" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 95 " Menangis "


__ADS_3

Tibalah Shane dirumah kontrakan Sofie. Ia langsung menepikan mobilnya. Ia melihat sekeliling rumah kontrakan itu, sudah tampak sepi. Lampu - lampu banyak yang sudah di padamkan. Shane mengetuk pintu rumah itu.


Tok...tok..tok...


Awalnya ketukan pintu itu begitu pelan, ia takut menganggu tetangga Sofie.


Karena belum juga dibuka, Shane mengulanginya lagi. Ketukan pintu semakin kuat.


Malam itu, Sofie sudah berada di dalam kamarnya. Hampir saja ia memejamkan matanya, ia mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Sofie menjadi takut. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.30.


Sofie mencoba tenang. Pintu itu kembali di ketuk. Perasaannya semakin takut, apalagi beberapa rumah kontrakan itu banyak yang kosong.


Pikiran Sofie mulai tidak tenang. Ia mencoba mengintip dari bilik jendela. Tapi sayangnya orang tersebut tidak kelihatan. Sofie sudah membawa pisau dapur, siapa tahu saja itu orang jahat, bathin Sofie.


Pintu kembali diketuk. Dan kali ini Sofie memberanikan diri menanyakan siapa orang tersebut.


Tok..tok..tok..


Ketukan pintu semakin kuat.


" Kamu siapa?" tanya Sofie dengan lantangnya.


" Kenapa lama banget sih bukain pintunya?"


Sofie mengenali suara itu, suara Shane, mantan suaminya.


"Shane? mau apa dia datang malam - malam kesini?" gumam Sofie.


" Bukain dong pintunya." pinta Shane.


" Kamu mau ngapain? ini uda malam."


" Buka aja, ada sesuatu yang penting."


" Penting?" gumam Sofie.


Akhirnya Sofie membukakan pintu itu.


" Lama banget sih? orang uda kedinginan, tau !"


Shane langsung nyelonong masuk ke dalam rumah itu. Sofie melihat, Shane membawa sebuah bungkusan.


" Kamu uda makan belum?" tanya Shane.


Sofie masih berdiam diri. Sementara Shane langsung pergi ke dapur mengambil sendok dan piring.


" Kamu mau makan ga?" tawar Shane.


Shane membuka bungkusan itu dan mengeluarkannya. Ia meletakkan satu bungkusan ke piring yang lain.

__ADS_1


Shane langsung membukanya, dan ternyata nasi goreng. Ia langsung melahapnya. Kelihatannya ia sudah sangat lapar sekali.


Sofie menarik nafas dalam - dalam. Ia lega melihat bungkusan itu. Dia pikir bungkusan itu barang yang membahayakan.


" Makanlah, nanti keburu dingin !" titah Shane.


Sofie pun duduk disampingnya.


" Kamu kenapa?" tanya Sofie.


" Ga papa, saya baik - baik aja."


" Trus, kenapa kamu datang kesini malam - malam?"


" Numpang makan." jawab Shane datar.


Sofie mengernyitkan dahinya. Ingin rasanya tertawa, tapi ia mampu menahannya, karena melihat expresi Shane yang sangat lucu.


" Hanya numpang makan kesini?" tanya Sofie lagi.


" Emang ga boleh?"


" Bukannya ga boleh, tapi kita itu ?"


" Ya, saya tahu. Kita itu uda ga punya hubungan apa - apa lagi. Saya sekarang menganggap kamu sebagai teman aja, kok. Ga lebih."


" Oh begitu. "


Tiba - tiba saja, Sofie merasa sedih. Belum sanggup rasanya ia akan menikah lagi, apalagi dengan Dion, pria yang belum bisa ia cintai.


" Kenapa diam?"


" Ga, hhhmmm...kami menyerahkan ini semua ke WO, karena kami sibuk."


" Oh begitu. "


" Kamu sendiri gimana? kapan rencana mu?" tanya Sofie.


" Tunggu aja tanggal mainnya. Yang jelas, saya akan segera menikah."


" Dengan Sonya ya?"


" Ntahlah, kita lihat aja. Oh ya, menurut mu, Sonya cantik ga?"


Sofie terdiam.


" Ditanya kok diam?"


" Ia, Sonya cantik. "

__ADS_1


" Semua orang juga mengatakan begitu. Sonya cantik, baik dan pengertian. Ga salah saya memilihnya."


" Oh ya, ini sudah larut malam, apa ga sebaiknya kamu pulang ?"


" Ia, saya akan pulang, kalau nasi goreng saya uda habis. "


Diam - diam Sofie menangis. Shane terus bercerita panjang kali lebar. Shane tidak mengetahui kalau ternyata Sofie sudah menangis.


" Oh ya, kamu tahu ga, perusahaan migas, sekarang sudah kembali ke tangan saya. Makasih ya buat bantuan kamu !"


Karena Sofie selalu diam, Shane melihatnya.


" Kamu kenapa nangis?" tanya Shane.


Sofie buru - buru langsung menghapus air matanya.


" Kamu ga pernah ngerti perasaan saya, Shane. Kamu selalu egois."


" Maksud kamu?"


Suara tangisan Sofie pun pecah.


" Selama ini, saya mencoba selalu mencintai mu, tapi kamu ga pernah menganggapnya. Kamu ga pernah sayang sama saya. Saya sadar, saya memang ga pantas untuk kamu, Shane. Kamu ga pernah perduli sama saya, saya sama sekali ga pernah berharga di mata mu. "


Shane terdiam. Ia menghentikan makannya.


" Saya memang bodoh, bisa - bisa nya saya terlalu cinta sama kamu. Cinta sama orang yang ga pernah respect sama saya, hiks..hiks..hiks..hiks..!"


Shane masih terdiam.


" Kamu pikir, saya akan menikah dengan Dion itu akan bisa membuat saya bahagia? semakin sakit hati ini Shane, sakit. Saya tidak pernah mencintai nya, tapi saya berusaha menerimanya. Kalau kamu tahu isi hati ini, sebenarnya saya masih mencintai kamu. Kamu cerita sama saya tentang Sonya, kamu pikir saya ini apa? kamu bisa romantis sama wanita lain, tapi kenapa dulu sama saya kamu kasar, kamu ga pernah perhatian, kamu cuek, kamu dingin. Kenapa sama Agnes dan Sonya kamu bisa baik? kenapa Shane? apa karena mereka mempunyai segalanya? kenapa sama saya kamu ga bisa? saya selalu sabar menghadapi kamu, tapi kamu ga pernah mengerti hati ini. Trus, masalah pekerjaan mu, kamu pernah bilang akan meninggalkannya, tapi diam - diam kamu masih melakukannya. Di luar sana, orang menertawakan saya, di sekolah, teman - teman saya menggunjing saya, tapi saya selalu sabar. Dan sekarang, kamu uda menemukan Sonya, baik - baiklah padanya, hormati dia, sayangi dia, karena ga semua wanita itu hatinya bisa kuat. Kalau pun sekarang kita ga punya hubungan apa - apa lagi, saya berharap banyak sama kamu, kamu bisa jadi pria yang lebih baik lagi. Jangan pernah sakiti hatinya."


Kedua mata Shane mulai berkaca - kaca. Ia menatap ke langit - langit rumah. Ia menahan tangisnya.


" Maafkan saya Sofie. Saya memang ga bisa jadi suami yang baik buat kamu. Jujur, saya juga ga ikhlas kamu menikah dengan Dion. Saya? saya juga ga mau kehilangan kamu. Asal kamu tahu, saya cemburu melihat kamu dekat dengan Dion. Saya ga rela Sofie. Sulit rasanya melupakan seseorang yang sudah banyak memberi kenangan pada saya. Sekarang kamu akan layak bahagia, karena Dion itu jauh lebih baik dari saya. Saya yakin, Dion pasti bisa memberikan apa yang ga bisa saya berikan sama kamu."


Sofie kembali menangis.


" Dulu kamu pernah mengatakan pada Kris, kamu ingin kita rujuk kembali. Saya takut, kamu akan pergi meninggalkan saya lagi. Saya takut, saya ga mampu jadi yang terbaik buat kamu. Makanya saya memilih kita jadi teman. Mungkin kalau kita jadi teman, hubungan kita akan selalu baik. Gimana?"


Sofie hanya mengangguk kan kepalanya.


" Sofie, lihat saya !"


Shane mengangkat dagu milik Sofie.


" Saya akan mengikhlaskan kamu menikah dengan Dion. Saya yakin, dia bisa membahagiakan kamu. Maafkan saya, selama ini saya uda banyak membuat kamu sakit hati. Saya tahu, orang baik akan mendapatkan orang baik juga. Dan kamu adalah orang baik itu, dan kamu layak mendapatkan orang baik itu, yaitu Dion. Kamu pasti bisa mencintai Dion, saya yakin dengan berjalannya waktu, kalian akan saling mencintai. Terimakasih Sofie, karena kamu uda banyak memberikan pelajaran hidup untuk saya. Mulai sekarang kita akan menjadi sahabat. " Shane tersenyum.


Sofie masih saja menangis.

__ADS_1


" Ayok dong senyum, jangan nangis terus." titah Shane.


Sofie pun memaksakan dirinya untuk bisa tersenyum.


__ADS_2