" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 108 " Hampir Ketahuan "


__ADS_3

Siang itu, ntah kenapa Shane ingin pulang kerumah. Tanpa memberitahukan Sofie terlebih dahulu.


Kris melihat kalau Shane seperti buru - buru pergi. Ia pun menghampirinya.


" Bos, mau kemana? kok buru - buru ?"


Shane tersenyum.


" Pulang bentar !"


" Hhmm..masih siang juga, uda ga tahan ya?" ledek Kris.


" Apa'an sih Kris?"


" Ya tumben aja jam segini pulang, kangen ya? hahaha..."


" Kamu itu ada - ada aja ya, ada berkas yang ketinggalan,"


" Oh...kirain minta jatah, siang bolong mana asyik,"


" Makanya punya pikiran itu jangan ngeres aja, titip kantor ya, kalau ada apa - apa hubungi,"


Kris pun tersenyum sambil mengangguk pelan. Shane langsung pergi meninggalkan kantor.


Di sepanjang jalan, Shane selalu mengingat dan memikirkan ucapan teman klien nya itu, Pak Bryan. Mereka menikah didasari harta, bukan karena cinta. Ternyata sakit sekali hidup bersama tanpa saling mencintai.


Shane tidak mau dalam rumah tangganya seperti kisah klien nya itu, ia ingin bersama Sofie hidup berdasarkan cinta yang tulus, saling mencintai, dan menerima segala kekurangan masing - masing.


Shane harus berhenti di lampu merah. Ia melihat sekelilingnya. Dari jauh ia melihat Sofie sedang berjalan di trotoar, ia menggunakan sebuah payung, karena cuaca saat itu amatlah panas.


Karena baru saja lampu merah, Shane menerobos nya, dan segera mengejar Sofie. Ia langsung menepikan mobilnya. Turun dan segera mengejar Sofie.


" Sofieeee...!" panggil Shane


Sofie pun menoleh. Melihat suaminya ada di belakang, ia langsung gugup dan wajahnya merah merona. Ia langsung menyembunyikan buku panduan mengajar nya.


" Kamu dari mana?" tanya Shane


" Saya ? saya dari supermarket !"


" Sofie, kenapa ga naik taxi aja? kalau kamu sakit gimana? cuaca nya panas sekali !"


Sofie tersenyum.


" Ga papa, uda biasa kok. Trus, kamu mau kemana?" tanya Sofie


" Ke rumah !"


" Ngapain?"


" Ada berkas yang ketinggalan,"


" Kenapa ga kasih kabar kalau mau kerumah !"


" Hhmm..lupa. Katanya kamu dari supermarket, beli apa?"


" Heheh, mau cari cemilan, tapi keburu habis."


" Habis ?"


Sofie menganggukan kepalanya.


" Ya uda kita pulang bareng !" ajak Shane


Sofie kembali menganggukkan kepalanya.


" Lihat tu wajah kamu, merah kan? kena panas !" ucap Shane sambil memberikan tissue


" I..i..ia..ia..!" sambil menyeka keringat yang membasahi pelipis wajahnya.

__ADS_1


" Kok gitu jawabnya?"


" Ia..habisnya panas sekali !"


" Makanya kamu dirumah aja, ga usah pergi kemana - mana, ginikan jadinya !"


Sofie tidak memperdulikan ocehan suaminya itu. Ketika Sofie mau masuk kedalam mobil, tiba - tiba saja buku panduan mengajarnya jatuh, dan Shane melihatnya dan mengambil buku tersebut.


" Apa ini ? buku?"


Sofie langsung merampasnya.


" Ia, tadi saya ketemu teman waktu ngajar dulu, dia kembaliin ini !"


" Kamu ga bohong ?"


" Ga, ngapain juga saya bohong. Emang kayak kamu, suka bohong ?"


" Bohong apa?"


" Katanya banyak kerjaan, waktu buat istrinya aja ga ada !"


Shane hanya diam.


" Uda ga usah bawel, " ledek Shane.


Shane langsung menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju dengan kecepatan tinggi agar cepat tiba dirumah.


" Pelan - pelan dong !" ucap Sofie


Shane pun mengurangi kecepatan mobilnya.


" Kamu masak apa? kenapa ga pernah lagi ngantar makanan ke kantor?" tanya Shane


" Saya ga masak, tunggu pulang kamu kerja aja saya masaknya, lagian saya malu kalau tiap hari ngantar bekal siang ke kantor kamu !"


" Kenapa malu?"


" Ga usah sedih gitu, biasa aja . Oh ya, kamu betah ga di mansion sendirian?"


Sofie menggelengkan kepalanya.


" Kenapa? semua fasilitas kan lengkap,"


" Kita pindah aja dong !"


Ciiiitttt...Shane menghentikan laju mobilnya.


" Pindah ? kamu bilang kita pindah ?"


" Ia, pindah. Hunian itu terlalu besar, serem. Kenapa ga pilih aja yang biasa - biasa, sederhana gitu !"


" Sofie, itu saya beli kelak biar anak - anak kita bisa sepuasnya menikmati fasilitas yang ada !"


" Anak? kamu aja tiap malam pulang malam, kadang larut malam juga !"


" Sofie, saya ga mau berantem. Saya memang banyak kerjaan !"


" Ahh...itu akal - akalan kamu aja, "


" Oke, besok kamu ikut kekantor, biar kamu lihat kerjaan saya itu banyak banget, "


" Ga ah, males. Ntar kamu dekat - dekat sama Sonya, mending saya ngaja - rrrr..." Sofie menghentikan ucapannya.


" Ngajar ? ngajar apa?"


" Hhmm..ga..ga...maksud saya mending saya dimansion aja, karokean, renang, masak ,"


" Emang kamu bisa renang?"

__ADS_1


" Udahhh..ga usah ngejek, pake senyum - senyum lagi !"


" Ia..ia...bawel,"


Sofie pun terdiam. Hampir aja Sofie keceplosan ngomong kalau ia mengajar les.


Shane pun kembali melajukan mobilnya. Sofie ingin sekali memberitahukan tentang apa yang sudah ia lakukan, tapi ia takut Shane marah. Ntah sampai kapan Sofie membohongi suaminya sendiri.


Sofie benar - benar bingung. Ia takut kalau suatu saat akan ketahuan, tapi Shane benar - benar tidak memberikan ijin pada Sofie untuk bekerja.


Terkadang Sofie menangis, meratapi keadaannya. Ia juga tidak begitu yakin pada suaminya sendiri, karena akhir - akhir ini, Shane selalu pulang larut malam. Ia takut kalau Sonya mendekatinya. Tapi Sofie menyembunyikan rasa cemburunya.


****


" Sayang kamu cepatan pulang dong ! ada surprise buat kamu !" ucap Agnes dalam telponnya.


" Ya, saya akan usahakan. Emang apa sih? buat penasaran aja !"


" Ini surprise lho sayang , kalau dikasih tahu bukan surprise namanya !"


" Ia...ia..ia...saya ngerti. Nanti saya usahain cepat pulang ya !" ucap Dion dari sebrang telpon.


Mendengar ucapan Dion, Agnes merasa sangat bahagia sekali. Betapa tidak, sekarang Agnes telah hamil muda. Pastilah Dion sangat senang mendengarkan kabar baik ini. Tiba - tiba saja, Agnes teringat akan Sofie. Agnes penasaran gimana sekarang keadaan Sofie, apakah ia juga sudah hamil atau belum.


Ingin sekali rasanya bertemu dengan wanita itu. Agnes ingin memamerkan hasil fhoto USG bayi nya. Agnes pun merencanakan sesuatu agar ia bisa bertemu dengan Sofie.


Agnes adalah wanita yang tidak bisa di saingi dalam kehidupannya. Walaupun ia tahu Sofie dan Shane itu tinggal di sebuah mansion, bukan berarti Sofie bisa hidup bahagia.


Agnes sama saja dengan Bibi Marry, tidak menyukai dan sangat membenci Sofie. Mereka sangat menginginkan Sofie itu hidup menderita dan sengsara.


Agnes semakin yakin kalau Dion sudah melupakan Sofie. Karena ia tak pernah lagi melihat kalau Dion itu galau atau pun bersedih.


Dan waktu yang di nantikan pun tiba. Dion kembali dari kantor. Agnes sudah menunggunya di depan rumah.


" Hai sayang, selamat sore !" sapa Agnes dengan manisnya.


" Hai juga !" jawab Dion tanpa basa - basi.


" Kok lemes sih ?" tanya Agnes


" Capek, "


" Kalau kamu ga semangat , gimana saya mau kasih tahu surprise nya ?"


Dion mencoba tersenyum, walau dengan paksaan.


" Surprise apa?"


" Ini. Sekarang kamu bukalah !"


" Amplop?"


Agnes menganggukan kepalanya. Dion pun membuka amplop itu.


" Test pack ?"


" Ia, "


" Ini punya kamu?"


" Ia dong sayang, masa punya orang !"


" Kamu hamil ?"


" Ia, saya hamil anak kamu !"


" Serius ?"


" Ia, serius. Kamu lihat lagi, itu ada hasil fhoto USG anak kita !"

__ADS_1


Dion mengambilnya dan melihat fhoto USG bayi mereka. Dion pun tersenyum dan langsung memeluk Agnes. Ternyata Dion masih memikirkan Sofie.


" Bagaimana Sofie? apakah ia sudah hamil juga?" gumam Dion.


__ADS_2