" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 98 " Percobaan Bunuh Diri "


__ADS_3

Sofie tiba dirumahnya, ia terus menangis. Ia sangat kecewa, karena Dion menggantikan namanya diundangan itu menjadi nama Agnes.


Merasa di buang begitu saja, ia pun tidak terima akan sikap Dion. Sofie mencoba pergi ke dapur, ia mencari pisau. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Ia malu pada semua orang, karena tidak jadi menikah dengan Dion. Padahal semua sudah banyak yang mengetahui tentang rencana pernikahannya.


Termasuk teman - teman sesama guru, mereka sering membicarakan dan mengolok - olok tentang kehidupan Sofie. Selama ini Sofie tetap diam, walaupun banyak hinaan yang ia terima.


Tidak mempunyai keluarga lagi, semakin membuat Sofie bersedih, ia tidak tahu harus berbuat apa. Hidupnya merasa hampa, tidak ada lagi yang bisa memeluknya disaat ia bersedih. Sejenak ia mengingat akan Bibi Janet, hanya wanita paruh baya itu saja yang bisa mengerti akan perasaannya.


****


Dion merasa sangat khawatir akan keadaan Sofie. Ia menghubungi Shane. Ia meminta padanya agar segera datang menemui Sofie.


Dion menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar penjelasan dari Dion, Shane pun marah dan menjadi kesal.


Shane langsung menutup ponselnya. Lalu ia pun pergi ke rumah Sofie. Mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi. Shane tidak perduli akan keselamatannya. Ia hanya khawatir akan keadaan Sofie.


Shane takut kalau Sofie melakukan sesuatu yang akan mengancam nyawanya. Perasaannya pun semakin tidak tenang, ia mencoba menghubungi Sofie tapi tidak ada sama sekali jawaban.


Shane menambah kecepatan laju mobilnya. Banyak mobil yang menepi karena ulah Shane. Tidak hanya menepi, tapi banyak yang marah, tapi Shane tidak perduli.


Akhirnya Shane pun tiba dirumah kontrakan itu. Tanpa menunggu lama, Shane langsung mendobrak pintu rumah itu.


Braaaakkkk....Pintu terbuka.


" Sofieeeee....Sofieee.....kamu ada dimana?"


Shane masuk ke kamar, Sofie tidak ada disana. Lalu ia pergi ke dapur, disana juga tak ada. Satu - satunya adalah di dalam kamar mandi.


Shane mencoba membuka pintu itu, tapi sayangnya pintu itu dikunci. Shane semakin yakin, kalau Sofie ada di dalam kamar mandi itu.


" Sofieee....ini saya Shane, tolong kamu bukain pintunya !"


Sofie hanya diam. Shane hanya mendengarkan suara tangisan Sofie.


" Sofie, kamu dengar saya kan? ayo bukain pintunya, saya mohon !"


Karena pintu tidak dibuka juga, Shane pun mendobrak pintu kamar mandi itu.


Braaaakkkk...pintu kamar mandi terbuka. Disudut kamar mandi, Sofie berdiri dengan memegang pisau dapur.


" Sofie, apa yang kamu lakukan?" tanya Shane sambil mencoba menenangkan Sofie. Sofie terus menangis. Ia tidak perduli apa kata Shane.


" Sofie, dengarkan saya, tolong kamu lepaskan pisau itu, itu bahaya, itu akan membahayakan diri mu. Ayo lepaskan, Sofie !"

__ADS_1


" Gaaaaa...saya ga mau melepaskan pisau ini, saya mau mati aja !"


" Hanya karena tidak jadi menikah dengan Dion, kamu akan mencelakai diri mu sendiri?"


Tangisan Sofie semakin pecah.


" Sofie, ayo lepaskan pisau itu, kamu masih punya saya, kita bisa kembali rujuk kan?"


Sofie menggelengkan kepalanya. Sofie terduduk dilantai kamar mandi itu.


" Sofie, jangan celakai diri mu hanya karena masalah, " Shane mengulurkan tangannya.


Lagi - lagi Sofie tidak mendengarkan ucapan Shane. Ia masih saja menangis.


" Kamu bilang, kamu ga bisa melupakan saya, kamu bilang kamu masih mencintai saya. Baiklah, kalau begitu silahkan celakai diri mu, saya ga akan menghalangi mu. Permisi !"


Shane pura - pura pergi, ia berharap Sofie segera berlari menyusulnya. Melihat Shane pergi, Sofie pun mengurungkan niatnya menyakiti tangannya. Ia berlari keluar dan mengejar Shane.


" Shaneeeee....!"


Mendengar nama nya dipanggil, Shane menoleh dan langsung memeluk Sofie.


Pelukan yang begitu erat, air mata Shane pun berlinang melihat kepahitan yang dialami Sofie.


" Ya, saya ga akan pergi ninggalin kamu, asal kamu janji jangan pernah celakai diri mu lagi, itu bukan jalan terbaik, Sofie !" Shane kembali memeluknya.


Sofie pun menganggukkan kepalanya. Shane melepaskan pelukannya, ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil pisau itu.


Shane membawa Sofie ke rumahnya. Ia tidak mau membiarkannya sendirian dirumah itu. Ia takut kalau Sofie akan mengulangi perbuatan itu lagi.


Awalnya Sofie tidak mau ikut, tapi Shane terus membujuknya. Dan akhirnya, Sofie pun luluh, ia pun ikut kerumah mantan suaminya itu.


****


Dion juga tidak tenang dengan keadaan Sofie. Ia merasa bersalah telah mengganti nama di undangan itu. Seharusnya terlebih dulu, ia membicarakan ini pada Sofie, tapi karena ide Mama Sarah, kakaknya, Dion pun menurutinya.


Ia pikir dengan ide kakaknya itu sudah benar dan nyatanya malah membuat Sofie bersedih.


Dion mengambil ponselnya, ia menelpon Sofie, tapi ponsel Sofie tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Shane.


" Shane, gimana keadaan Sofie, apa dia baik - baik aja?"


" Sofie baik - baik aja." jawab Shane. Ia tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


" Oh sykurlah."


Percakapan pun terputus. Shane menghela nafasnya dalam - dalam. Ia melihat Sofie sudah tidur dengan nyenyak, ia begitu lelah, wajahnya sedikit pucat. Shane mengambil jacket dari seat belakang, lalu menyelimuti Sofie dengan jacket itu.


****


Agnes melihat kalau Dion sedang gelisah.


" Kepikiran sama Sofie?" tanya Agnes.


Dion menatap Agnes, sedikit tersenyum.


" Ga sayang, hhmm..saya mikirin kedepannya kita gimana?"


" Kamu ga usa bohong, saya tahu. Mana ada wanita yang tinggal diam kalau namanya diganti di kartu undangan , itu akan membuat dia sakit hati, sedih. Dan kamu, kamu kepikiran kan sama Sofie?"


Dion terdiam.


" Kamu ikhlaskan kan melepaskan Sofie?"


" Kok kamu jadi ngomong kayak gini?"


" Ya ialah, saya juga punya perasaan. Kamu pikir saya ga cemburu kalau kamu itu khawatir sama Sofie?"


Dion tersenyum.


" Maaf, Nes. Tapi saya beneran kok ga ada mikirin Sofie. Saya akan fokus dengan hubungan kita, dengan rencana kita."


" Saya pegang ucapan kamu. Banyak perubahan yang saya lakukan, itu semua karena kamu. Jadi, saya ga mau kamu itu sibuk mikirin wanita itu."


" Nes, pliss..jangan pernah salahkan Sofie, ini semua salah saya. Saya uda terlalu banyak berharap padanya."


" Berharap banyak, tapi nyatanya dia ga pernah kan cinta sama kamu. Kamu sih ke pedean."


" Ia, saya memang kepedean mencintai wanita yang jelas - jelas ga pernah bisa menerima saya. Asal kamu tahu, tapi saya banyak belajar dari Sofie. Maaf, bukan mau membandingkan dia sama kamu, tapi dia adalah wanita yang tingkat kesabarannya sangat luar biasa. Kamu tahu, banyak masalah yang dihadapinya, tapi dia tetap bisa menahan dirinya untuk tetap tenang."


" Emang kamu tau dibelakangnya?"


" Masalah tahu atau tidak tahu, tapi Sofie memang anak yang luar biasa. Kamu harus bisa seperti dia !"


" Apa? kamu nyuruh saya untuk bisa seperti Sofie? ngaca dong kamu !"


" Terserah kamu, saya hanya bisa kasih contoh yang baik. Kalau kamu mau, kamu bisa melakukannya. Itu hak mu. "

__ADS_1


Merasa di bandingkan dengan Sofie, Agnes pun tidak terima. Ia marah pada calon suaminya itu.


__ADS_2