
Karena sudah larut malam, akhirnya Shane berpamitan pulang. Berat rasanya ia meninggalkan Sofie seorang diri di kontrakan itu.
Tidak bisa dipungkiri, rasa cinta dan kasih sayang itu masih melekat pada dua insan ini.
" Jaga diri kamu baik - baik, kalau ada apa - apa, langsung hubungi Dion, calon suami kamu. Oh ya, jangan lupa undang saya juga, saya pasti akan datang, saya akan usahakan."
Sofie diam dan air matanya pun kembali mengalir.
" Dari dulu kamu itu ga pernah berubah, kamu cengeng. Sikit - sikit nangis. Sofie, kamu ga boleh bersedih terus, ingat kamu itu akan menikah, kalau kamu nangis, kamu bisa sakit,"
" Saya ga perduli !"
" Hhmm..kamu itu memang keras kepala. Mungkin kalau Dion yang memintanya, baru kamu nurut, ya kan? ya sudah, saya pamit. Permisi !"
Shane pun pergi. Ia mencoba tidak menoleh ke belakang, karena ia tidak kuat menerima semua cobaan ini. Shane masih benar - benar mengharapkan cinta dari Sofie. Tapi rasanya tidak mungkin untuk kembali lagi. Apalagi Sofie akan segera menikah dengan Dion.
Sofie langsung menutup pintu rumah itu, ia menangis, menangis sejadi - jadinya.
Malam semakin larut, Sofie pun tidak bisa tidur. Ia selalu menangis. Begitu juga Shane, ia tidak kembali kerumahnya. Ia hanya berdiam diri di dalam mobilnya. Pikirannya pun tidak tenang. Ia selalu ingat akan Sofie.
Ntah mengapa, rasanya tidak bisa melupakan Sofie begitu saja, tidak ingin jauh dari nya dan selalu ingin ada disampingnya.
Shane merasa ia seperti baru jatuh cinta pada wanita itu.
Shane mengambil ponselnya. Ia mencari nama Sofie. Ia mencoba menghubunginya.
Drrt....drrttt...drrtt...drrrt...
Ponsel Sofie berdering. Ia langsung mengambilnya dari atas nakas tempat tidurnya. Ia berharap itu Shane. Dan ternyata benar. Shane menghubunginya.
Perasaannya semakin gugup. Sofie mencoba tenang. Ia pun menjawab telpon itu.
" Hallo...!" jawab Sofie.
" Kamu belum tidur ya?" tanya Shane.
" Be..be..belum. Kamu uda sampai dirumah? kok cepat banget?"
Shane tersenyum.
" Saya belum sampai dirumah. Saya masih di dekat rumah kamu, "
" Apa?"
" Ia. Maaf, saya hanya ingin memastikan kamu, apakah kamu uda tidur atau belum,"
Sofie kembali menangis. Ia begitu sangat terharu atas ucapan Shane.
" Saya ga bisa tidur."
__ADS_1
" Saya tahu, kamu ga bisa tidur, karena kamu itu terus menangis, benerkan?"
Sofie terdiam. Ia mencoba menahan tangisnya.
" Hallo, Sofie? kamu tertidur ya?" tanya Shane.
" Ga, saya ga tidur. Pulanglah, ini uda larut malam."
" Ya, saya akan pulang, kalau kamu janji ga nangis lagi !"
" Shane !"
" Ya, kenapa?"
" Hiks..hiks..hiks..hiks..makasih ya !"
" Makasih untuk apa?"
" Kamu ? kamu uda?"
" Perhatian sama kamu?"
" Hhmm...i..i..ia..iaaa."
" Hahaha..kita kan uda temanan, jadi teman yang baik itu harus perhatian. Benarkan? ya uda kamu tidur. Jangan lupa kunci pintunya !"
Percakapan pun terputus.
Ucap Shane dalam doa nya. Lalu ia pun pergi meninggalkan rumah kontrakan itu.
****
Dion semakin yakin jika Sofie belum bisa melupakan mantan suaminya itu. Dengan berat hati, ia mencoba untuk mundur. Dion akan membatalkan pernikahan mereka.
Disaat Dion menghadapi banyak masalah dengan Sofie, tiba - tiba saja nama Agnes kembali lagi dalam ingatannya. Agnes yang dulu pernah menghianati nya, kini sudah banyak berubah.
Siang itu, Dion dan Agnes bertemu di sebuah cafe dekat dengan kantor nya. Dion sangat kagum akan perubahan Agnes. Ia semakin cantik dan menawan. Ternyata Agnes masih mengharapkan Dion, mantan kekasihnya itu.
Dion menceritakan semua tentang niatnya pada Sofie.
" Untuk apa saya lanjutkan hubungan ini, kalau nyatanya Sofie itu masih mikirin mantan suaminya ? Sofie selalu termenung, dan ia ga pernah fokus pada semua rencana kami. Begitu juga dengan pekerjaannya, banyak sekali masalah,"
" Jadi rencana kamu selanjutnya gimana?"
" Ntahlah, saya ga sanggup kalau menghadapi situasi seperti ini, "
" Kamu cinta ga sama Sofie?"
" Kenapa kamu ngomong kayak gitu, Nes?"
__ADS_1
" Dion, setelah perpisahan kita, saya banyak belajar kalau mencari orang yang tepat itu sangat susah. Selama di London, saya terus kepikiran sama kamu. Saya pernah punya keinginan, saya ingin memperbaiki hubungan kita, saya ingin kita seperti dulu lagi, kita saling mencintai, menyayangi. Tapi saya rasa, itu ga mungkin, karena kamu akan menikah dengan Sofie. "
" Nes, kamu tahu saya itu seperti apa. Saya ga gampang untuk bisa jatuh cinta pada seorang wanita. Saya akan membatalkan pernikahan saya, karena saya ga mau kalau saya hanya sebagai pelampiasan aja. Untuk apa saya menjalani ini semua, di hati dan dipikirannya hanya ada Shane. Ga Nes, saya ga mau. Niat baik mu, saya akan pikirkan !"
" Ya, itu hak kamu. "
Agnes semakin yakin ingin memperbaiki hubungannya lagi dengan Dion. Ia juga tidak bisa melupakan Dion begitu saja. Niat baik Agnes pun akan di utarakan nya pada kakak nya, Mama Sarah.
Agnes akan meminta maaf pada Mama Sarah, dan ia ingin benar - benar bisa kembali lagi menjadi seperti dulu lagi.
Dion juga meminta pendapat Mama Sarah, mengenai hubungannya dengan Sofie, dan semua keluarga besar nya pun menyetujui jika Dion kembali kepada Agnes, dan meninggalkan Sofie.
Dion tahu, ketulusan cinta Sofie pada mantannya tidaklah bisa dipungkiri. Walaupun awalnya mereka saling menyakiti, tapi cinta itu tumbuh dari hati Sofie, wanita yang selalu sabar.
Dion tidak bisa banyak berharap. Dan ia akan mempersatukan Shane dan Sofie kembali. Karena hanya pada Shane lah, Sofie layak bahagia.
Suatu hari, Dion menghubungi Shane. Ia meminta padanya, agar mereka bertemu. Dion ingin berbicara banyak padanya. Shane pun menyetujui pertemuan itu.
Tanpa diketahui Sofie, mereka berdua pun bertemu di sebuah cafe. Keduanya memesan minuman.
" Maaf, kalau saya uda menganggu waktu mu, Shane !" ucap Dion.
" Ga papa. Kamu mau ngomong apa?"
" Saya tidak mengambil Sofie dari mu. Saya mencintainya karena kalian telah berpisah. Dan kamu tahu, rencana kami berdua, ingin melangsungkan pernikahan, tapi setelah saya menjalaninya, Sofie itu tidak pernah mencintai saya, dia tidak bisa menerima saya. Saya tahu, kalau di hati dan di pikirannya itu hanya ada kamu, dan sepertinya dia begitu berat untuk melupakan mu."
" Trus ?"
" Kembalilah padanya, dia butuh kamu. Saya begitu kasihan padanya, dia seperti ga ada harapan lagi. Dia hanya bisa menangis, melamun. Kepala Sekolah juga mengatakan, kalau dia sering ga fokus dengan pekerjaannya, dia sering lalai akan tugasnya, berkali - kali Sofie kena tegur. Dia ga seperti Sofie yang dulu, ceria, suka tersenyum, beda dengan sekarang, Shane. Saya ga bisa meneruskan hubungan ini, karena itu akan membuat dia sakit hati. Tolonglah, kembalilah padanya, rangkul dia, karena dia butuh kasih sayang dari mu."
Shane hanya menggelengkan kepalanya.
" Saya takut kalau saya itu ga bisa membahagiakannya."
" Meluluhkan hati Sofie itu gampang, kasih perhatian lebih padanya, itu sudah lebih dari cukup Shane. Dia bukan wanita matre, dia bukan wanita yang haus akan barang - barang mewah, dia hanya wanita sederhana yang butuh penuh kasih sayang, itu aja yang Sofie perlukan. Saya Uda mencoba memberikannya, tapi itu tidak berarti bagi Sofie. Dia butuh kamu. Hidupnya itu ada di kamu, Shane. Percayalah, Sofie itu masih mencintai mu, masih mengharapkan mu. Coba tanya hati mu, apakah kamu juga punya perasaan yang sama?"
" Jadi rencana mu selanjutnya gimana?"
" Saya akan menikahi Agnes, karena kami juga saling mencintai."
" Agnes ?"
" Ya, dia uda kembali dari London. Dan dia ingin, kami berdua memperbaiki hubungan yang dulu sempat retak. Saya akan menikahinya, Shane !"
Shane menghela nafasnya dalam - dalam.
" Dion...hhmm..saya juga punya perasaan yang sama, sama seperti Sofie. Saya juga ga bisa melupakannya. Saya juga butuh dia. Tapi karena selama ini kalian bersama, saya mengurungkan niat saya untuk bisa kembali padanya. "
Dion tertawa.
__ADS_1
" Apalagi yang kamu tunggu, Shane. Kejar dia dan kembalilah padanya."
Shane pun tertawa lepas.