" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 87 " Di Panggil Kepala Sekolah "


__ADS_3

Hari - hari pun berlalu, Sofie tidak pernah fokus untuk melakukan sesuatu. Ia selalu termenung, menangis dan ia juga lebih suka menyendiri.


Pekerjaannya pun semakin terbengkalai, ujian tengah semester seharusnya sudah di mulai, tapi Sofie tidak membuat soal - soal untuk siswanya. Karena kelalaiannya, Sofie pun ditegur Kepala Sekolah dan anak - anak pun terlambat mengkuti ujian tersebut.


Siang itu, Sofie kembali di panggil Kepala Sekolah. Ia pun menjadi takut, kesalahan apalagi yang ia lakukan. Dengan perasaan yang gugup, ia pun menemui Kepala Sekolah itu.


" Miss Sofie, akhir - akhir ini saya memperhatikan kalau Miss banyak sekali mengalami masalah dalam pekerjaan. Maaf Miss, bukannya saya mau ikut campur, tapi kan Miss dan Shane sudah berpisah. Apakah itu yang menjadi beban pikiran Miss? saya tahu, ga semua orang menginginkan perpisahan, tapi ini kan kehendak Miss sendiri. Miss, saya sangat prihatin sekali atas apa yang menimpa keluarga Miss. Jujur saja , saya sangat menyayangkan keputusan Miss ini, Miss terlalu cepat mengambil keputusan untuk berpisah. Ga ada rumah tangga yang sempurna, Miss. Kalau pun Shane belum bisa berbuat baik, Miss Sofie lah yang seharusnya sabar membimbingnya, jangan pernah lelah untuk berbuat kebaikan demi orang yang kita cintai. Maaf Miss, untuk saat ini saya menyalahkan tindakan Miss, yang terlalu cepat mengambil keputusan, karena keputusan yang salah, semua pekerjaan Miss menjadi kacau."


Sofie menangis.


" Maaf Pak, tapi jujur saya ga mampu lagi, Pak. Saya lelah dengan semua ini. Dia ga bisa meninggalkan pekerjaan haramnya. Dia masih mencintai pekerjaannya itu. Bagaimana mungkin saya bisa hidup dengan orang seperti dia. Selama ini, yang saya tahu Shane hanya punya bisnis sindikat senjata terlarang, tapi tidak dengan obat - obatan, Pak. Saya kecewa padanya, Pak."


" Ya, itulah cobaan hidup Miss. Shane melakukan itu karena dia jauh dari kata kasih sayang, dia tidak pernah mendapatkan itu semua. Miss tahu kan, dari kecil dia hanya di rawat oleh seorang asisten rumah tangganya. Kita ga bisa begitu saja menyalahkannya. Semua ini karena keadaan, keadaanlah yang membuat Shane harus seperti ini. Miss, saya dengar katanya Miss mau menikah dengan Pamannya Sarah ?"


" Bapak tahu dari mana?"


" Saya tahu dari guru - guru disini. Apakah benar berita itu?"


Sofie menganggukkan kepalanya.


" Miss, saya minta mulai sekarang fokuslah dalam pekerjaan mu, jangan lagi seperti yang kemaren - kemaren. Jangan buat saya kecewa, jangan buat saya menjadi malu. Miss tahu kan, Miss itu disini menjadi guru teladan, calon guru penggerak. Buatlah contoh yang baik untuk kami semua, untuk anak - anak disini. "


Sofie kembali menangis.


" Ya Pak, saya mohon maaf untuk semua kesalahan yang uda saya lakukan."


" Baiklah, sekarang pergilah mengajar. Tetap semangat, jangan bersedih lagi."


Sofie kembali menganggukkan kepalanya. Ia pun keluar dari ruangan Kepala Sekolah itu.


****

__ADS_1


Hari ini, Shane ingin nyekar ke makam kedua orang tua nya dan ke makam Bibi Janet. Ada rasa rindu yang sangat mendalam, yang tidak bisa di ungkapkan.


Setelah membeli bunga, ia langsung pergi ke makam. Kunjungan pertama adalah makam ke dua orang tuanya.


Disana Shane mencurahkan semua isi hatinya. Ia menangis, marah. Shane juga menceritakan masalah yang baru saja di hadapinya, berpisah dari Sofie.


Padahal, Shane punya banyak harapan dan mimpi pada Sofie. Tapi karena Shane merasa ini semua adalah kesalahannya, ia pun tidak bisa memaafkan dirinya.


Semua unek - uneknya telah di curahkannya, ia pun berpamitan pada kedua orang tuanya karena Shane akan melanjutkan nyekar di makam Bibi Janet, seorang asisten rumah tangga sekaligus Ibu baginya.


Selesai dari makam orang tuanya, ia pergi ke makam Bibi Janet. Disana Shane marah sekali pada Bibi Janet.


" Bibi Jahat, Bibi tega ninggalin saya sendiri. Bibi ga kasihan melihat saya, sekarang saya hidup sendiri. Sofie, wanita kebanggaan Bibi itu, sekarang dia uda pergi meninggalkan saya. Dia akan menikah dengan pria lain. Hahaha..Bibi tahu, begitu cepatnya Sofie melupakan saya. Saya baru sadar Bi, ternyata selama ini, Sofie itu tidak pernah mencintai saya, dia hanya pura - pura mencintai saya. Mungkin itu semua di lakukan karena ada Bibi. Sekarang Bibi uda ga ada, dia sekarang pergi bebas, dan dia lah yang menginginkan perpisahan ini. Bi, saya sangat merindukan Bibi."


Air matanya berlinang begitu mengingat semua kenangan bersama Bibi Janet.


****


Akhirnya Paman Sammy pun pindah ke Aussie. Jason, anak sulungnya yang dari awal menentang perpindahan ini, terpaksa ikut.


Kedua orang tuanya tidak mengijinkan Jason tinggal di kota itu, apalagi harus tinggal bersama Sofie. Karena Sofie adalah musuh terberat orang tuanya.


Paman Sammy menjual rumah pemberian Shane. Setelah rumah terjual, mereka langsung pergi tanpa sepengetahuan Shane.


Pergi tanpa meminta maaf dan tak pernah merasa bersalah.


****


Selesai menyekar, Shane melewati rumah Paman Sammy. Ia ingin mengetahui kabar dari musuhnya itu, sudah lama juga ia tak mengetahui kabar dari mereka.


Ia menepikan mobilnya di bawah pohon rindang dekat dengan rumah itu. Ia segera turun. Ia melihat keadaan rumah itu, rumah yang besar dan sangat mewah. Pintu pagar yang tertutup rapat dan tiba - tiba saja, ada seorang wanita paruh baya sedang membuka pagar rumah itu.

__ADS_1


Shane heran, mengapa ada orang asing di rumah Paman Sammy. Pagar rumah itu semakin terbuka lebar, ia melihat juga ada seorang anak remaja yang sedang bermain basket di pekarangan rumah itu.


Rasa penasaran Shane semakin besar. Ia pun menghampiri wanita paruh baya itu.


" Selamat siang, Bu !" sapa Shane.


" Ya, selamat siang juga Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya itu.


" Maaf, saya mau nanya. Apakah Ibu pemilik rumah ini?"


" Saya hanya seorang asisten rumah tangga, pemilik rumah ini sedang pergi ke kantor."


" Ke kantor?"


" Ya Tuan."


Shane langsung membuka ponselnya. Ia mencari fhoto Paman Sammy, lalu ia menunjukkan fhoto Paman Sammy kepada wanita paruh baya itu.


" Hhmm..maaf, apakah yang punya rumah ini, seperti fhoto yang ada dalam ponsel ini?"


Wanita itu melihat fhoto itu, dan ia menggelengkan kepalanya.


" Bukan Tuan, tapi setahu saya, rumah ini adalah milik Tuan yang ada di dalam fhoto itu. Tuan dan Nyonya saya sudah membelinya dari beliau. Kami pindah kesini baru seminggu yang lalu. "


" Apa? jadi Paman Sammy menjual rumah ini? Maaf, apakah Ibu tahu kemana mereka pergi?"


" Maaf Tuan, saya tidak tahu."


Shane tersenyum pada wanita itu.


" Baiklah kalau begitu, saya permisi."

__ADS_1


Shane pergi meninggalkan rumah itu. Ia tidak menyangka Paman Sammy telah menjual rumah pemberiannya. Paman Sammy sangat keterlaluan, membuat Shane menjadi sangat geram.


__ADS_2