
" Sofie !" panggil Bibi Janet.
" Ia, Bi."
" Kamu itu seharusnya bersyukur, Shane mau membawakannya untuk mu.Ya, walaupun tidak sesuai !"
Sofie tersenyum.
" Ia, Bi. Bi, kita makan yuk, sepertinya wanginya enak sekali !"
Sofie dan Bibi Janet pun masuk kedalam rumah.
Shane yang telah selesai membersihkan tubuhnya, segera turun untuk makan malam.
Sofie telah selesai menghidangkan sajian makan malam. Shane melihat menu makan malam hari ini, sangatlah enak sekali.
Perut tengahnya pun mulai tidak bisa diajak kompromi. Sofie mengambil nasi dan beberapa lauk untuk suaminya itu.
Sofie pun menemaninya untuk menikmati makan malam itu.
" Kamu kenapa ga makan?"
" Sepertinya berat badan saya naik." jawab Sofie dengan wajah yang sedikit kesal.
" Oh..jadi karena itu!"
" Gimana makanannya? enak ga?"
" Ya, enak. Pasti Bibi Janet yang masak kan?"
" Sofie sayang, bukan Bibi Janet !"
Shane pun tersenyum. Ia pun menghabiskan makanannya.
" Malam ini kamu sibuk ga?" tanya Shane !
" Ya. Kenapa ?"
"Sibuk ngapain? nge Drakor lagi ?"
" Hahaha, kamu kok tahu sih !"
" Karena itu sekarang hobi baru mu !"
" Kamu mau ga ikutan nonton?"
" Ga ah. Kita ke kamar yuk !"
Shane langsung menarik tangan istrinya itu.
" Shane tangan saya sakit !"
" Uda buruan !"
Shane terus menarik tangannya.
" Kamu kenapa sih? lepaskan Shane !"
Mereka pun tiba di dalam kamar. Shane langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
Shane tersenyum.
" Duduklah, saya mau bicara !"
" Bicara apa?"
" Saya kangen sama kamu !"
" Ataga, kirain apa. Kamu ada - ada aja. Saya mau keluar , meja makan belum dirapikan." Sofie bangkit berdiri dan mencoba pergi.
__ADS_1
Shane langsung menarik tangan istrinya itu. Dan ia langsung mengecup bibir istrinya itu.
" Malam ini kamu harus melayani saya !" ucap Shane seakan tak mau melepaskan ciumannya itu.
Sofie terdiam. Ia tak bisa bergerak sama sekali. Sofie mendorong tubuh suaminya itu.
" Tapi meja makan belum dirapikan Shane !"
" Kan ada Bibi Janet."
" Bibi Janet belum tidur, apa katanya nanti jam segini kita sudah dikamar !"
Shane menarik nafas panjang. Ia merasa gagal untuk bercinta malam ini pada Sofie.
" Ya sudah turunlah, bantu Bibi Janet."
Sofie tersenyum dan memeluk suaminya itu.
" Ia, malam ini saya akan melayani mu, saya janji. Tapi saya akan membantu Bibi Janet terlebih dahulu."
Shane kembali tersenyum.
" Baiklah, saya akan tunggu dikamar !"
Sofie pun pergi. Sofie merapikan pakaiannya dan rambutnya. Shane mengambil remot tv dari atas nakas kamar itu dan ia menyalakan tv itu. Ia mencari - cari siaran yang ia sukai.
Sofie melihat kalau meja makan itu sudah rapi. Bibi Janetlah yang merapikannya.
" Bi, kenapa Bibi yang merapikan meja makan?"
" Ga apa - apa, nak !"
" Maaf ya Bi, tadi Shane mau ngomong sesuatu, katanya penting !" ucap Sofie berbohong.
" Ia nak, semoga saja ada berita baik ya!"
Sofie kembali ke kamarnya. Jantungnya berdetak semakin kencang, ia sangat gugup jika menghadapi suaminya itu. Sofie tidak pernah tahan dengan tatapan tajam mata suami tampannya itu.
Cklek....
Sofie membuka pintu kamar itu. Shane melihatnya dan ia tersenyum.
" Uda selesai ya?"
" Ia uda. Bibi Janet tadi yang merapikannya."
" Kamu lagi nonton apa?"
" Ini berita tentang Ukraina dan Rusia."
" Oh.."
Sofie melihat pintu lemari pakaian mereka sedikit terbuka. Ia pun melihatnya dan membukanya lebih lebar lagi dan ia melihat pakaian berserak semua.
" Kenapa seperti ini?"
Shane melihat ke arah lemari itu.
" Maaf, tadi saya buru - buru ngambil baju, jadi berantakan. Maaf ya!"
" Kamu itu, bisa ga sih rapi aja dikit?"
" Ga bisa sayang !" Shane tersenyum.
Sofie pun merapikan pakaian - pakaian itu. Shane mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
" Sesuai janji kamu tadi, kamu harus melayani saya !"
Jantungnya semakin berdetak kencang, ia pikir Shane lupa untuk memintanya. Sofie pun menurutinya. Malam itu adalah malam yang indah buat pasangan ini.
__ADS_1
****
Malam itu Paman Sammy mendatangani markas milik Shane. Ia mencoba membuka pintu markas itu. Ia dibantu oleh Mark dan Berry.
Pintu markas itu sangatlah susah untuk dibuka. Mark pun mencoba menghancurkannya dan akhirnya pintu markas itu pun dapat terbuka.
Betapa senangnya Paman Sammy, akhirnya ia dapat mengambil semua senjata - senjata itu. Dalam benaknya hanyalah uang dan kekayaan.
Mark dan Berry langsung mengambil senjata senjata itu. Malam ini mereka akan membawanya ke tempat tersembunyi.
" Rasain kamu Shane , kamu uda berani melawan saya !" gumam Paman Sammy.
Senjata - senjata itu pun habis tak bersisa. Paman Sammy lupa kalau ruangan itu di penuhi oleh CCTV.
Karena ketamakannya lah , ia pun lupa akan pengamanan ruangan itu. Ruangan itu juga di lengkapi dengan sensor. Sensor tersebut akan terhubung ke ponsel milik Shane.
Mereka pun buru - buru meninggalkan markas itu. Berry menutup kembali markas itu dengan rapi, seperti tidak ada congkelan.
" Kita akan kaya....!" teriak Paman Sammy.
Mark dan Berry hanya bisa tersenyum.
****
Selesai bercinta, Shane melihat ponsel miliknya. Ia melihat jika markas dalam keadaan tidak baik.
Ia pun mulai marah. Ia langsung bersiap - siap pergi ke markas untuk melihat yang terjadi.
Sofie melihat jika Shane tidak dalam keadaan baik - baik saja. Ia pun mulai bertanya mengapa sikap Shane mulai berubah.
" Kamu kenapa? ada masalah?"
" Ya, masalah besar. Saya harus pergi ke markas sekarang juga."
" Tapi ini sudah malam, kamu masih lelah !"
" Ga papa Sofie, markas dalam keadaan bahaya. "
" Keadaan bahaya? apa yang terjadi?"
" Maafkan saya Sofie, tapi senjata - senjata saya diambil pencuri."
Sofie sangat terkejut sekali mendengar ucapan suaminya itu.
" Kenapa tidak ada yang menjaganya?"
" Siapa lagi yang menjaga? semua anak buah saya telah pergi."
" Shane, ini uda malam. Saya ikut ya!"
" Ga, kamu dirumah aja !"
" Saya ikut, saya akan temani kamu !"
" Sofie ?"
" Shane, saya ga akan biarkan kamu pergi sendiri. Kalau pencuri - pencuri itu ingin mencelakai kamu, gimana?"
Shane terdiam. Ia merenungi kata - kata istri nya itu. Ada benarnya juga jika Sofie ikut. Apalagi ini sudah malam, karena markas itu terletak di tengah hutan kecil.
" Saya ikut ya?" ucap Sofie memohon dengan sangat.
" Ya uda, kamu ikut. Kamu pakai jaket ya ! disana dingin. "
Sofie langsung mengambil jaketnya dan langsung memakainya. Shane juga tak lupa mengambil sebuah pistol dari laci lemarinya. Sofie pun terkejut melihat pistol itu.
Setelah meminta ijin pada Bibi Janet, mereka pun pergi. Shane hanya diam saja. Dari dalam hatinya, ia sangat terpukul karena Paman Sammy mencuri senjata - senjata itu.
Shane tidak memberitahukan jika Pamannya lah yang mencuri senjata - senjata itu. Shane sangat menjaga perasaan ponakannya itu. Dan ia juga tak akan pernah memberitahukan siapa pencurinya. Biarlah ini menjadi rahasianya.
__ADS_1