
Hari pun semakin sore. Shane mengajak pulang istrinya itu. Tapi Sofie tidak mau pulang sama sekali. Ia masih saja menangis mengingat akan kedua orang tuanya yang telah lama meninggalkannya.
Bertahun - tahun ia mencari dimana makam kedua orang tuanya, dan akhirnya ia menemukan kalau makam kedua orang tuanya ada di pulau kecil yang tak berpenghuni.
Sungguh sangat kejam jika Paman dan Bibi nya benar menguburkan orang tua nya di pulau itu.
Shane belum mengatakan kalau pembunuh kedua orang tuanya adalah Paman nya sendiri. Shane tidak mau mengatakan rahasia terbesar itu semuanya.
" Sofie, masih banyak waktu, kita akan datang ke pulau ini lagi !" ucap Shane
" Ga, saya akan tetap disini."
" Sofie, disini itu ga ada orang, kalau pun kita tinggal disini, ga ada penerangan sama sekali. "
" Saya ga perduli."
" Jadi kamu benar ga mau pulang?"
Sofie menghentikan tangisannya.
" Sofie, ga ada artinya terus - terusan menangis, yang ada kamu nanti jatuh sakit. Sekarang kita uda tahu, kalau orang tua mu ada disini. Kita bisa sesering mungkin ke sini untuk melihat mereka. Kamu yang sabar ya !"
" Kamu bisa seenaknya bilang sabar, bertahun - tahun saya mencari mereka, Paman dan Bibi juga ga mau kasih tahu dimana makam mereka, jadi ya wajarlah saya seperti ini, saya sangat terpukul. Dari kecil saya uda ditinggalkan orang tua saya, saya ga kenal mereka, saya ga pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka."
" Ia, saya tahu. Tapi sampai kapan kamu harus bersedih?"
" Saya berhenti bersedih sampai saya tahu siapa yang uda membunuh orang tua saya."
" Kamu ingin membalaskan dendam mu?"
Sofie menatap tajam suaminya itu.
" Ia, saya akan balas dendam."
" Bukannya kamu tipe orang yang ga mau membalas dendam pada siapa pun?"
" Tapi masalahnya ini orang tua saya !"
" Baiklah. Suatu saat kamu akan tahu siapa yang telah membunuh orang tua mu. Sekarang kita pulang, hari semakin sore !"
Shane meninggalkan Sofie, lalu Sofie pun mengikutinya dari belakang. Pengemudi Speedboat itu pun menghidupkan mesinnya. Lalu mereka pun pergi meninggalkan pulau kecil itu.
Dari kejauhan, pulau itu sangat indah sekali. Tapi didalamnya menyimpan misteri yang belum terkuak sama sekali.
Shane tahu perasaan Sofie sekarang bagaimana, pastilah ia begitu kecewa. Tapi Shane tidak akan tinggal diam, perlahan ia akan membalaskan dendamnya, ia akan membantu istrinya itu untuk membalaskan dendamnya.
Shane tidak mau terburu - buru, karena ia akan bermain dengan cantik untuk membalaskan dendamnya.
Shane juga meminta pada Jason, untuk mengirimkan ulang hasil rekaman yang dulu pernah Jason kirim ke ponsel Sofie.
Tanpa menunggu lama, Jason anak yang pintar itu pun mengirimkan rekaman itu kepada Shane. Begitu juga Kris, ia berani bersaksi bahwa Paman Sammy lah dalang semua ini.
Bulan depan adalah ulang tahun anniversary Shane dan Sofie. Tidak terasa mereka telah 2 tahun mengarungi bahtera rumah tangga.
Shane pun mengatur semua rencana. Rencana yang dibuat Shane, tidak akan diketahui semua orang terlebih Sofie, istrinya itu. Shane akan mengatur semua nya.
__ADS_1
Shane selalu mencoba menenangkan istrinya itu. Banyak cara yang dilakukan Shane agar Sofie bisa seperti Sofie yang dulu lagi.
Karena sudah hampir seminggu Sofie ijin tidak mengajar, kali ini ia pun mulai kembali mengajar lagi. Sofie benar - benar berubah. Ia menjadi anak yang pendiam, terkadang ia suka melamun dan menangis. Shane sangat memakluminya.
" Kamu mau diantar kerja ga?" tanya Shane
" Ga, terimakasih !"
" Kamu tahu ga, kemaren malam saya jatuh. Tangan saya sedikit sakit. Saya takut tangan ini tidak akan seperti dulu lagi." ucap Shane, dan sebenarnya Shane tidak lah jatuh, ia berbohong. Ia ingin mengambil hati istrinya itu, Shane ingin mendapatkan perhatian lebih dari Sofie.
Mendengar ucapan suaminya itu, Sofie pun mulai panik. Sofie paling takut kalau sudah masalah sakit, apalagi jatuh.
" Kamu jatuh dimana?"
" Dekat kolam."
" Coba saya lihat tangan kamu !"
Shane memberikan tangannya untuk dilihat Sofie.
" Wah benar, ini sedikit agak memar. Saya obati dulu ya !"
" Ga usah, saya ga mau kalau kamu itu ngobati saya ga ikhlas."
" Ga ikhlas gimana?"
" Wajah kamu aja cemberut."
" Kamu itu ada - ada aja. Jadi wajah saya harus gimana? harus senyum bahagia disaat kamu sakit?"
" Saya ga berubah kok, tetap Sofie yang dulu. Tunggu sebentar, saya akan ambilkan obatnya."
Shane tersenyum melihat mimik wajah istrinya itu. Ternyata Sofie masih tetap seperti yang dulu, paling khawatir kalau Shane itu sakit.
" Berikan tangan mu, biar saya obati."
Shane memberikan tangan kirinya.Dan Sofie mulai mengobati tangan suaminya itu yang tak sakit sama sekali. Tapi Shane bisa meyakinkan Sofie, jika ia benar - benar jatuh.
" Awww..sakit..pelan - pelan dong !" ucap Shane dengan berpura - pura.
" Ia, maaf. Tapi kalau tidak sambil diurut begini, nanti tangan kamu makin parah. Makanya lain kali kamu hati - hati."
" Ia, makasih ya. Kamu uda perhatian sama saya !"
" Sofie itu kan istri kamu, wajarlah dia perhatian sama kamu." ucap Sofie malu - malu.
" Oh ya kamu pulang jam berapa nanti?"
" Sepertinya agak cepatan kok, paling jam 11 an uda pulang."
" Saya akan antarin kamu."
" Kamu istirahat aja dirumah. Tangan kamu kan masih sakit."
" Ga lagi kok, ini uda enakan."
__ADS_1
" Oh syukurlah."
" Kamu ga sarapan?" tanya Shane
" Saya lagi ga selera makan."
" Gimana kalau kita sarapannya diluar aja!"
" Saya ga punya waktu, nanti saya telat. "
" Ya uda, kalau gitu, ayok saya antarin kamu !''
Shane langsung mengganti pakaiannya, dan mengambil kunci mobilnya.
Setelah pamitan pada Bibi Janet, mereka pun pergi. Diperjalanan Sofie kembali diam. Matanya berkaca - kaca. Shane mencoba menghiburnya. Dan tiba - tiba saja, ban mobil yang mereka naiki, mendadak kempes.
Shane pun menghentikan laju mobil itu. Shane segera keluar melihat ban mobilnya.
" Apa yang terjadi?" tanya Sofie
" Ban nya kempes. Kamu bisa telat, Sofie !"
" Ga papa, saya akan tunggu kamu. Jalan ini sepi, saya takut kamu kenapa - napa disini !"
" Kamu khawatir sama saya?"
Sofie menganggukan kepalanya. Shane pun tersenyum. Ia mengingat dulu pernah kejadian yang sama, ban mobilnya kempes dan Sofie marah - marah padanya. Dan sekarang, istrinya itu menemaninya untuk memperbaiki ban mobilnya.
Sofie rela terlambat, demi suaminya. Shane mengambil ban serap dari bagasi mobil itu. Ia mulai memperbaikinya. Shane mendengar kalau Sofie menghubungi Kepala Sekolah nya, ia minta ijin karena ada sesuatu yang terjadi.
Shane sangat bersyukur sekali, Sofie sangat perduli padanya. Sofie tidak mau meninggalkan suaminya seorang diri untuk memperbaiki ban mobil itu.
Sofie ikut membantu. Hingga rok yang ia pakai pun kotor. Shane melihat rok istrinya itu sudah kotor.
" Selesai..!" ucap Shane sambil merapikan barang - barang yang ia keluarkan.
" Syukurlah."
" Sofie, maaf ya, kamu jadi telat."
" Ga papa, saya juga uda minta ijin sama Kepala Sekolah."
" Rok mu kotor !"
Sofie melihat roknya yang sedikit kotor. Sofie pun tersenyum.
" Ga papa kok, nanti juga kalau di cuci bakalan ilang. Ya uda, sekarang kita pergi !"
Shane kembali menghidupkan mesin mobilnya dan mereka pun pergi. Karena sudah terlambat 5 menit, Shane menambah kecepatan laju mobil itu.
Ciiittt...mereka pun tiba di sekolah itu. Sofie berpamitan pada suaminya itu. Ia langsung pergi berlari mengejar waktu.
Shane tidak langsung pulang kerumah. Ia menunggu istrinya itu di area parkir sekolah. Ia tak mau kejadian itu terulang lagi.
Karena sedikit bosan, ia pun ke kantin sekolah itu. Perut tengahnya belum saja di isi. Ia pun memesan makanan dan minuman.
__ADS_1