" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "

" Mengikat Janji Dengan Mafia Kejam "
Bab 55 " Kembalinya Shane "


__ADS_3

Akhirnya pesawat yang membawa Shane dan Kris pun landing di Bandara Soetta. Perasaan lega karena perjalanan mereka lancar dari Amerika hingga ke Indonesia.


Kris sangat bersyukur sekali pada Bos nya itu. Shane rela menghabiskan waktunya hanya untuk menemaninya sampai ia benar - benar sembuh.


Nyawanya terselamatkan karena kebaikan Bos nya. Kris sangat menyesal karena telah berkhianat pada Shane.


Kris sadar akan ketamakannya pada uang, ia rela menghianati Bos nya demi uang yang tak seberapa. Padahal Shane lebih sangat perduli padanya dan keluarganya. Mata hati Kris dibutakan karena uang.


Lebih dari apa pun Shane selalu membantunya apalagi masalah anak - anak Kris. Anak - anak Kris bisa sekolah di Internasional School itu semua karena pertolongan Shane.


Walaupun ia kelihatan kejam, tegas tapi dibalik itu semua, Shane sangat perduli. Kris menerima sebuah hunian rumah baru untuk mereka. Kris pun langsung dibawa ke rumah baru mereka.


Shane ikut mengantarkannya sampai kerumah baru Kris. Rumah yang tak begitu besar, tapi sangat nyaman untuk mereka tinggali.


Istri dan anak - anak Kris telah menunggu kedatangan mereka. Istri Kris telah menyediakan makanan kesukaan Shane.


Tibalah mereka dirumah yang bercat coklat muda dengan kombinasi cat lain. Betapa bahagianya Kris melihat rumah baru nya itu.


Selama ini Kris hanya tinggal di sebuah kontrakan, itu pun tak terlalu besar. Istri Kris dan anak - anak nya menyambut gembira kepulangan Ayah mereka. Air mata istri dan anak - anaknya tak henti - hentinya mengalir.


" Tuan Shane, kami sangat berterima kasih sekali atas bantuan Tuan pada kami. Jika tak ada Tuan, mungkin suami saya ntah sudah bagaimana. Terimakasih banyak Tuan, biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikan Tuan. "


" Ya, sama - sama. Saya hanya minta pada kalian semua, jaga rahasia ini. Jangan ada yang tahu, kalau Kris masih hidup. "


" Ya Tuan, kami berjanji !"


"Paman tampan, terimakasih banyak ya, Paman sudah menjadi malaikat buat Ayah kami. Tuhan selalu memberkati mu, Paman. Bahagialah selamanya." ucap salah satu anak Kris.


" Ya, sama - sama. Kalian harus menjadi anak yang baik ya! jangan pernah membantah Ayah dan Ibu mu. "


Kedua anak Kris mengangguk pelan.


Shane pun langsung pulang, ia tak ingin berlama - lama dirumah itu. Karena ia juga sudah sangat rindu akan keadaan rumahnya.


Mobil BMW itu langsung pergi meninggalkan rumah kediaman Kris. Selama di perjalanan, Shane mengingat semua perjuangannya pada semua anak buahnya. Ia merasa sedih, karena sebagian dari mereka telah pergi meninggalkannya.


Hanya Kris lah yang bisa ia genggam. Shane ingin mencari tahu, kemana semua anak buahnya pergi. Siapa yang telah menghancurkannya.


Shane pun tiba di depan rumahnya. Ia langsung keluar dari dalam mobilnya. Sudah hampir satu bulan, ia meninggalkan rumah itu. Ia pun sudah sangat merindukannya.


Ting..tung..ting...tung..


Shane menekan bell rumah itu. Belum juga Bibi Janet membukanya. Shane mengulanginya lagi.


Bibi Janet mendengarkan jika bell rumah itu berbunyi. Ia pun langsung berlari membukanya.


Betapa terkejutnya ia begitu melihat Shane yang berdiri di hadapannya. Shane memberikan senyumannya.


" Ahhh...Tuan Shane ?"


" Ia, Bi. Ini saya Shane. Kenapa Bibi kaget gitu?"


" Tuan, akhirnya Tuan pulang juga!"


Bibi Janet kegirangan begitu melihat majikannya itu.

__ADS_1


"Tuan sehatkan?"


"Seperti yang Bibi lihat. Saya sehat, Bi !"


" Oh Tuhan, syukurlah !"


" Bi, apa Sofie pernah pulang kesini ?"


" Nak Sofie ada di kamar, Tuan. Dia lagi sakit."


"Sakit? sakit apa?"


" Tuan tanyakan aja langsung padanya !"


" Hhmm..baiklah, saya akan lihat dia. Oh ya Bi, tolong bereskan barang - barang saya ya !"


" Baik, Tuan. "


Shane langsung pergi ke kamar untuk melihat Sofie, istrinya itu. Pintu kamar itu tidak dikunci. Shane membukanya perlahan - lahan. Lampu kamar itu padam, ia pun menyalakan lampunya.


Sofie sedang tidur. Tidurnya sangat lelap sekali. Shane langsung mengambil handuk dan ia pergi untuk membersihkan tubuhnya .


Sofie terbangun. Ia merapikan selimut yang ia pakai. Ia melihat sekelilingnya, mengapa lampu kamar itu menyala. Ia mengingat - ingat ketika ia tidur, lampu itu ia padamkan. Mengapa sekarang lampu kamar itu menyala?


Sofie mulai takut. Ia masih terbayang akan kejahatan Mark. Ia juga melihat pakaian yang ia kenakan, semuanya baik - baik aja.


Sofie pun merebahkan dirinya kembali. Ia menutup tubuhnya dengan selimut.


Shane dengan santainya keluar dari kamar mandi, ia bersiul - siul. Sofie mendengarkan siulan itu. Ia semakin takut. Siulan itu semakin kencang.


" Tolong, jangan sakiti saya !" teriak Sofie dari dalam selimutnya.


" Jangan pegang - pegang saya, pergi lah jangan ganggu saya !"


"Hey, ini saya !"


Sofie mengenali suara itu. Dan ia perlahan - lahan membuka selimutnya dan membalikkan tubuhnya.


" Kamu ?"


" Ya, kenapa? kenapa terkejut gitu?"


" Hampir sebulan kamu menghilang, kamu kemana?"


" Itu bukan urusan mu."


" Itu juga urusan saya, kamu suami saya !"


" Suami ? masa kamu ga ingat waktu kamu sakit, kamu itu menganggap saya apa?"


" Kamu jahat Shane !"


" Jahat..jahat..hanya itu kata - kata yang kamu tahu. Bosan !"


" Saya minta maaf, karena uda cuekin kamu !"

__ADS_1


" Basi.''


" Kamu kenapa sih?"


" Ga kenapa - napa."


" Kamu ga kangen sama saya?"


" Kangen ? hahaha...siapa juga yang mau kangen sama kamu."


Wajah Sofie pun mulai cemberut.


" Katanya kamu mau pergi dari rumah ini, kenapa ga jadi pergi ?" tanya Shane.


" Jadi kamu mau ngusir saya?"


" Ga, saya ga mau ngusir kamu. Tapi kan setiap berantam, pasti bawaannya mau pergi dari rumah. Tapi nyatanya ga pergi - pergi. Emang Dion ga perduli lagi sama kamu ya?"


Sofie melemparkan guling ke wajah Shane.


" Kamu itu kalau ngomong dijaga !"


" Emang benar kan ? kamu itu lebih nyaman kalau dekat dengan Dion. Kamu itu beda kalau ada disampingnya. Dion itu lebih perhatian sama kamu. Ga seperti saya, kita selalu ribut."


" Kan kamu dulu yang ngajak ribut !"


" Ahh..sudahlah. Oh ya, kamu sakit apa? kata Bibi Janet kamu sakit."


" Ia, saya sakit."


" Sakit? ya pergilah ke Dokter, ga usah manja."


" Saya kangen sama kamu !"


" Makasih kalau kamu itu kangen sama saya. Tapi saya ga pernah kangen sama kamu."


Shane pun pergi meninggalkan Sofie.


" Kamu mau kemana?"


" Makan."


" Masih ingat makan?"


Shane langsung turun, ia tak perduli pada Sofie, istrinya itu. Sofie pun mengikutinya dari belakang.


" Kita makan bareng ya ! jangan diam aja dong !" tawar Sofie.


" Saya uda laper, tolong jangan di ganggu !"


" Shane, selesai makan saya mau bicara sama kamu, ini penting sekali."


" Paling juga kamu mau laporin saya kan?"


" Ga, saya ga akan laporin kamu."

__ADS_1


" Up to you lah !"


Melihat sikap Shane, Sofie sangat kesal sekali. Sudah hampir sebulan ia tak kelihatan, tak ada rasa rindu padanya.


__ADS_2