" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 97 " Salah Nama "


__ADS_3

Jason sangat merindukan Tante Sofie, akhirnya Jason memberanikan dirinya menghubungi Sofie.


Ketika Sofie mengajar, tiba - tiba saja ponselnya berdering. Ia pun menghentikan kegiatan mengajarnya.


Sofie mengambil ponselnya, dan ia melihat kalau nama si penelpon tidak ada. Sofie keluar dari kelas tersebut, dan ia mencoba mengangkatnya.


" Hallo...!" sapa Sofie.


" Hallo Tante Sofie, apa kabarnya?"


" Jason ?"


" Ya, Tante."


Jason langsung menangis.


" Sayang Tante, gimana kabar kamu, nak?"


" Jason baik, Tante. Tante sendiri gimana?"


" Tante juga baik. Oh ya, gimana keadaan Paman dan Bibi, adik Jesi juga?"


" Mereka semua baik, Tante. "


" Sayang, Tante kangen sekali. Kamu lagi apa disana?"


" Jason baru selesai belajar, banyak tugas dari sekolah, Tan. Dan menunggu jam tidur, Jason ingin bercerita banyak pada Tante Sofie,"


" Jason, disini Tante sangat merindukan kamu. Adik Jesi dimana?"


" Jesi dikamar sebelah, dia baru sembuh Tan, karena disini udaranya dingin,"


" Kasihan sekali, Jesi. Oh ya, Papa dan Mama mana?"


" Mereka ada dikamarnya. Tante Sofie, Jason minta maaf ya, karena Jason baru ini bisa menghubungi Tante. Jason ga ada pamitan pada Tante. Jason minta maaf ya..!"


" Ia sayang, Tante tahu. Ga papa, yang penting Jason dan keluarga disana baik - baik aja, "


Ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba - tiba saja, Bibi Marry masuk ke dalam kamar Jason.


" Jason?"


Jason langsung terkejut, tapi ia tidak mematikan ponselnya.


" Kamu nelpon siapa?"


" Tante Sofie. Emang kenapa?"


" Tutup ponsel kamu, sekarang kamu tidur !"


" Ga, Jason belum mau tidur. Jason masih mau ngomong sama Tante Sofie,"


" Mama bilang tutup ponsel kamu !"


" Ga, jangan larang Jason, Ma. Jason ga anak kecil lagi. Jason kangen sama Tante Sofie, "


" Berikan ponsel kamu, kamu ga boleh ngomong sama dia !"


" Jangan Ma, jangan ambil ponsel Jason. Kalau Mama masih kasar sama Jason, Jason akan pergi dari rumah ini."


" Kamu ngancam Mama?"

__ADS_1


" Ia, karena Jason ga mau punya Mama yang jahat. Mama itu jahat, pembunuh."


Plakkkk....


Bibi Marry menampar pipi kanan Jason.


" Kamu keterlaluan, Jason. Lancang kamu bicara. "


" Mama sekarang harus minta maaf pada Tante Sofie, kalau ga, Jason akan melaporkan Mama ke Polisi. "


" Kamu ngomong apa Jason ?"


" Jason tahu semuanya. Sekarang Mama minta maaf pada Tante Sofie. "


Bibi Marry pun emosi, ia melemparkan ponsel milik Jason hingga ponselnya hancur berkeping - keping.


" Kamu keterlaluan, anak ga tahu diri."


Bibi Marry memukuli Jason dengan tali pinggang miliknya. Jason menahan rasa sakit. Ia tak mau menangis. Paman Sammy mendengar kegaduhan itu.


" Ada apa ini malam - malam kalian berdua buat ribut ?"


" Ini anak mu, uda keterlaluan sekali."


" Jason, ada apa, nak?"


Jason menceritakan apa yang sudah ia ketahui. Paman Sammy pun marah.


" Kamu masih kecil, kamu ga berhak menghakimi orang tua mu seperti itu!"


" Bukan masalah masih kecil atau tidak, Pa, tapi Jason ga mau kalau Papa dan Mama larut dalam ketakutan. "


Paman Sammy pun menangis.


" Pasti Papa bisa, asal Papa minta maaf pada Tante Sofie."


Paman Sammy langsung menangis. Lalu ia memeluk Jason.


" Pa, Jason ga mau, Papa dan Mama selalu dendam pada Tante Sofie, minta maaflah padanya."


Paman Sammy menganggukkan kepalanya.


" Ia nak, Papa akan mengakui semua kesalahan Papa,"


Jason pun tersenyum. Jason kembali memeluk Paman Sammy.


****


Sofie menjadi kepikiran akan Jason. Perlakuan kasar Bibi Marry ternyata belum juga berubah. Sofie khawatir kalau Jason semakin takut tinggal bersama kedua orang tuanya.


Setelah pulang sekolah, Sofie pergi ke toko percetakan. Ia mau menanyakan sampai dimana persiapan undangan pernikahan mereka.


Dengan berjalan kaki, ia pun menyusuri jalanan kota itu. Terik panas matahari tidak ia perdulikan. Tibalah ia di toko percetakan itu.


" Selamat siang, Pak !" sapa Sofie pada pemilik toko itu.


Pemilik toko tersebut pun langsung tersenyum melihat kedatangan Sofie.


" Pak, gimana undangannya? apakah uda selesai?" tanya Sofie


" Maaf Bu Sofie, tapi kami harus mengulangi nya lagi, karena ada kesalahan nama, "

__ADS_1


" Kesalahan nama? maksudnya?"


" Ia, kesalahan nama si wanitanya."


" Nama wanitanya? bukannya dulu uda saya kasih tahu? kan nama saya uda jelas - jelas saya beritahukan, trus apa lagi masalahnya?"


Petugas toko yang lain menghampirinya.


" Bu Sofie, maafkan kami Bu, tapi nama wanita dalam kartu undangannya bukan nama Ibu Sofie !"


" Apa? bukan nama saya? maksud kalian apa sih?"


Petugas toko itu memberikan satu kartu undangan yang sudah selesai. Sofie mengambilnya dan membacanya. Sontak saja ia begitu sangat terkejut, nama wanita dalam undangan itu adalah nama Agnes.


" Hah ? Agnes? kenapa nama Agnes? ini kenapa bisa jadi nama Agnes? yang mau nikah itu kan saya? siapa yang uda berani melakukan ini, Pak ?" bentak Sofie.


" Pak Dion, Bu !"


" Apa? Dion ? Dion yang melakukan ini?"


Sofie langsung mengambil ponselnya. Ia langsung menghubungi Dion. Tapi sayangnya telponnya tidak juga di jawab.


" Bu Sofie, itu Pak Dion datang Bu !"


Sofie langsung menoleh ke arah Dion. Dion datang bersama Agnes.


" Dion sama Agnes ?" gumam Sofie.


Perasaan Sofie sudah tidak tenang, ia menjadi geram karena merasa di permainkan.


" Sofie ? kamu ada disini?" tanya Dion


" Ya, saya mau bicara sama kamu !"


" Baiklah, kebetulan kita bertemu disini. Saya juga mau bicara sama kamu, ini menyangkut masalah kita,"


Akhirnya mereka pun meninggalkan toko tersebut. Dion mengajak Agnes dan Sofie ke sebuah cafe yang tak jauh dari toko tersebut.


" Sofie, maafkan saya. Semua ini salah saya, pasti kamu datang ke toko itu mau mengambil undangan pernikahan kita kan? Sofie, saya minta maaf kalau ?"


" Kenapa ga dari awal kamu mengakhiri ini semua. Kamu hanya mempermainkan saya kan? kenapa kamu ga bilang, kalau kamu sebenarnya mau nikahi Agnes. Kamu tega Dion, kamu uda mempermainkan saya !"


" Saya ga mempermainkan kamu, tapi kamu lah yang mempermainkan hubungan kita ini. Kamu ga pernah mencintai saya, dipikiran kamu itu hanya ada Shane. Sofie, kamu tahu, sedikit pun kamu ga pernah bisa memberikan waktu mu untuk rencana kita ini, saya ga ngerti kamu itu mau nya apa, saya uda mencoba memberikan semua perhatian saya sama kamu, tapi kamu ga pernah peka. Maaf Sofie, kalau kayak gini, hubungan ini ga bisa kita lanjutkan. Kamu ngertikan?"


Sofie terdiam. Ia mencoba menahan air matanya. Ia tidak mau menumpah ruahkan air mata itu didepan Dion dan Agnes.


" Maafkan saya, kalau saya baru bisa ngomong gini ke kamu, saya sibuk. Saya minta maaf Sofie."


" Kamu hanya bisa minta maaf?"


" Sofie, Shane itu masih mencintai mu. Kembalilah padanya, kalian berdua itu layak bahagia, layak hidup bersama. Cinta sejati mu sebenarnya adalah Shane, bukan saya. Kamu harus tahu, Sof !"


Akhirnya Sofie pun menangis. Ia tidak dapat menahan air matanya. Agnes mencoba menenangkannya.


" Sofie, maafkan saya, saya bukannya mau ikut campur masalah mu, tapi apa yang dikatakan Dion itu benar adanya, kalau kamu memaksakan kehendak mu menikah dengan Dion, itu semua akan menjadi sia - sia, dan ujung - ujungnya akan terjadi pertengkaran, "


" Sofie, saya minta maaf, ikhlas kan saya hidup bersama Agnes, !"


Sofie merasa tersakiti, ia pun tidak tahan akan ucapan Dion. Ia pun pergi meninggalkan mereka. Ia terus saja menangis.


Dion mencoba mengejarnya, tapi Agnes melarangnya.

__ADS_1


" Biarkan dia tenang, jangan di ganggu !" titah Agnes.


__ADS_2