" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 89 " Bertemu Dengan Mantan "


__ADS_3

Dengan tekad yang bulat, akhirnya Sofie memberanikan dirinya untuk bertemu dengan Shane.


Ia menanyakan pada Kris keberadaan Shane ada dimana. Ia pun menceritakan pada Kris niat baiknya untuk bertemu pada Shane, mantan suaminya itu.


Kris membantu pertemuan mereka. Kris juga kurang suka jika Sofie menikah lagi, apalagi dengan Dion. Kris tidak menyetujui pernikahan itu. Ia menginginkan kalau Shane dan Sofie bersatu kembali. Tapi sayangnya, Kris belum bisa mencoba menyatukan mereka kembali.


Dengan niat baik, Sofie ingin bertemu, Kris membantunya. Ia mengajak Shane ke sebuah restoran dimana resto tersebut adalah resto favoritenya. Kris juga memberitahukan agar Sofie segera menyusul kesana. Segala rencana sudah di atur oleh Kris.


Tepat waktunya makan siang, Kris mengajak Shane pergi. Alasan Kris adalah ingin mentraktir Shane. Sudah lama juga mereka tidak pergi bersama.


Awalnya Shane tidak mau, tapi Kris selalu membujuknya. Akhirnya hati pria dingin itu pun luluh. Ia menerima tawaran Kris untuk ikut makan siang bersama.


Mereka berdua pun pergi. Tibalah mereka di resto itu, Kris langsung memesan ruangan resto VIP.


" Kenapa harus VIP, Kris?" tanya Shane dengan penasaran.


" Ia bos, saya ingin memberikan yang terbaik untuk bos. Selama ini bos uda banyak membantu saya. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan bos, tolonglah bos terima."


Shane tersenyum.


" Saya tahu, pasti kamu menyimpan sesuatu dari saya. Boleh saya tahu, apa itu Kris?"


" Ga bos, saya ga menyimpan sesuatu dari bos. Bener !"


" Okelah..Saya ikuti aturan main mu, hahaha...!"


Kris pun ikut tertawa. Mereka pun memesan makanan, menunggu makanan tiba, Kris mengirimkan pesan pada Sofie, agar Sofie segera datang.


Shane sibuk dengan ponselnya, ada saja orang yang menghubunginya. Kris mencoba permisi ke toilet. Lagi - lagi Shane sibuk dengan ponselnya.


Kris menghubungi Sofie, menanyakan sudah sampai dimana. Tak berapa lama, Sofie pun tiba di resto itu.


" Krisss...!" panggil Sofie.


Kris menoleh ke arah datangnya suara.


" Sofie ?"


" Maaf, saya uda merepotkan mu !"


" Ga, malah saya senang dapat membantu mu. Saya sangat menginginkan kalau kalian itu dapat bertemu kembali."


" Kris, saya takut, kalau Shane marah."


" Ga usa takut, temui dia."


" Ya, saya hanya ingin minta maaf padanya, Kris. Saya ingin menyampaikan niat baik saya ini aja. "


" Sofie, apakah tidak ada lagi rasa cinta untuknya?"


Sofie terdiam. Ia pun menangis.


" Sofie, jangan bohongi hati mu, katakanlah kalau kamu masih mencintainya atau tidak. Kalau kamu berbohong, itu akan menambah rasa sakit di hati mu. Lebih baik kamu jujur . Kamu masih mencintainya?"


" Ntahlah Kris, saya ga tahu, perasaan apa yang saya alami sekarang. Saya uda mencoba melupakannya, tapi ga bisa, semakin saya melupakannya semakin saya merindukannya." Sofie menangis.


" Kamu cinta sama Dion?"


Sofie menatap tajam Kris.


" Dion?"


" Ya, kalau kamu ga cinta sama Dion, jangan teruskan, karena itu ga baik. Dion akan menjadi pelarian mu. Kasihan Dion, lebih baik kamu mengatakannya kalau kamu sebenarnya ga cinta."

__ADS_1


" Ga, saya cinta kok sama Dion." Sofie menghapus air matanya.


" Cinta? cinta kamu bilang? kalau kamu cinta sama Dion, kenapa kamu ga bisa move on dari Shane? itu artinya di hati mu masih ada Shane, kamu masih mencintai Shane. Kamu jangan bohong sama saya, saya lebih tahu dari kamu. Saya bisa baca pikiran mu."


" Jadi apa yang harus saya perbuat, Kris?"


" Untuk sekarang temui Shane, dia ada diruangan VIP, sebelah kanan. Temui dia, bicara baik - baik sama dia."


" Kamu yakin, Shane mau menerima maaf saya?"


" Pasti, saya yakin. Saya uda lama kenal dengan dia, jadi saya tahu bagaimana wataknya. Pergilah temui dia. "


" Makasih ya Kris, kamu uda membantu saya."


" Ya, saya akan membantu kalian berdua, sampai kalian dapat besama lagi."


Mendengar itu Sofie pun terkejut.


" Apa? itu ga mungkin."


" Bagi mu tidak mungkin, tapi bagi saya itu mungkin."


Kris tersenyum.


" Pergilah !" titah Kris.


Sofie pun pergi menemui Shane. Dengan hati yang gugup, takut, khawatir, semua menjadi satu.


Keringat dingin, pasti. Langkah kakinya sedikit gemetar. Tibalah ia di depan pintu ruangan VIP, ia melihat dari bilik kaca, Shane ada disana. Ia sedang sibuk dengan ponselnya.


Sofie mencoba masuk. Ia mengetuk pintu ruangan itu, pintu ruangan yang sedikit terbuka karena baru saja pelayan resto itu mengantarkan pesanan mereka.


" Hai...!" sapa Sofie. Ia memberanikan dirinya menyapa pria yang sudah hampir 6 bulan berlalu dari hidupnya.


Sikap Shane biasa saja. Seperti tidak ada masalah, tidak kenal, ia begitu cuek. Lalu ia memainkan ponselnya lagi.


Sofie segera duduk. Wajahnya sudah terlihat begitu pucat. Ia bingung mau bicara apa. Pria yang ada dihadapannya ini begitu dingin, tidak berubah sama sekali. Tetap seperti Shane yang dulu.


" Kamu apa kabar?" tanya Sofie.


" Baik." jawab Shane datar.


" Maaf kalau saya menganggu kamu, kamu kesini sama siapa?hhmmm..tadi saya lihat kamu, makanya saya langsung nyamperin kamu."


Shane diam. Ia masih saja asyik memainkan ponselnya.


" Oh ya, kamu mau makan? silahkan dimakan, nanti keburu dingin." titah Sofie.


Shane tidak mendengarkan ucapan Sofie. Sofie pun jadi salah tingkah. Shane mencoba menghubungi Kris.


" Kamu ada dimana? kenapa lama sekali ke toiletnya?"


" Maaf bos, saya lagi diare. Ini masih di toilet. " jawab Kris berbohong.


" Diare? kamu juga sih yang salah, uda tahu diare pake ngajak makan segala !"


" Maaf bos, saya ga tahan. Sakit banget bos. Bos makan aja dulu !"


" Apa? makan duluan?"


" Ya bos, perut saya ga bisa diajak kompromi nih ! aduh..uda dulu ya bos, mau keluar lagi nih...!"


" Hallo..hallo...hallo...dasar..!" umpat Shane.

__ADS_1


Sofie sedikit tersenyum melihat ekspresi mantan suaminya itu. Shane memang dari dulu kalau lagi kesal, mimik wajahnya begitu lucu dan menggemaskan.


Shane melirik Sofie. Sofie masih saja tersenyum - senyum.


" Kenapa senyum?" tanya Shane dengan kesalnya.


" Ga, saya ga senyum kok."


" Lah itu kamu senyum - senyum."


" Emang ga bole ya kalau saya senyum? saya senyum itu lihat pengunjung yang ada disana, lucu." sambil menunjuk ke arah luar ruangan VIP.


Shane terdiam.


" Silahkan dimakan." titah Sofie.


" Ga, saya lagi nunggu seseorang untuk makan sama. "


" Oh ya? maaf ya saya jadi ganggu. Pacar baru kamu ya?"


" Itu bukan urusan mu."


" Maaf."


" Uda ya, saya mau pergi."


" Ehh...ehh..ehh..jangan dulu. Saya kesini mau ngomong sesuatu sama kamu."


Shane kembali duduk di kursinya.


" Ngomong apa?"


" Saya kesini mau minta maaf sama kamu."


" Maaf? kamu dengar Sofie, kita uda ga punya hubungan apa - apa lagi, kita uda selesai. Ga ada lagi yang perlu dibahas. Kita sekarang uda punya kehidupan masing - masing. Jadi tolong, kamu bisa mengerti. "


" Ia saya tahu. "


" Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih menemui saya?"


" Kamu egois banget sih Shane, dari dulu ga berubah. "


" Kamu kesini mau ngajak ribut?"


" Ga Shane, bukan itu maksud saya."


" Ah..sudahlah. Sekarang benahi hidup mu dengan baik. Kan uda ada Dion ! jangan lagi menemui saya. Saya ga mau menganggu hubungan orang lain. "


" Ya, saya dan Dion akan segera menikah."


" Baguslah, jadi hanya untuk mengatakan itu, kamu mau menikah, makanya kamu menemui saya? trus saya mau bilang apa?"


" Shane, saya ?"


" Ga ada lagi hubungan diantara kita. Selamat ya, akhirnya kamu menikah dengan Dion. Permisi!"


Shane pergi meninggalkan Sofie. Sofie pun mengejarnya.


" Saya benci sama kamu Shane !" teriak Sofie.


Sofie menangis histeris. Ia malu mengatakan kalau sebenarnya ia tidak bisa melupakan Shane.


Shane pun pergi meninggalkan restoran itu. Kris melihat mereka dari kejauhan. Kris tidak bisa berbuat apa - apa untuk membantu mereka. Perlu waktu, ya semua perlu waktu.

__ADS_1


__ADS_2