" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 67 " Kembali Sofie Diculik "


__ADS_3

" Saya menyesal telah berbuat jahat pada Sofie !" sesal Paman Sammy.


" Apa? menyesal? saya ga salah dengarkan?"


" Kamu tahu, Sofie itu banyak sekali menghadapi masalah. Dari kecil sampai dia dewasa, saya ga bisa bertanggung jawab penuh terhadapnya."


" Sayang, kamu kenapa? kenapa jadi mikiri itu anak?"


" Apa yang dikatakan Sofie itu benar, dia memiliki 3 Paman, tapi tak seorang pun bisa membahagiakannya. Termasuk saya !"


" Ahh...kamu kenapa sih? kenapa juga kamu harus mikiri si Sofie itu?"


" Kamu memang Bibi yang sangat egois. "


" Egois gimana?"


" Kamu ga pernah memikirkan perasaan Sofie. Di pikiran mu itu, hanya uang dan uang. Saya rela mencuri senjata - senjata di markas itu, semua itu karena kamu, karena keinginan kamu !"


" Oh jadi kamu menyalahkan saya?"


" Ya, karena kamu ga punya perasaan."


" Jadi kamu ga ingat, modal untuk bisnis kamu itu dari mana?"


" Kamu mau itung - itungan sama saya?"


" Bukan mau itung - itungan, tapi kamu itu selalu menyalahkan saya."


" Saya akan menemui Shane, dan mengakui semuanya !"


" Dasar bodoh ! kamu pikir dengan kamu memberitahukan pada bocah tengil itu, kamu uda merasa hebat? Shane akan memaafkan mu? tidak, sayang ! tidak."


Paman Sammy menangis.


" Kalau uda terlanjur basah, ya basah aja sekalian. Ga usah pake tobat - tobatan segala, menyesal lah..apalah..!" ucap Bibi Marry dengan kesalnya.


" Sampai kapan kita harus seperti ini? ini ga berkah untuk kita, untuk anak - anak kita juga !" Paman Sammy meyakinkan.


" Sampai dendam kita terbalaskan. Saya ga mau Sofie itu bisa bahagia, saya ga sudi. Kita uda sepakatkan, kalau Sofie itu harus mati ditangan kita, sama seperti kedua orang tuanya. Jadi ga usah mundur, kita ga boleh kalah. Kamu pikir, dengan sikap orang tua mu itu dulu bisa saya maafkan? Oh tidak."


" Kenapa kamu masih mengingatnya?" tanya Paman Sammy.


" Sampai kapan pun masalah itu saya akan mengingatnya. Orang tua mu itu tidak adil. Jangan karena Ibu nya Sofie, anak perempuan satu - satunya, seenaknya aja orang tua mu itu memanjakannya. Ga ada anak perempuan itu mendapatkan harta warisan. "


" Ah sudahlah, saya pusing !''


****


Pagi ini ada jadwal mengajar, Sofie pun bergegas untuk pergi ke sekolah. Shane melihat jika istrinya itu sudah rapi.


" Pulang jam berapa nanti? "


" Seperti biasa, jam 14.00. Kenapa?"


" Ga, hanya nanya aja. Kamu mau ga diantarin ?"


" Ga usah, saya bisa pergi sendiri."


" Ga papa, biar saya aja yang antarin. Saya kan pengen jadi suami yang baik buat kamu !"


Sofie tersenyum.


" Ga papa, saya naik taxi online aja. Lagian kamu masih ada kerjaan kan?"

__ADS_1


" Ga juga. Ya uda biar saya antarin kamu. "


" Kamu ikhlas kan?"


" Emang tampang saya, ada tampang ga ikhlas ya?"


Sofie pun tersenyum manis.


Akhirnya Shane pergi mengantarkan istrinya itu. Hari ini memang Sofie tampak beda, ia begitu rapi.


Shane trus menatap wajah istrinya itu. Sofie begitu beda.


****


Ternyata diam - diam, Bibi Marry menyuruh Mark untuk menculik Sofie. Mark menyamar sebagai supir taxi online.


" Saya akan bayar mahal kamu, kalau kamu berhasil menculik Sofie. Gimana, setuju ga?" tawar Bibi Marry.


" Ya, saya akan melakukannya, sekarang apa yang harus saya lakukan?"


" Kamu pergi ke sekolah itu, dan kamu tunggu Sofie sampai pulang. Dia selalu menaiki taxi online. Bawa dia ke jalan Sakura. Saya akan tunggu kamu disana."


" Oke. "


Sesuai perintah Bibi Marry, Mark pun langsung menuju ke sekolah dimana Sofie mengajar. Dengan menyamar sebagai supir taxi online, Mark pun merubah penampilannya.


****


Shane dan Sofie pun tiba di sekolah itu.


" Kalau saya bisa, nanti saya akan jemput kamu !" ucap Shane


" Ga usah dipaksain. Saya bisa pulang sendiri kok !"


" Ya, makasih banyak ya ! kamu hati - hati dijalan."


Shane pun berlalu dari hadapan Sofie. Sofie pun langsung masuk ke sekolah, karena 10 menit lagi, ia akan mulai mengajar.


Waktu pun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Siang itu hujan turun sangat deras sekali. Shane tidak bisa menjemput istrinya itu, karena ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.


Semua para guru dan murid pun sudah pada berpulangan. Mereka tidak perduli hujan turun sangat deras sekali. Tinggallah Sofie seorang diri.


" Miss Sofie, kenapa belum pulang juga?"


" Saya takut, Pak. Hujan sangat deras sekali. Dari tadi saya juga pesan taxi, ga ada yang datang, Pak !"


" Ohh ya, itu sepertinya taxi, Miss !"


Sofie mencoba melihat.


" Pak, tolong panggilin dong !"


" Ya, tunggu sebentar, Miss !"


Security itu pun memanggil mobil yang dikemudikan Mark itu. Ia tak tahu jika Mark adalah orang jahat.


Dengan cekatan, Mark pun masuk ke area parkir sekolah itu.


" Pak, saya duluan ya !" ucap Sofie.


" Ya, Miss. Hati - hati ya !"


Sofie menutup pintu mobil itu. Mark melihatnya dari kaca spion depan. Mark pun tersenyum.

__ADS_1


" Pak, kita ke Jalan Merak ya!" titah Sofie.


" Ya, Nona !"


Sofie sama sekali tidak mengenali suara Mark. Ia pun duduk tenang di belakang.


Tiba - tiba saja ponselnya berdering. Ternyata dari Shane.


" Kamu lagi dimana ?" tanya Shane


" Saya uda dijalan."


" Hujan sangat deras, Sofie !"


" Ia ga papa, saya uda naik taxi. Lagian di sekolah uda ga ada orang lagi. Semua uda pada pulang."


" Baiklah, kamu hati - hati ya !"


Shane menutup ponselnya.


" Siapa yang nelpon, Nona ?"


" Suami saya, Pak."


" Apa dia ga bisa menjemput mu?"


" Ga, dia lagi ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. "


" Oh.."


Hujan semakin deras. Dimana - mana jalan banjir.


" Nona, kita ga bisa ke Jalan Merak !"


" Kenapa, Pak?"


" Banjir."


" Banjir ? astaga ? jadi kita harus dari jalan mana?"


" Kita akan masuk dari Jalan Terompet."


" Jalan Terompet? saya ga pernah mendengarnya !"


" Hahah, makanya Nona sekali - sekali anda perlu mengetahui semua area jalan daerah ini."


" Ya, saya memang jarang sekali keluar."


Mark kembali melihatnya dari kaca spion depan. Mark semakin tak sabar ingin memeluk wanita cantik itu.


Sofie sangat kelelahan. Ia pun tertidur. Lagi - lagi Mark melihatnya. Dan ia pun langsung memutar arah mobil itu. Ia membawa Sofie ke tempat dimana Bibi Marry menyuruhnya.


Dan akhirnya mereka pun tiba dimana tempat penyekapan Sofie akan dilakukan. Ternyata disana sudah ada Bibi Marry dan Paman Sammy.


" Gimana, aman kan?" tanya Paman Sammy.


" Aman, Bos. Sekarang dia ada di mobil. "


Mark, Bibi Marry dan Paman Sammy sedang asyik bercerita. Mereka membahas bagaimana selanjutnya Sofie.


Sofie pun terbangun. Ia melihat sekelilingnya seperti berbeda. Sofie langsung bergegas keluar. Ia mencoba membuka pintu mobil itu, tapi sayangnya pintu itu dikunci oleh Mark.


" Tolong..tolong..tolong...!" teriak Sofie.

__ADS_1


Karena didalam mobil, Mark, Bibi Marry dan Paman Sammy tidak mendengarnya. Sofie menangis dan sangat ketakutan.


__ADS_2