" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 47 " Dituduh Membunuh "


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Sofie berada di rumah sakit. Shane tidak perduli sama sekali bagaimana keadaan istrinya itu.Karena bagi Shane, ia ibarat makan si buah malakama.


Sofie tidak pernah menginginkan kehadirannya disana. Jika Shane datang menjenguknya, Sofie tidak pernah perduli, ia pasti akan tidur dan enggan untuk berbicara padanya.


Pagi ini, Bibi Janet telah selesai menyediakan sarapan. Tapi Tuannya itu belum juga keluar dari kamarnya.


Bibi Janet semakin sedih melihat keadaan rumah tangga majikannya itu. Bibi Janet pun naik keatas untuk memanggil Shane.


Tok..tok..tok...


" Tuan, sarapannya sudah selesai."


Bibi Janet masih sabar menunggu Tuannya itu. Sudah 5 menit berlalu, tak ada jawaban dari dalam. Bibi Janet mengulangnya lagi. Ia kembali mengetuk pintu kamar itu.


" Tuan Shane, apakah Tuan baik - baik aja?"


Lagi - lagi tak ada jawaban. Bibi Janet semakin khawatir.


" Tuan, Tuan Shane !"


Shane pun langsung membuka pintu kamar itu.


" Ya, Bi!"


"Syukurlah Tuan baik - baik aja didalam. Saya pikir tadi terjadi sesuatu di dalam kamar Tuan."


Shane terdiam. Ia tampak lesu, banyak beban pikiran yang menimpanya.


" Tuan, sarapanlah dulu. Nanti Tuan sakit, dari kemaren Tuan tidak mau makan sama sekali."


" Saya lagi ga selera makan, Bi. Bibi makan aja."


" Tuan, makanlah sedikit aja, jangan biarkan perut Tuan itu kosong, itu tidak baik, Tuan. Kalau Tuan sakit, bagaimana saya?"


"Bibi jangan ngomong gitu dong, saya belum lapar, Bi."


" Tuan mikiri nak Sofie?"


Shane terdiam.


" Ia, Bi. Sikap Sofie berubah, Bi."


Bibi Janet menangis.


" Bibi jangan nangis. Semua akan baik - baik aja, Bi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


" Tapi Bibi takut Tuan, Sofie jadi membenci Tuan Shane."


Shane tersenyum.


" Kalau Sofie membenci saya, saya ga perduli, Bi. Kalau itu yang membuat dia senang, ya terserah. Bibi jangan pikirkan semua ini, saya akan cari tahu siapa pelaku semua ini."

__ADS_1


" Tuan, pergilah melihat nak Sofie. Kalau pun dia tak suka kehadiran Tuan disana, tunjukkan Tuan kalau Tuan itu benar - benar perduli padanya."


" Ia, Bi. Nanti saya akan kesana. Bibi jangan khawatir ya, saya dan Sofie akan baik - baik aja. Doakan saya ya, Bi."


Bibi Janet menghapus air matanya dan ia pun pergi meninggalkan majikannya itu seorang diri.


****


Dion semakin memberikan perhatian yang lebih mendalam kepada Sofie. Ia selalu datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Sofie.


Dan hari ini Sofie sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Dion yang sedari subuh sudah berada di rumah sakit itu, karena Dion lah yang akan membawa Sofie pulang.


Sofie sudah mulai pulih, tapi ia belum bisa melupakan begitu saja kejadian yang menimpa dirinya. Apalagi harus kehilangan calon anaknya.


" Hari ini kita akan pulang. Saya akan merapikan semua barang - barang mu." kata Dion.


Sofie tersenyum.


" Makasih ya, saya uda buat kamu repot."


" Ga masalah. Oh ya, gimana suami mu? kenapa dia ga pernah datang ke sini?"


Sofie terdiam.


" Dion, saya jadi curiga sama Shane. "


" Curiga? kenapa?"


Dion terdiam.


" Kamu yakin? kamu yakin ini perbuatan suami kamu sendiri?"


" Ia, saya yakin."


Ketika Sofie dan Dion sedang asyik berbicara, Shane datang mengunjungi Sofie. Biar bagaimana pun, Sofie masih istrinya.


Pintu ruangan itu tidak terlalu tertutup rapat. Hingga Shane pun bisa mendengarkan percakapan mereka.


Betapa sedih hati Shane, ketika ia mendengarkan ucapan Sofie, istrinya itu. Sofie menuduh Shane lah pelaku semua ini.


" Sofie, jadi kamu nuduh saya? " Tanya Shane sambil melangkah masuk kedalam ruangan itu.


Sofie dan Dion sangat terkejut karena kehadiran Shane yang datang tiba - tiba ke ruangan itu.


Shane tersenyum.


" Pantesan aja sikap mu berubah Sofie, ternyata inilah alasannya mengapa kamu membenci saya. Apa karena lelaki ini? apakah dia yang uda menghasut kamu?" tanya Shane.


" Shane ? kamu salah paham." kata Sofie


" Salah paham gimana? saya uda mendengarkan semua percakapan kalian berdua. Itu artinya, kamu uda menuduh saya."

__ADS_1


Sofie terdiam .


" Ya, saya uda nuduh kamu. Dan kamu lah dalang semua ini, Shane. Kamu tahu? saya ga pernah punya musuh, tapi kenapa setelah menikah sama kamu, hidup saya hancur. Kamu masih ingat kan? setelah saya kenal sama kamu, hidup saya susah. Banyak masalah yang saya hadapi."


" Sof, sabar Sof, kamu harus tenang. Kamu jangan emosian kayak gini. Jaga kesehatan kamu." Titah Dion pada Sofie.


" Ga Dion, selama ini saya uda terlalu sabar melihat nya. Biar dia tahu, seperti apa dirinya. Dia pikir dia hebat, mentang - mentang punya segalanya, sesuka hatinya menghancurkan hidup orang lain. Shane, kamu uda membunuh anak kamu sendiri. Kamu lah dalang semua ini. Kamu harus mempertanggung jawabkannya."


Plakkk...


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Sofie. Dion pun sangat terkejut melihat sikap Shane itu.


" Jaga ucapan kamu Sofie. Kamu uda keterlaluan, kamu uda menuduh saya yang membunuh calon anak kamu. Kamu tahu kan? itu calon anak saya juga, darah daging saya. Bagaimana mungkin saya bisa membunuh darah daging saya, kamu keterlaluan Sofie. Saya ga nyangka seorang Sofie yang lemah lembut, sabar bisa seperti ini. "


" Kamu uda berani menampar saya?"


" Ia, saya berani menampar kamu, karena kamu uda keterlaluan. Kamu uda melewati batasan kamu."


" Shane seharusnya itu tidak kamu lakukan pada Sofie, Sofie itu istri kamu !" kata Dion meyakinkan.


" Jaga juga ucapan mu, kamu itu orang lain di kehidupan kita. Kamu ga usah ikut campur masalah ini." sahut Shane.


" Saya berhak ikut campur, Shane. Karena saya mencintai Sofie. Sofie memang ga layak hidup bersama mu, Shane." kata Dion


" Apa? kamu mencintai Sofie? hahahaha...ohh..bagus. Kamu mau Sofie? ambil. Silahkan ambil Sofie. Saya ga keberatan. Untuk apa saya punya istri seperti Sofie, sementara dia ga pernah percaya sama saya."


Shane menahan tangisnya.


" Saya akan laporkan kamu ke polisi Shane. " ancam Sofie.


" Silahkan, laporkan aja. Kalau kamu punya bukti, silahkan. Saya ga takut Sofie. Kalau itu yang membuat kamu senang, silahkan. Dan kamu Dion, kalau kamu mau mencintai Sofie, ambil. Dengan senang hati kalian bisa hidup bersama. "


" Silahkan kamu keluar dari kamar saya, Shane." titah Sofie.


" Ya, saya akan keluar."


" Saya akan urus semua surat perpisahan kita." kata Sofie.


" Surat perpisahan ?"


" Ya, saya akan pisah dengan kamu."


" Kalau itu yang kamu mau, silahkan. Saya permisi."


Shane pergi meninggalkan Sofie dan Dion. Dengan hati yang sangat terpukul, Shane harus menerima tuduhan dari Sofie. Shane tak menyangka kalau Sofie bisa menuduhnya.


Shane yakin pasti ada orang yang sudah menghasut Sofie, hingga Sofie bisa berani menuduh suaminya sendiri.


Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit itu, Shane terlebih dahulu membayarkan semua biaya rawat inap Sofie.


" Selamat pagi suster, saya Shane suami pasien atas nama Sofia Agatha. Saya mau membayar semua biaya perawatan istri saya."

__ADS_1


" Baik, Pak. Ditunggu sebentar ya, saya akan buatkan perinciannya."


__ADS_2