi ponsel milik Shane tidak bisa dihubungi.


Sofie mulai panik. Ia takut kejadian seperti dulu terulang lagi. Bibi Janet selalu menyuruh Sofie untuk tetap tenang.


" Shane mempunyai rencana Bi, dan saya ga tahu rencana apa itu. Sepertinya Shane menyembunyikan sesuatu."


" Kamu yakin, nak?"


" Ya Bi, saya sangat yakin !"


Tiba - tiba saja mobil Shane tiba dirumah itu. Sofie langsung berlari keluar untuk melihat suaminya itu.


Dengan wajah yang murung, Sofie mengepal kedua tangannya, seakan - akan mau marah.


Shane keluar dari dalam mobil dengan menenteng bungkusan kecil.


" Kenapa lama sekali kamu pulang? "


" Emang kenapa?"


" Kita itu khawatir sama kamu !"


" Oh ya? makasih ya ! nih, ada cemilan."


" Terlambat Shane..Ini sudah malam."


"Emang kalau malam ga boleh ngemil lagi ya ?"


"Ia, nanti gendut.Emang kamu mau saya gendut?"


Shane tersenyum manis pada istrinya itu.


" Ga papa gendut, nihh..ambil !"


Sofie membuka bungkusan itu. Bungkusan itu tidaklah sesuai dengan pesanannya.


"Kenapa tidak kue klepon?"


Shane terdiam.


" Kue klepon ya? itu kue apa?"


" Ini martabak !" jawab Sofie dengan wajah yang cemberut.


" Maaf, saya lupa. Ya uda, itu aja dulu dimakan, besok kalau ada waktu kita sama - sama membelinya !"


" Pasti kamu ga kenal kue klepon kan?"


Lagi - lagi Shane terdiam mendengarkan ocehan istrinya itu. Shane tersenyum. Ya, Shane memang tidak mengenali kue klepon.


" Ayo jawab, kamu ga kenal kan?"


" Ia, saya ga kenal kue yang kamu maksudkan itu. Uda deh ga usah diperpanjang, saya mau mandi. Kamu siapin makan malam !"


Shane pun langsung pergi meninggalkan Sofie. Sofie masih kesal karena tidak sesuai pesanannya.

__ADS_1


__ADS_2