" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 83" Ungkapan Hati "


__ADS_3

Shane merasa sangat sedih, ia harus kehilangan orang yang ia sayangi dalam hidupnya. Setelah selesai acara pemakaman Bibi Janet, Shane pergi ke rumah sakit untuk memberitahukan mengenai kematian Bibi Janet.


Perlahan Shane membuka pintu ruangan itu, betapa terkejutnya Shane ketika melihat ada 2 orang pria diruangan istrinya itu.


Tak lain mereka adalah pengacara. Pengacara itu akan membantu masalah perceraian Sofie dengan Shane.


Shane mendengarkan semua percakapan mereka, dan Sofie sudah sangat yakin ingin berpisah.


Shane hanya bisa menelan rasa pahit, ia tidak bisa berbuat lebih banyak, karena ini adalah permintaan Sofie. Shane menutup kembali ruangan itu. Ia menunggu pengacara itu sampai selesai berbicara.


Hampir satu jam mereka berada diruangan itu, dan akhirnya para pengacara itu pun keluar juga. Melihat mereka sudah pergi, Shane memberanikan diri menemui Sofie.


" Selamat siang, Sofie !" sapa Shane.


Melihat kedatangan suaminya itu, Sofie langsung memalingkan wajahnya.


" Saya punya kabar duka buat kamu." ucap Shane.


Sofie belum juga merespon ucapan suaminya itu. Ia malah menutup wajahnya dengan selimut.


" Sofie....!"


Belum juga Shane berbicara, seorang Dokter dan Perawat memasuki ruangan itu.


" Selamat siang, Bu Sofia!" sapa Dokter yang menanganinya.


Sofie langsung merapikan posisi tidurnya.


" Ibu Sofia, karena keadaan Ibu yang sudah membaik, hari ini Ibu sudah bisa kembali pulang." ucap Dokter itu.


" Apa, Dok? saya uda bisa kembali pulang?"


" Ya, tapi saya harapkan untuk jadwal kontrol tetap dilakukan ya Bu ! jadwalnya nanti akan disampaikan Suster Mita. "


" Baik, Dok. Terimakasih banyak ya Dok !"


" Ya, sama - sama Bu Sofia. Saya permisi !"


Dokter dan perawat itu pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Shane tersenyum. Akhirnya Sofie sudah boleh di ijinkan untuk pulang.


" Syukurlah , kamu uda di perbolehkan pulang !" ucap Shane.


Sofie hanya diam. Ia mulai menyusun beberapa barang miliknya.


" Sofie , sebelum kita pulang kerumah, saya mau ngajakin kamu ke suatu tempat. " tawar Shane.


" Lain kali aja." jawab Sofie sedikit ketus.


" Ga bisa lain kali, karena ini sangat penting. "

__ADS_1


Sofie tidak memperdulikan ucapan suaminya itu. Ia terus mengemasi barang - barang miliknya.


Seorang Perawat pun datang keruangan itu dengan membawa sebuah rostur.


Tapi karena Sofie merasa sudah baikan, ia tak perlu lagi menggunakan rostur itu.


Ia pulang bersama Shane, suaminya itu. Ia hanya bisa diam. Mereka berdua pun pergi meniggalkan rumah sakit itu. Shane tidak langsung membawa Sofie pulang kerumah. Ia membawa Sofie mampir ke makam Bibi Janet.


" Kita mau kemana?" tanya Sofie.


Shane hanya bisa diam.Dan tibalah mereka disebuah makam. Shane mencari tempat untuk menepikan mobilnya.


" Ini bukan makam orang tua mu, kenapa kamu mengajak saya kesini?"


Shane membuka pintu mobilnya. Ia terus berjalan, hingga tibalah disebuah makam yang masih banyak bunga segar bertaburan.


Sofie mengikutinya dari belakang. Dan ia membaca nama di tanda makam itu.


" Janeta Shaliha Filiz..."


" Shane, ini makam siapa?" tanya Sofie penasaran.


" Sekarang Bibi Janet uda tenang disana. Bibi Janet tega ninggalin saya sendirian, Bibi Janet ga sayang lagi sama saya." ucap Shane dan ia pun menangis.


" Bibi Janet? ini makam Bibi Janet? "


" Ya, ini makam Bibi Janet."


" Kamu kan melarang saya untuk datang menjenguk mu atau menghubungi mu !" jawab Shane


Sofie terdiam. Ia pun menangis.


" Bibi Janettttt, kenapa Bibi ninggalin saya?" ucap Sofie dalam Isak tangisnya.


Shane dan Sofie sangat bersedih, karena telah kehilangan sosok wanita yang sangat baik, wanita yang selalu sabar, dan perhatian seperti ibu kandung sendiri.


Terlebih Shane, dialah paling terpukul dan kehilangan sosok Bibi Janet. Dari kecil, Bibi Janet yang selalu menjaga dan mengurus Shane, hingga ia tumbuh menjadi pria dewasa, Bibi Janet tetap sayang padanya.


" Sekarang saya ga punya siapa - siapa lagi, sekarang pilihan ada pada mu. Kalau kamu mau ninggalin saya, silahkan, saya ga akan melarang kamu." ucap Shane dengan sangat yakin.


Shane pun pergi meninggalkan Sofie seorang diri di makam itu.


Sofie menghentikan tangisnya. Ia menoleh ke arah Shane.


" Tunggu !" ucap Sofie.


Shane menghentikan langkahnya.


" Maafkan saya, karena saya mengambil keputusan ini. Saya uda memikirkannya, karena mungkin inilah jalan terbaik untuk kita. Kita pasti bisa melewati ini, percayalah !"


" Ya. Kalau ini yang terbaik, saya akan jalani. Sekarang ikutlah dengan saya, saya akan bantu kamu untuk mengemasi semua barang - barang mu."

__ADS_1


Shane masuk kedalam mobil lalu menghidupkan mesin mobil itu. Mereka meninggalkan makam tersebut.


Di perjalanan mereka berdua hanya diam. Sebenarnya Shane tidak ingin berpisah dari Sofie, ia tidak mau hidup sendirian.


Mereka pun tiba di rumah. Biasanya Shane mau membukakan pintu mobil untuknya. Tapi kali ini, ia membiarkan Sofie membuka pintu mobil itu sendiri.


Shane langsung masuk ke dalam rumah, lalu ia pergi ke kamar. Ia langsung mengambil koper milik istrinya itu dan memasuki semua barang - barang milik Sofie.


Sampai tidak bersisa, semua barang milik Sofie, dikemas dalam keadaan baik. Shane benar - benar kecewa. Disaat ia berduka, disitu pula istrinya harus meninggalkannya.


Sofie melihat sikap suaminya itu, ia hanya bisa diam.


" Ini semua barang milik mu, silahkan ambil dan pergi lah !" ucap Shane yang tidak mau melihat wajah istrinya itu.


Dengan hati yang berat, Sofie mengambil semua koper - koper nya dan membawanya turun.


" Apa yang kamu ingin kan dari rumah ini, ambillah !" tawar Shane.


" Ga perlu, saya permisi." Sofie langsung turun. Ia langsung menghubungi Dion. Ia meminta bantuan padanya. Shane mendengarkan kalau Sofie mengucapkan nama pria itu.


Shane hanya bisa menahan amarahnya. Ia tidak akan melarang istrinya itu berteman pada siapa pun.


Shane menutup pintu kamarnya. Karena kecewa dan sedih, ia pun membanting semua barang - barang yang ada di dalam kamar itu.


Sofie menunggu kedatangan Dion. Ia menunggu di beranda rumah itu. Dan tak berapa lama, Dion pun tiba. Dion yang masih saja mengharapkan cintanya, begitu bahagianya ketika ia masih dapat bertemu dengan wanita cantik itu.


" Dion !" sapa Sofie.


" Hai..! sahud Dion.


" Maafkan saya, kalau saya uda membuat mu jadi repot !"


" Ga papa, Sofie. Malah saya sangat senang sekali bisa membantu mu. "


" Saya jadi ga enak sama kamu !"


" Hahaha, ya uda buruan masuk, ntar kita ngobrolnya di dalam aja. "


Sofie pun langsung masuk ke dalam mobil Dion, lalu mereka pun pergi. Dari atas balkon Shane melihat mereka. Cemburu, pasti. Shane cemburu kalau Dion kembali mendekati Sofie.


Sofie menceritakan semua yang terjadi, hingga ia pun menceritakan kalau ia dan Shane akan segera berpisah. Dion pun berusaha menenangkan hati Sofie, ia mencoba menghiburnya.


Dion menghentikan mobilnya.


" Kenapa berhenti?" tanya Sofie.


Dion mengambil sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. Perlahan Dion membuka kota kecil itu.


" Menikahlah dengan saya, Sofie !" ucap Dion sambil menunjukkan kotak kecil yang berisikan sebuah cincin tunangan.


Melihat itu, Sofie sangat terkejut sekali. Ia tidak mengira, kalau Dion masih berharap padanya. Sofie menangis.

__ADS_1


__ADS_2