
Akhirnya Agnes dan Dion pulang terlebih dahulu , sementara Shane dan Sofie mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Paris.
Berat sekali hati Dion dan Sofie harus melihat mereka berdua. Terlebih Dion, sepertinya ia tak rela jika Sofie dan Shane bersama.
Tapi Dion harus bisa menerimanya, karena Sofie itu milik Shane. Dion hanya bisa melihat wajah cantik Sofie yang ia ambil dari ponselnya.
..." Kenapa ga dari dulu saya bertemu dengan mu, kamu itu lain dari yang lain. Diam - diam saya menyukai mu, saya ingat pertama sekali bertemu dengan mu, bola mata mu yang begitu indah menatap ku dan senyum manis mu membuat ku susah melupakan mu. "...
Ucap Dion sambil tersenyum melihat fhoto Sofie.
..." Shane, menang banyak hari ini. Ia bisa bersama dengannya. Dan saya? Ahh..ntahlah...yang pasti saya akan merindukan senyum manis mu, Sofie. "...
Ucap Dion lagi...
****
Shane akan menepati janjinya. Untuk membalaskan rasa bersalah selama ini, Shane ingin membahagiakan Sofie.
Paris, pilihan yang tepat untuk mereka. Shane meminta pada Kepala Sekolah dimana Sofie mengajar, ia meminta ijin untuk beberapa hari lagi.
Bapak Kepala Sekolah itu pun memberikan ijin. Sofie masih tidak percaya dengan sikap baik Shane. Ia pun masih ragu.
Tapi Sofie tetap tenang. Ia selalu positif thinking. Tibalah mereka di Paris, kota romantis yang penuh cinta.
Sofie tetap saja terpukau akan keindahan kota itu. Akhirnya ia bisa melihat kota impiannya itu.
Untuk beberapa hari ke depan, mereka tinggal di salah satu hotel termewah di kota itu.
Perasaan Sofie semakin gugup. Ia takut kalau Shane berbuat macem - macem padanya.
Shane tahu betul kecemasan Sofie. Terkadang Shane suka membuat Sofie ketakutan dan menangis.
Tapi ia berusaha menenangkan Sofie. Sesekali terjadi perdebatan diantara mereka berdua.
Mereka pun memasuki kawasan hotel. Seperti biasa, mereka terlebih dahulu memesan kamar.
" Kamu ga pesan dua kamar lagi kan?" Tanya Sofie dengan sangat hati - hatinya.
" Pesan dong...."
" Pesan dua kamar lagi? untuk siapa?"
" Ada deh.."
Sofie mendadak diam. Wajahnya cemberut. Ia takut seperti kejadian di Italia.
Shane melihat wajah Sofie. Wajah yang takut dan sedih. Shane mulai bertingkah menjahili Sofie.
Sofie anak yang periang, tapi karena di negeri orang ia sangat takut. Maklum karena Sofie tidak pernah sama sekali pergi kemana - mana.
Resepsionis itu memberikan card lock pada Shane.
" Yuk, naik." Ajak Shane.
Sofie masih terdiam.
" Kamu ga usaha takut. Kamar kita sebelahan kok." Kata Shane sambil tersenyum."
" Sebelahan...?"
__ADS_1
Sofie masih bertanya - tanya, mengapa Shane memesan dua kamar .
Tibalah mereka di lantai 5. Shane terus berjalan dengan diikuti Sofie.
" Agak serem ya...!" Kata Sofie sambil mendekatkan tubuhnya ke punggung Shane.
" Ia. Disini katanya dulu ada yang bundir."
"Bundir? apa itu bundir?"
" Bunuh diri."
Sontak saja Sofie langsung memeluk Shane.
" Kenapa kita harus disini?"
" Emang kenapa?"
" Saya takut."
" Hahahaha...ga papa, katanya dia baik kok."
" Kamu serius?"
" Ya, dua rius."
Sofie semakin takut. Benar saja wajahnya semakin pucat.
Shane membuka kamar itu. Suasana kamar begitu wangi dan bersih. Shane tersenyum melihat sikap Sofie.
" Yuk..masuk." Ajak Shane.
" Ini kamarnya?"
" Kalau tahu kayak gini, mending saya ga ikut." Sofie mulai menangis.
" Hahahaha...heii...ini kamar kita berdua. Kamu ga usah takut."
" Kamu serius?"
" Ia. Masa sih saya biarin kamu sendiri disini. Saya pesan kamar hanya satu, ini card lock nya kan hanya satu. Kamu sihh..ga lihat tadi. Ya da, saya mandi dulu ya. Gerah. "
Lega rasanya, ternyata Shane hanya nge prank. Sofie pun mulai merapikan koper mereka.
Ponsel Shane berdering. Ternyata ada pesan dari Agnes. Ingin sekali rasanya ia membaca pesan tersebut. Tapi tidak etis membuka ponsel yang bukan hak miliknya.
Sofie berusaha tidak cemburu. Ia yakin pasti Shane akan lebih mencintainya.
Ia mencoba menjadi wanita tegar. Ia selalu ingat akan pesan Bibi Janet. Ia harus bisa mempertahankan rumah tangganya.
Walaupun Shane belum sepenuhnya bisa mencintainya dan menerimanya . Sofie pun berusaha lebih baik di hadapan pria dingin itu.
Karena kelelahan, Sofie pun tertidur. Shane selesai mandi. Ia melihat Sofie tertidur sangat lelap sekali.
Shane mengambil ponselnya. Ia melihat ada pesan dari Agnes. Ia langsung menghubunginya.
Sayup - sayup Sofie mendengarkan percakapan mereka. Sofie tahu, Shane sedang menelpon Agnes.
Sofie hanya mendengarkan kalau Shane mengatakan semua akan baik - baik aja. Dan kepergiannya ke Paris karena masalah bisnis.
__ADS_1
Sofie jadi sedih. Ia merasa dibohongi Shane. Shane mengatakan padanya kepergian mereka karena Shane ingin membahagiakan Sofie. Nyatanya, Shane mengatakan pada Agnes, kepergian ke Paris masalah bisnis.
Sofie heran, mana yang benar dari perkataan Shane.
Sofie pun bangkit dari tempat tidur. Ia mandi. Di kamar mandi, ia menangis. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Shane.
Sofie masih bertanya - tanya. Apa sebenarnya yang terjadi.
" Kamu da mandi?" Tanya Shane basa basi.
" Uda. Saya lapar..."
" Kamu lapar ya? ya da kita turun cari makan."
Sofie bersiap - siap. Dan mereka pun pergi mencari makan.
Dimalam hari kota Paris sangatlah indah sekali. Banyak lampu - lampu berwarna - warni. Cuaca yang dingin membuat Sofie harus menggunakan jaket tebal.
" Ternyata Paris itu sangat indah ya..."
'' Kamu suka?"
" Ya, saya suka sekali."
Shane melihat istrinya itu sangat bahagia sekali.
Mereka terus berjalan menyusuri kota romantis itu. Sesekali Sofie bernyanyi lagu romantis...
Shane hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Sofie seperti anak kecil yang bebas.
Shane terus memegang tangan Sofie. Sesekali juga ia mencium kening istrinya itu.
Sofie sangat bahagia sekali. Hingga ia lupa apakah Shane membawanya ke Paris untuk bersenang - senang atau karena bisnis.
Tibalah mereka di sebuah resto. Sofie kurang begitu menyukai makanan luar. Ia tidak tahu jenis makanan apa yang ia pesan, Sofie pun meminta pada Shane untuk memilih makanan yang pas dengan lidahnya.
Selesai makan, mereka melanjutkan berjalan menyusuri kota nan indah itu. Disepanjang perjalanan, Sofie tampak bahagia sekali.
Sesekali Shane menjahilinya, lalu memeluknya. Malam itu Sofie dan Shane tampak bahagia sekali.
Sudah larut malam, dan akhirnya mereka pun kembali ke hotel. Wajah Sofie tampak lelah.
" Shane, makasih ya..kamu uda menepati janji mu. "
" Ia, sama - sama. " Jawab Shane.
Rasanya seperti mimpi, Shane bisa sebaik itu pada Sofie.
" Kamu pernah ga nanya kabar Paman dan Bibi mu?" Tanya Shane
Sofie menggelengkan kepalanya.
" Kenapa?"
" Kenapa kamu tanyakan itu?"
" Ga, saya pengen tahu aja. Ntah kenapa saya jadi ingat Paman Sammy."
" Paman dan Bibi ga mau lagi bertemu dengan saya, Shane. Padahal saya sangat merindukan mereka. Tapi apakah Paman dan Bibi tahu, kalau saya menikah dengan mu?"
__ADS_1
" Mungkin tahu. Emang kenapa kalau mereka tahu? salah?"
" Hhmm..ga papa."