
Sofie masih tak habis pikir, kenapa Bibi nya melarang dia untuk hamil. Padahal jelas - jelas Shane itu adalah suaminya. Sofie menangis kenapa ia tak bisa merasakan kebahagiaan. Ada saja yang menghalanginya.
Ucapan Bibi nya selalu saja terngiang - ngiang, kenapa bisa seperti ini. Sofie ingin mencari tahu apa penyebabnya.
Sofie segera pulang. Ia ingin cepat - cepat memeriksakan dirinya. Tibalah ia dirumah. Ia mengambil testpack dari dalam tasnya. Ia menatap kembali testpack itu.
Rasa penasaran dan jantung pun semakin berdetak kencang. Ia takut apakah hasilnya positif atau negatif.
Petugas apotik itu mengatakan jika mau mendapatkan hasil yang akurat, sebaiknya di pagi hari. Tapi Sofie tak sabar. Ia melakukannya di siang hari.
Dengan langkah perlahan, ia memasuki kamar mandi. Detak jantung semakin cepat ritmenya.
Dengan rasa percaya diri ia pun memeriksakan dirinya.
Selesai sudah. Ia menunggu. Belum berani ia melihat hasilnya.
****
Bibi Mary memberitahukan pada suaminya kalau ia bertemu dengan Sofie.
Ia menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Paman Sammy menjadi geram , ia juga tak mau kalau Sofie hamil anak dari Shane.
Mereka tidak mau semua harta Shane jatuh ke tangan Sofie dan anaknya. Paman Sammy dan Bibi Mary ingin menguasai semua harta milik Shane.
Paman Sammy mencari jalan untuk bisa memisahkan Sofie dan Shane.
" Sayang, bagaimana kalau Sofie kita culik. Dan kita bawa dia ke tempat dimana orang tuanya dulu kita buang. Saya ga mau, Sofie itu bahagia. Kalau dia hamil anak Shane, semua kekayaan Shane akan jatuh ke tangan Sofie dan anaknya." Kata Bibi Mary
"Hhmmm...ia juga ya. Ide kamu sangat cemerlang, sayang. Baiklah saya akan suruh bawahan saya untuk menculik Sofie. " Sahut Paman Sammy.
Sang Paman pun langsung melakukan aksinya. Ia menghubungi orang - orangnya untuk menculik Sofie.
Dengan perintah sang Paman dan memberi tahukan alamatnya, orang suruhannya langsung segera melakukan penculikan Sofie.
****
Sudah ada 15 menit, Sofie menunggu dan akhirnya ia memberanikan diri melihat hasil testpack tersebut.
Dan hasilnya sangat memuaskan...Sofie positif hamil. Seperti tak percaya, ia bisa hamil. Ia menangis sambil bersujud, ia tak menyangka jika ia hamil. Apalagi ia hamil anak Shane, pria tampan berhati dingin itu.
Sofie menghapus air mata bahagianya. Sofie ingin memberi kejutan pada Shane. Ia mengambil sebuah amplop dan ia memasukkan testpack tersebut ke dalam amplop tersebut.
Sofie mengambil ponselnya. Ia ingin menghubungi Shane. Ia ingin menyuruh Shane segera pulang. Tapi belum saja ia menghubungi Shane, tiba - tiba saja bell rumah berbunyi.
Ting..tong...ting..tong..
Suara bell rumah berbunyi. Sudah ada 3 kali bell rumah itu berbunyi. Sofie masih saja menunggu Bibi Janet agar Bibi Janet membukakan pintu rumah itu.
__ADS_1
Kembali bell rumah berbunyi...
Sofie memanggil - manggil Bibi Janet, tapi tak ada jawaban. Mungkin saja Bibi Janet lagi sibuk bekerja, pikir Sofie.
Sofie meletakkan amplop itu di atas nakas kamar mereka.
Sofie pun turun perlahan - lahan. Karena lagi hamil, ia sangat hati - hati sekali menuruni anak tangga itu. Dan lagi - lagi bell rumah berbunyi.
" Nak, Sofie...!'' Panggil Bibi Janet.
" Ya, Bi..!" Jawab Sofie. Ia menghentikan langkahnya.
" Biar saya aja yang buka, Bi. Mungkin Shane sudah pulang. Ohh..ya, saya punya sesuatu yang harus saya tunjukkan untuk Bibi.''
" Apa itu?"
" Tunggu ya Bi, saya bukain pintu dulu."
" Ga usah, nak. Biar Bibi aja yang buka. Tadi Bibi lagi di atas menjemur pakaian. Maaf ya..!"
Bibi Janet terus berjalan. Dengan perlahan ia pun membuka pintu rumah itu.
Krekkkk....
Pintu pun terbuka, dan Bibi Janet di dorong oleh dua pria yang memakai topeng.
" Aduhhh.....!" Bibi Janet terjatuh.
" Bibi? ada apa, Bi?"
Karena tidak ada jawaban, Sofie pun keluar.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap, dengan memakai topeng berwarna hitam langsung mengikat Bibi Janet, dan mulutnya di tutup dengan plester hitam. Bibi Janet merintih kesakitan dan ia mencoba melepaskan ikatannya.
" Bibi...? Siapa kalian? jangan sakiti Bibi Janet. Lepaskan dia..!"
" Apakah kamu yang namanya Sofie?"
" Ia. Kenapa? kalian siapa? lepaskan Bibi saya."
" Saya akan lepaskan wanita tua ini, asalkan kamu ikut dengan kami."
" Kalian siapa? kalian mau apa? saya ga punya masalah dengan kalian. "
Sofie menangis. Ia mencoba menelpon Shane. Tapi sayangnya , penjahat itu merampas ponsel Sofie.
" Bawa dia sekarang..!" Titah pria berbaju merah.
__ADS_1
" Jangan bawa saya, saya mohon." Sofie mencoba melawan penjahat itu. Tapi tenaganya tidak kuat untuk melawan mereka.
" Maafkan kami Sofie, kami hanya disuruh. " Kata salah satu pria itu. Dan ternyata salah satu pria itu adalah anak buah Shane Denaro. Ia telah berkhianat pada Shane. Semua itu tidak lain karena uang.
" Siapa yang menyuruh kalian?" Bentak Sofie.
" Nanti kamu akan melihatnya dan kamu mengetahui siapa dalang dibalik semua ini."
Sofie menangis histeris. Ia pun menebak - nebak. Siapa yang menyuruh mereka ini untuk menculiknya.
..." Shane. Tak mungkin. Tak mungkin suaminya itu menyuruh orang - orang ini untuk menculiknya."...
...Gumam Sofie....
Sofie menangis, ia terus mencoba untuk melawan. Ia pun tersadar kalau ia hamil. Ia pun tak bisa berbuat apa - apa lagi. Ia hanya nurut apa kata penjahat itu.
Bibi Janet dibawa ke dapur. Disanalah ia diikat. Mulutnya masih terplester perban. Bibi Janet hanya bisa menangis ketika ia melihat Sofie dibawa oleh penjahat itu.
Sofie sama sekali tidak bisa melawan. Ia takut terjadi apa - apa pada kehamilannya.
Ia hanya bisa berdoa agar Bibi Janet secepatnya memberitahukan pada Shane. Sofie hanya bisa pasrah.
Mobil penjahat itu melaju sangat kencang sekali. Salah satu pria yang menculik Sofie, yang tak lain adalah anak buah Shane sendiri, ia sangat kasihan pada Sofie.
Tapi ini semua ia lakukan demi uang untuk anak istrinya.
" Saya haus, boleh saya minta air minum?" Ucap Sofie
" Kamu haus? kamu mau minum?" Tawar anak buah Shane.
Sofie menganggukkan kepalanya. Pria itu memberikan sebotol minuman air mineral.
Sofie langsung meminumnya. Rasa dahaga pun hilang sejenak.
" Tolong beritahu saya, siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Sofie
Kedua penjahat itu saling bertatapan.
" Nanti kamu akan tahu siapa yang menyuruh kami."
Kembali Sofie menangis.
" Saya sedang hamil, tolong jangan sakiti saya. Saya mohon."
" Apa? kamu lagi hamil?''
" Ia. Saya belum sempat memberitahukannya pada suami saya. Saya mohon jangan sakiti saya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Sofie, dua pria itu pun langsung luluh, tak tega rasanya ia menculik wanita yang sedang hamil. Kedua nya langsung teringat akan istri dan anak - anak mereka.
Tak mungkin rasanya mereka melepaskan Sofie begitu saja. Karena mereka sudah menerima bayaran dari Paman Sammy dengan jumlah yang besar.