
Pagi ini Sofie tidak pergi mengajar, karena Shane melarangnya. Ia takut kalau terjadi lagi penculikan istrinya itu.
Shane sangat berharap , Sofie mau meninggalkan pekerjaannya itu. Tapi sayangnya, Sofie belum mengiyakan permintaan suaminya.
Karena Sofie telah berjanji akan terus mengajar demi anak - anak bangsa.
Menjadi seorang guru, adalah cita - citanya sejak kecil. Dan untuk mendapatkan gelar seorang guru, baginya tidaklah mudah. Semua penuh perjuangan, apalagi Sofie dulunya bekerja sambil kuliah.
Tak sedikit pun Paman atau Bibi nya membantunya. Ia berjuang sendiri demi masa depan yang gemilang.
Setelah mendengar penjelasan Sofie, Shane pun terdiam. Ia tak bisa berbuat apa - apa. Shane hanya takut dan khawatir akan keselamatan istrinya itu. Shane tidak bisa selamanya menjaga Sofie.
Pagi itu, Sofie hanya mengurung diri dikamar. Ia masih saja ketakutan, sering menangis dan menjerit. Sepertinya pikirannya sedikit terganggu.
Shane mencoba menenangkannya, tapi Sofie tetap saja bertingkah layaknya orang yang sedang ketakutan.
Melihat sikap Sofie seperti itu, Shane merasa sedih. Ini semua murni karena kesalahan Shane. Shane benar - benar menghancurkan masa depan Sofie.
Shane memeluk erat tubuh istrinya itu. Tapi Sofie mencoba menghindar. Sepertinya Sofie enggan melihat orang.
Shane mencoba menghubungi salah satu Dokter kenalannya. Ia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu.
" Apa yang harus saya lakukan, Dok?" tanya Shane
" Coba bawa Sofie kontrol ke tempat praktek saya, saya akan periksa kejiwaannya."
" Begitu ya, Dok. Baiklah, hari ini juga saya akan membawa Sofie !"
Telpon pun terputus. Shane mencoba membujuk Sofie supaya ikut dengannya.
Sofie langsung saja berteriak sekencang - kencangnya, ia kembali menangis, ia pun menghancurkan barang - barang yang ada dikamar itu.
" Kamu pikir saya uda gila? hah....!" bentak Sofie sambil menarik seprey tempat tidur itu.
" Sofie, kita hanya periksa aja, biar kamu tenang !"
" Ga, saya ga mau diperiksa, saya ga gila !"
" Yang bilang kamu gila itu siapa? kamu ga gila, kita hanya pergi untuk melihat keadaan kamu."
" Ga, nanti di luar sana ada yang menculik saya, saya ga mau mati, saya masih mau hidup."
__ADS_1
" Sofie kamu tenang. Kan ada saya, suami kamu !"
" Ga..ga..ga..saya ga mau. Saya takut, saya takut ada bom itu lagi."
" Sofie, kamu ga boleh ingat kejadian itu lagi ya !"
" Saya ga akan bisa melupakannya, saya takut, hiks..hiks..hiks..hiks.."
Shane kembali memeluk istrinya itu. Dan tak berapa lama, Sofie kembali berteriak sekeras - kerasnya. Sofie melepaskan pelukan suaminya itu. Ia langsung mengambil selimut dan menutupi dirinya dengan selimut itu.
Melihat kejadian itu, Shane langsung panik. Shane takut kalau Sofie terganggu kejiawaannya.
" Sofie, sayang, kamu mau ngapain? ayo lepaskan selimutnya !"
" Pergiiiiiii...pergi dari sini..saya ga mau melihat kamu. Kamu jahat, kamu mau membunuh saya, pergiiiiiiiii...!"
" Sofie, ini suami kamu. Sofie, ayo lepaskan selimutnya, kemarilah !"
" Ga, kamu pergi, kamu pergi saya bilang, ayo pergiiii...!"
Shane begitu khawatir akan keadaan Sofie. Ia semakin yakin, kalau Sofie tidaklah seperti Sofie yang dulu. Pikiran Sofie sedikit terganggu, karena kejadian itu.
Shane menemui Bibi Janet. Ia pun menceritakan apa yang telah terjadi pada Sofie. Bibi Janet tidak percaya dengan apa yang dikatakan majikannya itu.
" Tuan, jadi bagaimana sekarang kondisi Sofie?"
" Ntahlah Bi, saya juga ga ngerti. Sofie semakin bertingkah aneh, suka marah, suka menghancurkan barang - barang, menangis, lalu tertawa, Bi !"
" Apa? Ya Tuhan, kenapa Sofie bisa seperti ini?"
" Mungkin karena penculikan itu, Bi !"
" Tuan, apa ga sebaiknya Sofie dibawa ke rumah sakit aja?"
" Belum Bi, saya akan tunggu jawaban dari Dokter Pram. Dokter Pram akan datang kerumah. "
Tak berapa lama, Dokter yang dimaksudkan Shane pun tiba. Shane langsung membawa Dokter itu ke kamar mereka. Disana ia melihat Sofie dalam keadaan ketakutan.
" Selamat pagi, Nyonya Sofie !"
Sofie membuka selimut itu perlahan - lahan. Sofie kembali ketakutan. Ia menjerit dan menyuruh Dokter itu untuk pergi. Sofie tak mau di periksa oleh orang yang tidak ia kenal.
__ADS_1
" Dokter lihat sendirikan? Sofie suka marah, nangis, teriak - teriak ga jelas."
" Ia Pak, sepertinya ada sedikit gangguan dalam pikirannya. Psikologisnya terganggu. Ya itu tadi, cemas, takut, nangis, marah dan suka melempar barang. "
" Jadi gimana Dok solusinya ?"
" Kita harus melakukan hipnoterapi, agar Sofie bisa kembali normal lagi. Sekarang dia benar - benar down. Masalah yang ia hadapi begitu besar, sulit untuk di lupakannya. "
Dokter itu pun menjelaskan lebih detail lagi masalah yang dihadapi Sofie. Setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter, Shane semakin geram melihat ulah Paman nya.
Shane tetap sabar, dendam akan segera terbalaskan. Ia sudah muak dengan sikap Paman Sammy. Shane pun mencari jalan, gimana caranya balas dendamnya berjalan dengan lancar.
Dokter Pram menyuntikkan obat penenang pada Sofie. Tak berapa lama, Sofie pun tertidur dengan nyenyak nya. Dokter itu pun kembali pulang. Shane masih tak percaya, Sofie bisa mengalami gangguan kejiwaannya.
Shane meminta pada Kepala Sekolah dimana Sofie mengajar, agar untuk sementara waktu, Sofie harus istirahat. Shane menceritakan tentang penculikan itu, hingga membuat Sofie trauma.
Kepala Sekolah itu pun memberikan ijin, dan ia juga sangat prihatin akan kejadian yang telah menimpa Sofie.
****
Paman Sammy masih bertanya - tanya siapa yang telah berhasil melepaskan Sofie. Sejenak terlintas dipikirannya, Shane. Shane tidak mengetahui dimana Sofie di tahan. Sangat mustahil jika Shane mengetahuinya.
Paman yang sangat kejam. Ia belum puas untuk menyakiti hati Sofie. Ia sangat berharap, Sofie dapat kembali diculik dan kali ini tidak akan pernah lepas.
Mengikuti ide istrinya sendiri, malah membuatnya menjadi pusing. Setiap kali ingin mencelakai Sofie, selalu saja gagal.
Jason melihat kalau Papanya begitu khawatir. Ia melihat Papanya sering menyebut nama Sofie.
Jason anak yang bijak. Ia juga pernah mendengarkan kejahatan kedua orang tuanya pada keluarga Sofie.
Sebenarnya Jason telah mengetahui kalau orang tuanya adalah penjahat. Tapi Jason tidak mempunyai nyali untuk melawan Papa dan Mamanya.
" Ternyata Papa sangat membenci Tante Sofie, apa salah Tante Sofie ya? kenapa begitu bencinya Papa dan Mama pada Tante Sofie? apa sebenarnya yang telah di lakukan Tante Sofie?" Gumam Jason.
Walaupun Jason masih tergolong anak kecil tapi ia tahu, perbuatan mana yang benar dan tidak benar.
Jason ingin sekali menceritakan ini semua pada Tante nya itu. Tapi ia tak tahu alamat rumah Tante nya itu.
Semenjak perbuatan kedua orang tuanya diketahui Jason, Jason sekarang lebih suka mengintip dan menguping pembicaraan Papa dan Mama nya itu. Semua percakapan kedua orang tuanya itu selau ia rekam .
" Maaf kan Jason Pa, Ma, tapi ini semua Jason lakukan karena Jason sayang sama Tante Sofie. Dialah segala - galanya buat Jason.
__ADS_1