
Akhirnya Shane, Agnes dan Dion dipertemukan. Sofie meminta pada mereka bertiga agar segera menyelesaikan masalahnya.
Tapi malangnya Agnes tidak bisa sama sekali melepaskan Shane, karena Agnes juga sudah sangat mencintainya.
Dion sangat terpukul mendengar jawaban Agnes. Tapi apa boleh buat, Dion tidak bisa memaksakan kehendak Agnes.
Sofie hanya bisa terdiam. Dan harus menerima semua ini dengan lapang dada. Bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan hubungannya dengan Shane, sementara Agnes sudah terlalu cinta pada Shane.
Dion pun mengalah. Akhirnya ia tahu bagaimana Agnes sebenarnya. Sakit rasanya apalagi disaat pesta pernikahan mereka akan dilaksanakan.
Sofie masih saja menangis. Ia masih tak percaya mengapa Shane dan Agnes tega melakukan ini semua.
Sofie jadi teringat akan bibi Janet. Bibi Janet selalu berpesan agar bisa mempertahankan rumah tangganya.
Selama ini Sofie sudah mencoba tegar, sabar tapi sepertinya Shane memang tidak bisa menerimanya.
Hanya membela sang Paman, Sofie harus menerima perlakuan kasar dari Shane. Ya, itulah yang selalu ada dalam benak Sofie.
Sofie sadar ia bukanlah wanita yang di dambakan oleh Shane. Shane pria tampan, kaya raya. Wajar banyak wanita cantik yang suka padanya.
Hari itu juga, Sofie langsung bergegas membereskan semua barang - barangnya. Ia ingin secepatnya pulang ke Indonesia.
Ia jadi rindu pada anak didiknya, pada Bibi Janet, Jesi dan Jason.
Sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk berbelanja oleh - oleh. Ia ingin membelikan oleh - oleh untuk Bibi Janet, Jesi dan Jason.
Sofie pergi ke beberapa toko. Ia melihat banyak boneka yang lucu - lucu. Sofie pun berandai - andai.
Ternyata Sofie juga menginginkan seorang anak. Anak yang lucu. Tapi ia sadar, pernikahannya ini tidaklah sesuai yang ia harapkan. Mana mungkin ia bisa punya anak, sementara Shane sangat tidak perduli padanya.
Sofie pun sadar dari lamunannya ketika petugas toko menyapanya. Oleh - oleh untuk Bibi Janet, Sofie selalu memberikan yang terbaik. Ia membelikan baju yang sangat bagus.
Hari itu Sofie sangat puas sekali berbelanja untuk orang - orang yang ia sayangi.
Malam hari pun tiba. Ntah mengapa Shane malam itu ingin sekali tidur dengan Sofie.
Shane mendatangi kamarnya. Sofie merasa heran tumben Shane mau ke kamarnya.
" Malam ini saya mau tidur disini." Pinta Shane sambil nyelonong masuk kekamar itu.
" Tidur disini? ga salah kamu?"
" Ga. Uda ga usah banyak pertanyaan."
" Kamu berantem dengan Agnes?"
" Ga. Kenapa?"
" Ya, tumben aja kamu mau tidur disini. Uda tobat ya? atau jangan - jangan, kamu ga dapat jatah dari Agnes? hahahaha....!"
Shane melempar sebuah bantal ke wajah Sofie.
"Kalau ngomong itu dipikir."
__ADS_1
" Trus, kenapa kamu kesini? kamu mau cari ribut sama saya?"
" Saya kesini mau tidur. Kamu ngerti ga sih?"
" Saya ga mau tidur sama kamu, sekarang keluar dari kamar saya."
" Keluar? kamu ngusir saya?"
" Ia. Kamu budek ya? kamu keluar dari kamar saya. Ayo buruannnnn..."
Sofie mendorong tubuh Shane sekuat tenaga. Karena Sofie merasa kurang kuat, akhirnya ia pun kelelahan.
" Trus aja dorong, sampai patah itu tulang." Kata Shane.
Sofie terdiam.
" Itu apa'an? banyak banget belanjaan kamu?" Tanya Shane.
" Itu oleh - oleh untuk Bibi Janet, Jesi dan Jason."
" Oh begitu. Siapa yang beli'in? Dion? oh ya gimana rasanya dipeluk sama itu orang? "
" Kok gitu ngomongnya?"
" Ya ialah. Uda ngapain aja kalian?"
" Shane, kamu itu kalau ngomong dijaga ya...saya dan Dion itu ga ada hubungan apa - apa.''
" Ga ada hubungan apa - apa tapi kok pelukannya erat banget..jangan - jangan dia suka sama kamu ya?"
" Kamu menganggapnya seperti itu ya?"
" Emang ia kan? kalau kamu ngerti arti pernikahan, kamu ga akan melakukan itu sama Agnes. Kamu menjalin hubungan dengannya. Kamu pernah kiss dia kan? trus kamu ngajakin saya honey moon tapi kamunya ngajakin dia juga. Apa sih mau kamu? Shane, kamu dengar sendiri apa kata Agnes kan? dia itu ga mau pisah dari kamu. Dia itu mau nya sama kamu. Dia itu cintanya sama kamu. Sekarang tanya hati kamu, kalau kamu juga sayang sama dia, kalian bisa bersama kok. Saya ikhlas, Shane. Jujur, saya ga mau kita gini terus. Saya punya banyak mimpi. Saya ingin punya anak, saya ingin bahagia. "
Shane terdiam. Ia hanya bisa menunduk.
" Pikirkanlah, sebelum semuanya terlambat. Saya rasa, Agnes dan Dion ga akan mungkin lagi bersama."
" Trus kalau mereka ga bisa bersama, kamu mau apa? kamu mau Dion?"
" Maybe yes, maybe no..!"
Shane langsung keluar dari kamar Sofie. Ia begitu marah. Ia membanting pintu kamar itu.
" Kamu marah ya?" Tanya Sofie sambil menarik tangan Shane.
Shane terus berjalan menyusuri lorong kamar hotel itu. Sofie terus mengejarnya.
" Shane, kamu mau kemana?"
" Saya laper. Saya mau cari makan."
" Oh...saya boleh ikut ga?"
__ADS_1
" Ngapain kamu ikut? buat masalah aja."
" Saya juga laper. Dari tadi belum makan. Dengar ni..perut saya uda keroncongan.."
" Tau ahh....!"
Shane terus berjalan hingga keluar hotel. Dan Sofie pun mengikutinya terus.
" Kamu tahu ga, selama kita disini, saya itu jalan - jalan sendirian. Kamu mau ga kita ke ujung jalan itu, disana ada pemain musik. Saya sering bermain musik disana sambil bernyanyi."
" Hhmmm...baguslah."
" Hanya itu jawaban kamu?"
" Mau kamu apa? saya harus bilang wowww gitu?"
" Ya, setidaknya?"
" Setidaknya apa? kamu mau saya puji, kalau kamu itu pintar nyanyi? ia saya akui kamu itu pintar bernyanyi. Puassssss.....??"
" Ga usah marah - marah, biasa aja."
" Siapa juga yang marah."
Mereka berdua terus menyusuri jalanan kota itu, sesekali mereka berdua saling ribut. Hingga tibalah mereka di sebuah resto Italia yang sangat terkenal.
Shane memasuki resto tersebut. Sofie menghentikan langkahnya. Sofie memutar balikan tubuhnya. Ia tak mau masuk ke resto itu. Ia merogoh sakunya, ia lupa kalau ia tak membawa dompetnya.
Sofie pun pergi meninggalkan Shane. Ia terus berjalan.
Shane melihat Sofie tidak lagi mengikutinya. Shane mencari - cari Sofie.
Shane pun mengurungkan niatnya makan di resto itu. Shane pun keluar.
Ia tahu kemana pergi Sofie. Ia pun menuju kesana. Tapi ia tak menemukan Sofie disana. Ia trus mencarinya, hingga sampailah ia disebuah taman kota.
Ia melihat Sofie disana duduk sendirian. Shane pun menghampirinya.
" Ternyata kamu disini. Kenapa ga jadi makan? katanya lapar...!"
" Kamu? ngapain kamu kesini?"
Shane duduk disebelah Sofie.
" Kamu kenapa?" Tanya Shane.
" Hhmmm..ga papa. Saya baik - baik aja."
" Trus kenapa ga jadi makan?"
" Hhmmm....tiba - tiba saya kenyang. "
" Kenyang dari mana?"
__ADS_1
" Ya, kenyang aja."
Sejenak mereka berdua diam.