
Shane berhasil membawa Sofie dan Kris keluar dari pulau tersebut. Dengan keadaan panik, Shane berusaha sekuat tenaganya membawa mereka berdua.
Shane langsung mengambil speetboat itu dan ia membawa Sofie dan Kris. Mesin speetboat di hidupkan, dengan kecepatan yang sangat tinggi, Shane mengemudikannya.
Tibalah mereka di daratan, dimana Shane memarkirkan mobilnya.
Shane langsung mengambil mobil yang terparkir di dekat dermaga itu. Ia langsung memasukkan Sofie dan Kris ke dalam mobil miliknya.
Shane membawa kerumah sakit terdekat agar Sofie dan Kris segera tertolong. Sesekali Shane melihat keadaan Sofie dan Kris.
Tibalah ia di sebuah rumah sakit. Dengan langkah yang cepat, Shane langsung meminta bantuan pada Perawat dan Security Rumah Sakit tersebut.
Sofie dan Kris langsung dibawa keruang IGD. Perawat dan Dokter langsung menangani mereka berdua.
" Maaf Pak, silahkan Bapak tunggu diluar." Titah salah satu Perawat yang ikut menangani Sofie dan Kris.
" Baik, Suster. Tolong selamatkan istri saya, saya mohon." Pinta Shane.
Karena Sofie dan Kris tertembak, maka mereka berdua harus menjalani operasi untuk mengeluarkan isi peluru tersebut.
Sudah 3 jam berjalan waktu. Operasi pun selesai. Dokter yang menangani Sofie dan Kris pun keluar untuk menemui Shane.
" Apakah Bapak keluarga dari pasien?" Tanya Dokter itu.
" Ya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
" Operasinya sudah selesai, Pak. Tapi kami mohon maaf Pak, kami tidak dapat menyelamatkan janin yang ada didalam kandungan istri Bapak. Karena peluru itu mengenai perutnya."
" Janin?"
" Ya, Pak. Istri Bapak hamil, tapi karena terkena peluru, janinnya tidak dapat tertolong lagi Pak. Kami minta maaf, Pak."
" Apa? Sofie hamil? Ya Tuhan...kenapa saya ga tahu."
Mendengar ucapan Dokter itu, Shane terduduk tidak berdaya. Ia menangis.
Shane baru menyadari, sebelum kejadian Sofie mengatakan jika ia sudah telat haid. Tapi Shane tidak peka dan ia tidak perduli.
Shane menangis. Ia sangat menyesal karena sikapnya yang tidak pernah perduli pada Sofie. Andai saja ia peka dan ia tahu jika Sofie hamil, pasti ia akan menjaganya.
Karena sikapnya yang tidak perduli, Shane harus kehilangan calon bayinya. Padahal Shane mengharapkan anak dari rahim istrinya itu.
__ADS_1
" Dokter, Kalau keadaan Kris bagaimana? apakah dia baik - baik saja, Dok?'
" Kris banyak kekurangan darah, untuk itu kita hanya bisa berdoa dan berserah pada Tuhan."
" Saya minta sama Dokter tolong tangani mereka dengan sebaik mungkin, Dok. Masalah biaya saya yang akan tanggung semuanya.
" Baik, Pak. Saya permisi dulu, Pak."
" Ya, Dok..!"
Dokter itu pun pergi meninggalkan Shane. Shane kembali menangis. Ia tak menyangka harus mendapat masalah seberat ini.
Shane menjadi geram. Ia pun berniat akan membalaskan dendamnya. Anak buah yang selama ini bekerja dengan Shane, semuanya pengkhianat. Diam - diam mereka semua pergi meninggalkan Shane.
Ia pun mencari tahu siapa pelaku semua ini. Shane pun menghubungi Paman Sammy, ia memberitahukan bahwa Sofie sekarang berada di rumah sakit. Paman Sammy hanya berpura - pura sedih, dan ia berjanji akan segera melihat Sofie.
Shane meminta ijin pada Perawat itu, ia ingin kembali kerumah. Ia ingin melihat keadaan Bibi Janet. Sebelum ia pulang, ia menemui Sofie terlebih dahulu.
Shane mencium kening istrinya itu. Ia duduk di sampingnya. Hanya kesedihan yang tampak di raut wajahnya.
" Sofie, saya minta maaf. Ini semua karena sikap saya yang ga pernah perduli sama kamu. Saya belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu, saya belum bisa melindungi kamu. Saya janji, saya akan mencari orang yang telah berbuat jahat sama kamu, orang yang udah tega membunuh calon anak kita. Sofieeee....!"
Shane kembali menangis. Ia memeluk tubuh istrinya yang tidak berdaya itu. Tiba - tiba saja, seorang Perawat masuk keruangan itu.
Shane terkejut dengan kehadiran Perawat itu. Ia langsung menghapus air matanya.
" Maaf, Pak..Saya mau mengganti botol infusnya."
" Oh ya, silahkan Sust..! Oh ya Sust, saya ijin pamit mau pulang sebentar, tolong jagain istri saya ya..!"
" Baik, Pak. "
" Makasih ya, Sust..!"
Shane langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Sebelum ia pulang, ia mampir keruangan ICU untuk melihat Kris.
Tapi Perawat yang bertugas diruangan ICU itu, belum bisa memberikan ijin pada Shane untuk melihat Kris. Karena Kris masih dalam keadaan koma.
Shane merasa kecewa. Ia belum dapat menemui Kris. Kris adalah satu - satunya orang yang tahu kejadian ini. Karena belum bisa melihat Kris, ia pun langsung ke parkiran mobil. Mesin mobil di hidupkan, mobil pun melaju. Di perjalanan Shane hanya diam dan merenungi, mengapa bisa seperti ini kejadiannya.
Ia masih tak menyangka, mengapa ada orang yang ingin menyakiti istrinya. Setahunya, Sofie itu tidak punya musuh, Sofie adalah orang baik. Shane mengingat - ingat siapa yang pernah menyakiti hati istrinya itu.
__ADS_1
Sontak saja ia langsung mengingat Paman dan Bibi nya. Ya, Paman Sammy. Hanya dialah yang tidak suka melihat kehidupan Sofie.
Shane menghentikan mobilnya. Ia mengambil ponsel miliknya. Ia mencoba menghubungi Paman Sammy.
Tapi kali ini Paman Sammy tidak mengangkat telpon darinya. Shane tidak bisa asal menuduh, ia juga tidak punya bukti untuk menuduh sang Paman.
Shane kembali melajukan mobilnya. Tibalah ia di depan rumahnya.
Tok..tok..tok..tok..
Shane mengetuk pintu rumah itu.
Bibi Janet mendengar suara ketukan pintu itu, ia langsung membukakannya.
" Tuan...bagaimana keadaan Sofie?"
Shane terdiam. Raut wajahnya masih tampak sedih.
" Tuan, apa yang terjadi pada Sofie?" Tanya Bibi Janet penasaran.
" Sofie sekarang di rumah sakit, Bi. Sofie kehilangan calon bayinya." Jawab Shane dengan nada suara parau.
Mendengar jawaban Tuannya itu, Bibi Janet langsung menangis.
" Calon bayi? ternyata Sofie hamil? astaga..!" Mendengar penjelasan Tuan nya itu, Bibi Janet lemas tak berdaya.
" Doakan Sofie, Bi supaya cepat siuman."
" Tuan, maafkan saya, saya tidak tahu kalau nak Sofie hamil. Maafkan saya, Tuan."
" Ga ada yang perlu di maafiin, Bi. Semua ini uda kehendak Tuhan. Yang terpenting, Sofie masih hidup."
Shane langsung pergi meninggalkan Bibi Janet. Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil beberapa potong pakaian Sofie.
Sesampainya dikamar, ia melihat sebuah amplop berwarna putih diatas nakas kamar itu.
Shane mengambilnya dan membuka isi amplop itu. Shane melihat sebuah testpack dengan garis dua merah. Shane juga melihat ponsel milik Sofie, ia membaca pesan yang akan di kirim kepadanya.
..." Segeralah pulang, karena saya punya kabar yang baik buat kamu. Pasti kamu akan senang mendengar kabar ini."...
" Arrgggghhh..!"
__ADS_1
Shane menghancurkan ruangan kamarnya. Semua barang yang ada di kamar itu, di hancurkannya.
Kamar itu menjadi berantakan. Semua barang berserak. Vas bunga kecil yang menghiasi nakas kamar itu pun pecah berkeping - keping.